'Saya diculik Korea Utara dan dipaksa menikahi seorang tentara AS'

Korea Utara

Sumber gambar, Hitomi Soga

Keterangan gambar, Foto lama Hitomi dan suaminya, Charles Jenkins.
Telah diterbitkan
Waktu membaca: 5 menit

Suatu malam yang hangat pada Agustus di Pulau Sado, Jepang, kehidupan Hitomi Soga yang berusia 19 tahun berubah selamanya.

Hitomi saat itu tengah pergi bersama ibunya untuk membeli bahan makanan. Saat mereka berjalan kaki kembali ke rumah, tiba-tiba tiga laki-laki muncul dari belakang. Mereka menculik Hitomi dan ibunya.

"Mereka meletakkan sesuatu ke mulut kami dan semacam tas ke atas kepala kami," kata Hitomi.

Beberapa hari berikutnya berlalu dengan samar-samar. Hitomi yakin dia dipindahkan dari pantai ke dua tempat berbeda, pertama ke sebuah perahu cepat, kemudian kapal yang lebih besar.

Hitomi mengatakan, dia tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara dengan ibunya, yang dia ingat sebagai sosok yang murah hati, cerdas, dan hangat.

"Saya tidak dapat bertukar kata-kata terakhir dengannya," ujarnya.

A black and white portrait of Miyoshi. She is staring directly into the camera. She has short, dark hair and a serious expression.

Sumber gambar, Kepolisian Jepang

Keterangan gambar, Potret hitam putih ibunya Hitomi yang bernama Miyoshi.

Beberapa hari kemudian, para penculik itu akhirnya membuka mata Hitomi. Saat membuka mata, dia berkata-kata dalam hati, "Ini bukan Jepang."

Hitomi saat itu telah dibawa ke Korea Utara. Dia merupakan salah satu korban penculikan rahasia yang disponsori pemerintahan negara itu selama tahun 1970-an dan 1980-an.

Hitomi akan tetap berada di negara selama 24 tahun berikutnya.

Penculikan yang disponsori negara

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pemerintah Korut dituding menggunakan para korban penculikan sebagai apa yang disebut "buku teks hidup". Melalui penculikan ini, agen intelijen Korut bisa mempelajari bahasa dan perilaku masyarakat Jepang.

Tujuan akhirnya adalah memudahkan penyusupan para mata-mata tersebut ke Jepang.

Pemerintah Jepang mengidentifikasi setidaknya terdapat 17 warga mereka yang diculik antara 1977 dan 1983. Namun mereka yakin jumlahnya bisa lebih tinggi dari angka itu.

"Saya masih tidak tahu... apakah saya menjadi target secara khusus atau apakah itu acak," kata Hitomi.

Selama dua tahun pertama, Hitomi ditahan di barak militer. Dia tidak tahu di mana ibunya berada dan tidak pernah bertanya kepada para penculik mengapa dia dibawa.

Hitomi saat itu yakin para penculik tidak akan memberi tahu fakta sebenarnya.

"Saya pergi ke luar barak dan melihat langit, bulan, dan bintang-bintang. Saya menangis memikirkan keluarga saya di Jepang dan bertanya-tanya kapan saya akan bertemu mereka lagi," ujar Hitomi.

Meskipun diliputi rasa takut dan terisolasi, Hitomi berusaha tetap berpegang pada harapan bahwa suatu hari nanti dia akan bebas.

"Saya selalu menyimpan itu di dalam hati saya. Secercah harapan bahwa semua ini akan berakhir, dan harapan itu tidak pernah hilang," tuturnya.

Korea Utara, Jepang

Sumber gambar, Kepolisian Jepang

Keterangan gambar, Foto hitam putih Hitomi Soga.

Akhirnya, pada 1980, para penculik mengizinkan Hitomi meninggalkan barak.

Hitomi diberitahu bahwa dia harus menikahi seorang pria yang belum pernah dia temui. Laki-laki itu bernama Charles Jenkins, seorang tentara Amerika Serikat yang membelot ke Korut pada 1965.

Charles telah melewati Zona Demiliterisasi karena percaya bahwa dia akan dikirim untuk berperang di Vietnam. Saat itu dia menyerah kepada prajurit Korut, dan yakin mereka akan membawanya kembali ke AS.

Menjodohkan pasangan dari dua musuh terbesar Korea Utara, Jepang dan AS, secara publik merupakan propaganda yang efektif bagi rezim yang memimpin di Pyongyang.

"Saya ingat hari pertama kami bertemu. Saat itu hari yang sangat hujan dan saya merasa sangat khawatir dan gugup," katanya.

Meskipun tidak punya pilihan dalam pernikahan itu, Hitomi sangat menyayangi Charles yang telah puluhan tahun menjadi suaminya. Mereka memiliki dua anak perempuan.

Charles, kata Hitomi, membuat mainan dan perabot untuk anak-anak mereka.

"Rasanya alami dan saat paling bahagia saya adalah ketika anak-anak kami lahir. Dia sangat baik kepada mereka dan benar-benar merawat mereka. Itulah yang saya sukai darinya," kata Hitomi.

Korea Utara, Jepang

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Mantan sersan Angkatan Darat AS, Charles Robert Jenkins tiba di Bandara Haneda Tokyo pada 18 Juli 2004, bersama Hitomi dan dua putri mereka.

Pasangan itu tidak memiliki pekerjaan tetap. Di bawah kendali dan pengawasan ketat rezim Korut, waktu Charles dan Hitomi dibatasi.

Hitomi mengaku sering menyibukkan diri dengan menanam sayuran.

"Tidak ada konser, tidak ada bioskop. Tidak ada yang bisa dilakukan untuk bersenang-senang. Ada rasa takut dan khawatir setiap hari. Tetapi karena saya memiliki keluarga di sekitar saya, saya dapat menemukan sedikit kenyamanan dalam hal itu," ujarnya.

Rutinitas mereka berubah tiba-tiba pada 2002 ketika dunia mengetahui kebenaran tentang penculikan Hitomi.

Selama pertemuan puncak yang bertujuan meningkatkan hubungan antara Jepang dan Korut, mantan pemimpin tertinggi Kim Jong-il mengakui telah menculik 13 dari 17 warga negara Jepang.

Korut menyebut hanya lima warga Jepang yang masih hidup. Mereka tidak mengonfirmasi apakah ibu Hitomi, yang bernama Miyoshi, pernah mereka culik.

Tak lama kemudian, Hitomi diizinkan untuk kembali ke Jepang untuk kunjungan singkat.

"Saya hanya berpikir bahwa saya sangat ingin bertemu keluarga saya di Jepang dan mungkin ada kesempatan saya bisa bertemu ibu saya lagi," ujarnya.

Korea Utara, Jepang

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Setelah Hitomi kembali ke Jepang, butuh waktu dua tahun hingga dia dapat bertemu kembali dengan putri-putrinya.

Hitomi mengucapkan selamat tinggal kepada suami dan putri-putrinya yang bertahan di Korut.

Hitomi naik pesawat ke Jepang untuk bertemu dengan saudara perempuan dan ayahnya. Mereka telah menunggu kepulangannya selama lebih dari dua dekade, tanpa mengetahui apakah Hitomi masih hidup.

"Ketika kami bertemu kembali dan berpelukan, kami semua menangis tersedu-sedu," kata Hitomi.

Hitomi memutuskan tinggal di Jepang. Dia butuh waktu dua tahun sebelum dapat bertemu kembali dengan Charles dan putri-putrinya.

Suaminya, Charles, khawatir bahwa bepergian ke Jepang akan membuatnya ditangkap militer AS.

Akhirnya, setelah negosiasi, Charles menjalani hukuman 25 hari setelah mengaku bersalah atas desersi dan membantu musuh. Setelahnya, Charles, Hitomi dan anak-anak mereka diizinkan untuk pindah secara permanen ke Pulau Sado pada 2004.

"Meskipun putri-putri saya belum pernah ke Pulau Sado sebelumnya, mereka tahu itu adalah kampung halaman ibu mereka, dan mereka jatuh cinta padanya," kata Hitomi.

Para keluarga korban penculikan Korea Utara.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Hitomi dipotret ketika memegang foto ibunya, saat berkampanye untuk mencari keadilan bagi para korban penculikan Korut.

Charles meninggal di Jepang pada 2017. Namun Hitomi terus mencurahkan energinya untuk kampanye membawa pulang semua orang yang diculik dari Jepang.

Hitomi mengatakan, setiap hari sangat berarti bagi mereka yang masih terjebak di Korut.

Namun jelas ada satu korban penculikan yang membuatnya tidak berhenti mencari keadilan. Sosok itu adalah ibunya: Miyoshi.

Hitomi berharap tekadnya akan menginspirasi ibunya, jika dia masih hidup, di mana pun dia berada.

"Saya pikir dia akan berkata, 'Jika dia berjuang dan tidak pernah menyerah, maka saya akan melakukan hal yang sama.'"