'Kami harus berjuang' – Lansia, ibu menyusui, dan bayi bertahan di tengah asap karhutla saat udara Kalimantan Tengah berstatus 'bahaya'

Sumber gambar, Adan
Tiga individu rentan, yang terdiri dari lansia, ibu menyusui dan bayi, di satu rumah, sedang berjuang di tengah bekapan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang sudah mengelilingi kediaman mereka di Kalimantan Tengah. Bagaimana mereka bertahan dan saling menjaga satu sama lain?
Beberapa pekan terakhir, kabut asap karhutla di Kalimantan makin mencekik warganya. Kualitas udara di sebagian wilayah ini telah melampaui ambang "bahaya", dan mendekati kondisi udara yang dapat dikategorikan beracun.
Kondisi sebagian besar wilayah Kalimantan dalam sepekan terakhir diliputi asap pekat, hingga langit nampak berwarna jingga—meski hari belum sore. Jarak pandang hanya sekitar 100 meter.
Ribuan orang dilaporkan mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA). Hampir sebulan, anak-anak bersekolah dengan mode pembelajaran jarak jauh sampai waktu yang tidak ditentukan.
Pemadaman karhutla pun mendapat tantangan karena operasi bom air dari udara dihentikan sementara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kondisi asap tebal mengganggu jarak pandang bagi operasi penerbangan.
Di lapangan, para relawan pemadam api harus mengeluarkan kocek pribadi karena jatah bensin yang dibatasi.
Sementara itu, ratusan penerbangan komersial "terganggu" dalam sepekan terakhir, menurut Kementerian Perhubungan.
Di tengah situasi ini, warga terdampak hanya meminta satu permintaan sederhana, tapi bermakna: "kembalikan udara bersih".

Sumber gambar, Muhammad Andi Hakam
Berdasarkan pemantauan IQAir, kualitas udara di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah masuk kategori melampaui "bahaya" dalam sepekan terakhir.
Rata-rata konsentrasi PM2.5 menembus angka 501,9 µg/m³ pada Rabu (23/09). Angka ini 10 kali lipat lebih tinggi dari Jakarta—kota yang sempat disebut polusinya sudah kiamat—di hari yang sama.
Di sebuah rumah sederhana di Jalan Hiu Putih Lanjutan, Palangka Raya, tinggal tiga individu rentan yang berjibaku dengan asap pekat. Mereka adalah Salasiah, 60 tahun, Ilma Nailah Anjely, 26 tahun, dan Idham Fatih bayi enam bulan.
Baca juga:
Hampir sebulan, mereka tidur tak nyenyak. Gusar setiap detik. Kediamannya dikelilingi lahan kebakaran dan kabut asap yang terus menyelinap masuk ke dalam rumah sampai hari ini.
"Kebawa mimpi api besar itu, kadang ibu malam-malam mengecek ke belakang, di malam hari, kami tidak pernah bisa tidur nyenyak," kata Ilma.

Sumber gambar, Adan
Salasiah, ibu dari Ilma Nailah Anjely sekaligus nenek dari Idham Fatih bercerita tentang kejadian Jumat siang, 4 September 2026—momen kebakaran pertama kali api menjalar cepat di lahan belakang rumah, meskipun sebelumnya sudah dipadamkan petugas.
Saat itu, Salasiah berkata, ia baru tiba di rumah. Ia baru pulang mencari oksigen karena kabut asap sudah membungkus kompleks perumahan mereka sejak awal Agustus.
Belum sempat buka pintu, telinganya menangkap suara api membakar lahan di belakang rumah. "Kretak, kretak".

Sumber gambar, Salasiah/Ilma
Ia melihat "api besar" sedang melahap lahan yang sudah tertanam pohon sawit, nyaris memasuki batas tanahnya.
"Belum sempat membuka rumah, saya langsung lari ke belakang lewat jalan di sebelah, kebetulan punya sumur bekas kolam ikan, menimba air, langsung siram, dibantu tetangga," kata Salasiah, Rabu (23/09).
Saat ditemui di kediamannya, asap di sekitar rumahnya sedang tipis. Tapi sebagaimana wilayah lain di Kalimantan Tengah, asap karhutla bisa tiba-tiba muncul dan pekat kembali tanpa bisa diprediksi waktunya.

Sumber gambar, Adan
Salasiah mengaku tak mengetahui persis lahan tersebut milik siapa. Tanah terbakar itu hanya dipisahkan parit kecil yang jadi penanda batas kepemilikan tanah.
Di bagian belakang rumah mereka yang berbatasan langsung dengan lahan terbakar, terdapat bangunan seperti kandang ayam dan bekas bangunan sarang walet.
"Kami di belakang punya kandang ayam, sama sarang walet yang tidak jadi, tidak kami fungsikan karena suami meninggal 2020 lalu, bangunan itulah yang rawan kebakaran," katanya.
Meski api besar sudah padam, hingga kini, api-api kecil masih sering muncul karena sifat lahan gambut yang rentan memunculkan api kembali dari bara yang tertiup angin.

Sumber gambar, Adan
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sejak itu, Salasiah berbagi peran. Ia bersiaga mencegah api agar tidak sampai melahap rumah. Ilma fokus memberi ASI pada bayinya dan menghalau asap masuk rumah. Dalam momen tertentu, Ilma memadamkan api dan Salasiah menjaga bayi.
Di antara peran yang diambil dua orang dewasa ini, bayi Idham juga punya tugas penting: Ia harus tetap sehat dan ceria.
Salasiah menyebut, ia harus memadamkan kemunculan api-api kecil secara mandiri. Musababnya, petugas pemadam kebakaran sibuk memadamkan api dari lokasi lain yang lebih besar.
"Saya hampir setiap hari sejak 4 September itu bolak-balik ke belakang dan ke depan rumah untuk mengecek kondisi api," ujarnya.
Lahan di belakang rumah memang sudah tidak tampak api, hanya asap tipis yang terkadang terlihat menggenang. Tapi, Salasiah menyadari, bara di bawah permukaan tanah sudah sampai di samping rumah.
"Duduk dan beraktivitas seperti biasa di rumah enggak bisa tenang. Kalau dengar suara 'kretak, kretak', bau asap menyengat, langsung lihat, biasanya tanda muncul api suaranya begitu," tutur Salasiah.
Pemeriksaan kesehatan 'jemput bola' dibutuhkan
Kediaman Salasiah dan Ilma ini benar-benar terkepung asap. Di seberang rumah, merupakan lahan dan hutan kosong bekas terbakar, masih mengeluarkan asap pekat, bekas kebakaran besar Minggu (20/09) lalu.
Permukiman mereka, juga berada di dekat Jalan Trans Kalimantan. Jalan besar ini, sisi kanan dan kirinya sering terjadi kebakaran, membuat konsentrasi asap di wilayah itu cenderung lebih pekat dibandingkan titik lokasi lainnya.
Untuk mengendalikan api kecil di sekitar rumah, agar tidak membesar, Salasiah menimba air dari dalam kolam, menampung di ember dan menentengnya ke titik api. Begitu seterusnya.
Dengan aktivitas baru yang butuh kesigapan 24 jam, membuat pekerjaan rumah terbengkalai.
"Sekarang ini mencuci kadang-kadang malas karena sudah capek, tangan sudah sakit karena memadamkan api, akhirnya pekerjaan rumah terbengkalai," tuturnya.

Sumber gambar, Adan
Dengan rutinitas baru ini, Salasiah kerap terpapar asap pekat karena terus-menerus mematikan api kecil. Ia tak jarang mengalami sesak napas, kelelahan, dan pegal-pegal di sekujur tubuh.
Ditambah lagi, perempuan kelahiran 1966 ini punya penyakit bawaan seperti asam lambung. Penyakit itu diperparah dengan kondisi pikiran yang penuh tekanan karena kepungan karhutla yang mengancam rumah.
"Sakit mag, apalagi selama ini kepikiran terus makanya mag kambuh. Tensi juga sejak sering kebakaran ini tinggi terus, biasanya 120, sekarang jadi tembus 159, karena stres. Tensi naik sejak kebakaran melanda rumah kami," ujarnya.
Perempuan kelahiran Buntok, Kabupaten Barito Selatan ini menyebut, hingga sekarang belum ada petugas kesehatan yang jemput bola ke rumah untuk mengecek kesehatan warga di wilayah setempat.
"Bangunan semacam posko kesehatan tidak ada di dekat rumah kami, seharusnya itu diadakan, karena semua warga di sini terdampak asap, dan sebagian di besar, belakang rumah mereka itu lahan terbakar," jelas Salasiah.

Sumber gambar, Adan
Di sisi lain, Ilma mengaku khawatir karena harus mengandalkan sang ibu menghadapi api. Ia menyadari Salasiah sudah memasuki usia lanjut dan tak jarang mengalami gangguan kesehatan.
"Mama kan kalau ke luar suka sesak napas, kadang juga kalau ke luar untuk memadamkan api, atau mengecek asap, tidak menggunakan masker, sering lupa, lalu alas kaki cuman sandal, kan lahan bekas terbakar itu panas, sering sampai rumah sesak napas, ulu hati sakit karena mag, panik, takut, tertekan," jelasnya.
Untuk mengakses fasilitas kesehatan terdekat, mereka harus menempuh perjalanan sejauh kurang lebih lima kilometer menembus asap pekat selama perjalanan. Keadaan itulah yang membuat mereka terkadang mengurungkan niat mengakses faskes terdekat.
Sejauh ini, Ilma menyebut tak ada tenaga kesehatan yang jemput bola ke rumah untuk memeriksa kelompok rentan seperti ibunya dan sang bayi. Padahal ini sangat dibutuhkan.
'Kami harus berjuang'
Salasiah, Ilma dan Idham menghadapi situasi dilematis. Mereka tak bisa pergi lama atau jauh dari rumah, bahkan untuk keperluan mencari makan.
"Cemas banget, serba salah, harus bertahan di rumah untuk menjaga kalau sewaktu-waktu api muncul lagi. Tapi juga kadang harus keluar rumah mencari makanan, supaya enggak ke luar rumah, kami akhirnya memanfaatkan tumbuhan di samping yang bisa dimakan," keluh Ilma.
Kondisi tersebut diperparah dengan pemadaman listrik bergilir yang bisa terjadi dua kali seminggu.
"Kondisi itu membuat kami di rumah tidak bisa menghidupkan alat penyaring udara, AC, dan kipas untuk menyaring asap yang masuk. Kalau listrik mati, aktivitas rumah terhambat semua, asap yang masuk ke dalam rumah juga makin parah, makanya kalau sudah mati listrik saya bawa anak ke rumah oksigen," tuturnya.

Sumber gambar, Adan
Ketika mati listrik terjadi dan mereka terpaksa diam diri di rumah, sang bayi akan rewel karena udara di dalam rumah pengap, panas, dan kondisi udara dipenuhi asap yang masuk karena tidak terfilter. Bayi pun mengalami gejala kesehatan.
"Rewel, dia gelisah. Dia kemarin saya lihat napasnya cepat, seperti susah napas, sempat batuk kecil itu yang membuat saya khawatir, semoga jangan sampai parah. Untuk menyiasatinya, saya baca artikel katanya banyakin kasih ASI, supaya bayinya terhidrasi dengan baik," kata Ilma.
Istri dari Ilham Bagas ini bersyukur sang bayi hingga saat ini tidak mengalami gejala yang menunjukkan keparahan. Meski demikian, ia mengaku khawatir.
"Saya usahakan sebisa mungkin jangan sampai terpapar asap terlalu sering, kalau sudah mati lampu, bayi rewel, mau nggak mau tetap berdiam diri di kamar, saya usahakan alihkan fokusnya ke mainan, kalau asap mendingan saya ajak dia ke luar, tapi itu pun jarang sekali," katanya.
Suami Ilma, Ilham Bagas, tidak bisa selalu di rumah karena bekerja di salah satu perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Gunung Mas, berjarak 170 kilometer dari rumah.
"Suami pulang hanya seminggu sekali, tidak menentu, jadi yang harus di rumah terus ya saya dan ibu, sambil menjaga si bayi," katanya.

Sumber gambar, Adan
Di rumah sederhana itu, ketiganya kini harus berjuang bersama. Menghalau api ke pekarangan dan rumah, merawat bayi, sampai berjuang dengan tekanan psikologis.
"Kami tertekan, gimana ya kok keadaan kayaknya belum membaik, sedangkan kami harus berjuang sendiri, apalagi tenaga kami terbatas," jelasnya.
Tekanan ekonomi juga mereka rasakan. Tagihan listrik membengkak karena pendingin ruangan, penyaring udara, dan kipas konstan menyala. Token listrik yang biasanya Rp50.000 untuk 10 hari, kini sudah habis empat hari.
Selain gaji suami, kebutuhan sehari-hari selama ini mengandalkan uang pensiunan Salasiah yang dulu berstatus ASN. Untuk menambah penghasilan, mereka berjualan di depan rumah.
Namun, situasi kabut asap membuat mereka harus menutup warung karena penjualan yang sepi.
"Nanti jualan lagi habis asap ini, jadi memilih tutup itu karena enggak ada modalnya, asap ini lagi kan, sepi juga, nanti mudah-mudahan bisa buka lagi," ucapnya.
Rencana ke depan dan harapan
Salasiah dan Ilma sudah menyiapkan langkah darurat jika karhutla memburuk. Mereka sudah membungkus dokumen penting, perlengkapan bayi, sampai pakaian darurat dalam tas-tas. Siap angkut.
Selain itu, mereka menyiapkan rencana jauh ke depan: membeli rumah di lokasi lain yang lebih aman dari karhutla.
"Rencana mau jual rumah aja sudah, trauma, kalau sudah terjual nanti mencari di kota aja, di komplek BTN, yang pastinya jauh dari lokasi rawan kebakaran," keluh Salasiah.

Sumber gambar, Adan
Sejauh ini, keluarga Salasiah berharap adanya penyaluran tenaga kesehatan dari rumah ke rumah. Memeriksa kesehatan masyarakat, dan memberi obat-obatan.
Bantuan kebutuhan pokok juga dibutuhkan, sebab keluarganya sulit mendapat makanan memadai karena harus siaga tinggal di rumah guna menghalau api.
Lalu apa yang benar-benar dibutuhkan warga saat ini? Ilma menjawab singkat: "udara bersih". Hak dasar yang kini seolah raib setelah kemunculan karhutla dan jerubu.
"Kita perlu udara bersih, saat ini kami bernapas untuk beraktivitas normal saja seperti dicekik udara berbahaya, bagaimana mau beraktivitas seperti biasa," ujarnya.
Relawan: lebih parah dari tahun-tahun sebelumnya
Cerita Salasiah, Ilma dan bayi Idham hanya sekelumit gambaran warga yang berjuang di tengah situasi kedaruratan asap karhutla di Kalimantan Tengah. Sebagian warga lainnya, berupaya mengambil peran sebagai relawan untuk menyelamatkan wilayahnya.
Ramadhan Noverian Belmin sudah bekerja sebagai relawan pemadam karhutla satu dekade terakhir. Kata dia, karhutla yang menerjang Kota Palangka Raya dan sekitarnya kali ini "lebih parah" dari tahun-tahun sebelumnya.
"Untuk tahun ini, sangat-sangat banyaknya titik api yang bermunculan. Padahal sudah dipadamkan, muncul lagi. Dipadamkan, muncul lagi," kata relawan dari BPK Hiu Putih, Rabu (23/09).

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Api cepat kembali membakar karena lahan dan tumbuhan sudah sangat kering. "Jadi, kalau angin sangat cepat, apinya langsung aktif," tambahnya.
Pria yang biasanya bekerja sebagai teknisi kelistrikan mengaku hambatan di lapangan adalah lokasi titik api yang jauh dari jalan. Angin yang datang tiba-tiba dari arah mengembus hawa panas ke muka juga membuat ketahanan fisik terus diuji.
Selain itu, minimnya pasokan air, dan pembatasan jatah bensin untuk menggerakan pompa air menjadi tantangan lainnya.
Untuk bahan bakar, pemerintah setempat menjatah 15 liter bensin per hari untuk satu regu pemadam. Satu regu berisi tujuh orang bersama satu mobil, dan satu mesin pompa air.
"15 liter ini untuk operasional mobil 10 liter, untuk mesin alkon (pompa air) 5 liter. Jadi, kami menggunakan 5 liter di mesin alkon, itu hanya bertahan tiga jam," katanya.

Sumber gambar, Ramadhan Noverian Belmin
Saat proses pemadaman api dirasa belum cukup dan bensin tiris, Ramadhan dan timnya terpaksa merogoh kocek pribadi.
"Jadi, semisal sudah habis BBM, biasanya kami pakai uang pribadi untuk melanjutkan pemadaman," tandasnya.
Ramadhan yang saat diwawancara sedang berjibaku dengan kobaran api di kawasan Kameloh Misik—sekitar 15 kilometer dari pusat kota, berusaha membesarkan diri saat ditanya: apakah sudah pada fase kewalahan?
"Sebagai relawan, tidak ada kata lelah. Kami masih berjuang," katanya.
'Paru-paru ini sudah lelah'
Perjuangan membantu warga di tengah bekapan asap karhutla juga dilakukan Muhammad Andi Hamka. Perannya, membuat paket kesehatan yang dibagikan cuma-cuma kepada orang dewasa dan anak-anak. Isinya masker, vitamin, dan susu.
"Kita juga berkolaborasi dengan komunitas lokal... selain kita bagikan di wilayah kota Palangka Raya kita juga bagikan ke daerah-daerah pelosok yang sekiranya susah dijangkau," kata Andi sambil menambahkan bantuan ini berasal dari donasi.
Andi yang saat ini menjabat guru sebuah sekolah negeri di Kota Palangka Raya bersama anak-anak muda lainnya, juga memasok makanan dan minum untuk relawan pemadam api. Ia memanggul air mineral dan bungkusan makanan ke tengah lahan terbakar yang sedang dipadamkan.

Sumber gambar, IG/Muhammad Andi Hamka
Belakangan, asap makin pekat membuat dadanya makin sesak.
"Satu minggu terakhir ini saya memang benar-benar sudah pada fase di mana paru-paru saya terasa mulai perih. Mata juga perih. Mungkin jangka panjangnya saya takut saja berkaitan dengan kesehatan," katanya.
Kendati demikian, hal yang membuatnya terus menjalankan kegiatan sosialnya adalah respons dari sejumlah siswanya.
Andi berkata, mereka secara sukarela ikut bantu mengemas paket kesehatan di akhir pekan, termasuk memproduksi penyanitasi tangan untuk dibagikan ke warga. Hal kecil tapi berarti.
"Saya pikir itu sesuatu yang sangat menakjubkan bagi saya, sebagai guru, ya kayak impactful (berdampak)," katanya.
Bagaimanapun, ia berharap situasi kabut asap beracun ini segera berlalu, dan meminta pemerintah mengambil langkah mitigasi ke depannya.
"Paru-paru ini sudah lelah sebenarnya," katanya.
Proses belajar anak sekolah menghadapi situasi dilematis
Sampai Rabu (23/09), sekolah-sekolah di Kalimantan Tengah melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), sejak mulai ditetapkan pada 31 Agustus lalu.
Situasi ini, kata Andi, membuat siswa merasa jenuh.
"Jadi murid-murid kita tuh pada nanya, 'kapan kita masuk? Sudah bosan di rumah'. Wah, enggak bisa, kata saya. Kita tunggu dulu hasil assessment kondisi udara," katanya yang belum tahu sampai kapan PJJ berlangsung.
Di lokasi terpisah, guru di SMP Negeri 7 Timpah Satu Atap di Dusun Kanjarau, Kabupaten Kapuas, Noor Syahri Rahma Dani mengaku menghadapi situasi dilematis.
"Di satu sisi kan ini PJJ, cuma paradigma atau mungkin mindset (pandangan) sebagian orang tua itu menganggap ini libur," katanya. Padahal, pihak sekolah sudah mengumumkan konsep PJJ.

Sumber gambar, Noor Syahri Rahma Dani
Persoalannya makin pelik, sebab Dusun Kanjarau tempat Dani mengajar merupakan wilayah terdampak asap karhutla yang berada pelosok Kalimantan Tengah.
Warga di dusun ini masih mengandalkan listrik dari panel surya. Jaringan internet di sana timbul-tenggelam.
"Sekolah kami sekolah kecil. Total keseluruhan peserta didik 32 untuk tiga kelas. Jadi bisa dihitung istilahnya separuh dari itu yang aktif [PJJ]," jelas Dani. Beberapa murid di sekolahnya berasal dari desa tetangga yang punya fasilitas listrik dan masalah jaringan internet serupa.

Sumber gambar, Noor Syahri Rahma Dani
Dani dan guru-guru di SMP Negeri 7 Timpah Satu Atap kini harus memutar otak agar proses pembelajaran tetap terkendali. Salah satu cara yang digunakan, pembelajaran tetap menggunakan media internet jarak jauh di mana siswa dikumpulkan di satu tempat yang aman dari asap.
"Kalau misalkan sinyalnya memang terbatas, jadi mereka mungkin dalam kurun waktu misalkan 3 hari sekali, masuk baru kumpul tugasnya," katanya. "Kesehatan tetap jadi fokus utama kita".
Sebagaimana harapan Andi, guru bahasa Inggris ini juga meminta pihak berwenang mengambil pelajaran dari karhutla yang berulang, agar membuat tata kelola mitigasi memadai ke depannya.
Kasus ISPA tinggi dan risiko kesehatan
Terlepas dari persoalan pendidikan di lapangan, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat 174.694 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak karhutla sepanjang Agustus hingga September 2026. Sebanyak 40.363 kasus di antaranya terjadi pada balita.
"Dan untuk hari ini, ada 4.533. Jadi yang sisanya sudah sembuh atau sehat kembali," kata Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes, Then Suyanti seperti dikutip Antara, di Jakarta, Selasa (22/09).
Menurut Then, pemantauan indikator kesehatan di daerah terdampak karhutla menunjukkan kategori berbahaya mencakup Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Barat.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Ia menambahkan, paparan asap karhutla berpotensi menyebabkan batuk, sesak napas, pilek, radang tenggorokan, asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), hingga iritasi mata. Asap juga dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan tekanan darah.
"Dan ini untuk kita kategorikan untuk balita dan di atas balita. Untuk kasus balita itu ada sekitar 40.363 pasien atau kasus. Nah, ini semua terdampak dari data tujuh provinsi di 63 kabupaten/kota," katanya.
Then menyebut angka kasus ISPA tersebut meningkat dibandingkan periode karhutla tahun lalu berdasarkan pemantauan di tujuh provinsi terdampak.
Sejauh ini, Then tidak menjelaskan apakah akan ada tenaga kesehatan yang memeriksa kesehatan dari rumah ke rumah, tapi setiap keluhan bisa "segera ke fasilitas terdekat, fasilitas pelayanan terdekat".
Sejauh mana penanganan karhutla?
"BNPB bersama Pemprov Kalimantan Tengah memperkuat penanganan karhutla dengan mengoptimalkan seluruh kekuatan personel dan peralatan yang tersedia," kata Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, Senin (21/09).
Suharyanto mengeklaim saat ini terdapat 10.700 personel dari pelbagai institusi dikerahkan untuk mendukung penanganan karhutla.
"Selain itu, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah mengaktifkan 946 personel pada 19 posko dan TNI mengerahkan sekitar 1.220 personel di berbagai wilayah," katanya.
Berdasarkan laporan Posko Pengendalian Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah, periode 1 Januari hingga 19 September 2026 tercatat lebih dari 142.000 hotspot dan sekitar 3.800 kejadian karhutla.
Luasan yang ditangani mencapai hampir 13.000 hektare. Sementara berdasarkan analisis citra satelit Kementerian Kehutanan, luas area terbakar tercatat 7.634 hektare.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Angga Palguna
Pemprov telah menetapkan status tanggap darurat karhutla sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026, khusus Kabupaten Lamandau masih berstatus siaga darurat.
Pemadaman karhutla akan diutamakan lewat darat.
Musababnya, operasi modifikasi cuaca periode 20–29 September tak bisa dilakukan karena tak adanya potensi awan hujan untuk dilakukan penyemaian.
Sementara itu, dukungan helikopter patroli dan helikopter bom air (water bombing) terkendala kondisi asap tebal menyebabkan jarak pandang bagi operasi penerbangan.
Kepala BNPB menegaskan, sejumlah helikopter bom air harus berada dalam posisi siaga di bandara karena kondisi visibilitas yang tidak memungkinkan untuk penerbangan.
Jadwal penerbangan komersial 'terganggu'
Seorang relawan karhutla, Sumarni Laman sudah dua hari mengalami penundaan jadwal keberangkatan pesawat dari Jakarta menuju Palangka Raya.
"Soalnya kemarin itu opsinya kalau nggak ke Pangkalan Bun (Kalteng), tapi itu sentranya asap, kan harus melewati Sampit. Kemudian kalau ke Banjarmasin, itu pinggir jalannya juga yang ke arah Kalimantan Tengahnya semuanya lagi kebakaran. Jadi pasti nggak bisa lewat juga," katanya.
Sejauh ini, ia belum memperoleh pengumuman lagi soal jadwal keberangkatannya.
"Nggak dapat pesawat, masih di Jakarta," kata Sumarni, Kamis (24/09).
Berdasarkan pantauan sejumlah media, banyak maskapai menghentikan sementara penerbangan di bandara Kalimantan sampai Rabu (23/09). Misalnya, Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Auliya Rahman
Sebelumnya, Kementerian Perhubungan mengumumkan sebanyak 409 penerbangan terdampak karhutla Kalimantan pada periode 14–20 September 2026. Angka ini melonjak 157% dibandingkan 159 penerbangan pada periode 7–13 September 2026.
Menurunnya jarak pandang karena asap di sekitar bandara menjadi faktor kekacauan jadwal penerbangan ini, kata Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Lukman F. Laisa.
Dia bilang, bandara yang mengalami kondisi jarak pandang hanya 50 meter tersebar di Bandara Tjilik Riwut, Bandara Iskandar, Bandara Haji Muhammad Sidik, dan Bandara A.P.T. Pranoto.
"Keselamatan penerbangan tetap menjadi prioritas utama," katanya dikutip Kompas, Selasa (22/03).
Dari total 409 penerbangan terdampak, sebanyak 141 penerbangan mengalami keterlambatan. Sementara itu, 254 penerbangan mengalami pembatalan atau penundaan, sedangkan 14 penerbangan lainnya dialihkan.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan jumlah penerbangan terdampak paling tinggi, yakni 201 penerbangan. Jumlah tersebut terdiri atas 79 penerbangan terlambat, 121 dibatalkan, dan satu penerbangan dialihkan.
Gangguan penerbangan juga terjadi di Kalimantan Timur (138 penerbangan), Kalimantan Utara (70 penerbangan).
Kemenhub melalui Ditjen Perhubungan Udara terus memantau dan koordinasi dengan Kantor Otoritas Bandar Udara, penyelenggara bandar udara, penyedia pelayanan navigasi penerbangan, operator penerbangan, serta instansi terkait.
"Kami terus berkoordinasi dengan penyelenggara bandar udara, penyedia pelayanan navigasi penerbangan, operator penerbangan, serta instansi terkait untuk memastikan operasional penerbangan dapat berjalan dengan tetap memperhatikan keselamatan, keamanan, keteraturan, dan kelancaran penerbangan," jelas Lukman.
Jurnalis Adan di Kalimantan Tengah berkontribusi dalam artikel ini.






























