Raih 16 gelar juara dalam lima tahun, bagaimana Spanyol jadi kekuatan dominan di sepak bola?

Sumber gambar, Eric Verhoeven/Soccrates/Getty Images
- Penulis, Neil Johnston
- Peranan, BBC Sport journalist in New York
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 6 menit
Spanyol melakukannya lagi.
Setelah dinobatkan sebagai juara Eropa dua tahun lalu di Berlin, La Roja kini menyandang status juara dunia usai mengalahkan Argentina 1-0 pada final Piala Dunia di New Jersey, Senin (20/07) dini hari WIB.
Mereka pernah menorehkan pencapaian serupa pada 2010, dua tahun setelah menjuarai Euro 2008.
Keberhasilan terbaru ini semakin menegaskan dominasi luar biasa Spanyol dalam sepak bola putra maupun putri.
Spanyol menjadi negara pertama yang secara bersamaan menyandang gelar juara Piala Dunia putra dan putri.
Tim putri La Roja meraih gelar tersebut setelah mengalahkan Inggris pada final Piala Dunia Wanita 2023 di Sydney.
Dan itu belum semuanya.
Tim putra menjuarai UEFA Nations League pada 2023 dan meraih medali emas Olimpiade 2024.
Sementara itu, tim putri memenangkan UEFA Nations League pada 2024 dan 2025.
Bahkan, dalam lima tahun terakhir, Spanyol telah mengoleksi 16 gelar dunia dan Eropa yang mengesankan, mulai dari level U-17 hingga tim senior.
"Ini adalah sebuah dominasi," kata pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, kepada BBC Sport.
"Situasinya seperti badai sempurna. Secara budaya, kami memiliki cara tersendiri dalam melakukan sesuatu. Semua orang memercayai pendekatan itu. Yang terpenting, kami tidak berhenti," kata Balague.
"Ini adalah Everest lainnya karena tim putra memenangkan Piala Dunia 2010 dua tahun setelah menjuarai Piala Eropa. Kini kami berhasil melakukannya lagi," ujarnya.
Spanyol, mesin pengumpul gelar yang sulit ditandingi
Sepak Bola Putri (11 gelar, 2022-2026)
Tim senior: 1 gelar Piala Dunia (2023); 2 gelar UEFA Nations League (2024, 2025).
U-20: 1 gelar Piala Dunia (2022).
U-19: 5 kali juara Eropa U-19 (2022, 2023, 2024, 2025, 2026).
U-17: 1 gelar Piala Dunia (2022); 1 gelar juara Eropa U-17 (2024).
Sepak Bola Putra (5 gelar, 2022-2026)
Tim senior: 1 gelar Piala Dunia (2026); 1 gelar juara Eropa (2024); 1 gelar UEFA Nations League (2023).
U-23: 1 medali emas Olimpiade (2024).
U-19: 1 gelar juara Eropa U-19 (2026).
'Penunjukan De La Fuente penuh risiko'
Ketika Spanyol menunjuk Luis de la Fuente sebagai pelatih kepala pada Desember 2022, hanya sedikit yang memperkirakan dia akan membawa tim meraih gelar UEFA Nations League (2023), Kejuaraan Eropa (2024), dan Piala Dunia (2026) dalam waktu sesingkat itu.
Saat itu, Spanyol baru saja tersingkir dari Piala Dunia 2022 di Qatar setelah kalah dari Maroko pada babak 16 besar.
Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) pun harus mencari pengganti setelah Luis Enrique meninggalkan jabatannya.
"Mereka memilih sosok ini [De la Fuente] karena memahami gaya bermain dan sistem yang ada," kata Guillem Balague.
"Itu keputusan yang sangat berisiko. Saya rasa tidak ada yang menyangka dia akan sesukses ini."
Keputusan tersebut dianggap berisiko karena De la Fuente mengambil alih tim nasional Spanyol, yang telah memenangi tiga dari lima edisi terakhir Piala Eropa putra (2008, 2012, dan 2024), tanpa pernah melatih klub besar.

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Setelah pensiun sebagai pemain pada 1994, De la Fuente menghabiskan 15 tahun menjalani berbagai peran di sejumlah klub, termasuk melatih di liga-liga bawah Spanyol, menangani tim junior, serta bekerja sebagai asisten pelatih, sebelum akhirnya dipercaya memimpin tim kelompok usia Spanyol.
"De la Fuente mengenal sebagian besar pemain ini sejak mereka berada di akademi, dan mereka tumbuh bersama sebagai sebuah tim," kata mantan gelandang Spanyol, Juan Mata, kepada BBC Sport.
"Ini bukan hanya tim untuk masa kini, tetapi juga tim untuk masa depan."
Sejak ditunjuk sebagai pelatih tim senior setelah menangani tim U-19, U-21, dan tim Olimpiade, De la Fuente menerapkan budaya yang menekankan rasa hormat kepada lawan, penghargaan terhadap proses, serta pentingnya kesabaran dan ketenangan.
"Sebagian besar dari kalian lebih muda daripada saya dan perlu menghargai pengalaman," ujar pelatih berusia 65 tahun itu kepada para wartawan dalam konferensi pers jelang pertandingan di New York, Jumat lalu.
"Setelah pertandingan berakhir, ada pemain yang berkata, 'Pelatih, apa lagi yang bisa kami menangkan sekarang? Kami sudah menjuarai semua kategori'."
"Kami kemudian menyimpulkan bahwa yang tersisa hanyalah pertandingan berikutnya pada September, karena tim ini tidak pernah merasa puas," kata De la Fuente.
Keberhasilan tim nasional dan para pelatih Spanyol juga berdampak pada sepak bola klub.
Meski Pep Guardiola memutuskan meninggalkan Manchester City setelah 10 tahun yang sarat trofi, setidaknya seperempat pelatih yang memulai musim Liga Primer Inggris 2026-2027 berasal dari Spanyol.
Kini, Spanyol juga tidak terkalahkan dalam 38 pertandingan terakhir di semua kompetisi, rekor terpanjang yang pernah dicatatkan oleh tim dari Eropa maupun Amerika Selatan dalam sejarah sepak bola internasional.
'Kami memenangi segalanya'
Sementara itu, sepak bola putri di Spanyol berkembang pesat dalam satu dekade terakhir dan mulai menuai kesuksesan besar di laga-laga bertekanan tinggi.
Kemenangan Spanyol atas Inggris pada final Piala Dunia Putri tiga tahun lalu diraih hanya dalam penampilan ketiga mereka di turnamen tersebut, setelah melakukan debut pada 2015.
Tim putri Spanyol kemudian melanjutkan pencapaian itu dengan menjuarai UEFA Nations League secara beruntun pada 2024 dan 2025.
"Perubahan dalam sepak bola putri di Spanyol sangat signifikan," kata mantan pemain yang kini menjadi jurnalis, Maria Garrido, kepada BBC Sport pada 2024.

Sumber gambar, ANP via Getty Images
"Sepuluh tahun lalu, ketika saya bermain untuk FC Barcelona, tidak ada La Masia [akademi terkenal Barcelona] untuk anak perempuan. Kami menanggung sendiri biaya transportasi, orang tua mengantar kami ke tempat latihan, dan kami tidak memperoleh penghasilan apa pun," kata Maria Garrido.
"Namun dalam lima tahun terakhir, situasinya berubah secara drastis. Ada dorongan besar untuk memajukan sepak bola putri, termasuk dengan menambah kategori usia muda, memperbaiki fasilitas dan kondisi latihan, serta mendirikan akademi sepak bola khusus untuk pesepak bola putri," ujarnya.
"Transformasi ini bukan hanya merevolusi olahraga tersebut, tetapi juga meningkatkan penghormatan terhadap sepak bola putri di Spanyol," ucap Maria Garrido.
Kesuksesan tim putra dan putri Spanyol di level senior tersebut merupakan kelanjutan dari sederet gelar yang mereka raih di kelompok usia muda sepanjang satu dekade terakhir.
'Kesuksesan lahirkan kesuksesan'
Masa depan sepak bola Spanyol tampak cerah, dan banyak pihak meyakini dominasi mereka akan terus berlanjut.
Di sektor putra, Spanyol memiliki dua talenta muda luar biasa, Lamine Yamal dan Pau Cubarsí. Keduanya meraih medali juara Piala Dunia pertama mereka pada usia 19 tahun.

Sumber gambar, Icon Sportswire via Getty Images

Sumber gambar, FIFA via Getty Images
Sementara itu, Vicky López, yang membela tim nasional putri Spanyol, telah memenangkan Liga Champions bersama Barcelona sebanyak tiga kali pada usia yang sama.
Penyerang Salma Paralluelo juga telah mencatatkan lebih dari 50 penampilan untuk tim nasional sebelum genap berusia 23 tahun.
Yamal menjadi pemain ketiga termuda yang tampil di final Piala Dunia, setelah legenda Brasil Pelé pada 1958 (17 tahun 249 hari) dan Giuseppe Bergomi dari Italia pada 1982 (18 tahun 201 hari).
Dengan Cubarsí juga menjadi starter pada laga final Senin dini hari dalam usia 19 tahun 178 hari, Spanyol menjadi tim pertama yang menurunkan dua pemain remaja dalam satu final Piala Dunia.

Sumber gambar, Getty Images
"Spanyol memiliki cara bermain yang belum mampu didekati oleh negara lain di dunia," kata mantan kiper timnas Inggris, Joe Hart, kepada BBC Sport setelah kemenangan atas Argentina.
"Tidak ada tim yang benar-benar mampu mengimbangi mereka di Piala Dunia ini. Sepanjang turnamen, mereka hanya menghadapi 10 tembakan tepat sasaran."
Senada dengan itu, mantan penyerang Prancis yang menjadi juara Piala Dunia 1998, Thierry Henry, mengatakan kepada Fox Sports bahwa Spanyol memiliki potensi untuk mendominasi sepak bola dunia selama bertahun-tahun ke depan.
"Saya ingin memberikan penghargaan kepada sistem dan fondasi yang mereka bangun," ujarnya.
"Dulu Spanyol tidak terbiasa menang seperti ini. Sekarang mereka menang di setiap level."
































