Wabah siklospora menyebar dan timbulkan kekacauan di Amerika Serikat – 'Saya harus buang air besar ke kamar mandi 20 kali sehari'

Sumber gambar, Brandon Bell/Getty Images
- Penulis, Brandon Drenon
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 7 menit
Wabah siklospora terbesar dalam sejarah yang menyebar di seluruh Amerika Serikat (AS) menimbulkan kekacauan di sejumlah wilayah, terutama di Michigan yang menjadi negara bagian paling terdampak.
Banyak orang pernah mengalami diare.
Karena itulah, ketika gejala tersebut menyerang Nick Palmiter pada awal Juli, dia tidak terlalu mengkhawatirkannya.
"Saya akan baik-baik saja," katanya dalam hati.
Namun, gejala tak kunjung mereda. Hari berganti minggu, dan kram perut yang dialaminya menjadi semakin tak tertahankan.
"Saya benar-benar kesakitan," ujar Palmiter. "Sampai pada titik saya harus ke kamar mandi sekitar 15 hingga 20 kali sehari."
Pria berusia 29 tahun itu menggambarkan sensasi yang dirasakannya sebagai tekanan dan gelembung gas yang terus-menerus muncul, "hampir seperti ada balon di dalam perut."
Atas dorongan seorang rekan kerja, Palmiter akhirnya mendatangi fasilitas layanan kesehatan darurat.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Setibanya di sana, dia diberi tahu bahwa dirinya harus segera dibawa ke unit gawat darurat rumah sakit.
Di rumah sakit itulah Palmiter mengetahui bahwa dirinya mengidap siklosporiasis, penyakit usus yang terus menyebar di seluruh AS dan telah menginfeksi ribuan orang di 41 negara bagian.
Wabah ini menjadi yang terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah AS.
Michigan mencatat jumlah kasus terbanyak secara nasional, yakni lebih dari 7.000 kasus.
Di Monroe County, wilayah pedesaan yang berada di perbatasan timur negara bagian tersebut dan tempat Palmiter tinggal, jumlah kasus yang tercatat juga termasuk yang tertinggi.
"Penyakit ini benar-benar membuat Anda merasa sangat sakit," kata Palmiter mengenai pengalamannya.
"Rasanya seperti Anda sudah tidak memiliki tenaga sedikit pun lagi."
Monroe County memiliki sekitar 154.000 penduduk. Menurut data pemerintah negara bagian, 286 orang di wilayah itu telah terinfeksi siklosporiasis, penyakit yang disebabkan oleh tertelannya parasit Cyclospora dan dapat menimbulkan gejala seperti "diare eksplosif".
Besarnya dampak wabah di komunitas kecil ini memicu efek berantai yang luas.
"Cemas" dan "takut" adalah dua kata yang digunakan Palmiter untuk menggambarkan suasana di masyarakat setempat.
Ibunya, Michelle Palmiter, mengungkapkan hal serupa.
"Saya melihat banyak orang yang panik karena ini," katanya.
Salah satunya adalah keponakannya yang mengosongkan seluruh isi lemari pendingin yang berisi produk segar dan membuang semuanya ke tempat sampah, termasuk semangka yang menurut Michelle masih sangat layak dikonsumsi.
"Alih-alih mencucinya hingga bersih lalu memotongnya, dia langsung membuangnya," kata Michelle.
Diskusi warga Monroe County di media sosial menunjukkan bahwa banyak orang mengambil langkah serupa.
Seorang ibu, misalnya, menulis bahwa "anak balita saya praktis hidup hanya dengan nugget ayam dan biskuit Goldfish sejak semua ini dimulai."
Michelle sendiri masih mengonsumsi buah dan sayuran, tetapi hanya yang dimasak terlebih dahulu.
"Yang pasti saya sama sekali tidak makan di luar," ujarnya.
Menurut Michelle, salah satu penyebab kepanikan di masyarakat adalah cara pemerintah menangani wabah ini yang dinilai tidak memadai.
"Kami tidak mempercayai apa pun yang mereka sampaikan tentang wabah ini," katanya.
Infeksi pertama kali terdeteksi pada 13 Mei, menurut Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA).
Sejak saat itu, jumlah kasus terus meningkat. Bersamaan dengan itu, misteri mengenai sumber wabah juga semakin besar.
Restoran dan peritel besar di seluruh AS, termasuk Walmart, Jack in the Box, dan Taco Bell, mengumumkan penarikan sejumlah produk makanan dari peredaran.
Pesan yang mereka sampaikan hampir seragam: "sebagai langkah kehati-hatian ekstra".
Target utama penarikan adalah selada iceberg. Namun, berbulan-bulan setelah wabah muncul, sumber resmi penyebaran parasit Cyclospora masih belum diketahui.

Sumber gambar, Christian Kantosky/The Boston Globe via Getty Images
Francisco Diez-Gonzalez, Direktur Center for Food Safety di College of Agricultural and Environmental Sciences, University of Georgia, mengatakan parasit tersebut bisa "sangat sulit dideteksi".
Menurut dia, salah satu kendalanya berkaitan dengan teknologi pengurutan genetik (gene sequencing).
Tantangan lainnya adalah gejala akibat infeksi parasit ini bisa baru muncul beberapa minggu setelah seseorang terpapar.
Akibatnya, penyelidik kesulitan menelusuri secara akurat seluruh makanan yang dikonsumsi pasien guna menemukan faktor penyebab yang sama.
Penyelidikan FDA mengarah pada kemungkinan bahwa Taylor Farms menjadi sumber wabah.
Perusahaan pemasok bahan pangan besar di AS itu kemudian secara sukarela menarik seluruh produk selada iceberg yang dipasok dari Meksiko bagian tengah.
Lagi-lagi, langkah itu disebut dilakukan "sebagai bentuk kehati-hatian ekstra".
Penyelidikan tampak mendekati titik terang pada Sabtu lalu ketika FDA mengumumkan bahwa sampel selada iceberg dari Taylor Farms menunjukkan hasil positif mengandung Cyclospora.
Namun, kurang dari 24 jam kemudian, pemerintah menarik kembali pernyataan tersebut. Pada Minggu, FDA menyatakan hasil itu merupakan positif palsu (false positive).
"Kita sedang berhadapan dengan patogen yang memang sangat sulit diteliti di laboratorium," kata Diez-Gonzalez.
"Dalam kasus ini, menemukan beberapa kista Cyclospora dalam sampel selada benar-benar seperti mencari jarum di tumpukan jerami," lanjutnya. "Ini tidak mudah."

Sumber gambar, Christian Kantosky/The Boston Globe via Getty Images
Diez-Gonzalez mengatakan hasil positif palsu bukanlah hal yang luar biasa dalam pengujian semacam ini. Namun, yang menurutnya tidak lazim adalah informasi tersebut diumumkan ke publik.
Dia menjelaskan bahwa hasil pengujian biasanya tidak dipublikasikan sebelum melalui beberapa putaran pemeriksaan untuk mengonfirmasi temuannya, "agar dapat dipastikan bahwa hasil positif itu benar-benar positif".
"Apakah mereka memiliki bukti yang cukup kuat untuk mengumumkannya ke publik, itu yang patut dipertanyakan," katanya.
FDA tidak menanggapi permintaan komentar dari BBC hingga tenggat waktu publikasi artikel ini.
Menurut Diez-Gonzalez, kehati-hatian tambahan dalam proses pengujian sangat penting karena ketidakkonsistenan informasi berisiko "membuat konsumen menjadi sangat ragu dan merasa tidak ada lagi pihak yang bisa dipercaya".
Pada Selasa, Menteri Kesehatan AS Robert F. Kennedy Jr mengatakan wabah siklosporiasis "sudah terkendali".
Pada hari yang sama, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) mengumumkan jumlah kasus siklosporiasis tertinggi sejauh ini, yakni 4.173 kasus terkonfirmasi, dengan sekitar 7.400 kasus lainnya masih dalam penyelidikan.
CDC menyebut "sebagian besar kasus tambahan" tersebut dilaporkan berasal dari Ohio dan Michigan.

Sumber gambar, Getty Images
Di Monroe County, Brian Clare termasuk salah satu warga yang meyakini dirinya terinfeksi.
Meski belum pernah mendapatkan diagnosis resmi, dia mengaku telah mengonsumsi raspberi, salah satu buah yang masuk dalam daftar produk yang perlu diwaspadai.
Menurutnya, itu merupakan satu-satunya produk segar yang dia konsumsi dalam beberapa bulan terakhir.
Clare juga mengatakan sedikitnya lima orang lain di wilayahnya mengalami siklosporiasis.
Selama lebih dari tiga pekan, dia bergulat dengan berbagai gejala penyakit tersebut.
Di antaranya adalah harus berulang kali terbangun pada malam hari untuk buang air serta mengalami "sakit perut yang sangat parah".
"Ini adalah hal paling menyakitkan yang pernah saya alami seumur hidup," kata pria berusia 52 tahun itu.
Bagi Clare, yang berprofesi sebagai petani gandum dan peternak sapi, menghadapi penyakit ini berarti harus membawa gulungan tisu toilet saat mengendarai traktornya. Jika keadaan mendesak, dia harus "jongkok di tengah ladang".
"Saat merasa harus pergi ke toilet, Anda punya waktu kurang dari dua menit," ujarnya. "Apa pun yang terjadi, itu akan keluar."

Sumber gambar, Christian Kantosky/The Boston Globe via Getty Images
Sebenarnya tersedia antibiotik yang diketahui dapat membantu meredakan gejala. Clare mendengar obat tersebut telah membantu salah seorang temannya. Namun, hingga kini dia belum mencari bantuan medis.
"Saya tidak punya waktu untuk pergi ke dokter," katanya.
"Kebanyakan petani memang berusaha mengobati diri sendiri. Lagi pula, kami tidak memiliki perlindungan asuransi kesehatan yang bagus."
Menurut Clare, wabah siklosporiasis memberinya sejumlah pelajaran berharga.
Salah satunya adalah pentingnya mencuci buah dan sayuran sebelum dikonsumsi, sesuatu yang sebelumnya "tidak pernah" dia lakukan.
Selain itu, dia kini lebih memperhatikan asal-usul produk yang dibelinya.
"Saya tidak akan pernah lagi membeli raspberi di toko sepanjang hidup saya," kata Clare.
"Pengalaman ini benar-benar menyiksa."

































