You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 guncang Venezuela – Puluhan orang tewas
- Penulis, Tim redaksi
- Peranan, BBC News Mundo
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Gempa berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela, menurut laporan Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
Gempa pertama terjadi pada pukul 18:04 waktu setempat dan berpusat di dekat Kota San Felipe, sekitar 280 km di sebelah barat Ibu Kota Caracas.
USGS melaporkan adanya gempa susulan yang lebih kuat sesaat setelah gempa pertama, dengan magnitudo 7,5.
Pusat gempa kedua berada dekat kawasan Yumare, sedikit lebih ke utara dari gempa pertama.
Untuk saat ini, skala kerusakan belum diketahui. Namun, laporan warga dan foto-foto yang dikirim dari Caracas dan La Guaira menunjukkan sejumlah gedung runtuh.
Setidaknya 32 orang telah meninggal dunia akibat gempa bumi tersebut dan sekitar 700 orang terluka, menurut presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez.
Ini adalah angka pertama yang dia sampaikan terkait jumlah korban meninggal dunia.
USGS mengatakan ada 44% kemungkinan bahwa jumlah korban jiwa melebihi 10.000 orang.
"Bencana ini kemungkinan meluas" dan gempa susulan dengan guncangan kuat dapat terjadi, kata USGS.
Selain itu, terdapat juga risiko terjadinya tanah longsor dan likuifaksi di permukaan tanah.
Menanggapi situasi ini, Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, mengumumkan status darurat. Dia juga menunjuk seorang jenderal untuk mengawasi upaya tanggap darurat tersebut.
Rodríguez telah memimpin negara itu secara sementara sejak pendahulunya, Nicolás Maduro, ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat pada Januari dan dibawa ke New York untuk diadili atas tuduhan perdagangan narkoba.
Bantuan dari berbagai negara akan segera berdatangan
"Dua gempa besar yang baru saja melanda masyarakat Venezuela berskala sangat besar dan telah menyebabkan jumlah korban tewas yang menghancurkan," tulis Presiden AS Donald Trump dalam sebuah unggahan di Truth Social.
"Amerika Serikat siap, bersedia, dan mampu membantu!"
Trump mengatakan ia telah "menginstruksikan semua lembaga pemerintah kami untuk bersiap bergerak dengan cepat.
"Kami akan ada untuk sahabat baru dan hebat kami. Laporan awal tidak baik!!!"
Jeremy Lewin, Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat di bidang Bantuan Luar Negeri, mengatakan AS akan mengirimkan tim SAR, pasokan medis, dan bantuan kemanusiaan ke Venezuela.
Departemen Luar Negeri AS punya tim bantuan bencana yang sedang bekerja sama dengan pemerintahan sementara Venezuela, kata Lewin.
Negara-negara di Amerika Latin juga telah menawarkan bantuan.
Presiden El Salvador, Nayib Bukele, mengatakan negaranya telah menyiapkan 50 ton peralatan dan logistik, serta 300 anggota tim SAR yang "siap diberangkatkan ke Caracas".
Ekuador juga telah mengatur bantuan untuk segera dikirim ke Venezuela, kata Presiden Daniel Noboa Azin.
Sementara itu, Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, mengatakan negaranya akan menilai langkah bantuan yang dapat diambil untuk mendukung "negara saudara" tersebut.
Menteri Luar Negeri Meksiko, Roberto Velasco Álvarez, juga menawarkan kepada Venezuela "seluruh solidaritas dan dukungan yang dibutuhkan".
Semua WNI dalam keadaan selamat
Menteri Dalam Negeri Venezuela, Diosdado Cabello, mengonfirmasi dalam pernyataan melalui siaran televisi pemerintah bahwa sejumlah rumah dan gedung runtuh akibat gempa.
Dia menambahkan bahwa "semua badan keamanan dan bantuan, perlindungan sipil, relawan, pemadam kebakaran, polisi" telah dikerahkan.
Cabello mendesak semua warga Venezuela di daerah terdampak untuk meninggalkan bangunan.
Layanan gas alam yang memasok ribuan rumah di kota-kota Venezuela, dihentikan sebagai langkah pencegahan untuk menghindari "jenis kecelakaan apa pun", kata Menteri Cabello.
Layanan listrik dan sinyal internet terputus setelah gempa di beberapa bagian kota.
Gempa terjadi pada hari libur di Venezuela, sehingga lebih banyak orang berada di rumah dibandingkan hari kerja biasa.
Tanggal 24 Juni merupakan hari peringatan Pertempuran Carabobo pada 1821.
Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat puluhan orang berteriak dan berlari di dalam Bandara Internasional Maiquetía ketika terjadi kerusakan signifikan.
Baca juga:
Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar RI di Caracas telah memastikan seluruh WNI yang terdata di Venezuela, yakni sebanyak tiga orang, dalam kondisi aman, selamat, dan sehat.
"Gedung Kantor KBRI Caracas beserta Wisma Duta tidak mengalami kerusakan struktural yang berarti dan seluruh staf dalam keadaan selamat," kata Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Kementerian Luar Negeri RI, Heni Hamidah.
KBRI Caracas, menurut Heni, telah melakukan koordinasi dan komunikasi cepat pascagempa. Jalur komunikasi darurat telah dibuka untuk memantau perkembangan situasi dan memastikan pemutakhiran kondisi WNI secara berkala.
'Ini adalah gempa terkuat seumur hidup'
Jurnalis dan kontributor BBC Mundo, Nicole Koster, merasakan gempa di lantai 7 apartemennya di pusat Caracas.
"Ini adalah gempa terkuat yang pernah saya rasakan seumur hidup," katanya.
"Saya melihat jendela-jendela besar bergerak. Yang terpikir oleh saya adalah berdiri di antara pintu masuk dan dinding batu, yang menurut saya cukup kuat, untuk mencoba melindungi diri," ujarnya.
"Guncangannya begitu kuat hingga saya pikir bangunan itu akan runtuh menimpa saya," katanya.
Nicole menambahkan dirinya bisa mendengar suara orang-orang meminta pertolongan di antara reruntuhan sebuah bangunan.
"'Tolong, kami di sini'. Itu yang saya dengar," kata Nicole.
Setelah gempa, sambungnya, warga diminta menunggu di luar bangunan untuk mengantisipasi jika terjadi gempa susulan.
Maria Elise, warga lain di kawasan pusat Caracas, mengatakan: "Beberapa dinding apartemen kami retak. Ada tiang listrik yang tumbang, kami tidak memiliki listrik, tidak ada sinyal."
Seorang perempuan berusia 80 tahun yang tinggal di selatan Caracas mengatakan kepada kantor berita Reuters: "Bangunan tempat tinggal saya bergoyang. Polisi membantu saya turun karena saya tidak bisa."
Lembaga Survei Geologi Amerika Serikat memperingatkan bahwa gempa susulan dapat terjadi.
Apa penyebab gempa di Venezuela?
Venezuela terletak di zona aktif seismik, tempat dua lempeng tektonik—Karibia dan Amerika Selatan—bertemu.
Menurut Lembaga Survei Geologi AS (USGS), gempa kedua dengan kekuatan lebih besar terjadi akibat "pergeseran patahan mendatar yang dangkal" di dekat batas kedua lempeng tersebut.
Hal ini terjadi ketika patahan, atau retakan di antara lempeng, bergerak secara horisontal. Gempa bumi terjadi ketika pergerakan ini berlangsung dengan cepat.
"Meski sering digambarkan sebagai titik pada peta, gempa sebesar ini lebih tepat dijelaskan sebagai pergeseran pada area patahan yang lebih luas," lapor USGS.
Dua gempa hari ini "kemungkinan menunjukkan proses interaksi patahan yang kompleks," kata lembaga tersebut.
Gempa susulan, termasuk yang "berpotensi menimbulkan guncangan kuat", masih mungkin terjadi, tambah USGS.