You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
El Niño dimulai, risiko kekeringan dan kebakaran hutan Indonesia meningkat – 'Ini berarti kegagalan panen, tanaman mati'
- Penulis, Matt McGrath
- Peranan, Koresponden Lingkungan, BBC
- Penulis, Simon King
- Peranan, Presenter program cuaca
- Penulis, Mark Poynting
- Peranan, Climate reporter
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 7 menit
Para ilmuwan asal Amerika Serikat menyatakan bahwa fenomena alam El Niño telah dimulai. Akibatnya, risiko kekeringan dan kebakaran hutan meningkat di sebagian besar Indonesia, Australia, dan Amerika Selatan bagian utara.
Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) mengumumkan bahwa kondisi El Niño saat ini sedang berlangsung di kawasan Pasifik tropis, seiring dengan lonjakan tajam suhu permukaan laut dalam beberapa bulan terakhir.
Banyak prakiraan cuaca mengindikasikan bahwa fenomena kali ini berpotensi menjadi "super" El Niño, bahkan bisa menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah yang pernah tercatat.
Berpadu dengan dampak pemanasan global akibat aktivitas manusia selama berdekade-dekade, fenomena ini diprediksi akan memicu kemungkinan rekor tahun terpanas selanjutnya pada 2027.
Dampaknya pun diperkirakan bakal mengacaukan cuaca, pasokan pangan, serta perekonomian hingga jauh ke tahun tersebut.
Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan (HAkA) melaporkan peningkatan signifikan luas area terbakar di Kecamatan Bubon, Kabupaten Aceh Barat, melansir Kompas.com.
Berdasarkan analisis citra satelit terbaru, area yang terdampak kebakaran diperkirakan telah mencapai sekitar 280 hektare.
Kebakaran pertama terdeteksi pada 28 Mei 2026 dan citra satelit tersebut diambil pada 8 Juni, menandakan kebakaran telah terjadi lebih dari sepekan.
Titik api teridentifikasi di sejumlah desa di Kecamatan Bubon, yakni Desa Kuta Padang, Beurawang, dan Pange.
HAkA memperingatkan bahwa kebakaran berpotensi meluas tanpa penanganan cepat di lapangan.
Deputi Bidang Klimatologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan, sebelumnya memang memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini.
"Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya," katanya.
Bagaimana dampaknya?
Pengumuman dari NOAA ini sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan. Para prakirawan cuaca memang telah memprediksi fase pemanasan ini sejak "kembaran" El Niño yang membawa suhu lebih dingin, yaitu La Niña, berakhir pada pengujung tahun lalu.
Saat ini, suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tengah dan tropis telah melewati ambang batas 0.5°C di atas rata-rata. Angka ini adalah indikator yang digunakan oleh para ilmuwan AS untuk menetapkan dimulainya fenomena El Niño.
"Kondisi El Niño telah berkembang selama sebulan terakhir, yang ditunjukkan oleh suhu permukaan laut (SST) di atas rata-rata di sepanjang Samudra Pasifik ekuator bagian tengah hingga timur," ungkap lembaga tersebut.
Selain itu, NOAA juga mengamati bahwa pergerakan angin di atas Pasifik ekuator mulai berubah. Ini menjadi tanda bahwa atmosfer kini mulai merespons kehangatan samudra, bukan sekadar fenomena pemanasan laut yang terjadi sendirian.
Hal yang justru mengejutkan para peneliti adalah betapa kuatnya tingkat keyakinan yang ditunjukkan oleh model komputer saat ini mengenai kekuatan El Niño.
Intensitas El Niño sendiri diukur dari seberapa jauh suhu permukaan laut melonjak di atas rata-rata pada zona kunci di Samudra Pasifik. Sebuah fenomena dikategorikan "kuat" jika suhunya mencapai lebih dari 1.5°C di atas rata-rata, dan dikategorikan "sangat kuat" jika melampaui 2°C.
Menurut tinjauan NOAA bulan Juni, "terdapat peluang sebesar 63% terjadinya El Niño yang sangat kuat selama periode November hingga Januari, yang akan menempatkannya sebagai salah satu peristiwa El Niño terbesar dalam catatan sejarah sejak tahun 1950," ungkap lembaga tersebut.
Sebagai catatan, tiga peristiwa El Niño terkuat sejak tahun tersebut terjadi pada periode 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016.
Beberapa model prakiraan cuaca terbaru dari AS dan Eropa (ECMWF) bahkan memperkirakan lebih jauh.
Model-model tersebut menunjukkan bahwa suhu di kawasan Pasifik tropis berpotensi melonjak hingga lebih dari 3°C di atas rata-rata pada akhir tahun ini.
Kendati demikian, lembaga asal AS tersebut mengimbau untuk tetap berhati-hati dalam menyikapi prediksi kekuatan ini.
"Bahkan peristiwa El Niño yang sangat kuat sekalipun tidak selalu menimbulkan dampak yang sama di setiap wilayah. Namun, fenomena yang lebih kuat dapat memperbesar peluang terjadinya dampak yang telah diprediksi sebelumnya," katanya.
Kekhawatiran juga meningkat sebab semua ini terjadi saat bumi kita sendiri sudah jauh lebih panas.
"Kita benar-benar harus mencemaskan dampaknya," ujar Prof. Adam Scaife, kepala prediksi bulanan hingga dekadal di UK Met Office.
"El Niño saat ini terjadi di atas gelombang pemanasan global yang sudah sangat masif. Artinya, suhu aktual di wilayah-wilayah yang terdampak bisa saja mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, karena pemanasan dari El Niño ini kian diperparah oleh perubahan iklim," tambahnya.
Biasanya, El Niño yang sangat kuat akan mendongkrak suhu udara global sekitar 0,2°C karena lautan melepaskan panas yang tersimpan ke atmosfer. Sengatan panas tambahan tersebut kini menghantam dunia yang suhunya memang sudah terus-menerus mencetak rekor.
Tahun 2024—yang menjadi tahun terpanas dalam catatan sejarah—bahkan didorong oleh El Niño yang sebenarnya tidak terlalu kuat.
Sementara itu, meskipun sempat diredam oleh efek pendinginan dari fenomena La Niña, tahun 2025 tetap berakhir sebagai tahun terpanas ketiga dalam catatan sejarah, bahkan lebih panas daripada tahun 2016 yang dilanda super El Niño.
"Di akhir tahun ini dan memasuki tahun 2027, kita kemungkinan besar akan melihat suhu global yang sangat tinggi," ujar Prof. Scaife.
"Pada tahun 2027, kita kemungkinan akan menghadapi panas berlebih di atas pemanasan global yang sudah ada saat ini, dan hal itu bisa dengan mudah memicu tahun berikutnya yang melampaui batas 1,5 derajat [pemanasan di atas tingkat akhir abad ke-19]."
Tidak ada dua El Niño yang benar-benar sama, namun gangguannya paling dirasakan secara langsung di wilayah tropis.
Banjir sering terjadi di Peru bagian utara dan Ekuador bagian selatan, dan dampaknya dapat mencapai sebagian wilayah Afrika Timur, Asia Tengah, serta Amerika Serikat bagian selatan.
El Niño juga cenderung meredam badai Atlantik, dan para peramal cuaca memperkirakan musim badai kali ini akan lebih tenang dari rata-rata.
"Meskipun kedengarannya seperti hal yang baik, bagi Amerika Tengah hal itu menyebabkan curah hujan yang jauh lebih sedikit dan berpotensi menimbulkan kondisi kekeringan," kata Liz Stephens, profesor risiko iklim dan ketahanan di University of Reading.
Bahkan UK pun merasakannya, meski samar-samar. El Niño dapat menggeser peluang menuju awal musim dingin yang sejuk dan akhir musim dingin yang dingin, meskipun hubungannya tidak terlalu kuat.
Bagi banyak orang, prakiraan cuaca ini bukanlah sekadar teori abstrak.
"Deklarasi El Niño bukan sekadar prakiraan cuaca biasa — bagi jutaan orang, ini adalah sirene mematikan yang patut ditakuti," kata Mohamed Adow, direktur kelompok kampanye Power Shift Africa.
"Ini berarti kegagalan panen karena kurangnya hujan, tanaman yang mati, lonjakan harga pangan, dan keluarga-keluarga yang kembali terdesak ke titik nadir. Di Afrika Timur khususnya, dampak ini akan menimpa masyarakat yang sudah babak belur akibat kekeringan dan banjir dalam beberapa tahun terakhir."
Badan Meteorologi Jepang (JMA) memiliki pandangan yang serupa dengan NOAA, yang menilai bahwa kondisi El Niño saat ini memang sedang terjadi. JMA menambahkan bahwa kondisi ini hampir pasti akan bertahan hingga musim gugur.
Namun, tidak semua lembaga siap untuk menyatakannya. Biro Meteorologi Australia (BoM) menggunakan kriteria yang lebih ketat, yang mensyaratkan suhu permukaan laut melebihi 0,8°C di atas rata-rata.
Lembaga tersebut menyatakan bahwa wilayah Pasifik tropis "sedang mendekati kondisi El Niño", dengan suhu di Pasifik tengah yang sudah melewati ambang batasnya, namun mereka belum secara resmi mendeklarasikan bahwa fenomena tersebut telah dimulai.
Mereka memperkirakan El Niño akan berkembang akhir tahun ini, dan menyatakan bahwa kekuatannya bisa jadi cukup besar.
El Niño terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan biasanya berlangsung selama sekitar satu tahun.
Belum ada bukti konklusif bahwa perubahan iklim membuat fenomena ini menjadi lebih kuat atau lebih sering terjadi — namun dunia yang kian memanas dapat melipatgandakan dampak buruknya.
Reportase tambahan oleh Erwan Rivault