'Saya tak pernah berhenti memikirkannya' – 25 tahun setelah 9/11, keluarga korban masih menunggu keadilan

John Resta berada di sisi kiri foto. Ia berambut gelap dan mengenakan kemeja linen putih. Di sampingnya, sang istri, Sylvia, berdiri di sisi kanan dengan rambut panjang berwarna gelap dan kemeja lengan pendek berwarna biru. Sylvia tampak merapat ke tubuh suaminya, dengan tangan kiri bertumpu di dada John. Cincin pernikahan terlihat melingkar di jarinya. Keduanya tersenyum ke arah kamera. Di belakang mereka, hamparan rumput dan bunga-bunga menjadi latar yang menambah kesan hangat dan akrab.

Sumber gambar, Tom Resta

Keterangan gambar, John Resta dan istrinya, Sylvia
    • Penulis, Alice Cuddy
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 10 menit

Seperempat abad setelah serangan 11 September 2001 (atau lazim disebut 9/11), Tom Resta masih memikirkan saudara laki-lakinya, John, hampir setiap hari.

Namun hingga kini, persidangan terhadap sosok yang dituduh sebagai dalang utama serangan tersebut bahkan belum dimulai. Pihak keluarga korban khawatir bahwa waktu untuk mendapatkan keadilan makin tipis.

Pemerintah AS menyebut 9/11 sebagai "tindak kriminal paling keji di wilayah Amerika Serikat dalam sejarah modern".

Tetapi 25 tahun berlalu, keluarga para korban masih menunggu proses hukum yang belum juga berjalan, termasuk bagi Tom Resta.

John Resta, dan istrinya, Sylvia, yang saat itu sedang hamil tujuh bulan, termasuk di antara hampir 3.000 orang yang tewas pada 11 September 2001.

Mereka menjadi korban ketika pesawat-pesawat yang dibajak menabrak Menara Kembar World Trade Center di New York dan Pentagon di Virginia. Satu pesawat lainnya jatuh di sebuah ladang di Pennsylvania setelah para penumpang melawan para pembajak.

Beberapa hari sebelum serangan terjadi, John dan Sylvia tengah menyiapkan kamar bayi untuk anak yang telah lama mereka nantikan.

Mereka mengecat kamar dengan gambar karakter dari serial anak-anak Blue's Clues.

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pasangan itu telah lama mendambakan seorang anak dan dikenal sangat menyayangi anak-anak dari keluarga maupun lingkaran pertemanan mereka.

Saat serangan terjadi, John dan Sylvia, yang sama-sama bekerja sebagai trader, sedang berada di lantai 92 Menara Utara World Trade Center.

"Setelah sekian lama, saya masih tercekat setiap kali mengingatnya," kata Tom Resta kepada BBC sambil menahan air mata.

Meski 25 tahun telah berlalu, ia mengatakan peristiwa 9/11 "hampir terus-menerus" hadir dalam pikirannya.

Baca juga:

Resta sudah empat kali mengunjungi pangkalan Angkatan Laut AS di Teluk Guantanamo untuk menyaksikan proses prapersidangan terhadap Khalid Sheikh Mohammed, sosok yang dituduh sebagai dalang serangan 9/11, beserta para terdakwa lainnya.

Dia menyebut proses itu "melelahkan dan berlarut-larut".

Pangkalan militer AS di bagian tenggara Kuba itu juga berfungsi sebagai fasilitas tahanan para terdakwa pelaku serangan 11 September 2001.

Khalid Sheikh Mohammed, yang kerap disebut dengan inisial KSM, telah ditahan di sana selama 20 tahun tanpa pernah dinyatakan bersalah melalui putusan pengadilan.

Kerabat korban yang ingin menghadiri persidangan harus mengikuti undian untuk mendapatkan tempat di ruang sidang berkeamanan tinggi.

Di ruang itu, mereka dan para wartawan dipisahkan dari para terdakwa oleh dinding kaca tebal.

Proses prapersidangan telah berlangsung begitu lama. Sedemikian lamanya, ada lima hakim militer yang bergantian memimpin persidangan.

Cakrawala Manhattan terlihat berpendar pada malam hari ketika gedung-gedung pencakar langit menyala di bawah langit gelap. Dua berkas cahaya menjulang ke langit dari kawasan One World Trade Center sebagai penghormatan bagi Menara Kembar World Trade Center yang hancur dalam serangan 11 September 2001.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sorotan cahaya penghormatan membentang di atas cakrawala Kota New York dalam peringatan serangan 11 September pada 2024.

Bulan lalu, menjelang peringatan 25 tahun serangan 9/11, muncul secercah kemajuan.

Tanggal persidangan KSM akhirnya ditetapkan, yakni pada Juni 2028.

Namun, Resta mengatakan ia bersiap menghadapi kemungkinan penundaan. Setelah begitu banyak waktu berlalu, sebagian anggota keluarganya khawatir tidak akan hidup cukup lama untuk menyaksikan persidangan itu berlangsung.

"Ayah saya akan berusia 98 tahun pada November nanti, dan saya rasa dia tidak berharap bisa melihatnya. Saya punya banyak anggota keluarga lain, paman dan bibi, yang ingin menyaksikan proses itu terjadi. Tetapi khususnya kedua orang tua saya, saya rasa mereka tidak berharap akan hidup cukup lama untuk menyaksikannya," ujar Resta.

"Saya juga berharap semua terdakwa masih hidup ketika persidangan akhirnya dimulai. Itu salah satu kekhawatiran besar kami," tambahnya.

Kekhawatiran Resta bahwa persidangan itu masih bisa kembali tertunda juga dirasakan oleh keluarga korban 9/11 lainnya.

Awal tahun ini, Stephan Gerhardt melakukan kunjungan keenamnya ke Guantanamo. Baginya, melihat penjatuhan vonis terhadap orang yang menyebabkan kematian adiknya, Ralph, merupakan hal yang sangat penting.

Namun, pada saat yang sama, ia berharap perkara itu tidak lagi terus membayangi hidupnya.

"Saya ingin fokus pada kenangan," katanya.

"Saya masih menyimpan mobil Ralph. Saya sedang berusaha merestorasinya agar kembali dalam kondisi sempurna. Belum lama ini kami mengunjungi orang tua kami, dan menemukan beberapa barang miliknya yang masih mereka simpan."

"Secara fisik itu mungkin hanya barang-barang lama, tetapi secara emosional rasanya seperti, 'ya, ini memang barang lama, tetapi semua ini milik adik laki-laki saya'."

Gerhardt mengatakan kekhawatiran terbesarnya adalah melihat KSM dan orang-orang yang diduga ikut bersekongkol dengannya meninggal dunia sebelum sempat divonis bersalah.

"Mereka semakin menua. Saya tidak ingin mereka meninggal sebelum dinyatakan bersalah, karena itu akan menjadi ketidakadilan bagi seluruh keluarga korban. Kami berhasil menangkap mereka, tetapi tidak pernah sempat mengadili dan memvonis mereka atas pembunuhan massal yang merenggut nyawa orang-orang yang kami cintai."

Khalid Sheikh Mohammed didakwa atas sejumlah tuduhan, termasuk konspirasi dan pembunuhan. Dalam dokumen dakwaan, tercantum 2.976 korban jiwa.

Dia dituduh sebagai orang yang menggagas rencana melatih pilot untuk menerbangkan pesawat komersial ke gedung-gedung sasaran. Dia juga dituduh mengajukan ide tersebut kepada Osama bin Laden, pemimpin kelompok al-Qaeda.

KSM sebelumnya pernah mengatakan bahwa ia merancang "operasi 9/11 dari A sampai Z".

Namun, hanya beberapa hari setelah persidangan dijadwalkan berlangsung pada 2028, hakim militer membatalkan penggunaan pengakuan yang diberikan KSM kepada agen FBI di Teluk Guantanamo.

Pengakuan itu dibuat setelah ia dipindahkan ke sana dari jaringan penjara rahasia CIA yang dikenal sebagai black sites, tempat ia ditahan selama bertahun-tahun.

Gambar komposit FBI ini menampilkan dua foto Khalid Sheikh Mohammed yang diambil pada waktu yang tidak diketahui. Pada foto di sebelah kiri, ia terlihat berjanggut hitam lebat, mengenakan penutup kepala dan kacamata. Sementara pada foto di sebelah kanan, ia tampak tanpa penutup kepala, berambut gelap, berjanggut, dan mengenakan setelan jas.

Sumber gambar, FBI

Keterangan gambar, Khalid Sheikh Mohammed dalam foto yang pernah ditampilkan di laman Daftar Buronan Paling Dicari FBI.

Dalam putusannya, hakim menyebut perlakuan CIA terhadap KSM sebagai "kekerasan fisik dan mental yang luar biasa".

Hakim menyatakan pengakuan tersebut tidak diberikan secara sukarela sehingga tidak dapat digunakan sebagai alat bukti dalam persidangan KSM.

Para ahli menilai penyiksaan terhadap KSM dan para terdakwa lain yang diduga terlibat dalam serangan itu menjadi penyebab utama berlarut-larutnya proses hukum selama bertahun-tahun.

"Hampir setiap isu dalam kasus ini diperdebatkan melalui lensa penyiksaan," kata Kasey McCall-Smith, profesor hukum internasional di Universitas Edinburgh.

Menurut McCall-Smith, para terdakwa mengalami "bertahun-tahun perlakuan kasar", termasuk waterboarding atau simulasi penenggelaman serta pemaksaan posisi tubuh yang menimbulkan rasa sakit dan tekanan fisik.

Dalam foto ini, John Resta terlihat di sisi kiri mengenakan setelan jas pernikahan dengan bunga yang tersemat di kerah jasnya. Di sisi kanan, Sylvia Resta mengenakan gaun pengantin dan tiara. Keduanya tampak tersenyum ke arah kamera pada hari pernikahan mereka.

Sumber gambar, Tom Resta

Keterangan gambar, John dan Sylvia Resta pada hari pernikahan mereka.

Menurut John Ryan, penulis buku America's Trial: Torture and the 9/11 Case at Guantanamo Bay, putusan hakim bulan lalu membuat jaksa kehilangan apa yang selama ini mereka sebut sebagai bukti terkuat terhadap KSM.

Namun, sejauh mana dampaknya terhadap keseluruhan perkara masih belum jelas.

Ryan mengatakan pihak penuntut masih memiliki sejumlah bukti lain, termasuk rekaman percakapan telepon yang disadap dan rekaman rahasia.

Meski demikian, belum ada kepastian apakah bukti-bukti tersebut nantinya dapat diajukan dalam persidangan.

"Tim Mohammed dan tim pembela terdakwa lainnya juga akan mengajukan permohonan agar beberapa kategori bukti tersebut dikesampingkan," ujar Ryan.

Pada masa pemerintahan Presiden George W. Bush, pemerintah AS mengakui menggunakan apa yang disebut sebagai enhanced interrogation techniques atau teknik interogasi yang diperkuat untuk memperoleh informasi dari para tersangka.

Namun, pemerintah saat itu berpendapat metode tersebut telah menyelamatkan nyawa dan tidak dapat dikategorikan sebagai penyiksaan.

Praktik tersebut kemudian dilarang oleh Presiden Barack Obama pada hari kedua masa jabatannya di Gedung Putih.

Presiden George W. Bush berada di dalam pesawat Air Force One setelah serangan 11 September 2001. Dalam foto ini, ia duduk di depan meja kerja dengan jas yang dilepas dan disampirkan di sandaran kursinya. Bush mengenakan kemeja biru muda dan dasi merah marun, sambil memegang telepon di tangan kirinya dan tampak sedang berbicara dengan seseorang.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Presiden George W. Bush berada di dalam pesawat Air Force One setelah serangan 11 September 2001.

Kerabat korban menilai penyiksaan yang dialami para terdakwa justru menjadi penghalang bagi upaya mereka memperoleh keadilan.

"Seandainya mereka tidak disiksa, implikasi hukumnya akan jauh lebih sederhana. Mereka mungkin sudah dijatuhi hukuman mati sejak lama," kata Gerhardt.

"Saya tidak bisa mengendalikan apa yang dilakukan pemerintah, dan sekarang kami harus hidup dengan dampaknya."

Gerhardt dan Resta sama-sama pergi ke Guantanamo pada awal 2025, ketika Mohammed dan dua terdakwa lain yang diduga terlibat dalam serangan 9/11 dijadwalkan mengaku bersalah berdasarkan kesepakatan kontroversial dengan jaksa pemerintah AS.

Melalui kesepakatan itu, mereka tidak akan menghadapi persidangan yang dapat berujung pada hukuman mati.

BBC berada bersama mereka di pangkalan tersebut ketika proses pengakuan bersalah itu ditunda pada menit-menit terakhir.

Pemerintah AS saat itu berargumen bahwa membiarkan kesepakatan tersebut berjalan akan "merampas hak pemerintah dan rakyat Amerika untuk mendapatkan persidangan terbuka" terkait kesalahan para terdakwa serta kemungkinan penerapan hukuman mati.

Menurut pemerintah, hal itu akan menimbulkan kerugian yang "tidak dapat diperbaiki".

Hingga kini, perdebatan hukum mengenai keabsahan kesepakatan tersebut masih terus berlangsung.

Sebagian keluarga korban memandang kesepakatan tersebut sebagai satu-satunya jalan untuk mengakhiri kebuntuan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun. Namun, sebagian lainnya mengkritiknya karena dianggap terlalu lunak dan kurang transparan.

Resta mengatakan ia mendukung kesepakatan itu demi memastikan para terdakwa tetap dijatuhi hukuman.

"Prinsip saya sederhana, orang-orang ini tidak seharusnya berkeliaran bebas di jalanan. Tetapi bagi saya, mereka bisa tetap berada di tempat mereka sekarang. Yang saya inginkan hanyalah mereka dinyatakan bersalah," katanya.

Sementara itu, Brett Eagleson, yang kehilangan ayahnya, Bruce, dalam serangan tersebut, mengatakan ia menginginkan persidangan penuh, bukan kesepakatan pengakuan bersalah.

"Bukan berarti saya sedang menentukan apakah para tahanan ini pantas hidup atau mati. Namun saya percaya pada sistem peradilan dan saya percaya proses hukum dapat berjalan sebagaimana mestinya," katanya.

"Saya percaya bahwa persidangan, proses pengungkapan bukti, dan pembahasan terbuka di hadapan publik adalah cara terbaik untuk mengungkap kebenaran yang sebenarnya."

Dalam foto yang diambil pada waktu yang tidak diketahui ini, Brett Eagleson terlihat di sisi kiri saat masih berusia anak-anak. Ia mengenakan jaket merah dan tersenyum ke arah kamera. Brett berada dalam pelukan ayahnya, Bruce Eagleson, yang mengenakan jaket hitam sambil memegang seekor ikan di tangan kirinya.

Sumber gambar, Brett Eagleson

Keterangan gambar, Brett Eagleson berusia 15 tahun ketika ayahnya, Bruce Eagleson, tewas dalam serangan 11 September 2001.

Eagleson menggambarkan situasi di Guantanamo dengan kata "kacau" dan mengatakan ia telah memutuskan untuk tidak menghadiri proses prapersidangan apa pun di sana.

"Perasaan terbesar saya adalah rasa dikhianati oleh pemerintah Amerika Serikat dan frustrasi yang luar biasa," katanya. "Mereka telah mengacaukan setiap tahap dalam proses hukum ini."

Setelah 25 tahun berlalu sejak serangan tersebut, Eagleson mengatakan peristiwa 11 September tetap menjadi bagian yang tak pernah lepas dari kehidupannya.

Namun, di mata publik yang lebih luas, tragedi itu perlahan mulai dipandang sebagai sebuah peristiwa sejarah.

"Saya rasa banyak orang beranggapan bahwa karena Osama bin Laden sudah tewas, Amerika sudah keluar dari Irak, dan perang di Afghanistan juga telah berakhir, maka bab itu sudah selesai," ujarnya. "Padahal, bagi banyak keluarga korban, kisah itu belum berakhir."

Ketika persidangan itu akhirnya dimulai di pengadilan militer Guantanamo, prosesnya diperkirakan akan berlangsung sekitar satu tahun.

Menurut Profesor Kasey McCall-Smith, fokus utama selama proses prapersidangan adalah menentukan bukti mana yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat digunakan di persidangan.

"Jika hal-hal itu sudah disepakati sebelumnya, persidangan dapat berlangsung lebih cepat," ujarnya.

Menjelang peringatan lain atas kematian orang-orang yang mereka cintai, Gerhardt mengatakan ia menantikan saat ketika seluruh proses hukum itu selesai dan ia tidak lagi harus memikirkan ataupun bepergian ke Guantanamo.

"Itu adalah tempat yang tidak ingin saya datangi lagi. Saya ingin menjalani hidup saya, menikmati hal-hal yang saya sukai, dan mengenang Ralph," katanya.