Partai Kecoak viral, kalahkan popularitas partai berkuasa di India

Sebuah adegan konferensi pers bergaya politik yang direkayasa menampilkan sosok mirip manusia dengan kepala kecoak mengenakan setelan jas gelap dan dasi, berdiri di belakang podium modern dengan mikrofon. Podium dan latar menampilkan nama “Cockroach Janta Party” bersama lambang kecoak berwarna oranye, putih, dan hijau.

Sumber gambar, Situs Partai Kecoak Janta.

Keterangan gambar, Partai Kecoak Janta (CJP) mengambil pendekatan yang nyeleneh terhadap politik.
    • Penulis, Zoya Mateen
    • Melaporkan dari, Delhi
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 7 menit

Sebuah gerakan satir bernama "Cockroach Janta Party" (CJP) atau "Partai Kecoak" mendadak viral dan menarik jutaan pengikut di media sosial India hanya dalam hitungan hari.

Gerakan itu bahkan melampaui popularitas akun resmi partai berkuasa pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi, Partai Bharatiya Janata (BJP).

Kecoak menjadi sorotan setelah Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, melontarkan komentar kontroversial, pekan lalu.

Dalam sebuah sidang, ia disebut-sebut membandingkan anak muda yang menganggur dengan kecoak dan parasit.

Belakangan, dia mengklarifikasi bahwa yang dimaksud adalah orang-orang dengan "gelar palsu dan tidak sah", bukan kaum muda India secara umum.

Namun saat klarifikasi itu disampaikan, komentar tersebut sudah lebih dulu menyebar luas di internet dan memicu kemarahan.

Partai Kecoak dibentuk

Dari kontroversi itu lahirlah kebangkitan politik bernuansa jenaka bernama "Cockroach Janta Party" (Partai Rakyat Kecoak) atau CJP—plesetan dari Partai Bharatiya Janata atau BJP.

Partai Kecoak bukan partai politik formal, melainkan gerakan satir politik di dunia maya. Syarat keanggotaannya pun bernada satir, yaitu menganggur, malas, sering menghabiskan waktu di internet, dan memiliki "kemampuan untuk mengeluh secara profesional".

Kecoak mengenakan kacamata hitam berdiri di belakang podium dengan mikrofon, dibingkai dalam lambang lingkaran berwarna oranye, putih, dan hijau. Di bawah lambang tersebut, tulisan tebal berbunyi: Cockroach Janta Party.

Sumber gambar, Situs Partai Kecoak Janta

Keterangan gambar, Situs daring Partai Kecoak Janta.

Gerakan ini dibuat oleh Abhijeet Dipke, seorang ahli strategi komunikasi politik dan mahasiswa di Boston University.

Menurutnya, ide tersebut awalnya hanya lelucon. Sebelum pindah ke AS, ia bekerja untuk Aam Aadmi Party (AAP), organisasi politik yang muncul dari gerakan antikorupsi dan dikenal kuat di media sosial.

"Saya pikir kita semua bisa berkumpul, mungkin memulai sebuah platform," katanya kepada BBC Marathi.

Apa yang terjadi kemudian jauh melampaui perkiraannya.

Kalahkan popularitas partai berkuasa

Dalam hitungan hari, CJP mengumpulkan puluhan ribu pendaftar melalui formulir Google, memicu tagar #MainBhiCockroach ("Saya juga kecoak"), dan mendapat dukungan dari pemimpin oposisi.

Gerakan ini juga merambah ke dunia nyata. Berbagai relawan muda hadir mengenakan kostum kecoak dalam kegiatan bersih-bersih dan aksi protes, sebagai bentuk penerimaan terhadap label bahwa anak muda yang menganggur sama dengan kecoak dan parasit.

Pada Kamis (21/05), akun Instagram CJP melampaui 10 juta pengikut, mengungguli akun resmi BJP yang memiliki sekitar 8,7 juta pengikut. Padahal, BJP sering disebut sebagai partai politik terbesar di dunia berdasarkan jumlah anggota.

Adapun akun Partai Kecoak di X, dengan lebih dari 200.000 pengikut, saat ini tidak terlihat di India. Warganet yang mencoba mengaksesnya diberi tahu bahwa akun tersebut ditahan "sebagai tanggapan atas permintaan hukum".

Meski demikian, momentum gerakan ini terus berkembang.

Simbol kekecewaan generasi muda

Bagi para pendukungnya, gerakan Partai Kecoak mewakili "angin segar" dalam budaya politik India, yang oleh banyak orang dianggap terlalu terkontrol dan tidak ramah terhadap perbedaan pendapat.

Pendukungnya termasuk politisi oposisi seperti Mahua Moitra dan Kirti Azad, serta pengacara senior Prashant Bhushan.

Sementara itu, para kritikus menganggapnya sekadar teater politik daring yang terkait dengan oposisi. Mereka merujuk pada keterkaitan Dipke sebelumnya dengan AAP dan berargumen bahwa Partai Kecoak bukan pemberontakan spontan, melainkan politik digital yang dikemas secara hati-hati.

Bagaimanapun, gerakan ini menjadi penanda kelelahan generasi muda India yang merasa terus-menerus terekspos pada politik secara daring, tetapi jarang merasa terwakili.

Kelompok Gen Z memprotes korupsi dan larangan platform media sosial oleh pemerintah di Kathmandu, Nepal, pada 8 September 2025.

Sumber gambar, NurPhoto via Getty Images

Keterangan gambar, Kelompok Gen Z memprotes korupsi dan larangan platform media sosial oleh pemerintah di Kathmandu, Nepal, 8 September 2025.

Jumlah populasi kaum muda adalah salah satu yang terbanyak di dunia. Sekitar separuh dari 1,4 miliar penduduk India berusia di bawah 30 tahun. Namun, partisipasi politik formal tetap terbatas.

Sebuah survei terbaru menemukan bahwa 29% anak muda India menghindari keterlibatan politik sama sekali, sementara hanya 11% yang menjadi anggota partai politik.

"Orang-orang frustrasi karena mereka tidak merasa didengar atau terwakili," kata Dipke.

Di seluruh Asia Selatan, beberapa tahun terakhir telah terjadi gelombang protes yang dipimpin anak muda, seperti di Sri Lanka, Nepal, dan Bangladesh. Sering kali aksi protes tersebut didorong oleh kemarahan atas pekerjaan, harga, dan masa depan suram.

Sejauh ini India belum mengalami hal serupa, tetapi tekanan yang mendasarinya tetap ada.

Pertumbuhan ekonomi yang cepat belum meredakan kekhawatiran tentang pekerjaan, ketimpangan, atau meningkatnya biaya hidup.

Bagi banyak orang yang memasuki usia dewasa, pendidikan tidak lagi menjamin stabilitas, dan janji mobilitas sosial terasa semakin rapuh.

Dipke menolak perbandingan dengan gejolak di Nepal atau Sri Lanka. Menurutnya, situasi India berbeda. Meski demikian, dia menegaskan kefrustrasian di kalangan anak muda adalah hal nyata. Hanya saja mereka mengekspresikannya dengan cara yang lebih terfragmentasi dan daring.

"Gen Z telah menyerah pada partai politik tradisional dan ingin menciptakan wadah politiknya sendiri dalam bahasa yang mereka pahami," ujarnya.

Pendiri Cockroach Janta Party, Abhijeet Dipke, berpose mengenakan jaket hitam dan kaus hitam. Rambutnya tampak acak-acakan

Sumber gambar, Abhijeet Dipke/X

Keterangan gambar, Pendiri Cockroach Janta Party, Abhijeet Dipke.

Situs web CJP mencerminkan ini karena lebih menyerupai produk budaya internet daripada manifesto.

Mereka mendeskripsikan diri sebagai "suara bagi yang malas dan menganggur", sekaligus mengklaim "tanpa sponsor" dan "satu kawanan keras kepala". Partai Kecoak mengajak pendukung bergabung dalam gerakan bagi mereka yang "lelah berpura-pura semuanya baik-baik saja".

Bahkan, Partai Kecoak menyediakan formulir tiruan, tampilan yang sengaja tidak rapi, dan bahasa visual yang lebih menyerupai lelucon daripada institusi formal.

Partai politik yang mewakili suara anak muda

Di balik humor tersebut, Partai Kecoak punya tuntutan politik yang kerap disuarakan anak muda, yaitu akuntabilitas, reformasi media, transparansi pemilu, dan representasi perempuan yang lebih luas.

Hal-hal tersebut berdampingan dengan lelucon tentang kebiasaan scrolling media sosial tanpa henti, pengangguran, dan kelelahan politik secara umum.

Lelucon tersebut berhasil karena menyuarakan kefrustrasian anak muda soal pekerjaan, ketimpangan, korupsi, dan keterasingan politik.

Banyak yang juga menilai pilihan maskot tersebut masuk akal.

Kecoak bukanlah sosok heroik atau aspiratif, melainkan sesuatu yang lebih mendasar: tangguh, mudah beradaptasi, dan mampu bertahan dalam kondisi sulit dengan ekspektasi yang sangat rendah.

Tentu saja, perpaduan antara humor dan politik bukanlah hal baru.

Di Italia, komedian Beppe Grillo menyalurkan humor anti-kemapanan ke dalam Five Star Movement, sementara di Ukraina Volodymyr Zelenskyy beralih dari memerankan presiden fiksi di televisi menjadi presiden sungguhan.

Di Amerika Serikat, era Donald Trump memicu perdebatan berulang tentang apakah satire mulai runtuh di tengah realitas politik yang sering terasa seperti parodi.

Versi India mengambil bentuk yang lebih daring: gerakan yang didorong meme, bertema serangga, dibentuk oleh tagar, kelelahan, dan keputusasaan yang ironis.

Sekelompok perempuan memamerkan tinta pada jari setelah mengikuti pemilihan umum legislatif di Kolkata, India.

Sumber gambar, Hindustan Times via Getty Images

Keterangan gambar, Sekelompok perempuan memamerkan tinta pada jari setelah mengikuti pemilihan umum legislatif di Kolkata, India.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Sekilas, ini tampak tidak biasa.

Namun sebenarnya tidak sepenuhnya asing dalam politik India.

Para politisi di sana telah lama memanfaatkan kekuatan tontonan, dari bermeditasi di gua Himalaya hingga perpindahan partai yang dramatis. Kampanye daring mengandalkan video viral yang dikoreografi dengan cermat dan slogan singkat yang dirancang untuk jangkauan maksimal.

Dalam konteks tersebut, gerakan politik bertema serangga terasa cukup masuk akal.

Hal ini juga membantu menjelaskan mengapa gerakan tersebut menyebar begitu cepat—bukan semata karena anak muda India menginginkan partai politik baru, tetapi karena banyak yang mencari bahasa untuk mengekspresikan frustrasi mereka.

"Saya pikir CJP baru permulaan," kata Dipke. "Anak muda sudah muak dengan sistem politik saat ini, dan lebih banyak organisasi anak muda akan bermunculan."

Namun, sebagian lainnya tetap skeptis dan menilai partai ini kemungkinan akan memudar secepat kemunculannya.

Bagaimanapun, CJP telah melakukan sesuatu yang tidak biasa dalam politik India: membuat sebagian anak muda merasa terwakili.

Di masa lalu, kemarahan politik anak muda melahirkan manifesto.

Pada 2026, kemarahan itu melahirkan partai meme dengan maskot serangga.

Artikel dibuat dengan masukan dari Ashay Yedge, BBC Marathi