Kasus penyelundupan plasenta bayi untuk bahan baku 'obat awet muda' terungkap di Pakistan

Sebuah ilustrasi komputer menunjukkan janin berusia 27 minggu yang terhubung ke plasenta melalui tali pusat.

Sumber gambar, Sebastian Kaulitzki/Science Photo Library

Keterangan gambar, Plasenta adalah organ sementara yang berkembang di dalam rahim selama kehamilan dan menopang kehidupan di dalam kandungan.
    • Penulis, Asad Sohaib
    • Penulis, Shahzad Malik
    • Peranan, BBC News Urdu
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 8 menit

Peringatan! Artikel ini mengandung gambar eksplisit jaringan tubuh manusia.

Otoritas penegak hukum di Pakistan kini tengah menyelidiki sebuah sindikat, yang diduga kuat menyelundupkan plasenta manusia dari sejumlah rumah sakit untuk dijadikan bahan baku suntikan antipenuaan.

Badan Investigasi Federal (FIA) menuduh kelompok tersebut rutin membeli sekitar 200 kilogram plasenta setiap bulannya dari beberapa rumah sakit.

Kepada BBC News Urdu, FIA menjelaskan bahwa komplotan ini terlebih dahulu mengeringkan dan mengolah organ-organ tersebut sebelum diselundupkan ke luar negeri.

Kasus ini mulai terbongkar setelah petugas melakukan penggerebekan di ibu kota Islamabad pada akhir Juni lalu. Dalam operasi di sebuah fasilitas pemrosesan ilegal tersebut, petugas berhasil menyita sekitar 500 kilogram bahan yang diduga kuat sebagai plasenta manusia. FIA menangkap lima orang dari operasi itu.

Foto-foto yang dirilis oleh FIA memperlihatkan tumpukan nampan berisi plasenta kering yang disusun di atas kereta dorong. Pihak berwenang menyebutkan bahwa seluruh aktivitas ilegal tersebut dilakukan di dalam sebuah rumah tinggal, yang menurut mereka telah "dialihfungsikan menjadi fasilitas untuk menyimpan dan memproses plasenta".

Sebuah foto yang dibagikan oleh Badan Investigasi Federal Pakistan menunjukkan nampan-nampan berisi plasenta kering yang disusun di atas kereta dorong.

Sumber gambar, FIA

Keterangan gambar, Pengambilan organ tubuh manusia untuk tujuan komersial diancam dengan hukuman penjara hingga 10 tahun di Pakistan.

Kelima tersangka membayar pihak rumah sakit di Islamabad dan Rawalpindi sekitar US$2,90 (sekitar Rp52.000) per plasenta, kata penyidik.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Menurut Hina Kanwal, seorang petugas di Otoritas Transplantasi Organ Manusia Pakistan kepada BBC News Urdu, transaksi ini tidak akan mungkin terjadi tanpa adanya kolusi dari pihak manajemen rumah sakit.

Menurut keterangan FIA, plasenta-plasenta tersebut rencananya akan diekspor untuk diolah menjadi suntikan anti-penuaan, di mana setiap suntikannya bernilai US$2.530 (sekitar Rp45,4 juta).

Baca juga:

Kanwal menambahkan bahwa permintaan terhadap plasenta manusia dalam industri bedah kosmetik memang sangat tinggi. Meski begitu, di Pakistan, segala bentuk jual beli plasenta adalah tindakan ilegal.

Bagi siapa saja yang terbukti bersalah memanen organ manusia untuk tujuan komersial dapat dijatuhi hukuman penjara hingga 10 tahun dan denda maksimal US$3.600 (sekitar Rp64,6 juta).

FIA juga mengungkapkan bahwa jaringan operasi sindikat ini meluas hingga ke kota-kota besar lainnya, termasuk Lahore dan Peshawar. Saat ini, pihak berwenang tengah menyelidiki petugas imigrasi, perusahaan pengelola limbah, serta pihak rumah sakit atas dugaan keterlibatan mereka.

Sebuah foto yang dibagikan oleh Badan Investigasi Federal Pakistan (FIA) memperlihatkan kelima tersangka berbaris di depan sebuah dinding.

Sumber gambar, FIA

Keterangan gambar, Para tersangka diduga mengklaim bahwa plasenta tersebut berasal dari domba.

Seorang pejabat FIA mengatakan kepada BBC News Urdu bahwa FIA sebelumnya telah "mengambil beberapa tindakan terkait transplantasi organ manusia ilegal", namun ini adalah kasus pertama yang melibatkan "jaringan internasional terorganisasi yang memperdagangkan plasenta manusia".

Kelima tersangka awalnya mengeklaim bahwa mereka mengolah plasenta domba. Setelah diinterogasi lebih lanjut oleh penyidik, mereka mengaku bahwa itu adalah plasenta manusia.

Secara terpisah, petugas FIA di Bandara Internasional Islamabad menemukan penyelundupan 100 kilogram plasenta manusia yang hendak dikirim ke Vietnam.

Di Vietnam, penggunaan plasenta manusia dalam produk kecantikan sebenarnya dilarang, meskipun penggunaan plasenta hewan diperbolehkan.

Kini, FIA menangkap total sembilan orang yang diduga terlibat dalam perdagangan plasenta manusia, dan semuanya saat ini masih berada dalam tahanan pihak kepolisian.

Foto yang dibagikan oleh Badan Investigasi Federal Pakistan memperlihatkan plasenta-plasenta yang menumpuk tinggi di sudut sebuah ruangan.

Sumber gambar, FIA

Keterangan gambar, Dalam penggerebekan tersebut, petugas menyita sejumlah stok plasenta manusia dalam berbagai bentuk

Sadaf Tariq, seorang ginekolog di Pakistan, menjelaskan bahwa pembuangan plasenta diatur oleh regulasi yang sangat ketat karena dikategorikan sebagai "limbah medis yang sangat menular".

Segera setelah proses persalinan selesai, plasenta akan langsung dipisahkan dan disegel rapat di dalam kantong limbah medis berwarna kuning yang diberi tanda khusus penampung plasenta, demikian penjelasannya kepada BBC News Urdu.

"Setelah itu, plasenta dipindahkan dari ruang bersalin atau ruang operasi ke ruang penyimpanan pendingin pusat milik rumah sakit," guna mencegahnya membusuk dan menimbulkan bau menyengat.

Tariq menambahkan bahwa plasenta tersebut hanya boleh disimpan selama maksimal 24 jam.

"Lewat dari batas waktu itu, seluruh limbah patologis seperti plasenta harus dimusnahkan melalui prosedur medis standar, yaitu insinerasi," kata Tariq.

"Metode pembuangan ini berlaku sama, baik di rumah sakit pemerintah maupun swasta," ujarnya.

Tariq juga menyebutkan bahwa proses pembuangan ini dilakukan oleh perusahaan pengelola limbah yang telah mengantongi izin resmi dari pemerintah. Setiap kali pihak rumah sakit menyerahkan material tersebut, pencatatan resmi akan dilakukan, dan catatan tersebut nantinya diperiksa secara berkala oleh pihak berwenang.

Penggunaan obat tradisional

Plasenta merupakan organ sementara yang terbentuk di dalam rahim selama masa kehamilan untuk menopang kelangsungan hidup bayi di dalam kandungan.

Terhubung langsung dengan bayi melalui tali pusat, organ ini berfungsi menyalurkan oksigen dan nutrisi sekaligus membuang zat sisa metabolisme dari tubuh bayi.

Pada proses persalinan normal, plasenta akan keluar dengan sendirinya melalui jalan lahir sesaat setelah bayi dilahirkan. Sementara pada proses operasi caesar, dokter akan mengeluarkan organ ini secara langsung melalui tindakan bedah.

Tenaga medis yang mengenakan alat pelindung diri (APD) menangani seorang bayi yang baru lahir.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Dokter spesialis kandungan memperingatkan bahwa ibu yang mengonsumsi plasentanya sendiri tanpa melalui pengolahan yang aman berisiko menularkan virus kepada bayi mereka yang sedang disusui.

Namun, sebagian orang meyakini bahwa plasenta yang kaya akan protein, zat besi, dan lemak ini juga sangat bernutrisi bagi orang dewasa. Ekstrak plasenta sendiri telah digunakan dalam pengobatan tradisional di berbagai budaya selama berabad-abad.

Menurut laporan dari perusahaan riset pasar asal AS, Polaris, nilai perdagangan plasenta legal secara global saat ini mencapai lebih dari US$700 juta (sekitar Rp12,5 triliun) dan diperkirakan akan melonjak hingga di atas US$1,4 miliar (sekitar Rp25,1 triliun) pada tahun 2034.

Polaris menyebutkan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya permintaan terhadap ekstrak plasenta babi, domba, kuda, hingga plasenta manusia.

"Plasenta tidak hanya memegang peran kunci dalam kehamilan—organ ini juga telah menjadi 'bintang' di dunia medis dan sains," ujar analis senior Polaris, Nitin Tambe.

"Mulai dari memberi nutrisi bagi bayi hingga menginspirasi penyembuhan medis serta inovasi kecantikan, potensi yang dimilikinya terus berkembang pesat."

Plasenta manusia yang setengah kering dengan tali pusar membentuk siluet hati, dan di bawahnya terdapat selembar kain berwarna gelap.

Sumber gambar, Paola Tellez/Getty Images

Keterangan gambar, Tidak ada bukti ilmiah yang meyakinkan bahwa plasenta manusia efektif sebagai bahan anti-penuaan.

Ironisnya, jika melihat fungsi utama plasenta yang sebenarnya untuk menopang kehidupan pada fase paling awal, banyak produk turunan dari ekstrak ini justru menargetkan kondisi-kondisi yang berkaitan dengan penuaan, termasuk:

  • keriput
  • kerontokan rambut
  • menopause
  • kemandulan
  • artritis

Di sisi lain, plasenta yang kaya akan hormon wanita seperti estrogen dan progesteron juga digunakan sebagai bahan baku berbagai obat-obatan, yang oleh sebagian orang dimanfaatkan untuk mengatasi depresi pascamelahirkan.

Ekstrak ini juga kerap digunakan dalam menangani berbagai kondisi kesehatan yang sulit disembuhkan dengan terapi konvensional, termasuk gangguan autoimun serta masalah saraf seperti stroke, kelelahan kronis, Parkinson, multiple sclerosis, dan distrofi otot. Selain itu, plasenta juga digunakan dalam pengobatan penyakit hati, penyakit Crohn, bahkan kanker.

"Penelitian juga menunjukkan bahwa plasenta bermanfaat dalam pembuatan obat-obatan yang dirancang untuk meningkatkan kadar zat besi serta mengatasi anemia pascamelahirkan," papar Tariq.

Selain itu, plasenta juga telah diolah menjadi bentuk pil dan suntikan yang diklaim sebagian orang dapat membantu proses regenerasi jaringan tubuh.

"Lapisan dalam plasenta secara khusus dikenal karena kandungan faktor pertumbuhannya, Bagian ini juga digunakan dalam prosedur medis untuk menangani luka dalam, luka bakar serius, ulkus, hingga cedera mata," tambah Tariq.

Kendati demikian, bukti ilmiah yang mendasari berbagai praktik ini masih bervariasi, begitu pula dengan regulasi yang mengaturnya di berbagai belahan dunia.

Japan Bio Products (JBP) mengekspor kapsul berisi 100% bubuk plasenta sebagai suplemen makanan ke berbagai wilayah di Asia. Sebagian dari produk tersebut menggunakan plasenta manusia, sementara sebagian lainnya berasal dari plasenta babi atau kuda, menyesuaikan dengan preferensi pasar lokal setempat.

"Masyarakat Asia cenderung lebih terbuka terhadap produk berbahan dasar plasenta karena beberapa di antaranya—seperti masyarakat Tiongkok—memang memiliki sejarah mengonsumsi plasenta," ungkap Winston Ooi, manajer JBP untuk wilayah ASEAN, kepada situs berita NutraIngredients.

"Dengan semakin banyaknya informasi yang tersedia secara daring, masyarakat kini lebih sering terpapar oleh produk-produk plasenta, dan hal ini membuat permintaannya terus meningkat."

Perdagangan ilegal di China

Di China, meskipun penjualan komersialnya telah dilarang, plasenta manusia segar terpantau masih terus diperdagangkan di pasar gelap serta di beberapa platform daring dengan menyamarkannya menggunakan nama lain.

Salah seorang pedagang daring plasenta mengungkapkan kepada surat kabar Global Times bahwa ia menjual satu buah plasenta manusia dengan harga lebih dari US$50 (sekitar Rp898.000).

"Saya bisa menurunkan harganya menjadi US$40 (sekitar Rp718.000) jika Anda membeli lebih banyak," ujarnya kepada surat kabar yang dikelola pemerintah tersebut. "Kami sendiri membeli bahan bakunya seharga US$30 (sekitar Rp538.000) per kilogram."

Pakar hukum di China, Zhang Bo, menjelaskan kepada Global Times bahwa mereka yang tertangkap biasanya hanya dijatuhi denda kurang dari lima kali lipat dari jumlah keuntungan ilegal yang mereka dapatkan.

"Jika nilai dendanya dinaikkan, misalnya menjadi 50 kali lipat dari keuntungan ilegal, para pelaku mungkin akan berpikir dua kali sebelum melakukan kejahatan tersebut," tambahnya.

Sementara itu, Yao, seorang apoteker pengobatan tradisional China (TCM) di sebuah rumah sakit umum di provinsi Hunan, Tiongkok tengah, mengatakan kepada Global Times bahwa penggunaan plasenta berkaitan dengan daya tahan tubuh.

"Dalam TCM kuno, plasenta manusia utamanya digunakan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, atau untuk mengobati penyakit asma dan bronkitis," katanya.

Tangan seorang spesialis enkapsulasi plasenta mengambil kapsul yang telah selesai dibuat dari bubuk plasenta kering di rumah seorang klien di Kansas City, Amerika Serikat.

Sumber gambar, Tribune News Service via Getty Images

Keterangan gambar, Sejumlah perusahaan di berbagai negara mengolah plasenta manusia menjadi bubuk dan mengemasnya dalam bentuk kapsul sebagai layanan yang ditawarkan kepada para ibu yang baru melahirkan.

Namun, ginekolog dari Rumah Sakit Rakyat Shanghai, Huang Chengsheng, mengingatkan bahwa seseorang juga "berisiko terinfeksi akibat mengonsumsi plasenta yang tidak higienis," karena organ tersebut bisa saja membawa virus berbahaya seperti HIV, hepatitis B, dan sifilis.

Meski demikian, Huang menambahkan bahwa "banyak ibu yang baru melahirkan lebih memilih untuk membawa pulang plasenta mereka dan memakannya," alih-alih menyerahkannya ke pihak rumah sakit untuk dimusnahkan.

Seorang ibu baru menceritakan kepada surat kabar tersebut bahwa ibu kandung dan ibu mertuanya sama-sama meminta izin untuk memakan plasentanya.

"Saya tidak ingin mereka memakannya," ujarnya kepada Global Times. "Itu menjijikkan."

Ibu lain, yang juga berada di Shanghai, mengaku telah membayar sebuah toko di dekat rumah sakit sekitar US$7 (sekitar Rp125.000) untuk mengolah plasentanya menjadi bubuk dan memasukkannya ke dalam kapsul.

"Barangnya akan diberikan pada ayah mertua saya yang kesehatannya sedang memburuk," ujarnya.

Sementara itu, seorang perempuan, yang menyediakan layanan pengolahan serupa dengan sistem antar-jemput ke rumah di provinsi Zhejiang, China, mengungkapkan kepada Global Times bahwa bisnisnya sempat terpukul oleh pembatasan iklan daring, "tetapi pada kenyataannya, permintaan di pasar masih tetap kuat."