Film Pesta Babi: Menelusuri jejak Yasinta Moiwend di Jakarta – Siapa saja orang-orang yang bersamanya?

    • Penulis, Redaksi BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 20 menit

Yasinta Moiwend alias Mama Yasinta pergi tanpa pesan dari rumahnya di Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, sejak 23 Mei lalu, menurut keterangan keluarganya. Berhari-hari tak bisa menghubungi Yasinta, mereka baru mengetahui keberadaan perempuan dari komunitas adat Marind-Anim ini melalui video yang beredar di media sosial.

Yasinta, yang selama dua tahun terakhir menentang "perampasan tanah adat" untuk Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke, muncul dalam sejumlah video yang tersebar pada periode 23 Mei hingga 01 Juni lalu.

Menelisik sejumlah video itu, BBC News Indonesia menemukan fakta bahwa selama di Jakarta Yasinta sempat pergi ke sebuah gereja dan makan di kantin pinggir jalan—keduanya di kawasan elite Menteng, Jakarta.

Selama di Jakarta, Yasinta bertemu tiga advokat dan seorang perempuan asli Papua yang berasal dari Kabupaten Mimika.

Dua dari empat orang tersebut diduga memiliki rekam jejak digital dan hubungan samar dengan Badan Intelijen Negara (BIN). Adapun salah satu advokat yang ditemui Yasinta bekerja di firma hukum milik pengurus Dewan Pengurus Pusat Partai Gerindra.

Saat dikonfirmasi, orang-orang itu membantah tuduhan bersekongkol memaksa dan membiayai Yasinta ke Jakarta untuk mempolisikan koalisi masyarakat sipil yang selama ini mendampinginya menentang PSN.

Menurut informasi keluarganya, Yasinta pergi dari rumahnya pada hari yang sama saat Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berkunjung ke Kampung Wanam. Namun Kementerian Pertahanan menyangkal tudingan keluarga Yasinta bahwa tentara terlibat dalam keberangkatan perempuan itu ke Jakarta.

Dalam wawancara dengan BBC News Indonesia, seorang keponakan Yasinta tak yakin perempuan paruh baya itu memiliki uang untuk membeli tiket pesawat dan membiayai perjalanan ke Jakarta. Alasannya, Yasinta selama bertahun-tahun hanya mendapatkan uang dari hasil berjualan sayur di pasar.

Keraguan itu adalah respons sang keponakan atas pernyataan Yasinta yang mengeklaim dia membayar sendiri seluruh biaya akomodasi menuju dan selama di Jakarta.

Selama satu pekan sejak Yasinta mendatangi Polda Metro Jaya pada Jumat (29/05), BBC News Indonesia menelusuri jejak perempuan asli Papua itu di Jakarta. Kami juga berbicara dengan kerabat dan orang-orang di Merauke yang mengenalnya.

Berikut adalah temuan kami.

Beribadah di gereja kawasan elite Menteng

Yasinta datang ke sebuah gereja Kristen Protestan beraliran kharismatik di Menteng, Minggu (31/05). Gereja ini berjarak kurang sekitar 500 meter dari rumah dinas Wakil Presiden Gibran Rakabuming dan rumah dinas Panglima TNI.

Di gereja itu, Yasinta mengikuti ibadah yang dimulai pukul 10.30 WIB. Dia memakai masker hitam, kemeja biru tua, dan rok merah panjang dengan motif hitam.

Dalam video yang beredar ke publik, Yasinta menunjukkan dirinya membaca alkitab. "Kerinduan kepada Allah," ujarnya membaca judul pada kitab Mazmur, pasal 42.

Mazmur merupakan bagian dari kitab Perjanjian Lama. Merujuk teologi kekristenan, Mazmur berisi lagu pujian, ucapan syukur, tapi juga ratapan yang ditujukan kepada Allah.

Bagian ujung dari Mazmur yang dibaca Yasinta berbunyi, "Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: 'Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh? Seperti tikaman maut ke dalam tulangku, lawanku mencela aku sambil berkata kepadaku sepanjang hari, di mana Allahmu?'"

Selama ibadah, Mama Yasinta mengikuti ritus. Seperti umat yang lain, Yasinta menggoyangkan badannya ke kanan dan ke kiri, sembari bertepuk tangan mengikuti alunan lagu yang dibawakan dari panggung gereja. Masker Yasinta menutup sebagian wajahnya.

Selama ibadah, Yasinta didampingi laki-laki berambut pendek di sisi kirinya. Laki-laki itu memakai kemeja krem dan tidak pernah melepaskan masker wajahnya sampai dia dan Yasinta meninggalkan gereja itu.

Laki-laki ini terus berada di sisi Yasinta. Dia menuntun Yasinta berjalan di antara kerumunan jemaat, saat hendak bersalaman dengan pengurus gereja di pintu keluar—ritus penutup hampir setiap denominasi Protestan.

Yasinta dan laki-laki ini tidak berbincang dengan para jemaat lainnya di halaman gereja. Keduanya langsung berjalan ke sebuah mobil sedan berwarna gelap. Seorang petugas keamanan gereja membukakan pintu mobil itu Yasinta.

"Saya merasa pernah melihat dia [Yasinta] di televisi atau di Youtube," kata petugas keamanan gereja itu, saat ditemui BBC News Indonesia.

"Tapi saya kesampingkan itu karena tugas saya selama di depan gereja ini adalah untuk mengawal siapapun jemaatnya, agar mereka beribadah dengan nyaman, tenang, dan juga doanya tersampaikan," kata dia.

Satpam itu berkata, Yasinta tidak pernah beribadah di gereja tersebut sebelumnya. Dia mengeklaim melihat Yasinta datang bersama satu perempuan Papua lainnya.

"Saya enggak begitu mendalami orang, detailnya kami tidak tanya. Selama mereka beribadah dengan tenang dan tidak membuat keributan, kami akan jaga," tuturnya.

Dalam video yang diunggah di media sosial gereja itu, BBC News Indonesia melihat bahwa "satu perempuan Papua lainnya" yang disebut satpam itu merupakan figur yang sama dengan perempuan yang berdiri di belakang Yasinta saat berbicara kepada pers di Polda Metro Jaya, Jumat (29/05).

Perempuan itu bernama Eka Kora. Saat Yasinta membicarakan aduannya ke kepolisian kepada para wartawan di Polda Metro Jaya, Eka yang memakai kacamata dan menutup wajahnya dengan masker hitam.

Saat beribadah di gereja yang sama dengan Yasinta, penampilan Eka juga serupa. Dia memakai kacamata yang sama dan juga masker wajah. Noken berwarna merah, kuning, hijau, hitam, ungu melingkar di tubuh Eka.

Pertanyaannya, siapa Eka Kora? Eka bekerja di kantor Kementerian Agama Kabupaten Mimika. Di instansi itu, statusnya adalah pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja.

Wajah dan keberadaan Eka terlihat di sejumlah unggahan media sosial instansi itu.

Pada 22 Mei lalu atau tepat satu hari sebelum Yasinta pergi dari rumahnya di Wanam, Eka Kora terlihat mengikuti kegiatan kerja bakti "bersih-bersih" yang diadakan kantornya.

Rekam jejak Eka Kora tersebar di sejumlah pemberitaan media massa. Pada 2022 dia menjabat orang nomor satu di Papua Muda Inspiratif.

Papua Muda Inspiratif dibentuk dan dibina oleh Badan Intelijen Negara. Pembina utama komunitas ini adalah I Gde Made Kartikajaya. Dia berkarier di institusi intelijen negara sejak 1995.

Jenderal TNI Angkatan Darat tersebut menjabat Deputi Bidang Intelijen Ekonomi BIN saat dia meluncurkan program Papua Muda Inspiratif.

BBC News Indonesia telah berulang kali menghubungi dan mengirim pesan kepada Eka Kora, termasuk menanyakan relasinya dengan Yasinta maupun BIN. Namun dia tidak memberikan tanggapan apapun.

Keberadaan Eka Kora bersama Yasinta Moiwend di Jakarta dalam sepekan terakhir menjadi salah satu perbincangan utama warganet di Papua. Belakangan, di tengah kontroversi itu, Eka Kora menyebar video klarifikasi ke media sosial. Melalui video itu, dia menyebut sejumlah bantahan.

"Waktu kebetulan saya berada di Jakarta, Mama Yasinta juga ada di sana, tapi saya tidak tahu-menahu tentang Mama Yasinta," kata Eka Kora.

"Kebetulan saja kami bertemu di Jakarta. Mama seorang diri dan pas dia melihat saya, dia minta tolong," tuturnya.

"Anak bisa temani kah," ujar Eka, mengeklaim mengulangi perkataan Yasinta kepadanya.

"Sebagai seorang anak Papua yang melihat mama minta tolong, saya iba dan saya menemani dia. Tau-taunya ada media yang meliput," kata Eka.

Saksikan juga

"Saya tidak punya kepentingan di dalamnya. Saya juga tidak terlibat dalam film Pesta Babi. Murni, saya hanya menemani Mama Yasinta," tuturnya.

Lebih dari itu, Eka Kora juga membantah memiliki relasi dengan Papua Muda Inspiratif—bertentangan dengan apa yang dia tunjukkan dan sampaikan kepada pers pada 2022.

"Saya bukan anggota Papua Muda Inspiratif," ujarnya.

Makan bebek goreng di dekat rumah dinas pejabat

Setelah beribadah di gereja, Yasinta beranjak menuju sebuah kantin pinggir jalan.

Kami mengidentifikasi kantin itu berjarak sekitar 300 meter dari gereja, selemparan batu dari pintu masuk Masjid Sunda Kelapa.

Kantin ini berada di seberang rumah dinas Wakil Presiden. Lokasinya dikelilingi sejumlah rumah pejabat dan juga kantor lembaga negara.

Setelah duduk di kursi kayu di antara pengunjung lain, Yasinta dihampiri laki-laki bertopi, berjenggot putih. "Permisi ya Bu, Ibu mau siomay?" tanyanya.

Sejenak mata Yasinta menatap ke arah orang yang berada di balik kamera. "Siomay mau?" tanya laki-laki itu lagi.

"Enggak," kata Yasinta singkat, sambil membenarkan letak maskernya.

Gambar video itu berganti saat hidangan sudah di depan muka Yasinta: Nasi, bebek goreng, tahu, tempe, lengkap lalapan dan sambal.

"Bebek goreng, enak banget saya makan," kata Yasinta.

"Hari ini hari Minggu, saya ibadah lagi. Saya rasa hati segar, tidak ada rasa macam beban," katanya.

Orang di balik kamera kemudian mengajukan pertanyaan tentang dugaan perjalanan Yasinta menggunakan "jet pribadi yang mewah" dari Papua ke Jakarta.

"Itu tidak benar," kata Yasinta. Dia mengeklaim "naik pesawat biasa, bersama penumpang".

Dalam video itu, Yasinta bilang sudah "tujuh kali ke Jakarta" dan "tahu jalan-jalannya" di Jakarta.

"Saya di Jakarta bebas. Saya ke Bogor, saya jalan ke mana saja, saya bebas. Tidak ada yang batasi saya," ujarnya.

Dalam momen ini, Yasinta kembali mengulang keberatannya karena menjadi bagian dari film Pesta Babi.

Dia juga menyampaikan pesan untuk keluarganya "di Merauke, di Wanam, dan di mana saja".

"Jangan khawatir dengan saya. Saya di sini aman-aman saja. Jadi kalau ada informasi yang masuk, tidak sesuai, tidak usah tanggapi," katanya.

BBC News Indonesia mendatangi kantin tersebut, Selasa (02/05).

Seorang pedagang berkata melihat "orang Papua" yang makan pada Minggu, 31 Mei. Ia mengatakan saat itu "ramai" yang mendampinginya.

"Saya tidak hitung. Campuran [pria dan perempuan]," katanya.

Dari dua video yang beredar, kami tidak bisa mengidentifikasi jumlah orang yang menyertai Yasinta, Ahad itu.

Yang pasti setidaknya terdapat dua orang, yaitu pria berbaju krem yang duduk bersama Yasinta di gereja dan perempuan asal Mimika bernama Eka Kora.

Relasi pengacara Yasinta dengan Gerindra

Yasinta didampingi setidaknya tiga advokat saat mengadu ke Polda Metro Jaya, 29 Mei lalu. Yang berdiri persis di samping Yasinta ketika perempuan itu berbicara kepada sejumlah jurnalis adalah Tongku Solah Hamonangan Daulay.

Melalui sambungan telepon, Daulay berkata kepada jurnalis BBC News Indonesia bahwa dia tidak mengetahui awal mula bagaimana Yasinta bisa mengontaknya.

"Dia dapat nomor saya dan bertanya apakah benar saya pengacara," kata Daulay.

"Saya tegaskan kepada dia, saya advokat yang berkantor di Medan dan sesekali di Jakarta. Apakah dia dapat nomor saya dari pemberitaan saat mendampingi Ahmad Dedi, saya tidak tahu," ujarnya.

Ahmad Dedi yang disebut Daulay adalah sosok yang menjabat fungsional madya di Direktorat Jenderal Bea Cukai.

Daulay menjadi kuasa hukum Dedi yang dalam beberapa bulan terakhir diperiksa KPK sebagai saksi dalam kasus dugaan suap pengurusan impor barang dan bea masuk. Perkara ini menjerat perusahaan importir PT Blueray Cargo dan eks Dirjen Bea Cukai, Djaka Budhi Utama.

Klien Daulay ini tercatat menjabat sebagai bendahara di organisasi sayap Partai Gerindra, Purnawirawan Pejuang Indonesia Raya. Dokumen pengangkatan Dedi di organisasi itu diteken awal Juli 2024.

Majalah Tempo menulis dugaan bahwa Dedi juga menjadi staf ahli di Badan Intelijen Negara dan Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. Namun Daulay membantahnya.

BBC News Indonesia bertanya kepada Daulay apakah dia mengetahui perjalanan Yasinta dari Merauke menuju Jakarta. Namun dia berkata tak pernah mendalami informasi itu kepada Yasinta.

"Klien berangkat dari rumahnya, tidak berhak kita mendengarkan itu. Kami hanya bersepakat, berdiskusi lebih awal dan teken surat kuasa. Setelah kami sepakat dan apa yang dikuasakan kepada saya, itulah yang saya kerjakan," ujarnya.

"Kami, pengacara, tidak seperti jurnalis yang bisa menanyakan 'kamu berangkat dari mana dan dengan siapa'," kata Daulay.

Selain berstatus advokat, Daulay merupakan Ketua Dewan Pengurus Cabang Sahabat Polisi Indonesia Kota Medan. Dia juga menjabat Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia di Kabupaten Padang Lawas untuk periode 2024-2029.

Daulay membenarkan relasinya dengan dua lembaga itu. Namun dia membantah bekerja untuk kepentingan militer. "Itu hoaks," tuturnya.

Selama menjadi kuasa hukum Yasinta, Daulay mengeklaim tak menerima bayaran apapun. Dia mengutip adagium berbahasa latin, officium nobile, yang bermakna, salah satunya, bahwa advokat adalah profesi yang mengutamakan keadilan.

"Saya berkeinginan dan terpanggil, terenyuh hati saya untuk mendampingi ibu ini [Yasinta]," ujarnya.

Selain Daulay, advokat lain yang mendampingi Yasinta ke Polda Metro Jaya adalah Feri Kurniawan. Di akun media sosialnya, Feri menyebut dirinya bekerja di firma hukum Ahmad Fatoni & Partners.

Pendiri firma hukum tersebut adalah Ahmad Fatoni, yang menjabat Wakil Sekretaris Umum Bidang Advokasi Dewan Pengurus Pusat Partai Gerindra. Dia pernah menjadi salah satu kuasa hukum Prabowo Subianto dalam sengketa hasil Pemilihan Presiden 2024.

Dalam keterangan tertulis, Feri mengatakan dirinya mendampingi Yasinta "berdasarkan surat kuasa khusus dan atas nama Yasinta".

"Saya yang berprofesi sebagai advokat tentunya banyak relasi dan direkomendasikan sehingga saya dipercaya untuk menjadi penasehat hukumnya," kata Feri.

Ia juga menegaskan, "Dan, terhadap perkara ini tidak ada kaitannya dengan AFP Law Firm".

BBC News Indonesia juga menghubungi kantor Ahmad Fatoni & Partners. Di ujung telepon, orang yang menyebut diri sebagai admin kantor itu menyebut Feri Kurniawan sebagai "mitra" di Ahmad Fatoni & Partners.

Namun dia menyebut keberadaan Feri bersama Yasinta tak ada hubungannya dengan firma hukum itu. "Bukan AFP (Ahmad Fatoni & Partners) yang menangani kasus itu," ujarnya.

Satu advokat lain yang mendampingi Yasinta ke Polda Metro Jaya adalah Ramanda Ansori. BBC News Indonesia telah meminta konfirmasi kepada Ramanda terkait relasinya dengan Yasinta, tapi dia tidak menjawab dan hanya memberikan nomor kontak Daulay.

Ramanda baru tiga tahun terakhir menjadi anggota Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). Feri Kurniawan juga tergabung dalam organisasi ini. Adapun Daulay berstatus wakil sekretaris jenderal di perkumpulan advokat ini.

Ketua Peradi, Imam Hidayat, menyatakan mendukung langkah Daulay. Dia juga membentuk Tim Advokasi Pembela Mama Sinta untuk mendampingi Yasinta mempersoalkan dugaan pelanggaran regulasi data pribadi.

'Mama dibawa tanpa izin dari kami, keluarganya'

Video Yasinta beribadah ke gereja dan makan bebek goreng beredar satu hari setelah sanak-saudaranya mengeluarkan tudingan bahwa perempuan itu "diselundupkan tanpa sepengetahuan keluarga".

"Kami sekeluarga merasa kehilangan Mama. Mama dibawa tanpa izin dari kami keluarga," kata Esau, keponakan Yasinta, Sabtu (30/05).

Esau bilang, keluarganya yakin Yasinta "ditekan" untuk mengambil sikap 180 derajat terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) yang saat ini masih berlangsung di Wanam dan wilayah lainnya di Papua Selatan.

"Jadi Mama membenturkan diri dengan mengikuti oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk membenturkan atau memuluskan program PSN di atas tanah Papua ini untuk merusak hutan-hutan kami," kata Esau.

Berikut kronologi yang disarikan dari keluarga yang memberi klarifikasi:

  • Sabtu, 23 Mei

Pukul 15.00 Waktu Papua, pihak keluarga baru menyadari Yasinta Moiwend hilang dari rumah. Telepon Yasinta tak bisa dihubungi. Keluarganya panik, kemudian menyisir Kampung Wanam sampai hari berikutnya.

Pada tanggal ini, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berada di Kampung Wanam. Dia berkunjung ke Batalyon Infantri Teritorial Pembangunan 861/Maleo Kamur.

Unit militer ini dibentuk Kementerian Pertahanan untuk mendukung PSN swasembada pangan dan ketahanan energi di Wanam. Markas Yonif Maleo Kamur di Wanam berada di antara lahan satu juta hektare yang akan diubah pemerintah menjadi persawahan.

Sebelumnya, pada Januari lalu, Sjafrie juga berkunjung ke Wanam dan bertemu para prajurit Maleo Kamur.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan, Brigjen Rico Sirait, membantah tudingan bahwa militer berperan dalam keberangkatan Yasinta ke Jakarta.

"Tidak ada keterlibatan karena kami tidak memiliki wewenang. Kami hanya memonitor," ujar Rico di Jakarta kepada Tempo, 2 Juni lalu.

  • Minggu, 24 Mei

Pagi, salah satu anggota keluarga mengatakan Yasinta berada di Pos Kopassus Mandala sejak Sabtu (23/05).

Desas-desus terdengar, Yasinta sudah terbang dengan jet milik perusahaan yang menguasai PSN di wilayah itu. Hal ini telah dibantah oleh Yasinta melalui salah satu videonya.

  • Senin, 25 Mei

Keluarga terus menghubungi Yasinta. Tapi nomornya mati.

  • Selasa, 26 Mei

Pukul 00:00 dini hari, salah satu keluarga terkejut dengan sebuah video yang menunjukkan Yasinta berubah sikap atas PSN yang selama ini ia tolak.

  • Kamis, 28 Mei

Pihak keluarga didatangi pejabat distrik dan pejabat Pos Kopassus Mandala. Pihak keluarga sempat berbicara langsung dengan Yasinta melalui ponsel pejabat Pos Kopassus Mandala.

Dalam perbicangan, Yasinta meminta beberapa anggota keluarganya mengirim salinan KTP, Kartu Keluarga (KK) agar bisa ikut terbang ke Jakarta. Alasannya, akan bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto.

  • Jumat, 29 Mei

Yasinta muncul di media-media nasional untuk melaporkan direktur LBH Pos Merauke, Teddy Wakum dengan Undang Undang Perlindungan Data Pribadi.

Kronologi dari pihak keluarga ini juga sudah banyak dimuat di media-media lokal di Papua.

Keponakan Yasinta lainnya, Ariston Moiwend "tidak percaya" Yasinta punya uang sendiri untuk biaya perjalanan ke Jakarta, termasuk membiayai penginapan, makan-minum, sewa tempat tinggal.

"Mama biasa jualan sayur di [Kampung] Wanam. Kalau laku, kalau tidak laku ya bawa pulang. Tiket saja sudah mahal, Rp6 jutaan ke Jakarta... pasti kan ada yang ngatur, tidak mungkin jalan sendiri," kata Ariston kepada BBC News Indonesia, Selasa (02/06).

Meskipun Yasinta sudah berkali-kali ke Jakarta, tapi selama kepergian ia selalu bersama keluarga.

"Mama mana tahu ke Jakarta? Kalau ke Jakarta kan biasa sama-sama dengan kami," jelas Ariston.

Jejak di Kampung Wanam Papua Selatan

Jurnalis BBC News Indonesia pernah mendatangi Kampung Wanam di Merauke pada 2025.

Wanam merupakan kampung kecil yang berada di sebelah barat daya pusat Kota Merauke. Wilayah berpenduduk kurang dari 1.000 jiwa bukan daerah yang mudah disambangi. Akses ke wilayah ini cuma tersedia melalui dua jalur: air dan udara.

Dua opsi transportasi itu sama-sama bisa ditempuh dari Merauke, ibu kota Papua Selatan, dengan durasi yang berbeda signifikan. Kalau udara, waktu tempuhnya di antara 45 menit sampai satu jam. Sementara air—tepatnya via selat—durasinya lebih panjang: enam hingga delapan jam.

Jadwal pesawat sangat terbatas. Dalam seminggu, cuma terdapat tiga hari keberangkatan—baik dari Merauke maupun Wanam. Jamnya pun di pagi hari.

Lalu untuk transportasi air, keberangkatannya ditentukan dengan sistem penyewaan perahu cepat.

Wanam bukan distrik yang riuh. Dulu, daerah ini ramai berkat kehadiran perusahaan ikan. Setelah bangkrut, denyut kegiatan terhenti, dan akhirnya kembali menggeliat usai pemerintah menetapkannya menjadi lokasi tanam padi berskala besar—di atas 1 juta hektare.

Ratusan tentara ditempatkan di Wanam. Mereka diminta menjaga pembukaan hutan adat untuk lahan sawah—yang kemudian ditolak masyarakat Papua sebab dianggap menghancurkan kehidupan mereka.

Tentara-tentara ini menempati aula bekas pabrik ikan di dekat dermaga. Saban hari, mereka gampang dijumpai di hampir setiap sisi Wanam, mulai dari area pelabuhan, warung makan, pasar, sampai dekat kawasan permukiman penduduk.

Pos-pos militer—berbentuk Yonif—dibangun pula di beberapa titik.

Permukiman penduduk tersusun dengan jarak yang cukup rapat, di samping terkonsentrasi di belakang dermaga.

Kondisi ini menyebabkan satu warga dan lainnya saling mengenal, termasuk memudahkan personel militer "mengawasi."

Aktivitas penduduk tidak jauh dari mengumpulkan ikan atau sayur-mayur, yang nantinya dijual di pasar lokal.

Sinyal komunikasi dipastikan tak stabil; kadang muncul, kadang amblas. Semakin menjauh dari pelabuhan, sinyalnya semakin lemah.

Bagaimana perbincangan media sosial tentang Yasinta dan ke mana arah narasinya?

Monash University Indonesia memetakan percakapan media sosial tentang "Mama Yasinta", "Mama Sinta" dan "Yasinta Moiwend".

Analisis ini dimulai sejak video pertama Yasinta tersebar 23 Mei hingga pernyataan terbaru pejabat di Kementerian Pertahanan yang membantah keterlibatan TNI yang berkembang pada 02-03 Juni.

Penelitian ini menganalisis 52.000 cuitan di X, dan hasilnya menunjukkan "didominasi percakapan organik".

  • Video Yasinta 23 Mei

Video ini mulai bersirkulasi di media sosial pada 23 Mei, dan mencapai puncak percakapan di X pada 25 Mei dengan lebih dari 5.000 cuitan.

Pertama, narasi yang muncul mengarah pada "pertanyaan etis".

"Seputar persetujuan dan eksploitasi suara masyarakat adat dalam media," kata Ika Idris, profesor Madya sekaligus analis media sosial di Monash University Indonesia, Kamis (05/06).

Kedua, diskusi tentang Yasinta memicu perdebatan, spekulasi dan pergeseran pandangan di kalangan masyarakat Papua.

"Sebagian pihak menduga ia mungkin ditekan atau diberi insentif, sementara yang lain berpendapat bahwa sikapnya yang baru mencerminkan keyakinan tulus akan manfaat proyek [PSN] tersebut bagi komunitasnya," jelas Ika Idris.

Ia menambahkan, situasi ini menggarisbawahi kompleksitas yang dihadapi para pemimpin masyarakat adat dalam menyikapi proyek-proyek pembangunan yang kerap membawa implikasi sosial-politik yang signifikan.

  • Video Yasinta 29-31 Mei

Dalam periode ini, setidaknya terdapat tiga topik pembahasan warganet di X: laporan ke Polda Metro Jaya (29 Mei), dugaan keluarga Yasinta "diselundupkan" (30 Mei), dan video bantahan Yasinta (31 Mei).

Tiga momentum ini menjadi perbincangan lebih sengit dari video sebelumnya di X dengan 12.500 cuitan pada puncaknya di 31 Mei.

Narasi yang berkemnbang adalah film Pesta Babi menjadi titik pusat kontroversi. Selain percakapan tentang pertanyaan etis pembuatan dokumenter, diskusi di X juga memantik perbincangan lebih luas mengenai hak-hak masyarakat adat di Papua, khususnya dalam konteks eksploitasi lahan dan sumber daya alam.

"Diskursus seputar kasusnya mencerminkan tantangan yang dihadapi komunitas-komunitas adat dalam mempertahankan hak-hak mereka di hadapan kepentingan korporasi dan pemerintah yang kuat," jelas Ika.

Di Instagram, penelitian Monash University mengambil sample 100 unggahan terkait Mama Yasinta.

Puncak percakapan terjadi 30 Mei saat perempuan suku Malind Anim ini melapor ke Polda Metro Jaya atas keberatan dirinya dalam film Pesta Babi.

"Pengaduan hukumnya terhadap direktur LBH Papua Merauke menyoroti ketegangan yang terus berlangsung antara hak-hak masyarakat adat dan representasi media," jelas Ika.

Dalam menanggapi narasi yang berkembang, sutradara film Pesta Babi, Dandhy Dwi Laksono, secara terbuka membela tindakannya dengan menegaskan dukungan terhadap advokasi Yasinta untuk hak-hak atas tanahnya.

Ia menekankan, niatnya bukan mengeksploitasi citra Yasinta, melainkan menyoroti isu-isu penting yang dihadapi komunitas-komunitas adat.

Salah satu unggahan afiliasi di Instagram dengan kolaborator film Pesta Babi, Dandhy juga membagikan antara "yang diributin" dan "yang dibahas di film".

Belakangan nama pendiri Watchdoc ini juga disebut sebagai orang yang dilaporkan Yasinta ke kepolisian, selain Johnny Teddy Wakum, ketua LBH Pos Merauke Papua.

Dalam responsnya, Dandhy mengatakan:

"Saat Mama Yasinta muncul ke publik membela tanah ulayatnya, kami yang ikut mendukungnya, menampakkan identitas jelas. Punya nama, punya wajah, punya lembaga".

"Kini, Mama Yasinta dimunculkan ke publik oleh mereka yang malu-malu menunjukkan identitasnya. Tanpa nama, tanpa wajah," katanya dalam akun Instagram. "Satu-satunya yang tampak jelas adalah siasat agar kita pelan-pelan kehilangan fokus pada persoalan kolonialisme di Papua".

  • Pernyataan pejabat Kemhan 03 Juni

Kementerian Pertahanan membantah tuduhan mengenai keterlibatan militer dalam pemindahan Yasinta Moiwend dari Merauke ke Jakarta, sebagaimana diberitakan media mitra BBC News Indonesia, Tempo.

Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dan spekulasi tentang keselamatan serta kebebasannya, terutama mengingat aktivisme yang ia lakukan melawan proyek-proyek yang mengancam tanah-tanah masyarakat adat.

"Bantahan tersebut menggarisbawahi sifat sensitif keterlibatan militer dalam urusan sipil, khususnya di wilayah-wilayah yang memiliki sejarah konflik," kata Ika.

Selain itu, Ika Idris juga menyoroti kemunculan isu-isu lain yang waktunya beriringan dengan topik Mama Yasinta di media sosial, sebagai berikut:

25 Mei: Puncak percakapan medsos tentang keterangan Yasinta tidak ada konsen dalam pembuatan film. Malamnya presiden bertolak ke Paris.

26 Mei: Presiden tiba di Paris dan kontroversi sapi qurban presiden.

27 Mei: Idul Adha

29 Mei: Mama Yasinta ke polda metro jaya melaporkan pimpinan LBH Pos Merauke

30 Mei: Keluarga menyatakan Mama Yasinta putus komunikasi

Dino Patti Djalal dan Teddy Indra Wijaya: 1 Juni video Dino, Lalu 2 Juni video Teddy membalas Dino.

3 Juni: Kemenhan membantah bahwa TNI terlibat.

Selain Mama Yasinta, topik aktivis masyarakat sipil yang menjadi sorotan dalam dua bulan terakhir adalah kekerasan terhadap Andrie Yunus.

Kedua kasus ini, kata Ika Idris menjadi ujian komitmen pemerintahan Prabowo Subianto terhadap perlindungan kebebasan sipil.

Dalam kasus Andrie Yunus, Presiden Prabowo merespons dan menyatakan agar mengusut tuntas siapa yang "menyuruh dan membayar" pelaku yang telah teridentifikasi sebagai anggota TNI aktif.

Presiden juga mempertimbangkan pembentukan tim pencari fakta independen.

Namun seruan kepala negara ini tak sepenuhnya terealisasi. Tim pencari fakta tak pernah terbentuk, persidangan kasus Andrie Yunus lewat peradilan militer sudah ditolak tim kuasa hukumnya sejak awal.

Dalam kasus Mama Yasinta Moiwend, tidak ada pernyataan langsung dari presiden hingga saat ini, kata Ika.

Keluarganya melaporkan putus komunikasi selama beberapa hari. Dugaan keterlibatan militer dalam pemindahannya dari Merauke ke Jakarta ditanggapi Kementerian Pertahanan melalui bantahan institusional, bukan presiden secara langsung.

"Kasus yang melibatkan perempuan masyarakat adat dari Papua mendapat respons yang jauh lebih senyap dari tingkat tertinggi pemerintahan," kata Ika.

Ia menambahkan, pola ini perlu dibaca sebagai bagian dari tren yang lebih luas bahwa masyarakat sipil Indonesia semakin menghadapi iklim di mana perlindungan negara bersifat selektif.

"Dan, di mana suara-suara yang paling rentan, seperti masyarakat adat Papua masih belum mendapat perhatian yang setara dari kepala negara," katanya.

Kembali ke tanah Papua Selatan. Berminggu-minggu belakangan, perubahan sikap Yasinta mengundang banyak spekulasi.

Di tengah situasi ini, Pastor Pius Manu, Imam Katolik di Merauke yang mengenal Yasinta sejak berumur belia, turut serta mendampingi keluarga Yasinta karena mementingkan "keselamatan Mama Yasinta".

Menurutnya, saat ini Yasinta berada dalam posisi "yang berat". Ia menyerukan agar siapapun mengembalikan Yasinta ke kampung halamannya.

"Berilah kesempatan kepada Mama Yasinta dan keluarganya, supaya mereka bicara dari hati ke hati," katanya.