Nestapa penyintas bencana Sumatra yang besarkan bayi di huntara Aceh – 'ASI tak ada, kebun rusak, bantuan hanya janji'

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
- Penulis, Raja Eben Lumbanrau
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Melaporkan dari, Aceh Utara
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 12 menit
Perempuan penyintas bencana di Aceh tak bisa membendung air mata kala menceritakan beratnya perjuangan membesarkan anak yang masih bayi, dalam 'keterbatasan dan keterasingan', enam bulan setelah Sumatra dihantam bencana.
Tulisan ini adalah seri pertama dari laporan khusus BBC News Indonesia meliput kisah perjuangan kelompok rentan itu melewati enam bulan pascabencana.
Nurul Akla, 23 tahun, warga Desa Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, bercerita pada BBC News Indonesia tentang kesulitannya untuk memenuhi gizi bayinya sehari-hari.
"Sedih sekali. Saya sudah berusaha minum obat ini, itu, tapi ASI-nya [air susu ibu] enggak ada. Anak pun harus minum susu, tapi kami enggak mampu beli susu [formula]," kata sambil menangis, Kamis (07/05).
"Kami penghasilan pun enggak ada, kerjaan suami enggak ada. Kebun kami rusak semua," tambahnya.
Pada 26 November tahun lalu, banjir yang disertai gelondong kayu besar memorak-porandakan area tempatnya tinggal.
Akibatnya, sekitar 1.659 jiwa terdampak dan 337 rumah hanyut. Lalu, sekitar 80% kebun milik warga berupa sawit, cokelat, pinang, jeruk dan padi, rusak parah.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Hampir enam bulan bencana berlalu, Nurul bersama suaminya, Basriadi, 30 tahun, dan anak-anaknya, kini tinggal di sebuah hunian sementara (huntara), yang dibangun oleh para relawan dari gelondong kayu yang hanyut.
Lokasi huntara-nya bersebelahan dengan rumah lamanya, yang rusak dan diseret banjir sejauh belasan meter.
Dari depan kediaman Nurul, masih terlihat jelas lautan kayu yang berserakan di sungai mati. Lautan kayu itu jadi bukti betapa dahsyat bencana itu menghantam lokasi tempatnya tinggal.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas
Saat BBC News Indonesia mengunjungi rumah berukuran 6x6 meter dengan dua kamar itu, pada Kamis (07/05), Nurul sedang memberikan susu formula (sufor) dalam botol ke bayi perempuannya, yang ditaruh di timangan gantung.
Sufor itu diberi oleh kerabatnya dan hanya cukup untuk dua hari ke depan. Setelah itu, Nurul harus memutar otak kembali agar mendapat asupan gizi putrinya.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Sebuah kipas berputar menyejukan ruang tamu huntara yang panas disengat sinar matahari, siang itu.
Nurul terlihat beberapa kali melamun saat memandang anak keduanya yang hadir ke dunia pada 29 April lalu.
"Kami tidak mampu beli susu, pampers, dan vitamin untuk dia, karena penghasilan pun enggak ada," katanya.
"Mungkin nanti ke depannya ada rezeki, sambil terus berupaya supaya ada ASI."

Sumber gambar, BBC/Raja Eben
Baca juga:
Duduk di sebelah Nurul, suaminya, Basriadi, bercerita kebun yang menjadi sumber utama mata pencaharian keluarganya kini telah hancur lebur.
"Tempat rezeki sudah tidak ada lagi. Kebun jeruk nipis pun sudah hancur. Dari satu hektare tinggal enam batang [jeruk]," keluhnya.
"Sekarang ini semua susah, mau bertani pun enggak ada modal."

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Sebelum banjir menghantam, Basriadi memiliki kebun seluas dua hektare.
Satu hektare ditanami kebun jeruk nipis yang telah berproduksi. Satu hektare lagi diisi pohon kelapa sawit yang baru berusia beberapa bulan.
Basriadi bilang butuh perjuangan yang berat dan waktu bertahun-tahun untuk membangun kebun itu.
"Pas sudah ada rejeki dari kebun tiba-tiba diambil balik oleh Allah rejekinya. Semoga Allah membuka pintu rezeki, buat mencukupi kami, buat beli susu untuk anak-anak," ujar Basriadi.

Sumber gambar, Gallo Images/Orbital Horizon/Copernicus Sentinel Data 2025
Jangankan berpikir kembali mulai berkebun yang membutuhkan modal, Basriadi bilang, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga saja sangat berat.
Melihat kondisi yang sekarang, dia mengaku butuh waktu lama untuk dapat kembali hidup normal seperti sebelum banjir.
"Bisa lima sampai tujuh tahun agar kami dapat pulih dan hidup normal lagi," ujarnya.

Sumber gambar, BBC/Raja Eben
Kini, kata Basriadi, dirinya hanya bergantung pada ajakan orang lain untuk menjadi buruh petik sawit, dua kali sebulan.
Bayarannya sekitar Rp100.000 hingga Rp200.000 per hari.
"Hasilnya buat beli makan di rumah pun enggak cukup," kata Basriadi.
Akibatnya, Nurul menyahut, keluarganya terpaksa berutang ke kerabatnya, untuk memenuhi kebutuhan selama bencana hingga proses melahirkan.
"Utang buat ke klinik [kontrol dan lahiran], buat makan, buat anak juga sakit. Jumlahnya sekitar Rp3 juta," katanya.
Jumlah utang itu, ujar Nurul, kemungkinan akan terus bertambah jika keluarganya tak segera memiliki sumber penghasilan.
'Lari dari banjir ketemu banjir'
"Berat sekali hidup kami," kata Nurul dan Basriadi, saat menggambarkan bagaimana mereka melewati hari demi hari penuh "keterbatasan dan keterasingan", sejak bencana merenggut semua harta benda mereka.
Musibah yang menimpa keluarganya, serta ratusan ribu warga Sumatra lainnya, terjadi pada 26 November tahun lalu.
Banjir dan longsor, yang dipicu Siklon Tropis Senyar, menghantam Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar

Sumber gambar, IWAN GUNADI BATUBARA / AFP via Getty Images
Sebelum bencana menerjang, hujan telah mengguyur wilayah Geudumbak selama lima hari berturut-turut.
Namun pada 26 November itu, kata Basriadi, situasinya berbeda. Air cepat naik di sungai mati di depan rumahnya.
Basriadi memutuskan segera mengungsi bersama Nurul, yang saat itu sedang hamil empat bulan, dan anak laki-laki pertamanya, dengan menggunakan sepeda motor.

Sumber gambar, Hidayatullah
Mereka tiba di sebuah sekolah dasar. Namun, air kembali dengan cepat menggenangi sekolah itu.
Mereka pun pindah ke tempat lain yang lebih tinggi. Kembali, air merendam tempat mereka berlindung.
"Kami lari dari banjir, ketemu banjir. Tiga kali ketemu banjir," kata Basriadi.
Selama berpindah-pindah itu, Nurul bilang, keluarganya hanya makan mi instan sekali sehari.
Sekitar dua minggu berlalu, Nurul dan keluarganya memutuskan untuk pulang dan membangun tenda pengungsian bersama dengan warga lain di dusunnya.
Bantuan mi instan, beras dan air minum pun mulai berdatangan.
Bantuan itu bersamaan dengan upaya pemerintah melakukan pembersihan dan pembukaan akses jalan ke Desa Geudumbak dari lautan kayu, di penghujung tahun lalu.

Sumber gambar, Hidayatullah
Selain curah hujan yang tinggi, banjir yang mengantam Desa Geudumbak diduga dipicu oleh perusakan hutan di sekitar daerah aliran sungai, akibat pembukaan lahan sawit, pembalakan liar hingga tambang ilegal.
Kini enam bulan berlalu, gelondong kayu yang menyerupai lautan masih terpampang jelas.
Dan kondisi itu, kata Basriadi, seperti bom waktu.
"Kalau panas [kayu] akan terbakar, kalau hujan bisa lagi banjir. Rumah kita semua akan hancur lagi kalau enggak segera dipindahkan kayu itu."
"Ini bisa jadi bom waktu, kalau bukan air, ya api," ujarnya.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Nurul bercerita tak menerima vitamin atau obat apapun untuk dirinya yang sedang hamil saat di pengungsian. Situasi itu juga membuatnya tak pernah mengecek kehamilannya.
Nurul selalu berdoa agar anak dalam kandungannya baik-baik saja.
"Sedih sekali, anak tidur di tenda, makanan enggak cukup, dan lagi hamil," katanya mengenang peristiwa itu.
Satu bulan tinggal di tenda pengungsian, akhirnya Nurul mendapatkan huntara yang dibangun relawan pada Januari lalu.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Selain dari relawan, pemerintah, melalui TNI, BNPB, dan Kementerian Kehutanan, juga terlibat dalam pembangunan sekitar 30 huntara dari gelondong kayu di wilayah Nurul.
Walaupun sudah dapat tempat untuk bernaung, tinggal di huntara bukan perkara mudah, kata Basriadi.
Selama beberapa bulan, tak ada air bersih dan listrik di areanya.
Basriadi lantas mengambil air bersih dari desa tetangga, menggunakan jeriken, untuk kebutuhan sehari-hari.
Toren air dan saluran listrik baru tersedia pada April lalu. Namun, air yang ada berwarna kuning dan berbau, kata Basriadi.
"Air hanya bisa buat mandi dan bersih-bersih, tak bisa dikonsumsi," ujarnya.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Hingga sekarang, kata Basriadi, belum ada kamar mandi yang layak di areanya. Dia dan warga lain membangun kamar mandi sementara dari kayu untuk mandi.
"Sedangkan untuk buang air, pergi ke kebun sebelah," ujar Basriadi.
Selama tinggal di huntara sekitar tiga bulan, Nurul juga melahirkan seorang anak perempuan.
Dia bercerita, proses melahirkannya tak mudah. Usia kehamilan Nurul sudah hampir 10 bulan, namun dia tak kunjung mengalami kontraksi.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Hingga akhirnya air ketuban Nurul rembes. Nurul lalu dibawa ke klinik untuk menjalani induksi persalinan.
"Nakes bilang, saya stres karena pikiran makanya tak kontraksi. Pikirannya, bagaimana nanti habis lahiran, ekonomi enggak ada. Suami penghasilan enggak ada. Anak masih kecil," ujar Nurul.
'Sanggup, enggak sanggup, kami harus hadapi'
Nurul dan Basriadi menyimpan harapan besar kepada pemerintah.
Mereka memohon agar bantuan uang jatah hidup (jadup) sebesar Rp15.000 per orang dan modal usaha yang dijanjikan pemerintah agar dapat segera diberikan.
"Pemerintah pernah janji akan memberikan bantuan. Tapi sampai sekarang tidak ada. Karena itu harapan kami buat modal hidup kembali," kata Nurul.
Dia bilang, bantuan dari pemerintah akan digunakan oleh keluarganya sebagai modal bertani.
"Kita kembali tanam apa-apa saja, nanti pertanian, buat mencukupi untuk anak-anak kita," ujarnya.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian pernah mengunjungi Desa Geudumbak pada Rabu (31/12/2025).
Saat itu, Tito menyerahkan bantuan makanan pokok, makanan cepat saji, pakaian, perlengkapan sekolah, hingga perlengkapan pribadi perempuan.
Selain itu, Tito juga bilang bahwa Kementerian Sosial akan menyalurkan dana bantuan berupa uang lauk pauk Rp15.000 per orang per hari, bantuan isi rumah Rp3 juta, dan bantuan pemberdayaan ekonomi Rp5 juta per keluarga.

Sumber gambar, ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha
Namun, kata Basriadi, janji bantuan pemerintah itu "cuma janji-janji saja".
Hingga kini, dia mengaku tidak menerima bantuan dari pemerintah.
"Kebanyakan dari relawan. Huntara yang saya tempati saja bantuan dari relawan," ujarnya.
Dengan anak yang baru lahir, kebun rusak, dan keterbatasan pekerjaan, Basriadi sulit membayangkan masa depan keluarganya.
"Harapan terbesar saya itu bantuan dari pemerintah sebagai modal dan kekuatan kami untuk bisa kembali menata hidup ini," katanya.

Sumber gambar, Kompas.com/Dok pribadi
Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil dilaporkan telah menjumpai Menteri Sosial Saifullah Yusuf.
Ismail meminta agar bantuan stimulan rumah rusak, jaminan hidup, stimulan ekonomi, dan isi hunian untuk warganya dapat dicairkan sebelum Idul Adha, guna meringankan beban penyintas banjir di Aceh Utara.
"Bantuan yang telah dialokasikan untuk penyintas banjir bandang dan tanah longsor oleh pemerintah pusat ini tentu akan sangat membantu warga yang akan merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah," kata Juru Bicara Pemkab Aceh Utara Muntasir Ramli, Sabtu (16/05).
Ismail menyebutkan Pemkab Aceh Utara telah mengusulkan sebanyak 98.530 KK yang masuk dalam Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana di Aceh Utara.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Pemkab Aceh Utara pun meminta kepada penyintas banjir untuk bersabar. Pasalnya, pemerintah masih merampungkan pendataan agar semua penyintas banjir mendapatkan bantuan pemerintah.
Kabupaten Aceh Utara adalah salah satu daerah yang terdampak parah bencana Sumatra tahun lalu.
Data BNPB menunjukkan di wilayah itu 248 orang tewas, dan menjadi jumlah meninggal dunia tertinggi dari 10 kab/kota yang terdampak.
Selain itu, BNPB mencatat ada 373.063 orang yang menderita, 54.186 unit rumah rusak, 838 unit fasilitas umum rusak, dan lebih dari 40.000 hektare lahan terdampak.
Sementara itu, di Aceh Utara telah terbangun lebih dari 4.600 huntara dan 104 huntap.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Di ujung pertemuan, Basriadi bilang tak akan menyerah untuk memperjuangkan kehidupan keluarganya, walaupun bantuan dari pemerintah tak kunjung datang.
"Keadaan hidup kami enggak sama seperti dulu. Ya, kalau kami mau salahkan, mau salahkan siapa coba?"
"Karena ini kan kehendak Allah. Sanggup, enggak sanggup, kami harus hadapi," ujar Basriadi.

Sumber gambar, BBC/Andra Anhar
Sementara itu, Nurul mengaku masih menyimpan trauma saat membayangkan bagaimana keluarganya melewati hari demi hari, selama enam bulan terakhir.
Namun, di tengah rangkaian masalah yang dihadapi, Nurul berkata masih beruntung dibanding penyintas yang lain.
"Walaupun makanan enggak ada, susah semuanya, berat sekali hidup saya dan trauma yang belum hilang, saya bersyukur karena saya bersama suami dan anak."
"Orang lain ada yang pisah sama anak, suami, dan kehilangan keluarga mereka," ujarnya.
Nurul pun menambahkan akan terus melangkah, berjuang dan menolak menyerah demi anak-anaknya yang masih kecil.
"Kami akan terus berjuang bersama-sama, apapun cobaannya yang datang ke depan, demi anak-anak kami dan masa depan mereka," tutup Nurul.


























![Noverlinda Waruwu [kiri], Yania Tilase [tengah], dan Arman Zebua adalah tiga penyintas dari 53 orang yang terjebak di hutan saat bahala banjir dan longsor mengepung kampung mereka.](https://ichef.bbci.co.uk/ace/ws/660/cpsprodpb/aff4/live/8696f8b0-d689-11f0-8c06-f5d460985095.jpg.webp)





