Karier Cristiano Ronaldo di Piala Dunia berakhir dengan air mata

Sumber gambar, Lars Baron/Getty Images
- Penulis, Emlyn Begley
- Peranan, BBC Sport journalist
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 7 menit
Ronaldo tampak menitikkan air mata saat perjalanan Piala Dunia-nya berakhir di Dallas.
Gol Mikel Merino pada masa injury time memastikan Spanyol menyingkirkan negara tetangganya itu dan melaju ke babak berikutnya.
Penyerang berusia 41 tahun tersebut merupakan peraih lima Ballon d'Or, lima gelar Liga Champions, serta juara Euro 2016 bersama Portugal.
Sepanjang kariernya, dia telah mencetak rekor 976 gol untuk klub dan tim nasional.
Ronaldo juga menjadi pemain pertama yang mencetak gol di enam edisi Piala Dunia.
Tapi, pencapaian terbaiknya di turnamen ini terjadi pada debutnya pada 2006, ketika Portugal mencapai babak semifinal.
Sebelumnya, Ronaldo telah mengumumkan bahwa Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen terakhirnya.
Namun, ketika ditanya apakah dia akan terus membela tim nasional, dia menjawab, "Saya akan bertemu keluarga dan mengambil keputusan dengan kepala dingin."
Perdebatan mengenai apakah Portugal akan memiliki peluang lebih besar untuk menjuarai Piala Dunia tanpa tekanan untuk terus memainkan Ronaldo—yang kini membela Al-Nassr—sejak menit awal di setiap laga kemungkinan akan terus berlanjut.
Tetapi, tidak demikian bagi pundit BBC dan mantan penyerang Inggris, Chris Sutton, yang menyaksikan pertandingan tersebut langsung di Texas untuk BBC Radio 5 Live.
"Dia berjalan terseok-seok di lapangan seperti seorang kakek. Itulah alasan Portugal tersingkir," kata Sutton.
"Cristiano Ronaldo tidak melakukan apa-apa; benar-benar tidak memberikan kontribusi.
"Apa yang sebenarnya dilakukan Roberto Martinez? Bagaimana mungkin Anda terus mengakomodasi satu pemain sedemikian besar?
"Portugal tersingkir karena Roberto Martinez."
Tak lama setelah peluit akhir berbunyi, Martinez mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan posisinya sebagai pelatih Portugal. Meski demikian, ia tetap memberikan pujian kepada Ronaldo, yang disebutnya sebagai "ikon sepak bola".
"Kita perlu berterima kasih atas apa yang ia coba lakukan di Piala Dunia ini," kata Martinez.
"Mimpinya adalah memenangi Piala Dunia, dan ia mengejarnya dengan memberikan teladan yang luar biasa.
"Ia adalah contoh sempurna tentang sepak bola, sekaligus sosok manusia di balik atlet hebat tersebut."
Apakah keputusan memainkan Ronaldo sudah tepat?

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Salah satu tema yang terus mengemuka dalam beberapa turnamen besar terakhir adalah pertanyaan perihal apakah Cristiano Ronaldo masih layak menjadi pemain inti.
Ronaldo telah mencetak 146 gol untuk tim nasional Portugal, sebuah rekor dalam sepak bola internasional putra.
Tapi dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah pengamat menilai kontribusinya di lapangan tidak lagi sebesar sebelumnya.
Dengan ketenaran dan status yang melampaui sepak bola itu sendiri, Martinez tampaknya enggan mencadangkan sang kapten.
Padahal, Portugal diperkuat sejumlah pemain yang dianggap sebagai bek dan gelandang terbaik di dunia.
Baca juga:
Dengan komposisi skuad seperti itu, mereka tentu berharap bisa melangkah lebih jauh daripada hanya mencapai babak 16 besar.
Empat pemain dalam skuad Portugal turut berperan dalam keberhasilan Paris Saint-Germain memenangi dua gelar Liga Champions terakhir, yakni bek kiri Nuno Mendes, gelandang Vitinha dan Joao Neves, serta penyerang Goncalo Ramos, yang bergabung dengan AC Milan pada musim panas ini.
Sementara itu, gelandang Manchester United Bruno Fernandes terpilih sebagai pemain terbaik Liga Primer Inggris musim ini.
"Bagaimana mungkin Goncalo Ramos tidak dimainkan?" kata Sutton.
"Ini benar-benar memalukan dari sisi pelatih, yang hanya terus mengakomodasi pemain bintangnya.
"Ronaldo adalah pemain paling berprestasi yang pernah dimiliki Portugal, tetapi pelatih harus mampu mengambil keputusan yang lebih tegas."
Ronaldo mengakhiri turnamen dengan tiga gol, yakni dua gol saat menghadapi Uzbekistan dan satu gol lewat tendangan penalti ke gawang Kroasia.

Sumber gambar, Ryan Pierse - FIFA/FIFA via Getty Images
Namun, meski ada 10 pemain yang mencetak gol lebih banyak darinya, hanya empat pemain di Piala Dunia 2026 yang melepaskan lebih banyak tembakan dibanding Ronaldo, yang mencatatkan 18 percobaan.
Jumlah tembakannya sama dengan yang dibukukan Erling Haaland, yang saat ini memimpin daftar pencetak gol bersama dengan koleksi tujuh gol.
Sebaliknya, dalam lima laga yang dijalaninya, Ronaldo hanya menciptakan satu peluang untuk rekan setimnya.
Sebanyak 366 pemain juga tercatat lebih sering menyentuh bola dibanding Ronaldo sepanjang turnamen, meski dia bermain dalam seluruh pertandingan Portugal dan hanya absen selama sembilan menit dari total lima laga yang dijalani timnya.
Martinez membela keputusannya untuk terus memainkan Ronaldo.
"Ketika Anda membutuhkan gol, Anda tidak bisa menarik keluar Cristiano, setidaknya dalam 90 menit pertandingan. Secara fisik dia masih mampu bermain," ujar Martinez.
"Kehadirannya, kemampuannya membuka ruang, situasi bola mati, serta pengalamannya adalah hal-hal yang kami butuhkan."
Tambahan bukti bagi Messi dalam perdebatan status pemain terhebat sepanjang masa?
Popularitas Ronaldo, yang pernah membela Sporting CP, Manchester United, Real Madrid, dan Juventus, serta rival abadinya Lionel Messi, nyaris mengubah cara orang menjadi penggemar sepak bola.
Banyak orang kini mengidentifikasi diri mereka sebagai penggemar Ronaldo atau Messi—legenda Barcelona yang juga pernah membela Paris Saint-Germain—alih-alih semata-mata mendukung sebuah klub.
Persaingan keduanya bahkan menjadi tema sebuah film dokumenter yang ditayangkan BBC iPlayer pada musim panas ini.
Para pendukung kedua kubu tampaknya tidak akan pernah mengubah pendirian mereka dalam perdebatan mengenai siapa yang layak disebut sebagai pesepak bola terhebat sepanjang masa—jika memang salah satu dari mereka dapat dinobatkan sebagai yang terbaik.
Namun, hingga 2022, ada satu hal yang selalu menjadi bahan kritik terhadap keduanya: mereka belum pernah memenangi Piala Dunia, trofi yang pernah diangkat oleh dua legenda besar sepak bola, Pele dan Diego Maradona.

Sumber gambar, Ryan Pierse - FIFA/FIFA via Getty Images
Messi menghapus keraguan itu ketika membawa Argentina menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar. Kini, Ronaldo akan mengakhiri kariernya di Piala Dunia tanpa pernah merasakan gelar tersebut.
Meski keduanya telah memasuki fase akhir karier—Ronaldo bermain di Arab Saudi bersama Al-Nassr, sementara Messi membela Inter Miami di Amerika Serikat—banyak yang menilai dampak yang diberikan Messi saat ini masih lebih besar.
Messi menjadi salah satu pencetak gol terbanyak Piala Dunia 2026 dengan tujuh gol, menyamai catatannya saat membawa Argentina juara pada 2022.
Sebaliknya, Ronaldo hanya mencetak empat gol dalam dua edisi turnamen tersebut.
Mantan rekan setim Ronaldo di Manchester United, Wayne Rooney, memberikan penghormatan kepada pemain Portugal itu.
"Dia seorang jenius, seorang superstar. Apa yang telah dia berikan kepada sepak bola dan jutaan orang di seluruh dunia adalah sesuatu yang sangat langka," kata Rooney.
"Dia tentu kecewa karena percaya bisa memenangi turnamen ini. Namun waktu pada akhirnya datang untuk semua orang. Ini adalah hari yang menyedihkan bagi sepak bola."
'Kami hanya bisa tertawa karena melihatnya langsung' - kisah panjang umur Ronaldo di level tertinggi
Ronaldo masih memegang satu atau dua rekor Piala Dunia berkat kemampuannya bertahan di level tertinggi selama bertahun-tahun.
Dia menjadi satu-satunya pemain yang pernah mencetak gol di enam edisi Piala Dunia. Bersama Lionel Messi, ia juga termasuk dalam dua pemain yang pernah tampil di enam putaran final Piala Dunia.
Dengan koleksi 11 gol, Ronaldo menempati peringkat kesembilan dalam daftar pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia. Sementara itu, Messi berada di posisi teratas dengan 20 gol.
Namun, hanya satu dari 11 gol Ronaldo yang tercipta di fase gugur, yakni melalui tendangan penalti pada laga babak 32 besar melawan Kroasia di Piala Dunia tahun ini.
Pada Piala Dunia sebelumnya, Ronaldo sempat dicadangkan pada fase gugur. Itu merupakan kali pertama sejak 2008 ia tidak menjadi starter dalam pertandingan turnamen besar, setelah berselisih dengan pelatih Portugal saat itu, Fernando Santos.
Mantan penyerang Blackburn Rovers, Chris Sutton, melanjutkan kritiknya.
"Goncalo Ramos dimainkan pada babak 16 besar Piala Dunia sebelumnya dan mencetak hat-trick ketika pelatih memiliki keberanian untuk tidak menurunkan Ronaldo," ujar Sutton.
"Kini, empat tahun telah berlalu. Ronaldo empat tahun lebih tua, dan kita bisa melihat apa yang terjadi."
Para pendukung Portugal yang berbicara kepada BBC seusai pertandingan mengaku sedih karena perjalanan Ronaldo di Piala Dunia telah berakhir.
Salah seorang suporter berkata, "Salah satu impian saya adalah menyaksikan Ronaldo bermain secara langsung. Saya senang bisa melihatnya. Ia sangat berarti bagi kami.
"Saya benar-benar emosional. Kali ini kami hanya kurang beruntung. Apa yang telah dilakukan Ronaldo sungguh luar biasa.
"Kami tidak perlu menangisinya. Kami justru harus bersyukur dan tersenyum karena pernah menyaksikannya."
'Tidak masuk akal jika saya melanjutkan' - Martinez tinggalkan timnas Portugal
Mantan pelatih Swansea City, Wigan Athletic, dan Everton, Roberto Martinez, menangani tim nasional Belgia pada 2016 hingga 2022, sebelum ditunjuk sebagai pelatih Portugal pada 2023.
Pelatih asal Spanyol itu membawa Belgia mencapai semifinal Piala Dunia 2018, meski akhirnya kalah dari Prancis. Namun, empat tahun kemudian, Belgia tersingkir di fase grup Piala Dunia 2022.
Martinez sempat mempersembahkan gelar Nations League UEFA untuk Portugal tahun lalu. Namun, dia memutuskan mengakhiri masa jabatannya setelah Portugal tersingkir di Piala Dunia 2026.

Sumber gambar, Juan Luis Diaz/Quality Sport Images/Getty Images
"Saya datang ke Portugal dengan tujuan menjuarai Piala Dunia. Karena saya tidak berhasil mewujudkannya, tidak masuk akal bagi saya untuk melanjutkan," kata Martinez.
"Kontrak saya berakhir hari ini."
Chris Sutton kembali melontarkan kritik terhadap Martinez.
"Tugasnya adalah berusaha memenangi Piala Dunia dan menurunkan tim terbaik yang dimiliki Portugal.
"Apakah dia melakukannya? Sama sekali tidak.
"Cara dia menangani tim ini sungguh memalukan.
"Dia juga gagal memaksimalkan Belgia ketika negara itu memiliki kesempatan besar untuk meraih prestasi bersama generasi emas mereka. Pada akhirnya, potensi itu terbuang sia-sia.
"Dan sekarang di Portugal, sangat menyedihkan melihat seorang pelatih bertindak dengan cara seperti itu."
































