Relawan pertaruhkan nyawa demi meredam 'bom karbon' di balik kebakaran hutan Indonesia

    • Penulis, Gavin Butler
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 8 menit
Seorang petugas pemadam kebakaran mengenakan seragam merah dengan bendera Indonesia di lengannya serta penutup leher berwarna kuning dan hijau yang menutupi sebagian wajahnya. Ia berdiri di tengah hutan dan menatap ke arah kamera.

Sumber gambar, Ahmad Dhani untuk BBC

Keterangan gambar, Fahrin Ramadhianto telah sebulan berjuang memadamkan kebakaran hutan di Kalimantan, dan ia mulai merasakan dampaknya terhadap kondisi tubuhnya.

Langit di Kalimantan tampak semakin kelam, meski bukan karena hujan. Udara berwarna jingga kecokelatan, pekat seperti sirup kental, tertutup selimut asap yang telah melintasi batas negara hingga mencapai Singapura, Manila, dan Kuala Lumpur.

Di permukaan tanah, asap berwarna kelabu terus mengepul dari lapisan gambut yang hangus.

"Rasanya seperti terkena gas air mata," kata Dwi Sujatmoko.

"Begitu terhirup, langsung menusuk hidung dan membuat mata perih. Kurang lebih seperti itu rasanya," ujarnya. "Orang-orang bilang kebakaran ini luar biasa karena kobaran api dan asapnya. Dan itu memang benar."

Relawan pemadam kebakaran berusia 35 tahun itu telah menghabiskan lebih dari sebulan diselimuti kabut asap, menghirup partikel karbon beracun yang telah tersimpan selama ribuan tahun, sambil berjuang menghadapi titik-titik api yang seolah tak kunjung padam.

Dengan peralatan sederhana seperti alat manual, gerobak, dan pompa air portabel, ia bersama ribuan relawan pemadam lainnya, banyak di antaranya berasal dari komunitas adat Dayak dan Banjar, berupaya menahan laju kebakaran yang sejak awal Juli telah menghanguskan sekitar 200.000 hektare hutan dan lahan pertanian di Kalimantan.

Di bawah permukaan tanah dan jauh dari pandangan, kebakaran gambut yang membara terus menyala secara perlahan, memenuhi udara dengan asap beracun yang berbahaya bagi kesehatan.

"Ketika kebakaran tak lagi terkendali, dampaknya dirasakan banyak pihak. Bukan hanya manusia, tetapi juga satwa dan tumbuhan," kata Sujatmoko.

"Jika api yang berada di bawah tanah terus menyebar dan tidak lagi bisa dikendalikan, kerugiannya akan sangat besar."

Tampak udara kawasan semak dan hutan dari atas, dengan kepulan asap tebal membumbung tinggi ke angkasa.

Sumber gambar, Ahmad Dhani untuk BBC

Keterangan gambar, Kebakaran telah menghanguskan sekitar 200.000 hektare lahan di Kalimantan sejak awal Juli.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Indonesia kini berada dalam cengkeraman krisis kebakaran hutan.

Di tengah fenomena yang dijuluki "Super El Niño", yang memperparah kondisi kekeringan di berbagai wilayah, ribuan titik panas aktif terus bermunculan dan menyebar di seluruh negeri. Kondisi ini memicu krisis kabut asap lintas negara yang disebut-sebut sebagai yang terburuk di kawasan dalam lebih dari satu dekade terakhir.

Namun, yang membuat kebakaran di Kalimantan sangat mengkhawatirkan adalah fakta bahwa api melalap salah satu ekosistem lahan gambut tropis terbesar di dunia.

Hamparan hutan dan rawa seluas sekitar 4,5 juta hektare itu, dalam kondisi normal, berfungsi sebagai penyimpan karbon purba dalam jumlah besar.

Ketika lahan gambut terbakar, jutaan ton karbon dioksida, karbon monoksida, dan metana berisiko terlepas ke atmosfer. Lonjakan emisi gas rumah kaca inilah yang membuat lahan gambut dijuluki sebagai "bom karbon".

Baca juga:

"Lahan gambut merupakan penyimpan karbon yang sangat efektif karena kondisinya yang selalu tergenang air memperlambat proses penguraian bahan organik. Akibatnya, karbon dapat terakumulasi di bawah permukaan tanah selama ribuan tahun," jelas Dr Nisa Novita, peneliti lahan gambut di Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).

"Namun, kondisi itu juga berarti lahan gambut bisa berubah menjadi 'bom karbon' ketika dikeringkan atau terbakar, karena karbon yang tersimpan selama ribuan tahun dapat dilepaskan ke atmosfer dalam waktu singkat.

"Lahan gambut tropis di Indonesia termasuk penyimpan karbon alami paling efektif di dunia. Semakin dalam lapisan gambutnya, semakin besar pula cadangan karbon yang tersimpan. Di Kalimantan, kami menemukan deposit gambut yang kedalamannya bisa melebihi 20 meter."

Lahan gambut sedalam itu diketahui dapat menyimpan lebih dari 6.000 ton karbon per hektare, setara dengan emisi karbon dioksida tahunan dari sekitar 4.800 mobil. Ketika lahan tersebut terbakar, kata Dr Nisa, karbon purba yang tersimpan di dalamnya dapat terlepas ke atmosfer dengan sangat cepat.

Seorang petugas pemadam kebakaran mengenakan seragam merah, rompi taktis, sarung tangan, penutup leher, dan topi saat berjongkok di tengah hutan sambil memegang perangkat radio genggam.

Sumber gambar, Ahmad Dhani untuk BBC

Keterangan gambar, "Kami melakukan segala yang kami bisa untuk membantu mengatasi bencana kabut asap ini karena itu adalah tanggung jawab kami," kata relawan pemadam kebakaran Dwi Sujatmoko.

Awan beracun

Ribuan orang di Asia Tenggara kini merasakan dampak emisi tersebut pada mata, dada, dan tenggorokan mereka.

Di Indonesia, Brunei, Malaysia, Singapura, dan Filipina, indeks pencemaran udara melonjak ke tingkat yang dikategorikan "tidak sehat", bahkan dalam beberapa kasus mencapai hampir 75 kali lipat di atas batas yang direkomendasikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Seiring itu, jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit juga meningkat tajam.

Sepanjang Juli hingga Agustus, Kementerian Kesehatan Indonesia mencatat lebih dari 50.000 kasus infeksi saluran pernapasan yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan. Lebih dari 12.000 di antaranya terjadi pada anak-anak berusia di bawah lima tahun.

"Setiap orang yang berada di bawah awan polusi itu menghirup hasil pembakaran dari kebakaran gambut yang terus membara," kata Susan Page, profesor di Sekolah Geologi dan Lingkungan Universitas Leicester, Inggris, yang telah meneliti lahan gambut di Asia selama tiga dekade.

"Mereka menghirup karbon monoksida yang bersifat beracun, dan juga partikel-partikel halus yang berukuran sangat kecil. Partikel ini dapat menembus alveolus atau kantung udara di paru-paru, masuk ke dalam aliran darah, dan memicu berbagai masalah kesehatan di bagian tubuh lain, termasuk gangguan jantung.

"Hidup di bawah awan polusi seperti ini sangat tidak sehat."

Dua petugas pemadam kebakaran memegang selang air, berdiri berurutan, dan menyemprotkan air ke lahan yang hangus terbakar. Kepulan asap terlihat membubung di latar belakang.

Sumber gambar, Ahmad Dhani for BBC

Keterangan gambar, Memadamkan kebakaran gambut mengharuskan petugas membasahi tanah hingga benar-benar jenuh air, sehingga kondisinya berubah menjadi "seperti bubur".

Tidak ada tempat yang merasakan dampak kesehatan akibat bencana ini lebih berat dibandingkan garis depan kebakaran.

Di sana, para relawan pemadam kebakaran mempertaruhkan nyawa dan kesehatan paru-paru mereka untuk memadamkan kebakaran lahan gambut yang terkenal sulit ditangani. Dalam beberapa hari terakhir, dua relawan pemadam kebakaran di Kalimantan Tengah dilaporkan meninggal dunia setelah kondisi kesehatan mereka memburuk usai terlibat dalam upaya pemadaman.

Diselimuti kabut asap beracun yang dapat mengurangi harapan hidup seseorang selama bertahun-tahun, para relawan menggali kolam, kanal, dan sumur bor di lahan gambut yang kering kerontang demi memastikan pasokan air untuk selang pemadam tetap tersedia.

Sebagian relawan menancapkan pipa ke dalam tanah dan membuat sistem irigasi darurat untuk menjangkau titik-titik api yang membara di bawah permukaan. Yang lain memilih bermalam hanya beberapa langkah dari garis depan kebakaran agar bisa terus memerangi kobaran api sepanjang malam.

"Hal yang paling berat di sini adalah asapnya," kata Fahrin Ramadhianto, relawan pemadam kebakaran di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, salah satu wilayah yang paling parah terdampak.

"Bau asapnya seperti kayu lapuk yang dibakar. Itulah ciri khas kebakaran gambut," ujarnya.

"Dan gambut itu mengandung kayu yang telah membusuk serta berbagai jenis material organik yang terurai selama bertahun-tahun."

Ketika keseimbangan alam terganggu

Kebakaran lahan gambut di Indonesia bukanlah fenomena baru.

Para ahli menyebut krisis ini berakar pada perubahan tata guna lahan yang berlangsung selama puluhan tahun, sejak era Presiden Soeharto, ketika kawasan luas hutan hujan dan lahan gambut di Kalimantan dibuka untuk penebangan, perkebunan, serta berbagai proyek pembangunan berskala besar.

Namun, selama ini pihak berwenang cenderung menghindari penunjukan pelaku industri sebagai pihak yang bertanggung jawab atas kebakaran besar tersebut.

Sebaliknya, masyarakat adat yang kini justru berada di garis depan upaya pemadaman kebakaran kerap dituding sebagai penyebab kebakaran. Tuduhan itu berkaitan dengan praktik pertanian tradisional yang menggunakan pembakaran terkendali untuk membersihkan vegetasi sebelum bercocok tanam.

Tono, perwakilan masyarakat Dayak Kanayatn di Kalimantan Barat, mengatakan kepada BBC bahwa komunitas Dayak sering dijadikan kambing hitam, meskipun pembukaan lahan dilakukan dengan perencanaan yang matang, penuh kehati-hatian, serta mengikuti aturan adat yang diwariskan turun-temurun.

Menurut Tono, praktik tradisional tersebut, yang dikenal sebagai uma bukit atau "ladang bukit", berlandaskan prinsip menjaga keseimbangan dengan alam.

Seorang petugas pemadam kebakaran berseragam merah berjongkok di kawasan semak belukar.

Sumber gambar, Ahmad Dhani for BBC

Keterangan gambar, "Hal yang paling berat di sini adalah asapnya," kata Fahrin Ramadhianto.

Namun, keseimbangan alam itu kini semakin terkikis di Kalimantan, wilayah dengan tingkat deforestasi tertinggi di Indonesia.

Pada 2025, kawasan ini kehilangan hampir 160.000 hektare tutupan hutan, lebih dari sepertiga total kehilangan hutan secara nasional. Sebagian besar hutan tersebut dibuka untuk perkebunan dan pertanian monokultur.

Menurut Susan Page, proyek-proyek pembangunan berskala industri yang sama juga menjadi penyebab utama pengeringan lahan gambut di kawasan tersebut, sehingga membuatnya jauh lebih rentan terhadap kebakaran.

"Lahan gambut sebenarnya bukan tempat yang ideal untuk membangun perkebunan. Namun, setelah lahan mineral yang lebih sesuai semakin terbatas, perkembangan teknologi dan penggunaan alat berat memungkinkan kawasan gambut dikeringkan hingga cukup kering untuk dimanfaatkan," ujarnya.

"Akibatnya, bukan hanya deforestasi yang terjadi, tetapi pengeringan lahan gambut juga secara signifikan meningkatkan risiko kebakaran."

Page juga menekankan bahwa lahan gambut yang telah dikeringkan akan terus melepaskan karbon dioksida ke atmosfer, terlepas dari apakah lahan tersebut sedang terbakar atau tidak.

"Saya rasa hal itu sering terlupakan," katanya.

"Penting untuk dipahami bahwa ketika kita melihat kebakaran, itu hanyalah gambaran dramatis dari proses yang sebenarnya terus berlangsung di lahan gambut yang telah dikeringkan. Kebakaran hanyalah bentuk paling ekstrem dari masalah tersebut."

Kini, ketika kebakaran terbaru ini terus meluas dan sulit dikendalikan, Sujatmoko dan rekan-rekannya menghadapi serangkaian tantangan dalam beberapa hari, minggu, bahkan bulan ke depan. Salah satu yang paling mendesak adalah keterbatasan pasokan air.

Seorang petugas pemadam kebakaran berseragam merah dan mengenakan topi menyemprotkan air ke semak-semak di depannya, sementara vegetasi yang hangus terbakar masih terlihat membara dan mengeluarkan asap.

Sumber gambar, Ahmad Dhani for BBC

Keterangan gambar, Pengeringan lahan dan kekeringan yang melanda kawasan gambut di Indonesia telah meningkatkan kerentanannya terhadap kebakaran.

Memadamkan kebakaran gambut mengharuskan petugas membasahi tanah hingga benar-benar jenuh air, sampai teksturnya menjadi "seperti bubur", kata Sujatmoko.

Namun bahkan setelah itu, kemungkinan api muncul kembali tetap tinggi. Seperti bara yang hidup kembali, kebakaran dapat terus menyala karena masih mendapat "bahan bakar" dari lapisan gambut yang tersembunyi jauh di bawah permukaan tanah.

Di tengah kebakaran yang terus berulang, kondisi kekeringan yang berkepanjangan, dan kabut asap beracun, kelelahan menjadi tantangan lain yang harus dihadapi para relawan.

"Tentu saja kami lelah," kata Sujatmoko.

"Kami kelelahan, kami merindukan keluarga, anak-anak, dan istri kami. Tapi untuk saat ini, kami mengesampingkan semua itu. Kami melakukan segala yang kami bisa untuk membantu mengatasi bencana kabut asap ini karena itu adalah tanggung jawab kami."

Ia menambahkan bahwa para relawan berharap hujan segera turun.

"Kami berharap hujan segera datang," katanya. "Kami sudah berbulan-bulan jauh dari rumah. Semoga seluruh upaya mereka yang berada di garis depan menjadi berkah bagi semua orang."

Jurnalis BBC News Indonesia, Faisal Irfani, berkontribusi dalam penulisan artikel ini.