You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Piala Dunia 2026: Mengapa makin banyak pemain yang tidak memperkuat negara kelahiran mereka?
- Penulis, Fernando Duarte
- Peranan, BBC World Service
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 7 menit
Selama 25 menit pada 13 Juni, Maroko mencetak sejarah Piala Dunia ketika menahan imbang Brasil dengan skor 1-1. Pada pertandingan itu, tidak ada satu pun pemain timnas Maroko yang berlaga di lapangan, lahir di Maroko.
Sepanjang sejarah penyelenggaraan Piala Dunia, turnamen tahun ini mencatat persentase tertinggi pemain yang membela negara yang bukan tanah kelahiran mereka, yakni hampir seperempat dari total pemain.
Sejauh ini, penonton telah menyaksikan seorang pemain mencetak gol melawan negara kelahirannya, yaitu ketika Ibrahim Mbaye yang lahir di Prancis mencetak satu-satunya gol untuk Senegal dalam kekalahan 1-3 melawan Les Bleus pada 16 Juni.
Empat tahun lalu, pemain timnas Swiss, Breel Embolo, yang lahir di Kamerun, menjadi pemain pertama yang mencetak gol melawan negara kelahirannya sendiri dalam lebih dari 90 tahun sejarah Piala Dunia.
Alih-alih melompat penuh kemenangan dan kegembiraan, ia sejenak mengangkat tangannya dalam gestur yang terdengar seperti permintaan maaf.
"Saya tahu bahwa jika saya mencetak gol, saya tidak akan merayakannya, sebagai bentuk penghormatan. Namun itu bukan berarti saya tidak senang," kata Embolo kepada wartawan saat itu.
Pada Piala Dunia 2026, hanya delapan dari 48 tim yang tidak memiliki pemain yang lahir di luar negeri, menurut daftar tim resmi yang diserahkan kepada badan sepak bola dunia, FIFA.
Pendatang baru Piala Dunia, Curacao, hanya memiliki satu pemain yang lahir di pulau Karibia tersebut, pada skuad beranggotakan 26 orang. Negara ini merupakan bagian dari Kerajaan Belanda dan sebagian besar timnya lahir di Belanda.
Sementara itu, Qatar membawa pemain-pemain kelahiran 10 negara, mulai dari Afrika hingga Eropa dan Amerika Selatan.
Perpindahan seperti ini juga menciptakan perpecahan dalam keluarga.
Empat pasang kakak-beradik mewakili tim yang berbeda: Desire dan Guela Doue (Prancis dan Pantai Gading), Nico dan Iñaki Williams (Spanyol dan Ghana), Harry dan John Souttar (Australia dan Skotlandia), serta saudara tiri Derrick Luckassen dan Brian Brobbey (Ghana dan Belanda).
Baca juga:
Sebelum 2026, hal ini hanya terjadi dua kali – ketika saudara tiri Jerome dan Kevin Prince Boateng bermain di dua Piala Dunia (2010 dan 2014) mewakili Jerman dan Ghana. Mereka saling berhadapan di lapangan pada kedua kesempatan tersebut.
Profesor Gijsbert Oonk, seorang sejarawan Belanda dan pakar studi migrasi dan identitas di Erasmus University di Belanda, mengatakan tren ini mencerminkan dunia yang berubah.
"Hampir 4% populasi dunia tinggal di negara yang bukan tempat kelahiran mereka. Angka ini bahkan lebih tinggi pada pekerja berketerampilan tinggi dan atlet elite," jelasnya.
"Ini merupakan cerminan pola migrasi."
Sejarah singkat perpindahan negara
Persentase pemain kelahiran luar negeri di negara peserta Piala Dunia telah naik-turun selama beberapa dekade, hingga baru-baru ini.
Menurut penelitian Centre on Migration, Policy and Society (COMPAS) di Universitas Oxford, angkanya berada antara 2% dan 14%, Namun, persentase itu melonjak dalam dua turnamen terakhir.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, persentasenya mencapai 16,5%.
Pada Piala Dunia 2026, lonjakannya mencapai lebih dari 23%. Pemain kelahiran luar negeri mencapai 289 orang dari total 1.248 orang, seiring dengan meningkatnya jumlah negara peserta dari 32 menjadi 48.
FIFA didirikan pada 1904, tetapi baru menetapkan aturan kewarganegaraan secara resmi pada 1960-an. Sebelumnya, seorang pemain dapat bermain untuk negara mana pun yang mereka pilih.
Contoh paling menonjol adalah Luis Monti. Gelandang Argentina ini mewakili negaranya di Piala Dunia 1930, ketika Argentina menjadi runner-up. Dia kemudian bergabung dengan timnas Italia pada Piala Dunia 1934 dan memenangkan trofi.
Monti tetap menjadi satu-satunya orang yang pernah bermain di final Piala Dunia untuk dua negara berbeda.
Baca juga:
Pada 1962, FIFA mengeluarkan kriteria kelayakan sehingga pemain harus memiliki kewarganegaraan negara yang ingin mereka wakili, dan tidak lagi dapat mewakili lebih dari satu negara sepanjang karier mereka.
Pengecualian hanya diberikan kepada pemain yang kewarganegaraannya berubah secara tidak sukarela, seperti atlet dari bekas Uni Soviet dan Yugoslavia.
Perubahan lebih lanjut terjadi pada 2004, ketika FIFA mulai mengizinkan pemain memperkuat satu negara di level usia muda dan berpindah ke negara lain di level senior.
Namun, pemain harus memiliki "keterkaitan jelas" dengan suatu negara—memiliki setidaknya satu orang tua atau kakek-nenek yang lahir di negara tersebut, atau telah tinggal di negara tersebut setidaknya dua tahun.
Kini, persyaratan masa tinggal meningkat menjadi lima tahun.
Aturan pergantian kewarganegaraan juga sudah berubah.
Kini seorang pemain diizinkan untuk berganti kewarganegaraan meski yang bersangkutan telah memainkan maksimum tiga pertandingan internasional senior atau sebelum usia 21 tahun di tim negara yang mereka ingin tinggalkan.
Kemunculan Atlas Lions
Perubahan aturan ini kabar baik bagi negara diaspora, yang sebagian besar warganya tersebar di seluruh dunia. Contohnya, Maroko.
Pada 2010-an, dalam upaya meningkatkan kualitas sepak bolanya, negara tersebut menempatkan pencari bakat di negara-negara Eropa dengan komunitas Maroko yang besar, seperti Prancis, Belanda, dan Belgia.
Baca juga:
Masuknya talenta dari pemain diaspora menjadi salah satu faktor di balik pencapaian terbaik sepak bola Maroko: menjadi negara Afrika pertama yang mencapai semifinal Piala Dunia, di Qatar pada 2022.
Dua dari tiga pemain Maroko yang mencetak gol dalam laga perempat final tidak lahir di Maroko: Hakim Ziyech yang lahir di Belanda, dan Achraf Hakimi yang lahir di Spanyol.
"Ini adalah kisah tentang sebuah negara yang telah belajar untuk tidak memperlakukan diasporanya sebagai hal sampingan, melainkan sebagai bagian penting dari sistem sepak bola nasionalnya," kata Dr Myriam Cherti, peneliti senior di COMPAS.
Keputusan 'dari hati'
Dr Cherti mengatakan pilihan pesepak bola dapat dipengaruhi oleh "pertimbangan profesional, emosional, dan politik", termasuk harapan keluarga atau peluang internasional yang mungkin tidak mereka miliki.
Sebagai contoh, Ibrahim Mbaye telah bermain untuk Prancis di semua level usia muda. Namun, secara mengejutkan dia mengumumkan tahun lalu, pada usia 17 tahun, bahwa ia akan bermain untuk Senegal, negara kelahiran ibunya.
"Saya tidak akan pernah menyesal memilih untuk bermain untuk Senegal karena itu adalah keputusan dari hati," katanya kepada media Senegal, RTS, saat itu.
Yang lain, seperti mantan bek Real Madrid, Pepe, memilih jalur naturalisasi.
Menurut media Brasil yang mengutip ayahnya, Pepe menolak memperkuat Brasil pada 2006 dan memilih Portugal, tempat ia tinggal dan bermain sejak 2001. Ia kemudian menghadapi negara kelahirannya dalam pertandingan fase grup yang sengit di Piala Dunia 2010.
"Saya tidak pernah menyesal menjadi warga Portugal," katanya dalam konferensi pers saat itu. "Saya melihat menghadapi Brasil seperti pertandingan lainnya: saya akan selalu membela Portugal."
Terkadang, perekrutan bisa terjadi secara tak terduga. Pada 2018, Roberto Lopes yang lahir di Dublin, yang ayahnya berasal dari Tanjung Verde, menerima pesan dari manajer timnas negara tersebut, Rui Aguas, melalui LinkedIn. Aguas bertanya apakah dia tertarik bermain untuk tim nasional Tanjung Verde.
Lopes, yang bermain untuk klub Irlandia, Shamrock Rovers, mengabaikan pesan tersebut selama berbulan-bulan karena mengira itu spam, sebelum menyadari kesalahannya.
"Saya merasa sangat tidak sopan," kata Lopes kepada BBC Sport.
Bek tersebut kemudian menjadi salah satu pahlawan dalam hasil imbang tanpa gol Tanjung Verde melawan juara Eropa, Spanyol, pada 15 Juni.
Topik sensitif
Berganti kewarganegaraan merupakan topik sensitif.
Sepp Blatter, presiden FIFA dari 1998 hingga 2015, mengkritik negara-negara yang mempercepat proses naturalisasi pemain—terutama pemain asal Brasil. Ia memperingatkan pada 2007 bahwa Piala Dunia yang didominasi tim "penuh pemain Brasil" adalah "bahaya nyata".
Penilaian publik juga bisa keras: pemain Spanyol kelahiran Brasil, Diego Costa, terus-menerus dicemooh oleh penonton lokal saat memperkuat Spanyol dalam Piala Dunia 2014 yang digelar di Brasil. Dia dihujat karena memilih mewakili negara Eropa tersebut.
Prof Gijsbert Oonk, yang mengajar mahasiswa dari berbagai kewarganegaraan, menyebut bahwa topik ini penuh perdebatan setiap kali dibahas dalam kuliahnya.
Sebagian mahasiswa berargumen bahwa penikmat sepak bola "tidak lagi dapat mengidentifikasi diri dengan suatu negara" jika timnya bergantung pada pemain kelahiran luar negeri, katanya.
"Namun mahasiswa lain mengambil pendekatan hak asasi manusia dan mengatakan 'biarkan saja, itu pekerjaan mereka, sumber penghasilan mereka'," tambahnya.
Bagi Dr Cherti, sepak bola tidak dapat terlepas dari perubahan sosial:
"Tim nasional bukan lagi sekadar cerminan populasi di dalam perbatasan. Semakin menjadi cerminan migrasi, sejarah, dan mobilitas global."