Trump sambut Xi Jinping di Washington, akan diskusikan isu AI dan perdagangan

Sumber gambar, Jonathan Ernst/REUTERS
Presiden AS Donald Trump menyambut Presiden China Xi Jinping dengan seremoni penyambutan di Joint Base Andrews, pada Rabu (23/09) waktu setempat, menandai dimulainya kunjungan tiga hari pemimpin China itu ke Amerika Serikat.
Karpet merah digelar ketika Presiden Trump dan Ibu Negara Melania Trump berjalan menyambut President Xi Jinping dan istrinya, Peng Liyuan, di landasan Joint Base Andrews.
Setelah Xi turun dari pesawat, kedua pemimpin berjabat tangan dengan masing-masing istri mereka berdiri di samping mereka.
Dua pesawat bomber B-1 terbang melintas untuk menyambut kedatangan pemimpin China itu, sementara band Angkatan Udara AS memainkan lagu kebangsaan kedua negara dengan bendera AS dan China berkibar.
Trump dan Xi kemudian terlihat berangkat secara terpisah menuju Washington DC.
Ini adalah pertama kalinya, sejak 1962, seorang presiden AS secara langsung menyambut pemimpin asing di pangkalan tersebut. Penyambutan megah ini menjadi sinyal pentingnya kunjungan tersebut bagi Trump.

Sumber gambar, Kevin Lamarque/REUTERS
Kunjungan ini juga menandai perjalanan pertama Xi ke Amerika Serikat dalam lebih dari satu dekade dan pertemuan ketiganya dengan Trump sejak presiden AS itu memulai masa jabatan keduanya.
Kedua pemimpin terakhir kali bertemu pada Mei lalu di China, ketika Trump menerima penyambutan kenegaraan yang meriah dari Xi di Beijing.
Berbagai isu, mulai dari kecerdasan buatan (AI), perdagangan, hingga Taiwan, akan menjadi agenda pembahasan dalam kunjungan kenegaraan yang diperkirakan berlangsung penuh taruhan bagi para pemimpin dua negara adidaya dunia tersebut.
'Lebih baik menjadi mitra daripada rival'
Setibanya di Joint Base Andrews, Presiden Xi dan istrinya disambut dengan penghormatan 21 dentuman meriam serta iringan band militer. Mereka juga menerima bunga dari anak-anak Amerika, menurut kantor berita pemerintah China, Xinhua.
Xinhua juga menulis bahwa Trump menyebut Xi sebagai "pemimpin besar" dan momen tersebut sebagai "peristiwa besar".

Sumber gambar, Jonathan Ernst/REUTERS
Dalam pernyataan tertulis yang disampaikannya, Xi mengatakan bahwa China dan Amerika Serikat adalah "negara-negara besar, dan rakyat mereka adalah rakyat yang besar."
"Kedua negara seharusnya menjadi mitra, bukan rival," kata Xi, seperti dikutip media pemerintah tersebut.
"Mewujudkan kebangkitan besar bangsa China dan membuat Amerika kembali berjaya sepenuhnya dapat berjalan berdampingan, saling memperkuat, dan memberikan manfaat bagi dunia."
Perpanjangan gencatan perang dagang
Menteri Keuangan AS Scott Bessent membawa kabar terkait gencatan perang dagang kedua negara sebelum pertemuan puncak Trump-Xi benar-benar dimulai.
Saat Presiden AS bertemu dengan mitranya dari China di landasan Joint Base Andrews, muncul kabar bahwa kedua negara telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan perang dagang mereka.
Kesepakatan yang mulai berlaku tahun lalu dan semula akan berakhir pada November itu kini dikabarkan diperpanjang setidaknya hingga 10 Januari.
Gencatan perang dagang tersebut disepakati tahun lalu, ketika Trump dan Xi bertemu di Korea Selatan.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Trump menurunkan tarif atas sejumlah barang, sebagai imbalan atas pelonggaran pembatasan ekspor mineral tanah jarang oleh Xi.
Kesepakatan perpanjangan tersebut dicapai setelah perundingan panjang dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng di New York pada akhir pekan lalu, yang kemudian berlanjut di Washington pada Rabu.
Fakta bahwa diperlukan waktu begitu lama hanya untuk memperpanjang status quo menunjukkan betapa rumitnya negosiasi antara dua ekonomi terbesar dunia itu.
Trump meningkatkan eskalasi perang dagang dengan Beijing pada 2025, tampaknya dengan keyakinan bahwa ia berada di posisi yang lebih kuat saat meluncurkan gelombang tarif impor terhadap China.
Namun, serangkaian langkah balasan dari China, termasuk pembatasan ekspor mineral tanah jarang yang krusial, memberikan pukulan besar sehingga kedua negara terjebak dalam kebuntuan.
Pertanyaan yang kini muncul adalah apakah kedua pemimpin benar-benar dapat mencapai kemajuan yang berarti ketika mereka duduk bersama dalam perundingan pada Kamis (24/09).
Artikel ini akan diperbarui secara berkala





























