You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Warga Venezuela geram, tuding pemerintah lambat tangani dampak gempa – 'Kami mengais puing dengan tangan kosong'
- Penulis, Yogita Limaye
- Peranan, Wartawan di La Guaira
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
"Diam!" teriak para anggota tim SAR sambil mengepalkan tangan ke atas, memberi isyarat kepada semua orang untuk hening sejenak.
Kendaraan di jalanan berhenti melintas. Orang-orang berhenti berbicara. Alat-alat berat pun mendadak senyap.
Seorang petugas menempelkan telinganya ke sebuah lubang yang baru saja berhasil mereka bor menembus lempengan beton. Petugas lain menyorotkan senter ke dalamnya.
Mereka sedang memasang telinga, mencoba menangkap suara dari korban selamat yang mungkin berteriak dari balik puing-puing bangunan 12 lantai, yang dulunya berdiri tegak di tepi jalan raya kota pesisir La Guaira.
Kota ini merupakan salah satu daerah yang terdampak paling parah akibat gempa kembar yang mengguncang Venezuela pada Rabu pekan lalu, yang telah menewaskan sedikitnya 1.700 orang.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, menyebut gempa bumi ini sebagai "bencana alam paling brutal" dalam sejarah Venezuela.
Berdiri di dekat bangunan yang runtuh tersebut, Miguel Oscar Nunez menahan napas. Ia berkumpul bersama keluarga lain yang orang-orang tercintanya turut tertimbun di dalam gedung. Anak tunggal Miguel—putranya yang berusia 34 tahun, Angel—tinggal di gedung tersebut.
Detik-detik ketegangan berlalu, namun para petugas penyelamat tidak mendengar suara apa pun. Keheningan pun berakhir, dan proses evakuasi kembali dilanjutkan.
"Putra saya, sama seperti ratusan orang lainnya, terjebak di bawah puing-puing. Tapi kami sangat membutuhkan bantuan tambahan dari pemerintah secepatnya untuk mengevakuasi mereka. Ada kemungkinan gempa itu tidak membunuhnya, tapi bayangkan jika dia meninggal justru karena kelalaian pemerintah," ujar Miguel Oscar dengan raut wajah penuh amarah.
Rumah Kevin Montilla juga berada di gedung tersebut. Saat gempa mengguncang, ia sedang pergi bekerja, tetapi istrinya, Luzmary, dan putrinya yang berusia 16 tahun, Jhoerliyzmar, sedang berada di rumah.
"Operasi penyelamatan dimulai sangat terlambat dan berjalan lambat. Awalnya hanya warga sekitar yang datang membantu. Polisi cuma datang untuk memantau, tapi tidak ikut membantu. Respon pemerintah sangat mengecewakan dan tidak berdaya," ujar pria berusia 34 tahun tersebut.
Saat kami mengunjungi lokasi, tim SAR dari Venezuela dan Kolombia tengah melakukan operasi evakuasi. Dua alat berat ekskavator serta sebuah alat derek, yang mengangkat lempengan-lempengan beton, juga sudah berada di sana.
Namun, keluarga korban yang menunggu di pinggir jalan mengatakan bahwa hari-hari yang sangat berharga telah terbuang sia-sia sebelum garis penyelamatan ini akhirnya dimulai.
"Saya belum kehilangan harapan, tetapi hati saya hancur. Hukum alam mengatakan bahwa seorang ayah harusnya meninggal mendahului putranya. Bayangkan jika anakmu meninggal secara tiba-tiba," ungkap Miguel.
Gedung yang runtuh tersebut merupakan salah satu dari beberapa bangunan di kompleks milik pemerintah. Faktor ini, ditambah dengan lokasi bangunan yang strategis dan mencolok, tampaknya menjadi alasan mengapa tim penyelamat memprioritaskan tempat itu.
Sebab, masih ada bagian lain di negara bagian La Guaira yang bahkan belum tersentuh sama sekali oleh tim pencari hingga saat ini.
Baca juga:
Kami bertemu Deilisbeth Herreira di sebuah rumah sakit di Kota La Guaira, saat ia sedang memeriksa daftar korban luka dan meninggal. Ia mencari kedua putrinya, Greydelys yang berusia 12 tahun, dan Graybelys yang baru berusia 13 tahun.
Sebagai orang tua tunggal, Deilisbeth sedang pergi bekerja saat gempa terjadi.
Ia menduga anak-anaknya kemungkinan besar berada di rumah, namun ia tetap mencari ke mana-mana, berjaga-jaga jika mereka sedang berada di luar rumah dan berhasil selamat.
"Tidak ada yang membantu saya. Tidak ada alat berat atau petugas penyelamat yang dikirim untuk menggali puing-puing. Rasanya seperti kita dibiarkan berjuang sendiri untuk menemukan orang-orang yang kita cintai," ujarnya dengan air mata yang berlinang di pipi.
"Putri-putri saya adalah anak yang pendiam dan rajin belajar. Saya hanya ingin mereka kembali, bagaimanapun caranya," tambahnya.
Ke mana pun kami pergi, para warga bercerita bahwa mereka merasa telantar dan dikecewakan oleh negara.
Di sebuah jalan yang memeluk garis pantai, dua blok apartemen bertingkat—bagian dari kompleks Bello Horizonte—telah runtuh menjadi tumpukan puing. Kami melihat pihak keluarga dan para relawan, dengan mengenakan masker dan sarung tangan karet, mencoba menggali reruntuhan tersebut hanya dengan menggunakan sekop dan linggis.
"Bau menyengat di sini sangat mengerikan. Tapi saya tetap mencoba karena saya mencari paman saya. Kami tidak bisa hanya berdiri berpangku tangan saat masih ada kemungkinan orang-orang di bawah puing-puing ini masih hidup," ujar William Rodrigues. "Bantuan datang sangat terlambat di sebagian besar tempat, dan di beberapa lokasi, bantuan bahkan belum datang sama sekali."
Meski aparat kepolisian tampak berjaga di sekitar kompleks tersebut, mereka tidak ikut campur ataupun membantu dalam upaya penyelamatan.
Juan Avendo, 60 tahun, yang tinggal di seberang jalan kompleks Bello Horizonte dan rumahnya sendiri ikut hancur, juga punya ceritanya sendiri.
"Kami bisa mendengar jeritan dan teriakan orang-orang yang terjebak di bawah reruntuhan. Jadi kami mencoba membantu mereka sendiri, menggunakan tangan kosong, mengais puing-puing dengan kuku kami," katanya.
Ia dan keponakannya, Enyer Musics, menceritakan bagaimana mereka akhirnya berhasil menyelamatkan seorang wanita dalam kondisi hidup.
"Kami mendengar dia menjerit di malam hari. Tapi suasananya gelap gulita dan kami tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi keesokan paginya kami pergi dan mencoba mencarinya. Pertama-tama, kami berhasil mengulurkan sebotol air kepadanya. Baru setelah itu kami berusaha keras untuk menariknya keluar," tuturnya.
Tim penyelamat resmi pertama, petugas pemadam kebakaran Venezuela, baru tiba pada hari Jumat, hampir dua hari setelah gempa mengguncang. Tim dari El Salvador dan Amerika Serikat juga turut membantu. Beberapa korban selamat lainnya sempat ditemukan, sebelum akhirnya pada hari Minggu operasi penyelamatan tersebut resmi dihentikan.
Juan memperkirakan ada ratusan orang yang kemungkinan besar tewas dan tertimbun di bawah reruntuhan.
Ada kemungkinan jasad mereka tidak akan pernah ditemukan, dan kita mungkin tidak akan pernah tahu seberapa besar skala sebenarnya dari bencana ini.
Laporan tambahan oleh Aakriti Thapar, Maria Ines Calderon, dan Sanjay Ganguly.