Apakah benar chatbot AI bisa membuat malas berpikir dan menjadi bodoh?

    • Penulis, Melissa Hogenboom
    • Peranan, BBC Culture*
  • Waktu membaca: 9 menit

Ketika Model Bahasa Besar (LLM) yang dipakai layanan kecerdasan buatan (AI) mulai mengambil alih sebagian besar tugas kognitif seseorang, para peneliti memperingatkan ada harga mahal yang harus dibayar dari hal yang kemudian dilabeli sebagai "alih daya mental" ini.

Peneliti Nataliya Kosmyna mengaku curiga saat sedang menyortir berkas peserta magang. Banyak surat lamaran yang diterimanya sangat mirip.

Isinya panjang dan rapi dengan susunan serupa, yaitu bagian pengantar lalu melompat pada hubungan pelamar dengan pekerjaan yang disasar secara tidak masuk akal.

Kosmyna pun menyimpulkan para pelamar menggunakan LLM dari kecerdasan buatan yang menjadi penggerak chatbot, seperti ChatGPT, Google Gemini, dan Claude, untuk menulis surat lamaran mereka.

Selama berkuliah di kampus Massachusetts Institute of Technology (MIT), Kosmyna meneliti interaksi manusia dan komputer. Ia mulai mengamati sejumlah mahasiswa kini lebih mudah lupa pada materi yang baru-baru ini diajarkan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

Kemudian, muncul kekhawatiran kemampuan berbahasa dan kemampuan melakukan tugas-tugas kognitif dasar, seperti berpikir kritis, pemecahan masalah, dan tingkat konsentrasi, dapat terpengaruh ketika terlalu bergantung pada AI. Hal ini tak hanya dirasakan Kosmyna, tapi juga para peneliti lainnya.

Apalagi kini kian banyak penelitian yang menunjukkan "pengalihan beban kognitif" ke AI ini berdampak merusak kemampuan mental. Konsekuensinya pun cukup mengkhawatirkan dan bahkan berkontribusi pada penurunan fungsi kognitif.

Sebab, alat yang digunakan rupanya dapat mengubah cara berpikir. Dengan hadirnya internet, misalnya, tugas-tugas yang dahulu memerlukan penelitian mendalam dapat diselesaikan hanya dengan memasukkan satu kata kunci sederhana ke dalam kotak pencarian.

Seiring meningkatnya penggunaan mesin pencari, berbagai penelitian mengungkapkan kecenderungan untuk mengingat secara detil menurun. Fenomena ini dijuluki "efek Google".

Meski ada sebagian pihak yang berpendapat internet juga bertindak sebagai sistem memori eksternal yang membebaskan otak manusia untuk bisa bersamaan melakukan tugas lain.

Kendati demikian, keresahan lain mengemuka saat porsi pikiran makin dominan didelegasikan pada LLM atau bentuk AI lainnya. Daya ingat dan kemampuan memecahkan suatu masalah bisa merosot tajam.

Memang benar, kecerdasan buatan mampu mengarang puisi yang meyakinkan, menawarkan nasihat keuangan, dan bahkan memberikan pendampingan. Para pelajar juga makin banyak yang memasrahkan tugas mereka kepada AI.

Namun, hal ini berbahaya. Hasil dari sejumlah studi menunjukkan kaum muda menjadi pihak yang sangat rentan terhadap dampak negatif penggunaan AI, terutama terhadap keterampilan kognitif dasar, seperti berpikir kritis.

Sejalan dengan meningkatnya ketergantungan pada kecerdasan buatan, Kosmyna menilai ada pengaruh kognisi mahasiswanya dengan perkembangan teknologi yang populer ini. Ia pun mendalaminya untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik.

Bagaimana hasil penelitian terkait penggunaan AI?

Untuk menggali lebih dalam, Kosmyna dan rekan-rekannya di MIT Media Lab merekrut 54 mahasiswa untuk menulis esai singkat. Mereka dibagi ke dalam tiga kelompok.

Satu kelompok diminta menggunakan ChatGPT. Kelompok kedua boleh menggunakan mesin pencari Google, tapi menonaktifkan ringkasan yang dihasilkan AI. Lalu, Kelompok ketiga tidak menggunakan teknologi apa pun. Dari sini, gelombang otak tiap mahasiswa diukur saat mereka mengerjakan tugas tersebut.

Topik esai untuk penelitian ini sengaja dibuat terbuka, yang artinya tugas ini memerlukan sangat sedikit riset. Hanya ada instruksi utama topik, seperti terkait tentang kesetiaan, kebahagiaan, atau keputusan yang diambil dalam kehidupan sehari-hari.

Meski hasilnya belum dipublikasikan dalam jurnal ilmiah, Kosmyna berkata penelitian ini membongkar banyak hal.

Antara lain, kelompok ketiga yang hanya mengandalkan pikiran sendiri tanpa teknologi apapun memperlihatkan otak yang "menyala" dengan aktivitas yang tersebar luas di banyak area.

Sementara itu, kelompok kedua yang hanya menggunakan mesin pencari menunjukkan aktivitas intens di area visual otak. Namun, kelompok yang menggunakan ChatGPT mengindikasikan aktivitas otak yang jauh lebih rendah, yakni turun hingga 55%.

"Otaknya tidak tertidur, tetapi ada penurunan aktivitas di area yang terkait dengan kreativitas dan pemrosesan informasi," kata Kosmyna.

ChatGPT juga memengaruhi ingatan para peserta. Setelah menyerahkan esai, anggota kelompok yang menggunakan AI tidak mampu mengutip bagian dari tulisan mereka sendiri, dan beberapa di antaranya tidak memiliki rasa kepemilikan atas karya tersebut.

Studi lain juga menunjukkan orang kehilangan kemampuan untuk menyimpan dan mengingat informasi ketika menggunakan alat kecerdasan buatan seperti ChatGPT.

Temuan ini memang masih dalam tahap penelaahan sejawat atau peer review. Akan tetapi, hasilnya sejalan dengan studi lain. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh pakar dari University of Pennsylvania menemukan sebagian orang mengalami kondisi yang disebut "kognitif yang menyerah" saat menggunakan chatbot AI.

Artinya, orang-orang tersebut cenderung menerima apa yang dikatakan AI dengan pemeriksaan yang minimal, dan bahkan membiarkan interpretasi tersebut mengalahkan intuisinya sendiri.

Dampak serupa dapat terlihat di luar ranah chatbot AI, termasuk ketika berada dalam situasi hidup dan mati. Tim peneliti multinasional baru-baru ini mendapati tenaga medis yang menggunakan AI untuk skrining kanker usus besar selama tiga bulan ternyata menjadi kurang mampu mendeteksi tumor tanpa bantuan alat tersebut.

Untuk itu, Kosmyna kembali memperingatkan risiko negatif yang berpotensi terjadi, termasuk kehilangan kreativitas untuk melahirkan karya orisinal. Sebab, hal ini jelas terlihat pada hasil esai yang ditulis para mahasiswa dalam studinya dengan ChatGPT.

Esai para mahasiswa yang menggunakan ChatGPT sangat mirip satu sama lain. Para dosen penilai pun menyebutnya "tanpa jiwa" karena kurang orisinalitas dan kedalaman, ujarnya. "Salah satu dosen bahkan bertanya apakah para mahasiswa duduk bersebelahan, mengingat betapa miripnya esai-esai itu."

Studi seperti ini baru menggambarkan dampak jangka pendek yang dapat ditimbulkan oleh LLM pada otak. Untuk konsekuensi jangka panjangnya masih belum jelas, meski studi Kosmyna dan rekan-rekannya memberikan gambaran awal tentang hal tersebut.

Empat bulan setelah penelitian tersebut, para mahasiswa diminta lagi menulis esai lain. Namun kali ini, mereka yang masuk dalam kelompok pengguna ChatGPT diminta bekerja tanpa dukungan LLM.

Konektivitas saraf di otak mereka ternyata lebih rendah dibandingkan mereka yang melakukan berpikir sendiri atau menggunakan mesin pencari lalu beralih ke ChatGPT. Hal ini mengisyaratkan mereka tidak terlibat secara memadai dengan topik yang dibahas pada proses sebelumnya.

AI bisa berdampak positif, asal....

LLM bisa saja menjadi alat yang positif untuk merangsang pemikiran, dengan catatan tidak bergantung sepenuhnya untuk memasrahkan tugas-tugas mental, ujar ahli saraf komputasional Vivienne Ming.

Persoalannya, penulis Robot Proof ini menyadari mayoritas orang yang berinteraksi dengan teknologi tersebut justru menyerahkan tugas-tugas mental dan kognitif pada perangkat tersebut.

Ini dijumpainya ketika melakukan penelitian. Ming meminta sekelompok mahasiswa University of Berkeley untuk memprediksi sejumlah hal, seperti salah satunya harga minyak. Ia pun menemukan sebagian besar peserta langsung beralih ke AI dan menyalin jawabannya. Di saat yang bersamaan, ia mengukur aktivitas gelombang gamma di otak mereka untuk menangkap indikator upaya kognitif. Hasilnya adalah terdapat aktivitas kognitif yang sangat rendah.

Serupa dengan Kosmyna, temuan Ming juga belum dipublikasikan. Walakin, ia khawatir apabila hasil tersebut dilakukan studi lebih mendalam, ada implikasi jangka panjang yang terpetakan.

Sebab pada penelitian lain, ada kaitan aktivitas gelombang gamma yang lemah dengan penurunan kognitif pada tahap lanjut kehidupan di masa mendatang.

"Itu sangat mengkhawatirkan. Alat ini hanya sarana, bukan digunakan begitu saja. Ini berkaitan dengan kecerdasan manusia di masa depan," ujar Ming.

"Jika kita tidak melatihnya, implikasi jangka panjangnya terhadap kesehatan kognitif sangat besar. Padahal kemampuan berpikir mendalam adalah kekuatan super kita. Upaya kognitif dibutuhkan oleh otak yang sehat," kata Ming.

Kendati demikian, Ming memperoleh kurang dari 10% peserta menggunakan AI sebagai alat untuk mengumpulkan data yang kemudian mereka analisis sendiri. Individu-individu ini membuat prediksi yang lebih akurat dibandingkan peserta lain dan juga menunjukkan aktivitas otak yang lebih besar.

Hampir dua dekade lalu, Ming memprediksi dalam kurun 20 hingga 30 tahun, ada peningkatan yang signifikan secara statistik dalam tingkat demensia, yang secara langsung terkait dengan ketergantungan berlebihan pada Google Maps.

"Niat saya adalah untuk bersikap memantik analisis kritis. Jika Anda tidak perlu berpikir tentang bagaimana menavigasi, maka akan ada efek yang dapat dideteksi."

Penggunaan GPS yang semakin meningkat telah dikaitkan dengan penurunan memori spasial dari waktu ke waktu, menurut studi terhadap 13 orang selama tiga tahun. Selain itu, navigasi spasial yang buruk dapat menjadi faktor potensial penyebab penyakit Alzheimer, menurut studi lainnya.

Karena itu, makin aktif otak manusia, makin besar perlindungannya terhadap penurunan kognitif. Ming menambahkan penggunaan LLM bukan hanya dapat mengikis kreativitas, tapi juga merusak kognisi dan berpotensi meningkatkan risiko demensia.

Seiring meningkatnya penggunaan alat AI, manusia juga harus memahami bagaimana pemakaiannya memang bertujuang menguntungkan, bukan merugikan dalam jangka panjang.

Ming pun menyarankan tujuan akhirnya mungkin adalah bentuk "kecerdasan hibrida", yakni manusia dan mesin "menangani tugas-tugas sulit" secara bersama-sama. Maksudnya, manusia harus terlebih dahulu berpikir sendiri dan kemudian menggunakan alat tersebut untuk mengujinya.

Kosmyna sepakat dengan pendekatan ini dan menyarankan agar mempelajari berbagai mata pelajaran tanpa menggunakan alat AI pada tahap awal. Hal ini untuk membangun fondasi yang kuat. Baru setelahnya penggunaan AI bisa dipertimbangkan.

Ming merekomendasikan penggunaan "instruksi némesis" untuk menguji penalaran sendiri. Metode ini melibatkan permintaan kepada AI untuk berperan menjelaskan secara rinci mengapa ide-ide kita keliru dan bagaimana dapat memperbaikinya.

Melalui cara ini, kita dipaksa untuk membela dan menyempurnakan argumen, bukan sekadar menerima jawaban yang diberikan alat tersebut.

Teknik lain yang diusulkan adalah memprioritaskan "gesekan produktif", dengan meminta AI hanya memberikan konteks dan mengajukan pertanyaan, alih-alih langsung memberikan jawaban. Saat menguji metode ini, ia mengamati para pengguna menunjukkan tingkat keterlibatan dan partisipasi yang lebih tinggi.

Pada akhirnya, kita semua perlu tetap waspada terhadap jalan pintas kognitif. Sesuatu yang dicatat Kosmyna sebagai hal yang "sangat disukai otak kita". Namun, demi memastikan kesehatan otak jangka panjang, perlu selalu mengasah diri dengan menantang kinerja otak untuk senantiasa berpikir dan berkreasi.