'Saya menyaksikan gol Tangan Tuhan Maradona' – Gol Piala Dunia yang masih dibicarakan 40 tahun kemudian

Sumber gambar, Archivo El Grafico/Getty Images
- Penulis, Lourdes Heredia
- Peranan, BBC World Service
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Saya seharusnya tidak berada di sana.
Saya berusia 17 tahun, belum pernah pergi ke pertandingan sepak bola, dan tidak tertarik pada olahraga itu.
Namun sore itu, saat memasuki Stadion Azteca di Mexico City, saya akan menyaksikan Argentina melawan Inggris dalam perempat final Piala Dunia. Di sanalah saya akan melihat sesuatu yang baru sepenuhnya saya pahami bertahun-tahun kemudian.
Pagi itu, kami tidak punya rencana. Lalu telepon berdering. Seorang teman ayah saya memiliki dua tiket yang tidak bisa ia gunakan.
Dia bertanya ke ayah: "Apakah istrimu dan anakmu menginginkannya?"
Ayah saya tidak yakin membiarkan istri dan anak perempuannya pergi. Pertandingan itu berlangsung kurang dari lima tahun setelah berakhirnya Perang Falklands dan dia khawatir ketegangan antara penggemar Argentina dan Inggris akan memicu konflik.
Ibu saya tidak ragu. Ini Piala Dunia, bagaimanapun juga. Kesempatan sekali seumur hidup dan ia tidak akan membiarkan putrinya melewatkannya.

Sumber gambar, Lourdes Heredia
Kegembiraan sudah dimulai sejak kami dalam perjalanan, melintasi kota menuju stadion.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Bendera-bendera tergantung dari jendela mobil dan orang-orang asing meneriakkan yel-yel di tengah lalu lintas. Saya ikut bergabung, tentu saja—berteriak "Viva México!" bersama semua orang, meskipun tim kami sudah tersingkir dari turnamen.
Sepak bola tidak terlalu penting bagi saya, tetapi menjadi bagian dari momen itu penting. Bahkan, saya lebih menganggapnya seperti pesta daripada pertandingan.
Saya berdandan, memakai terlalu banyak riasan, dan membayangkan stadion akan dipenuhi penggemar asing yang tampan, bukan para pemain legendaris. Ibu saya mengangkat alis, tetapi membiarkannya.
Baca juga:
Di dalam Stadion Azteca, gemuruhnya terasa luar biasa. Kebisingan, warna-warni, perasaan bahwa seluruh dunia berkumpul di satu tempat. Di sekitar kami ada penggemar dari berbagai penjuru—bernyanyi, tertawa, mengenakan kostum, wajah mereka dicat warna-warna cerah.
Saya ingat ketika itu saya merasa betapa serunya berada di sana—alih-alih mempedulikan pertandingan itu sendiri.

Sumber gambar, Monte Fresco/Daily Mirror/Mirrorpix via Getty Images
Ketika pertandingan dimulai, saya hampir tidak mengikuti apa yang terjadi di lapangan. Saya terlalu sibuk ikut melakukan gelombang Meksiko—dikenal sebagai "la ola" dalam bahasa Spanyol. Saya terbawa oleh ritme kerumunan. Sepak bola jadi nomor dua.
Tiba-tiba, semua orang berdiri. Sesaat ada perayaan, lalu kebingungan, perdebatan, kebisingan yang meningkat ke berbagai arah. Itu adalah momen yang akan dibicarakan selama puluhan tahun.
Baca juga:
Bola melayang di atas area kotak penalti Inggris. Bintang Argentina, Diego Maradona, meloncat untuk berebut bola di udara dengan penjaga gawang Inggris, Peter Shilton, yang juga melompat untuk mencoba meninju bola.
Namun bola justru memantul dari Maradona dan melewati garis gawang. Terlihat seolah ia menyundul gol pertama itu—dan di situlah semuanya berubah bagi saya.
Tiba-tiba, sepak bola menjadi penting. Orang-orang di sekitar saya mulai mempertanyakan apakah itu benar-benar gol atau tidak—apakah ia menanduk bola ke gawang atau… apakah tangannya yang mendorongnya masuk? Terdengar protes keras dari para pendukung Inggris.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Saya menoleh ke pria di sebelah saya, agak bingung. "¿Por qué tanto alboroto [apa yang terjadi]?" saya bertanya.
Dia mengatakan Maradona telah meninju bola ke gawang dengan tangannya tetapi wasit tidak melihatnya dan tetap mengesahkan gol tersebut.
Saya merasa heran dan saat itu saya tentu tidak pernah membayangkan bahwa apa yang baru saja kami lihat akan menjadi salah satu peristiwa paling dibicarakan dalam sejarah olahraga.
Seiring waktu, insiden itu dikenal di seluruh dunia sebagai "Hand of God"—istilah yang diciptakan oleh Maradona sendiri.
"[Gol itu dicetak] sedikit dengan kepala saya dan sedikit dengan tangan Tuhan," ujar Maradona yang kemudian mempopulerkan istilah gol 'Tangan Tuhan'.
Begitu sengitnya perdebatan di tribun penonton hari itu tentang apa yang baru saja kami saksikan, sehingga ketika Maradona menciptakan gol kedua empat menit kemudian, kami hampir melewatkannya.
Inilah yang menarik. Ketika saya mengingat kembali kejadian di stadion hari itu, bukan "Tangan tuhan" yang langsung saya ingat—melainkan gol kedua itu.
Baca juga:
Berbeda dengan gol pertama Maradona, seluruh stadion menjadi sunyi saat ia melaju membawa bola. Maradona memulai serangan dari wilayahnya sendiri dengan gerakan berputar untuk melepaskan diri dari penjagaan dua pemain Inggris.
Dia lalu melaju, bergerak zig-zag dari satu sisi ke sisi lain, menghindari tekel, masuk ke kotak penalti Inggris, dan kemudian—boom! Bola masuk ke gawang.
Stadion meledak. Saya ingat berpikir: "Inilah alasan orang menyukai sepak bola—sekarang masuk akal."
Saya melihat sekeliling dan terkejut melihat bahwa, tidak seperti gol pertama, gol ini dirayakan oleh semua orang, bahkan oleh beberapa penggemar Inggris di dekat saya.

Sumber gambar, Laura Lezza/Getty Images
Setelah pertandingan berakhir dengan kemenangan Argentina 2-1, saya dan ibu saya meninggalkan stadion dan berjalan menuju mobil.
Saat itu, yang tertinggal bagi saya bukanlah pertandingan, melainkan perasaan luar biasa berada di dalam Azteca—tempat luas dan ikonik yang menyimpan begitu banyak sejarah Meksiko di dalam dindingnya. Itu bukan sekadar stadion; itu bagian dari ingatan kolektif kami.
Bahkan ketika gempa bumi melanda Mexico City pada 1985 dan kota tersebut menjadi puing-puing, masih sangat jelas bagi saya bahwa Azteca adalah salah satu tempat perlindungan utama, tempat keluarga yang kehilangan segalanya menemukan tempat berlindung dan harapan.
Berada di sana terasa sangat menyentuh, hampir khidmat, namun di luar berubah menjadi sesuatu yang penuh kegembiraan dan kehidupan.
Saat saya dan ibu berjalan, berbincang dan makan taco serta buah yang disiram cabai dan jeruk nipis dari pedagang kaki lima, kami merasakan kebanggaan besar sebagai orang Meksiko.
Kami tertawa tentang bagaimana kami merangkul setiap stereotip—sombrero, warna-warna cerah—dengan humor dan keberanian. Sebagai tuan rumah, kami memberi kehangatan, tawa, dan kemurahan hati kepada dunia.
Bahkan maskot Piala Dunia, cabai dengan sombrero, tampak menangkap semangat itu dengan sempurna—berani, ceria, dan sepenuhnya milik kami.

Sumber gambar, George Tiedemann/Sports Illustrated via Getty Images
Baru bertahun-tahun kemudian saya menyadari bahwa saya telah menyaksikan momen yang benar-benar magis.
Sepak bola tidak pernah benar-benar menjadi begitu menarik bagi saya, bahkan setelah berada di pertandingan itu. Namun, momen itu tetap melekat dalam ingatan saya.
Ya, gol pertama kontroversial dan membuat banyak orang marah—bukan hanya di sekitar saya hari itu tetapi juga di Inggris dan di seluruh dunia selama bertahun-tahun.
Ketika saya kemudian tinggal dan bekerja di Argentina, orang-orang sering menyebut "Tangan Tuhan", dan teman-teman Argentina saya tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengungkitnya di depan rekan-rekan dari Inggris.
Namun hal itu membuat orang melupakan bahwa gol kedua itu benar-benar spektakuler—hampir mustahil dipercaya jika saya tidak menyaksikannya sendiri.
Secara pribadi, saya jauh lebih ingin membanggakan gol yang itu.





























