You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Terjebak di Selat Hormuz selama hampir 100 hari — 'Hanya ada satu jalan keluar'
- Penulis, Mukimul Ahsan
- Peranan, BBC News Bangla
- Penulis, Mohammed Zubair Khan
- Peranan, BBC World Service
- Penulis, Grace Tsoi
- Peranan, BBC World Service
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 6 menit
Laut terkadang begitu tenang sehingga Kapten Hassan Khan lupa bahwa kapalnya telah terjebak di tengah zona perang selama tiga bulan.
"Benar-benar aneh bahwa segala sesuatu terlihat normal di luar, tetapi orang-orang di dalam tidak tenang," kata pelaut asal Pakistan itu, yang tidak ingin menggunakan nama aslinya.
Segalanya mungkin terlihat normal, tetapi kenyataannya tidak demikian.
Khan dan 20.000 pelaut lainnya telah terjebak di dalam dan di sekitar Selat Hormuz akibat perang AS-Israel dengan Iran sejak akhir Februari.
Kawasan yang dulu merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, dan digunakan untuk mengangkut seperlima minyak dan gas global, mendadak sunyi lantaran rudal melintas di angkasa dan ranjau ditanam di bawah permukaan laut.
Meski demikian, awak kapal Khan telah berusaha mengikuti rutinitas kerja seperti biasa—meskipun canda ceria telah berubah menjadi keheningan penuh kecemasan yang hanya sesekali terpecah oleh bunyi ponsel.
Orang-orang terkejut oleh suara sekecil apa pun, bahkan saat tidur.
"Stres selalu ada di pikiran kami," kata Khan. "Semua orang benar-benar kelelahan—baik secara fisik maupun mental."
Persediaan menipis
Tanpa bahaya dari rudal dan ranjau sekalipun, sebanyak 1.600 kapal diperkirakan Organisasi Maritim Internasional (IMO) terjebak Selat Hormuz dan tidak dapat meninggalkan wilayah tersebut.
Sebab, beberapa hari setelah perang dimulai, Iran menutup jalur air sempit itu—satu-satunya jalan keluar dari Teluk—dan tidak mengizinkan kapal mana pun melintas tanpa persetujuan Teheran.
"Seolah-olah kami terjebak di sebuah kolam. Hanya ada satu jalan keluar, dan itu adalah Hormuz," jelas pelaut lain, Kapten Shafiqul Islam.
Baca juga:
Islam adalah awak kapal milik Bangladesh, Banglar Joyjatra, yang membawa sekitar 37.000 ton pupuk menuju Afrika Selatan. Dia dan rekan-rekannya telah dua kali mencoba keluar dari Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir.
Kedua upaya tersebut berakhir gagal.
Setelah pengumuman gencatan senjata pada 8 April, Islam mendengar bahwa kapal lain telah diberi izin oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk melintas.
Dia kemudian mengarahkan kapalnya menuju jalur air kritis itu bersama empat kapal lainnya.
Tak lama kemudian, mereka diperingatkan untuk tidak melanjutkan.
Sembilan hari kemudian, Islam mencoba lagi ketika Iran mengatakan selat tersebut akan "sepenuhnya terbuka" bagi semua kapal komersial sejalan dengan gencatan senjata Israel-Lebanon.
Namun Iran dengan cepat membalikkan keputusan itu setelah AS mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Saat itu, kapal Islam sudah berada dalam jarak 55 km dari selat.
Dia tidak punya pilihan selain berbalik ketika peringatan serangan terus terdengar melalui radio.
Kapal-kapal telah berpindah ke pelabuhan lain atau berlabuh di lepas pantai di dalam Teluk demi keselamatan.
Namun pasokan makanan dan air kini menjadi masalah yang semakin mendesak.
Mengisi kembali pasokan masih mungkin dilakukan tanpa harus memasuki pelabuhan, karena wilayah Teluk—terutama di sekitar Dubai, Abu Dhabi, dan Kuwait—memiliki layanan pasokan yang mapan.
Namun pengiriman kini tidak dapat diprediksi.
Baca juga:
Di antara semua kebutuhan pokok, harga air meningkat paling besar, kata Kepala Kamar Mesin Kapal Banglar Joyjatra, Rashedul Hasan.
"Kami membeli sekitar 180 ton air untuk kapal dua hari lalu. Sebelumnya biayanya antara US$1.500 dan US$2.000. Sekarang biayanya menjadi US$11.000."
"Juga terasa bahwa beberapa pemasok makanan dan air mencoba mengambil keuntungan dari situasi ini dan meraup keuntungan berlebihan," kata seorang pelaut Korea yang tidak ingin disebutkan namanya.
Dia berada di kapal yang berbeda.
Kapal-kapal yang terjebak akan memerlukan lebih banyak air karena musim panas akan datang.
Suhu udara sudah melebihi 30°C pada bulan Mei—dan bisa mencapai 45°C.
Di kapal Khan, mereka "masih memiliki makanan dan air, tetapi sekarang semuanya lebih sederhana".
Dia masih bisa menyantap daging sapi dan ayam, tapi sayuran dan lentil sulit ditemukan.
Kematian dan diplomasi
Kendati demikian, Islam masih menganggap dirinya beruntung.
Pada hari kedua perang, kapalnya hanya berjarak 200 meter dari Pelabuhan Jebel Ali di Dubai, yang menjadi sasaran serangan Iran.
Sejak itu, Islam dan 30 awaknya telah kehilangan hitungan berapa banyak serangan yang mereka saksikan.
"Kadang-kadang rudal melintas di atas satu kapal, dan kadang-kadang puing-puing jatuh ke kapal berikutnya," kata kapten tersebut.
"Setiap kali serangan berlangsung sepanjang malam, tidak ada dari kami yang bisa tidur," kata insinyur Hasan.
"Kami telah menyaksikan kengerian dan kehancuran dengan mata kepala sendiri."
Ketakutan mereka beralasan.
Setidaknya 11 pelaut telah tewas—satu lainnya belum ditemukan—dalam 39 insiden terverifikasi, menurut IMO.
Baca juga:
Ketegangan sempat mereda setelah gencatan senjata, tetapi aktivitas militer yang berlanjut di selat tersebut menjadi pengingat akan rapuhnya situasi.
Beberapa pelaut masih melihat drone dan jet tempur, sementara yang lain secara rutin melihat kapal perang dan kapal selam.
"Kapal-kapal ini menggunakan lampu terang. Kami juga mendengar pengumuman melalui pengeras suara. Kapten mengatakan orang Iran melakukan ini untuk mencegah siapa pun melintas," kata Sajid Masood, seorang warga Pakistan yang bekerja sebagai koki di kapal tanker minyak. Namanya telah diubah demi keamanan dirinya.
Jadi, apakah ada jalan keluar bagi para pelaut yang terjebak?
Perusahaan pelayaran tentu berharap dapat memangkas biaya tenaga kerja.
Pada awal perang, banyak perusahaan pelayaran menawarkan gaji lebih tinggi dan tunjangan tambahan agar pelaut tetap bertahan, kata Kamil, pelaut Pakistan yang menggunakan nama samaran.
Kini perusahaan menghadapi kerugian besar. Sehingga mereka memberi tahu staf bahwa siapa pun yang ingin pergi dapat melakukannya, sambil mengurangi gaji dan tunjangan, tambahnya.
Namun, apa yang akan terjadi selanjutnya dan siapa yang akan menggantikan mereka nanti masih belum jelas.
Banyak kontrak pelaut telah berakhir dan rotasi awak skala besar sudah seharusnya dilakukan.
Namun mengingat situasi, akan sulit menemukan cukup tenaga untuk mengoperasikan kapal-kapal ini—bahkan setelah perang berakhir.
"Krisis ini menunjukkan betapa berbahayanya pekerjaan ini," kata Kamil. "Banyak pelaut mungkin akan memandang profesi ini secara berbeda."
Ia khawatir akses ke jalur pelayaran internasional akan menjadi alat dalam konflik di masa depan.
Masood, sang koki, juga mulai mempertimbangkan kembali kariernya sebagai pelaut. Kontraknya tinggal satu bulan lagi.
Namun sebelum membuat keputusan besar, ia hanya berharap dapat kembali ke Pakistan dan membawa hadiah dari Dubai untuk keluarganya: boneka Barbie untuk putrinya dan pesawat mainan untuk putranya.
"Saya pikir saya akan segera pulang, tetapi sekarang kami masih terjebak di dekat Selat Hormuz tanpa rencana masa depan yang jelas," katanya.
"Setiap hari keluarga saya bertanya kapan saya akan kembali, tetapi saya tidak punya jawaban untuk mereka."
Ada sejumlah kapal berhasil melintas—diperkirakan 750 kapal sejak 28 Februari, menurut perusahaan data maritim Kpler.
Pemiliknya tampaknya mengandalkan diplomasi langsung internasional dengan Iran. Sebagian besar berasal dari China, India, dan Pakistan, kata Dr Jonathan Schroden dari CNA, organisasi riset nirlaba berbasis di Washington DC.
Tampaknya mereka juga "membayar biaya beberapa juta dolar per kapal", tambahnya.
Diplomasi kini menjadi harapan terbaik bagi Banglar Joyjatra. Pemerintah Bangladesh bekerja sama dengan pemiliknya, Bangladesh Shipping Corporation (BSC) agar kapal itu bisa bertolak dari Selat Hormuz.
Namun hal itu juga terbukti sulit.
Direktur Pelaksana BSC, Komodor Mahmudul Malek, mengatakan Bangladesh awalnya setuju membayar biaya yang diminta Iran.
Namun rencana itu dibatalkan setelah AS mengancam sanksi terhadap negara mana pun yang melakukannya.
"Kami sekarang berada dalam krisis ganda," katanya.
Reportase tambahan oleh Hyojung Kim dari BBC News Korean