You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
'Saya pikir saya meninggal' – Apa penyebab kecelakaan kereta api di Bekasi Timur, dan bagaimana agar tragedi tidak terulang?
- Penulis, M. Irham
- Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
- Waktu membaca: 10 menit
Kecelakaan kereta api di Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/04) diduga dipicu insiden taksi listrik Green SM Indonesia yang tertemper KRL di perlintasan sebidang JPL 85—dekat lokasi kejadian. Namun, pemerhati transportasi melihat persoalan yang lebih pelik.
Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) telah menerjunkan penyelidiknya di lapangan menandai dibukanya investigasi.
Sejauh ini, sedikitnya 14 orang meninggal dan puluhan lainnya luka setelah Kereta Api 4 Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi menabrak bagian belakang KRL TM 5568A (PLB 5568a) yang berhenti di peron 2 Stasiun Bekasi Timur pada pukul 20.50 WIB.
Atas kejadian ini lalu lintas perjalanan Kereta Api di lintas Jakarta sampai Cikarang dapat dikatakan terhenti total.
Presiden Prabowo Subianto pada Selasa pagi (28/04) menyempatkan hadir di RSUD Bekasi, salah satu rumah sakit korban luka dirawat. Ia memerintahkan investigasi menyeluruh agar kejadian serupa tak terulang.
'Saya pikir saya meninggal' - Bagaimana kesaksian penyintas?
"Kejadiannya cepat banget. Sepersekian detik," kata Sausan Sarifah, penyintas kecelakaan kereta api Stasiun Bekasi Timur seperti dikutip kantor berita AFP.
Saat Kereta Api 4 Argo Bromo Anggrek menabrak, Sausan berada di salah satu gerbong bagian belakang KRL TM 5568A yang berhenti. Peristiwa yang dalam sekejap mata membuat tubuhnya bertumpuk dengan penumpang lain.
"Saya pikir saya meninggal, apalagi kalau misalkan evakuasinya lama. Karena di situ sudah ketiban-tiban. Jadi kayak pasti akan kehabisan napas gitu, saya pikir ," katanya. "Tapi Alhamdulillah-nya masih bisa selamat".
Di benaknya, Sausan masih melihat jelas bagaimana sejumlah penumpang terimpit di bagian bawah sedang berusaha untuk bertahan hidup. "Mungkin mereka sudah nggak ada juga ya. Karena pas ada di bawah saya tuh, mereka semua sudah pada kejang-kejang, kehabisan nafas," katanya.
"Semoga mereka khusnul khotimah, dan keluarga diberi ketabahan," kata Sausan dengan suara bergetar.
Cucu dan anak selamat, tapi Nuryati tidak
Sebuah gang di Kemayoran, Jakarta Pusat dipenuhi pelayat, ambulans sudah terparkir untuk mengantarkan korban kecelakaan KRL Bekasi, menuju liang lahat.
Menurut keterangan keluarga, Nuryati (63 tahun) naik kereta itu bersama cucu yang berusia empat tahun dan anak perempuannya.
Anaknya dan cucunya berhasil menyelamatkan diri sesaat setelah tabrakan kereta, tetapi Nuryati terperangkap di dalam gerbong.
Nuryati sempat dievakuasi tim Basarnas, tetapi nyawanya tak tertolong, seperti dilaporkan wartawan BBC News Indonesia, Silvano Hajid dari rumah korban.
"'Kak, ibu pingsan', itu kata anak Ibu Nuryati yang ada di lokasi kejadian, dia tidak tahu jika ibu sudah tiada," kata Andi Ayubbi, keluarga korban, ketika ditelepon saat kejadian.
"Yang jelas, di dalam gerbong, suasananya pengap, hampir tidak ada udara untuk bernapas," tambah Andi.
Pemakaman almarhum Nuryati dilaksanakan pada Selasa (28/04) siang di TPU Karet Bivak Jakarta.
Almarhumah Nuryati, meninggalkan delapan orang anak yang hadir dalam pememakaman ibunda mereka.
Beberapa dari mereka terduduk lemas usai para pelayat meninggalkan area pemakaman, sesekali air mata masih menetes.
Halimah, anak sulung Nuryati, terlihat paling tegar di antara adik-adiknya. Dia menceritakan keadaan sang ibu pada hari kecelakaan itu, sambil menyelipkan kalimat "saya masih butuh mama".
Hari itu, Halimah melanjutkan cerita, ibunya pergi bersama adik perempuan dan keponakannya, untuk menjenguk salah satu anaknya yang sedang sakit.
"Awalnya saya tidak umumkan di grup WhatsApp keluarga kalau adik saya sakit, tetapi adik saya yang hubungi ibu saya langsung," terang Halimah.
Halimah melanjutkan, "Mama itu, kalau dengar anaknya sakit, langsung ingin jenguk."
Berangkatlah mereka hingga berada di gerbong KRL khusus perempuan. "Informasi dari adik saya, ketika kecelakaan terjadi, dia dan anaknya bisa menyelamatkan diri lewat jendela, tetapi tidak dengan ibu saya, terlalu berat [terimpit] katanya," jelas Halimah.
Halimah mendapatkan kabar ibunya menjadi beberapa orang terakhir yang dievakuasi tim Basarnas.
Keadaan gerbong kereta, menurut keterangan adik Halimah, gelap dan pengap.
Namun, satu kabar lagi membuat Halimah sempat terdiam, adiknya mengabari "Mama, pingsan."
"Setelah itu, mama dinyatakan sudah tiada."
Lewat kedukaan yang belum selesai, Halimah masih bisa berpikir bahwa "harus ada yang bisa diperbaiki dalam sistem transportasi umum ini, karena sering terjadi kecelakaan di jalur-jalur itu," jelas Halimah.
Dirinya juga termasuk salah satu pengguna KRL, dan belum terpikir untuk menggunakan moda transportasi itu lagi.
"Masih terbayang wajah mama saya, masih terbayang kecelakannya," tutup Halimah.
Apa penyebab kecelakaan kereta di Bekasi Timur?
Dugaan sementara kecelakaan terjadi karena KRL yang ditabrak sempat terhenti di jalurnya setelah insiden KRL lain yang menemper sebuah taksi mogok di atas rel.
"Jadi KRL-nya itu ada taksi yang menemper KRL di JPL (Jalur Perlintasan Langsung) lintasan dekat Bulak Kapal, yang membuat KRL-nya terhenti," kata Manajer Humas KAI Daop 1 Jakarta, Franoto Wibowo kepada media.
Saat kondisi berhenti, KRL kemudian ditabrak dari belakang oleh kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek yang melaju di jalur yang sama.
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin mengklaim insiden temperan taksi ini "membuat sistem perkeretaapian di daerah emplasemen Stasiun Bekasi Timur ini agak terganggu".
Saat ini PT KAI menyerahkan seluruh penyelidikan kepada KNKT. PT KAI juga menyampaikan "duka mendalam dan permohonan maaf atas kejadian ini".
KNKT melalui tim humasnya mengatakan, "Sejak tadi malam tiga orang investigator kami sudah turun ke lapangan untuk melakukan investigasi. Pagi ini (Selasa 28/04), investigasi akan dilanjutkan".
Di sisi lain, dalam unggahannya di Instagram dan Facebook, Green SM Indonesia membenarkan bahwa "taksi hijau" itu adalah miliknya.
Green SM Indonesia mengatakan tengah berkoordinasi secara aktif dengan pihak berwenang. Dan, "mendukung penuh proses investigasi yang sedang berlangsung."
Mengapa kecelakaan kereta Bekasi disebut mirip dengan kecelakaan di Pemalang?
Dugaan penyebab kecelakaan kereta api juga menjadi perhatian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI). Analisis MTI senada dengan keterangan dari pihak KAI. Namun organisasi pemerhati transportasi ini juga melihat celah pada kesalahan manusia.
"Sangat menyedihkan, dalam waktu singkat (domino effect), tiga rangkaian kereta terlibat insiden beruntun," kata Ketua Forum Perkeretaapian MTI, Deddy Herlambang dalam keterangan tertulis.
Menurut catatannya, ini merupakan kecelakaan pertama yang serupa antar kereta setelah tragedi 2 Oktober 2010 di Stasiun Petarukan, Pemalang.
Dalam analisisnya, Deddy melihat pola yang sama antara kecelakaan di Bekasi Timur dan Petarukan.
Dalam peristiwa 2010, KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Pasar Turi Surabaya yang menabrak KA Senja Utama Semarang relasi Pasar Senen–Semarang Tawang. Sebanyak 35 orang meninggal, 29 luka berat, dan 5 orang luka ringan.
"Kesamaan kejadian KKA (kecelakaan kereta api) ini adalah Kereta Api Argo Anggrek menubruk Kereta Api lain dari belakang atau 'sodomi' (rear-end collision). Saat KKA di Petarukan, masinis dianggap lalai karena tidak melihat sinyal berhenti (warna merah)," tambah Deddy.
Deddy menduga ada kemungkinan kejadian di Stasiun Bekasi Timur karena "masinis Kereta Api Argo Bromo Anggrek juga dianggap lalai karena tidak melihat sinyal berhenti (warna merah)".
Ia melanjutkan, pada lintas Kereta Api Jatinegara–Cikarang menggunakan persinyalan open block. Artinya, jika ada rangkaian Kereta Api berhenti, sinyal di belakangnya akan menyala merah otomatis.
"Artinya Kereta Api yang berada di belakangnya wajib berhenti. Bila masinis lalai atau tidak melihat sinyal warna merah tersebut dapat dipastikan akan terjadi KKA menubruk Kereta Api di depannya," tambah Deddy.
Kesimpulannya, MTI mengatakan terdapat dua isu keselamatan pada KKA ini, yang pertama mobil listrik yang mogok di perlintasan tanpa palang pintu (JPL 85). Kedua, masinis yang diduga lalai melihat sinyal berhenti sehingga mengakibatkan Kereta Api menabrak Kereta Api lain dari belakang (rear-end collision).
"Kecelakaan KKA yang berpotensi berulang-ulang dengan modus penyebab yang sama akan menimbulkan keprihatinan tanpa batas," katanya.
Ia mengusulkan perbaikan secara menyeluruh pada sistem keselamatan perkeretaapian, termasuk peremajaan teknis, penentuan jumlah rel yang dibuat khusus kereta api jarak dekat dan jarak jauh, modernisasi sistem sinyal, pengaturan jam kerja pekerja kereta, sistem periksa berulang sinyal, peremajaan sarana dan prasarana, prosedur pengguna jalan yang melalui perlintasan rel kereta dan SOP kendaraan mogok di atas rel.
Apa yang dikatakan Presiden Prabowo soal kecelakaan kereta di Bekasi Timur?
Saat menjenguk korban luka kecelakaan di RSUD Bekasi, Presiden Prabowo menyampaikan belasungkawa.
Prabowo menegaskan, pemerintah akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi perlintasan kereta api yang dinilai masih banyak belum terjaga dengan baik, khususnya di wilayah padat seperti Bekasi.
"Kita perhatikan lintasan-lintasan kereta api ini banyak yang tidak terjaga. Pemerintah Daerah Bekasi telah mengajukan pembangunan fly over karena Bekasi ini juga padat, dan kebutuhan kereta api itu sangat penting serta mendesak. Saya sudah setujui agar segera dibangun fly over langsung melalui bantuan Presiden," jelas Prabowo.
Selain Bekasi, Prabowo juga menyoroti sekitar 1.800 titik perlintasan serupa di Pulau Jawa yang membutuhkan penanganan serius. Menurutnya, banyak lintasan tersebut telah ada sejak zaman kolonial dan belum terselesaikan hingga saat ini.
"Dari zaman Belanda, sudah berapa puluh tahun, sekarang sudahlah kita selesaikan semua itu. Saya akan perintahkan segera kita akan perbaiki semua lintasan tersebut, apakah dengan pos jaga atau dengan fly over, nanti pelaksanaannya kita tunjuk," lanjutnya.
Lebih lanjut, pemerintah akan menyiapkan anggaran hampir Rp4 triliun untuk meningkatkan keselamatan transportasi publik sekaligus memperkuat infrastruktur perkeretaapian nasional.
"Kita perhitungkan sekitar hampir Rp4 triliun demi keselamatan, karena kereta api sangat penting dan sangat kita perlukan. Sudah berapa puluh tahun hal ini tidak dilakukan, sekarang saatnya kita lakukan," imbuhnya.
Sementara itu, Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, saat mendampingi Presiden Prabowo mengatakan, pemerintah meminta penyelidikan dipercepat.
"Investigasi tentu harus dilakukan. Kemudian, beliau (presiden) juga meminta agar dipikirkan langkah antisipasi supaya hal-hal seperti ini tidak terulang kembali," katanya.
Mengapa ada wacana utak-atik gerbong khusus perempuan?
Pascainsiden, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi mengusulkan gerbong KRL perempuan ditempatkan di tengah rangkaian.
Menteri Afifah mengaku mendapat alasan pihak KAI gerbong KRL khusus perempuan berada bagian depan dan belakang, "supaya tidak terjadi rebutan".
Namun, menurut Arifah, imbas kecelakaan ini, dia ingin ada perubahan. Dia meminta gerbong yang bagian ujung diisi gerbong untuk umum.
"Jadi yang laki-laki di ujung. Depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah gitu," kata Arifah seperti dikutip Detik.com, Selasa (28/04).
Dalam kecelakaan maut ini, KA Argo Bromo menabrak bagian belakang KRL yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur, seluruh korbannya adalah perempuan.
Mengapa gerbong perempuan berada di ujung rangkaian kereta?
Tidak ada regulasi yang mendasari tentang letak posisi gerbong perempuan di depan atau belakang. Ini diatur sepenuhnya pihak operator atau KAI Commuter. Tapi pihak operator sejauh ini tak pernah secara eksplisit menjelaskan, setidaknya ini yang tertangkap di media.
Keberadaan gerbong khusus perempuan sudah dirintis sejak 2010. Pada dasarnya, ini merupakan afirmasi di tengah tingginya angka pelecehan seksual terhadap perempuan di ruang publik, khususnya transportasi umum.
Gerbong khusus perempuan merupakan upaya memberi rasa aman terutama dari risiko pelecehan seksual.
Pengamat sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati memandang implementasi ruang khusus perempuan di transportasi publik merupakan intervensi yang tepat dilakukan di tengah sulitnya mengubah cara pandang laki-laki patriarki.
Berdasarkan ulasan media mitra BBC News Indonesia, Suara.com, penempatan gerbong khusus perempuan di bagian ujung rangkaian sebagai berikut:
- Memudahkan akses penumpang perempuan
Gerbong yang berada di ujung rangkaian dinilai memudahkan kelompok rentan seperti ibu hamil, lansia, ibu bawa anak, dan perempuan dengan kebutuhan khusus.
Perempuan tak perlu berdesakan masuk dari tengah rangkaian yang biasanya lebih padat, karena gerbong khusus ini sudah bisa dikenali lokasinya sejak kereta datang.
- Pertimbangan kondisi dan desain stasiun
Dengan adanya gerbong khusus ini, turun naik penumpang akan lebih terdistribusi. Mengurangi penumpukan pada satu titik tertentu.
- Memudahkan pengawasan
Petugas akan lebih mudah untuk mengawasi penumpang yang masuk ke gerbong tersebut.
- Keamanan dan kenyamanan
Gerbong KRL khusus perempuan tetap akan penuh sesak saat jam-jam sibuk. Interaksi fisik sulit dihindari. Oleh karena itu, gerbong khusus menjadi solusi menciptakan ruang lebih aman dan nyaman bagi perempuan.
- Bagian dari kebijakan afirmasi sejak 2010
Gerbong khusus perempuan mulai diterpak 2010 oleh Kementerian Perhubungan atas meningkatnya pelecehan seksual di transportasi umum.
- Kritik dan tantangan
Jaraknya jauh dari akses utama stasiun seperti tangga dan ekslator. Kadang dianggap kurang praktis karena keterbatasan kapasitas gerbong khusus ini membuatnya sering penuh, terutama pada jam sibuk.
Artikel ini akan terus diperbarui.