Gunung Dukono di Halmahera Utara meletus, dua warga Singapura dan satu WNI meninggal dunia

Sumber gambar, Kementerian ESDM
- Penulis, Jerome Wirawan
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 4 menit
Letusan Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, pada Jumat (08/05), menyebabkan dua pendaki asal Singapura dan satu warga Indonesia meninggal dunia. Mereka adalah bagian dari sedikitnya 20 pendaki yang terjebak di gunung tersebut.
Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, mengatakan seorang warga Ternate ditemukan meninggal dunia.
Sebelumnya, dia mengatakan dua warga Singapura telah meninggal dunia.
"Informasi dari BPBD dan Basarnas ada dua yang meninggal. Warga negara asing, orang Singapura," ujar Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, kepada BBC News Indonesia, Jumat (08/05).
Saat ini, sambungnya, terdapat setidaknya 34 personel dari Polres Halmahera Utara, TNI, BPBD, dan Basarnas sedang menuju lokasi para pendaki untuk mengevakuasi mereka.
Menurut informasi yang dia terima, kedua jenazah dan para penyintas berada di sekitar bibir kawah gunung tersebut. "20 orang terjebak," ujarnya.
"Ada sembilan WNA, sisanya warga lokal. Sebanyak tujuh pendaki asing sudah turun semua. Mereka ini sudah tahu kondisi yang dilarang semenjak Gunung Dukono level 2," kata Erlichson.
"Untuk korban meninggal, posisi korban masih di atas karena masih terjadi erupsi berulangkali sehingga tim gabungan masih memastikan keselamatan untuk evakuasi," tambahnya.
Bagaimana perkembangan evakuasi?
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Aldy, warga lokal yang bergabung dalam tim penyelamat, mengatakan, proses pencarian terhadap pendaki yang hilang masih berlangsung di Gunung Dukono.
Aldy dan timnya saat ini berada di shelter terakhir, sekitar dua kilometer dari puncak gunung.
"Kondisi di shelter terakhir aman, kami sedang melakukan diskusi untuk proses penyelamatan," ujarnya melalui sambungan telepon yang terputus-putus karena sinyal buruk.
Menurut Aldy, tim telah mengetahui posisi dua korban meninggal di area puncak, namun masih belum bisa melakukan evakuasi. Satu korban lagi, menurut dia, lokasi tepatnya belum ditemukan.
"Dari BPBD belum mengizinkan kami menyebutkan status meninggal, karena evakuasi belum dilakukan," katanya.
Tiga pendaki tersebut, kata dia, terdiri dari dua warga negara asing dan satu warga negara Indonesia.
Baca juga:
Di sisi lain, Gunung Dukono masih mengeluarkan abu vulkanik dan material batu dari kawah.
Aldy mengatakan kondisi ini membuat situasi di puncak menjadi sangat berbahaya bagi pendaki.
"Yang terlihat dari shelter, abu dan material batu terus keluar," ujarnya.
Sebelumnya, Aldy mengatakan pihak terkait telah mengeluarkan larangan pendakian sejak kurang lebih dua minggu terakhir. Larangan tersebut disosialisasikan melalui media hingga poster di jalur masuk.
Namun, para pendaki diduga tetap leluasa memasuki jalur pendakian, karena Gunung Dukono tidak punya pos pendaftaran resmi. Aldy menyangka para pendaki ini bertujuan melihat kawah Dukono.
Meski aktivitas gunung meningkat, menurut Aldy, warga di sekitar permukiman dilaporkan dalam kondisi aman karena jarak kampung yang relatif jauh dari kawah.

Basarnas menyatakan total pendaki yang berada di kawasan Gunung Dukono berjumlah 20 orang.
"Data sementara menunjukkan sebanyak 15 orang berhasil dievakuasi ke lokasi aman. Sementara lima lainnya masih berada di area puncak dengan rincian dua orang dilaporkan meninggal dunia, satu orang dinyatakan hilang, dan dua orang lainnya masih bertahan di kawasan atas gunung untuk melakukan pencarian terhadap korban hilang," ujar Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani.
Dua korban meninggal dunia diketahui merupakan warga negara asing asal Singapura, masing-masing bernama Timo dan Sahnas.
"Namun demikian, informasi tersebut masih menunggu verifikasi langsung dari tim SAR setelah tiba di lokasi kejadian," sebutnya.
"Hingga saat ini Tim SAR Gabungan masih terus berupaya menuju lokasi untuk melakukan evakuasi korban dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan aktivitas vulkanik Gunung Dukono," lanjut Iwan.
Iwan mengatakan awalnya kantor SAR menerima sinyal darurat (SOS) pada titik koordinat 1°42'13.7"N 127°52'50.2"E.
Laporan tersebut selaras dan telah dikonfirmasi oleh Kepala Desa Mamuya.
"Beliau menginformasikan bahwa di lokasi tersebut, tepatnya di kawasan Gunung Dukono Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara. terdapat sejumlah pendaki yang mengalami luka-luka akibat terdampak aktivitas erupsi Gunung Dukono," sebut Kepala Kantor SAR Ternate, Iwan Ramdani.
"Menindaklanjuti insiden darurat tersebut, Kepala Desa Mamuya secara resmi meminta bantuan SAR untuk proses evakuasi para korban," imbuhnya.
Dilansir situs PVMBG, Gunung Dukono erupsi pukul 07.41 WIT. Tinggi kolom letusan teramati ± 10.000 meter.
"Terjadi erupsi G. Dukono pada hari Jumat, 08 Mei 2026, pukul 07:41 WIT. Tinggi kolom letusan teramati ± 10000 m di atas puncak (± 11087 m di atas permukaan laut)," tulis PVMBG.
Kolom abu teramati kelabu hingga hitam. Saat laporan dibuat, Gunung Dukono masih meletus.
"Kolom abu teramati berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal ke arah utara. Saat laporan ini dibuat, erupsi masih berlangsung," tulisnya.
































