You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Mengapa rakyat India diminta tidak membeli emas selama setahun?
- Penulis, BBC Hindi & Isabel Shaw
- Peranan, BBC World Service
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 7 menit
Rakyat India didesak menghentikan pembelian emas selama setahun, seiring dampak ekonomi yang makin meluas akibat perang AS-Israel dengan Iran.
"Demi kepentingan negara, kita harus memutuskan bahwa selama setahun, meskipun ada acara di rumah, kita tidak akan membeli perhiasan emas," kata Perdana Menteri (PM) Narendra Modi pada 10 Mei lalu.
"Patriotisme tidak hanya tentang kesiapan mengorbankan nyawa di perbatasan. Dalam situasi seperti ini, hal itu berarti hidup secara bertanggung jawab dan menjalankan kewajiban kita kepada negara dalam kehidupan sehari-hari," tambahnya.
Tiga hari kemudian, India juga menaikkan bea impor emas menjadi 15% dari sebelumnya 6%.
Kebijakan ini menjadi pil pahit bagi pasar emas terbesar kedua di dunia dalam hal perhiasan dan investasi.
Pada tahun fiskal terakhir yang berakhir 31 Maret, negara itu mengimpor logam mulia senilai US$72 miliar (sekitar Rp1.267 triliun).
Di India, emas juga memiliki peran budaya yang penting, karena kerap diberikan sebagai hadiah dalam pernikahan dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Modi mengatakan bahwa pembelian emas menghabiskan cadangan devisa dalam jumlah besar, pada saat India sudah menghadapi kenaikan biaya impor minyak.
Negara di Asia Selatan itu mengimpor lebih dari 85% kebutuhan minyaknya.
Harga minyak melonjak hingga 70% pada puncaknya setelah dimulainya perang AS-Israel dengan Iran serta penutupan efektif Selat Hormuz, jalur perdagangan penting yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Lonjakan harga energi memberi tekanan pada pemerintah di seluruh dunia agar menerapkan langkah-langkah penghematan biaya.
Sementara banyak negara lebih berfokus pada penghematan energi, India tampak menjadi satu-satunya negara yang meminta warganya mengurangi pengeluaran untuk logam mulia.
Emas menjadi bagian dari kekhawatiran ekonomi yang lebih luas di India karena impor emas dan minyak sebagian besar dibayar dalam dolar AS.
Peningkatan permintaan terhadap dolar dapat melemahkan nilai rupee India, yang tahun ini telah terdepresiasi sekitar 5% terhadap dolar. Pelemahan ini berpotensi memicu tekanan inflasi.
"Bagi sektor perhiasan, situasi ini lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid," ujar perajin perhiasan berbasis di New Delhi, Sanjeev Agarwal.
Perajin lain dari ibu kota, Abhishek Agarwal, mengatakan para pelaku usaha "khawatir" mereka akan kesulitan bertahan jika masyarakat berhenti membeli emas.
Impor non-esensial
Lebih dari 90% kebutuhan emas India berasal dari impor, kata Profesor Sundaravalli Narayanaswami, kepala India Gold Policy Centre di Indian Institute of Management Ahmedabad, kepada BBC.
"Setiap tahun, 600 hingga 700 ton emas diimpor dan ekspor sangat rendah, sehingga emas ini menumpuk di rumah," ujarnya.
Perempuan India sering disebut memiliki sekitar 11% cadangan emas dunia, meskipun angka ini sulit diverifikasi dan estimasinya bervariasi.
Di India—dan juga secara global—emas dipandang oleh banyak orang sebagai investasi yang aman di tengah ketidakpastian, sehingga permintaannya dapat tetap tinggi bahkan saat krisis ekonomi.
Harga emas telah meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, bahkan menembus angka US$5.000 (sekitar Rp88 juta) per ounce atau 28 gram untuk pertama kalinya pada Januari.
Emas menyumbang sekitar 9% dari total impor negara tersebut.
Tapi, tidak seperti minyak, emas umumnya tidak dianggap sebagai kebutuhan esensial karena lebih banyak dibeli sebagai perhiasan atau instrumen investasi, bukan untuk produksi industri.
Pada masa lalu, India telah mencoba menekan impor emas berlebihan di saat tekanan ekonomi, dengan menaikkan bea masuk serta mendorong opsi investasi alternatif yang tidak melibatkan kepemilikan emas fisik.
Apa dampaknya?
Selain menahan diri supaya tidak membeli emas, Modi juga mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum, berbagi kendaraan, bekerja dari rumah, serta membatasi perjalanan luar negeri yang tidak penting guna mengurangi konsumsi bahan bakar.
Dia juga meminta keluarga mengurangi penggunaan minyak goreng dan meminta para petani untuk menekan pemakaian pupuk.
Pemerintah di berbagai negara lain juga telah memperkenalkan sejumlah langkah serupa demi mengatasi lonjakan harga bahan bakar.
Sebagai contoh, sistem kuota bahan bakar untuk kendaraan telah diterapkan dan lembaga pemerintah diminta mengurangi penggunaan energi di Sri Lanka; sementara di Thailand, masyarakat diminta mengurangi penggunaan pendingin udara.
Di tempat lain, Mesir sebelumnya memerintahkan toko dan restoran tutup lebih awal, sementara Mozambik menyarankan warganya bekerja dari rumah.
Namun, seruan Modi kepada publik untuk berhenti membeli emas dinilai "tidak cukup lazim", kata Hamad Hussain dari lembaga riset Capital Economics.
"Namun dalam kasus India, hal ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa negara tersebut mengimpor emas dalam jumlah besar dan komoditas itu menyumbang porsi besar dalam tagihan impor mereka. Jadi, dalam beberapa hal, kebijakan ini masuk akal," ujarnya.
Setahun penuh
Para ekonom terbelah perihal apakah penurunan permintaan dari India ke depan akan berdampak besar terhadap harga emas global.
Sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia dan konsumen emas yang besar, penurunan permintaan akan "menekan harga emas global… dengan menggeser keseimbangan menuju kelebihan pasokan", kata Hussain.
Namun, Sebastien Tillett dari firma penasihat Oxford Economics menilai dampaknya akan "terbatas" karena harga saat ini lebih dipengaruhi oleh permintaan investor dan ketidakpastian geopolitik.
Dia juga meragukan bahwa imbauan Modi kepada masyarakat India akan memberikan dampak besar terhadap belanja emas di negara tersebut.
"Seruan kepada publik barangkali memiliki dampak, tetapi lebih mungkin hanya menunda atau mengalihkan pembelian, bukan menghapusnya sama sekali," jelasnya, seraya menambahkan bahwa emas tetap "sangat melekat dalam budaya India dan tabungan rumah tangga".
"Dampak dalam jangka pendek juga bisa terbatas karena faktor musiman: permintaan emas biasanya lebih rendah di luar periode utama pembelian untuk pernikahan dan festival, sehingga sebagian perlambatan kemungkinan tetap akan terjadi," tambahnya.
Kenaikan bea impor emas pada 2013 sebelumnya dikaitkan dengan meningkatnya praktik penyelundupan dan perdagangan tidak resmi, menurut pejabat pemerintah dan pelaku industri saat itu.
Sejumlah analis menyebut imbauan Modi sebagai langkah "paling drastis" yang diumumkan sejauh ini sebagai respons terhadap lonjakan harga energi, sementara pemimpin oposisi Rahul Gandhi mengatakan pemerintah sedang mengalihkan "tanggung jawab kepada rakyat".
Sebagian pelaku industri perhiasan di India menyerukan pertemuan langsung dengan pemerintah untuk mencari solusi.
"Kalau hanya dua bulan, mungkin kami bisa bertahan, tetapi satu tahun penuh terlalu berat," kata perajin perhiasan lain, Shweta Gupta.
"Bagaimana kami harus membayar karyawan?"