Apa yang akan berubah dari fitur Instagram dan Facebook, kalau Meta kalah dalam sidang terkait privasi anak?

Sumber gambar, Anna Barclay/Getty Images
- Penulis, Kali Hays
- Peranan, Technology reporter
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Fitur-fitur yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Instagram dan Facebook, seperti jumlah tanda suka (like) dan fitur gulir tanpa batas (infinite scroll), bisa dihapus jika Meta kalah dalam gugatan privasi anak yang mulai disidangkan pada Selasa (18/08).
Persidangan ini berawal dari gugatan yang diajukan pada 2023 oleh 30 negara bagian AS, termasuk California dan New York, yang menuduh Meta berulang kali melanggar berbagai aturan privasi anak di tingkat federal maupun negara bagian.
Selain menuntut ganti rugi lebih dari US$1 triliun (sekitar Rp17.820 triliun atau 17,82 kuadriliun), negara-negara bagian tersebut juga mendesak perubahan pada Instagram dan Facebook, termasuk kedua fitur tersebut.
Jika Meta akhirnya kalah dalam perkara sebesar ini, putusannya dapat memaksa perubahan mendasar pada cara anak-anak dan remaja menggunakan media sosial.
Baca juga:

Sumber gambar, Getty Images
Negara-negara bagian yang menggugat Meta juga menuntut lebih banyak perubahan terhadap cara Instagram dan Facebook beroperasi bagi pengguna muda.
Mereka meminta Meta untuk menerapkan sistem verifikasi orang tua bagi pengguna remaja; mengubah algoritma rekomendasi yang dianggap "memanipulasi dopamin"; menghapus banyak filter foto yang mengubah penampilan pengguna; menghentikan fitur putar otomatis (autoplay) video; melarang pembuatan banyak akun oleh satu pengguna; dan menghapus unggahan yang menghilang setelah jangka waktu tertentu, seperti Instagram Stories.
Seluruh fitur tersebut merupakan bagian penting dari pengalaman pengguna di platform-platform Meta saat ini.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Menurut negara-negara bagian penggugat, fitur-fitur tersebut dirancang untuk membuat pengguna, termasuk anak-anak dan remaja, lebih sering dan lebih lama menggunakan platform tersebut.
Mereka juga menuduh Meta mempersulit pengguna muda untuk mengurangi penggunaan aplikasi, antara lain melalui notifikasi yang dikirim berulang kali untuk mendorong mereka kembali membuka aplikasi.
Dengan diduga menargetkan pengguna anak-anak, Meta disebut telah "memilih untuk mengeksploitasi" kaum muda agar terus terpikat pada platformnya, sehingga dapat memperbesar jumlah pengguna sekaligus mengembangkan bisnisnya. Saat ini, nilai pasar Meta mencapai sekitar US$1,5 triliun (Rp26,73 kuadriliun).
Meta secara konsisten membantah tuduhan tersebut.
"Kami sangat tidak sependapat dengan tuduhan-tuduhan ini dan yakin bahwa bukti yang ada akan menunjukkan komitmen jangka panjang kami dalam mendukung kaum muda," kata juru bicara Meta dalam sebuah pernyataan.
Gugatan dari 30 negara bagian itu akan diperiksa oleh Hakim Yvonne Gonzalez Rogers, hakim federal senior di California.
Ia juga menangani persidangan yang menyita perhatian publik antara Elon Musk dan Sam Altman, serta dikenal karena gaya kepemimpinannya di ruang sidang yang tegas dan lugas selama hampir 20 tahun berkarier sebagai hakim.
Media sosial dianggap sebagai 'gangguan publik'
Dalam putusan terbaru terhadap Meta, seorang hakim di negara bagian New Mexico menjatuhkan denda sebesar US$942 juta kepada perusahaan tersebut dan memerintahkan sejumlah perubahan yang serupa dengan tuntutan yang kini diajukan oleh 30 negara bagian lainnya.
Hakim Bryan Biedscheid memerintahkan Meta untuk menghapus jumlah tanda suka atau likes bagi pengguna Instagram dan Facebook yang berusia di bawah 18 tahun, melarang remaja mengirim atau menerima gambar telanjang melalui platform tersebut, serta membatasi notifikasi push hanya pada jam-jam tertentu dalam sehari.
Hakim itu juga menyatakan Meta sebagai "gangguan bagi publik", menyamakannya dengan sebuah pabrik yang mencemari udara yang dihirup masyarakat dan menimbulkan "dampak merugikan" bagi seluruh populasi.
Meta menyatakan akan mengajukan banding atas putusan tersebut.
Meski putusan Hakim Biedscheid hanya mewajibkan Meta melakukan perubahan di New Mexico, hasilnya bisa jauh lebih luas jika 30 negara bagian tersebut memenangkan gugatan terpisah mereka terhadap perusahaan itu.
Negara-negara bagian yang terlibat dalam gugatan tersebut mewakili hampir dua pertiga populasi Amerika Serikat.
Jika Meta pada akhirnya menerapkan perubahan-perubahan tersebut, pengalaman pengguna di platform-platformnya akan mengalami perubahan yang signifikan.

Sumber gambar, Reuters
Jumlah tanda suka, misalnya, telah menjadi bagian dari Meta sejak masa-masa awal perusahaan itu, ketika namanya masih Facebook dan belum memiliki platform lain.
Kini, tombol like hadir di hampir semua platform media sosial. Fitur tersebut menjadi cara utama pengguna berinteraksi dengan teks, foto, dan video yang mereka lihat di internet.
Namun, tanda like semakin sering dianggap dapat memicu perasaan negatif, terutama di kalangan anak muda.
Kaley, seorang perempuan muda yang memenangkan gugatannya terhadap Meta awal tahun ini, menceritakan dalam kesaksiannya di pengadilan bagaimana ia membuat puluhan akun di YouTube dan Instagram.
Ia menggunakan akun-akun tersebut untuk memberikan like pada unggahannya sendiri, dengan harapan dapat meningkatkan interaksi dari pengguna lain sekaligus memperoleh pengakuan dan rasa percaya diri.
Saat itu Kaley baru berusia sembilan tahun. Ia mengatakan masih mengingat perasaan tertekan yang dialaminya, yang kemudian didiagnosis sebagai depresi ketika berusia 10 tahun.
Berbagai penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa metrik keterlibatan seperti jumlah like dapat memicu perasaan ditolak dan depresi pada remaja.
Dalam gugatan yang diajukan negara-negara bagian terhadap Meta, yang menurut perusahaan telah melibatkan penyerahan lebih dari dua juta dokumen, para pengacara menunjuk pada riset internal Meta sendiri.
Riset tersebut menunjukkan bahwa jumlah like mendorong terjadinya social comparison atau kecenderungan membandingkan nilai diri dengan citra orang lain.
Menurut penelitian internal Meta, perbandingan sosial yang dipicu oleh Instagram berkaitan dengan "meningkatnya rasa kesepian, citra tubuh yang lebih buruk, serta suasana hati atau kondisi emosional yang negatif".
Seperti ditulis Hakim Bryan Biedscheid dalam putusannya, yang untuk pertama kalinya menyatakan sebuah perusahaan media sosial sebagai "gangguan publik", cara platform-platform Meta beroperasi selama lebih dari satu dekade telah menjadi bagian dari krisis kesehatan mental remaja yang kian memburuk di New Mexico dan wilayah lainnya.
Kini, para pengacara dari 30 negara bagian lainnya akan berupaya meyakinkan Hakim Yvonne Gonzalez Rogers untuk mengambil kesimpulan yang sama.































