Citra satelit ungkap jembatan baru Korea Utara dan Rusia – 'Untuk penyediaan pasukan dan senjata'

    • Penulis, Thomas Copeland
    • Penulis, Paul Brown
    • Peranan, BBC Verify
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 4 menit

Jembatan jalan raya pertama yang menghubungkan Korea Utara dan Rusia hampir rampung, menurut citra satelit yang dianalisis BBC Verify.

Ini merupakan tanda terbaru dari menguatnya hubungan antara Pyongyang dan Moskow, setelah pasukan Korea Utara bertempur bersama pasukan Rusia dalam invasi ke Ukraina.

"Jembatan ini akan menawarkan rute yang berguna untuk memindahkan barang dan amunisi militer—baik ke Korea Utara maupun ke Rusia," ujar Dr Edward Howell, Korea Foundation Fellow di lembaga kajian Chatham House.

Jalan baru yang melintasi Sungai Tumen itu terletak beberapa ratus meter dari satu-satunya jembatan rel kereta api antara kedua negara— yang dikenal dengan nama "Jembatan Persahabatan".

Citra satelit terbaru menunjukkan jembatan sepanjang satu kilometer itu berdampingan dengan sejumlah jalan, pos pemeriksaan perbatasan, infrastruktur pendukung, dan fasilitas parkir.

Para ahli mengatakan hal ini menunjukkan bahwa jembatan tersebut akan menjadi rute perdagangan penting antara kedua negara.

Pembangunan dimulai sekitar setahun kemudian dan BBC Verify telah menggunakan citra satelit untuk melacak perkembangannya.

Jembatan jalan raya tersebut, yang dikenal sebagai Jembatan Khasan–Tumangang, dibangun untuk menangani hingga 300 kendaraan dan 2.850 orang per hari, menurut Kementerian Transportasi Rusia.

Total biayanya diperkirakan melebihi 9 miliar rubel (Rp2,1 triliun), menurut media pemerintah Rusia.

"Kecepatan pembangunan mencerminkan besarnya volume aktivitas perdagangan antara kedua pihak," kata Victor Cha dari lembaga kajian Center for Strategic and International Studies (CSIS).

"Pembangunan jembatan ini sebagian besar didorong oleh [kebutuhan] penyediaan pasukan, senjata, amunisi, dan tenaga kerja Korea Utara untuk perang Putin di Ukraina," lanjutnya.

Baca juga:

Pengemudi truk Rusia dan Korea Utara kemungkinan akan diminta memindahkan muatan di jembatan tersebut karena truk tidak bisa beroperasi lebih jauh ke wilayah satu sama lain, menurut CSIS.

Kedua negara menggelar upacara pada 21 April untuk menandai tersambungnya dua sisi jembatan dan Kedutaan Besar Rusia di Korea Utara mengatakan pembangunan dijadwalkan selesai pada 19 Juni.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan pembukaan jembatan itu akan "menjadi tahap yang benar-benar bersejarah dalam hubungan Rusia–Korea. Signifikansinya melampaui proyek pembangunan semata".

Lalu lintas kereta api di atas Jembatan Persahabatan yang berdekatan tetap sibuk selama pembangunan jembatan jalan raya karena perdagangan antara kedua negara telah meluas, menurut CSIS.

"Koneksi ini, sebelum perang di Ukraina, merupakan salah satu perlintasan paling sepi antara Korea Utara dan dua tetangganya," ujar Cha.

Baca juga:

Selain menyepakati pembangunan jembatan, Putin dan Kim menandatangani kesepakatan bersejarah selama kunjungan 2024, yaitu Rusia dan Korea Utara akan saling membantu jika terjadi "agresi" terhadap salah satu negara.

Menurut Korea Selatan, pihak Korut telah mengirim sekitar 15.000 pasukan untuk membantu Rusia dalam invasi ke Ukraina. Selain itu, Korut disebut mengirim rudal dan senjata jarak jauh.

Seoul juga memperkirakan sekitar 2.000 warga Korea Utara telah tewas dalam konflik tersebut.

Baik Pyongyang maupun Moskow belum mengonfirmasi angka-angka ini, tetapi Kim Jong Un dan Menteri Pertahanan Rusia, Andrey Belousov, pekan lalu meresmikan sebuah tugu peringatan di Pyongyang bagi warga Korea Utara yang tewas bertempur dalam perang di Ukraina.

Belousov mengatakan ia membahas kerja sama militer jangka panjang dengan pejabat Korea Utara, menurut kantor berita Rusia.

Sebagai imbalan atas penyediaan tentara dan artileri, diyakini Korea Utara telah menerima pangan, bahan bakar, dan teknologi militer dari Rusia.

"Pembangunan jembatan ini merangkum bagaimana hubungan Korea Utara dengan Rusia tampaknya akan berlanjut melampaui berakhirnya perang di Ukraina," ujar Howell.