Xi Jinping: 'Pangeran' penuh privilese yang kehilangan segalanya sebelum jadi pemimpin China paling berkuasa

Sumber gambar, Reuters/Getty Images
- Penulis, Shawn Yuan
- Penulis, Jack Lau
- Peranan, BBC Global China Unit
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 6 menit
Presiden China Xi Jinping untuk pertama kalinya dalam 11 tahun akan melakukan kunjungan kenegaraan ke ibu kota Amerika Serikat, Washington DC, Rabu (23/09).
Merujuk latar belakangnya, Xi telah memiliki relasi dengan AS jauh sebelum dia menjadi pemimpin China yang paling berkuasa dalam beberapa generasi terakhir.
Empat dekade lalu, Xi adalah seorang pejabat daerah dari utara China yang melakukan perjalanan studi banding ke wilayah Midwest AS.
Xi menghabiskan beberapa hari di Iowa untuk mempelajari pertanian, mengunjungi pertanian, dan tinggal bersama keluarga setempat di sebuah rumah pinggiran kota.
Media pemerintah China mempublikasikan kunjungan itu, sekaligus memperlihatkan persahabatan Xi dengan Terry Branstad, yang saat itu menjabat sebagai Gubernur Iowa.
Terry lantas ditunjuk menjadi duta besar AS untuk China di bawah kepresidenan Donald Trump, peristiwa yang menekankan hubungan pribadi Xi dengan AS.
Saat ini, hubungan AS-China sangat berbeda, ditandai dengan persaingan tarif timbal balik, kontrol teknologi, dan persaingan militer.
Xi yang berusia 73 tahun bukan lagi seorang pejabat berpangkat rendah. Selama hampir 14 tahun sebagai pemimpin China, dia telah mengubah Partai Komunis China dan posisi negara itu di hadapan dunia.
Sang 'pangeran' yang kehilangan segalanya
Kisah Xi dimulai dari kehidupan yang penuh kemewahan.
Lahir di Beijing pada tahun 1953, dia adalah anak keenam dari Xi Zhongxun, seorang revolusioner komunis yang turut terlibat dalam pendirian Republik Rakyat China.
Ayah Xi akhirnya menjadi pemimpin partai senior dan wakil perdana menteri.

Sumber gambar, Reuters
Sebagai anak kecil, Xi menimba ilmu di sejumlah sekolah bergengsi. Dia menikmati hak istimewa yang tidak tersedia bagi sebagian besar keluarga.
Kemudian politik berbalik melawan keluarganya.
Pada awal tahun 1960-an, ayah Xi dituduh sebagai bagian dari kelompok "antipartai", lalu diasingkan ke pedesaan untuk bekerja di pabrik. Ayahnya disingkirkan dari partai.

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sebagai putra seseorang yang dianggap sebagai "kontra-revolusioner", Xi yang saat itu masih remaja dipaksa untuk dikirim ke pusat-pusat pendidikan ulang milik pemerintah.
Menanggapi seruan Mao Zedong untuk pergi ke desa-desa dan belajar dari kaum petani, Xi yang berusia 15 tahun menuju pedesaan bersama jutaan siswa kota lainnya.
Menggambarkan perjalanannya dalam sebuah wawancara tahun 2004, Xi berkata, "Semua orang di kereta menangis. Saya satu-satunya yang tersenyum... Saya akan menangis jika saya tidak keluar. Jika saya tetap tinggal, saya bahkan tidak tahu apakah saya masih hidup."
Xi tiba di desa terpencil Liangjiahe di lereng bukit di Provinsi Shaanxi. Di sana dia tinggal selama tujuh tahun di yaodong, yaitu sebuah gua tempat tinggal di lereng bukit. Xi bertani, membawa pupuk kandang, dan menggali parit.
"Sayuran acar menjadi makanan favorit saya," katanya tentang masa tinggalnya di sana. "Bahkan hingga hari ini, saya masih mengingatnya dengan penuh kasih."
Xi bilang, dia terkejut dengan beban kerja dan awalnya kesulitan mengatasi rasa lapar dan kutu. Namun dia mengklaim menemukan kelegaan dalam istirahat merokok sebelum makan siang.
Naik ke tampuk kekuasaan
Xi meninggalkan pedesaan pada usia 22 tahun, untuk belajar teknik kimia di Universitas Tsinghua, salah satu institusi akademik terbaik di China.
Setelah lulus, dia bekerja sebagai pejabat lokal jauh dari Beijing, di Fujian dan Zhejiang, provinsi pesisir yang menjadi beberapa provinsi terkaya di China ketika ekonomi dibuka pada tahun 1980-an.
Rehabilitasi ayahnya, setelah kematian Mao, membantu Xi mendapatkan posisi di pemerintahan pusat dan militer. Dia lantas juga berpeluang membangun hubungan di dalam partai.
Banyak dari pejabat ini kemudian menjadi bagian dari lingkaran kepemimpinan yang dia percaya saat ini.

Sumber gambar, EPA
Xi menikahi istri pertamanya, Ke Lingling, putri mantan duta besar China untuk Inggris, pada tahun 1979. Mereka bercerai tiga tahun setelahnya.
Seorang teman memperkenalkan Xi kepada istri keduanya dan istri saat ini, Peng Liyuan, yang kala itu berprofesi sebagai penyanyi di institusi militer.
Peng Liyuan kerap tampil di acara televisi pada saat Tahun Baru Imlek, acara yang ditonton ratusan juta pemirsa.
Bagi banyak warga China pada tahun 1980-an dan 1990-an, Peng lebih dikenal daripada Xi.
Peng lantas sering menemani Xi dalam perjalanan luar negeri, menandai perubahan dari citra tradisional ibu negara China yang cenderung sederhana.
Putri mereka dan satu-satunya anak, Xi Mingze, lahir pada tahun 1992. Sedikit yang diketahui tentangnya selain bahwa ia belajar di Universitas Harvard di AS.
Pada tahun 2007, setelah menjabat sebentar sebagai pemimpin tertinggi di Shanghai, Xi bergabung dengan Komite Tetap Politbiro, badan pembuat keputusan tertinggi China.
Lima tahun kemudian, Xi menggantikan Hu Jintao sebagai pemimpin Partai Komunis.
Sebagai pemimpin China, Xi mengubah sistem ekonomi dan politik—dengan cara yang tidak banyak orang duga.
China yang dibangun Xi
Dalam 14 tahun pemerintahan Xi, China semakin percaya diri.
Di luar negeri, Xi memperluas jejak global China melalui proyek-proyek seperti Inisiatif Sabuk dan Jalan sambil memposisikan Beijing sebagai juara belahan bumi selatan.
Pada saat yang sama, hubungan China dengan banyak negara demokrasi besar menjadi lebih tegang, termasuk sengketa kedaulatan di Laut Cina Selatan, meningkatnya tekanan di sekitar Taiwan, dan persaingan yang semakin intensif dengan AS.
Namun, pemerintah Xi juga ditandai dengan kontrol politik yang lebih besar di dalam China.
Di bawah Xi, China telah memberikan penekanan yang jauh lebih kuat pada urusan keamanan dan stabilitas politik. Dia menerapkan kebijakan kontroversial di Xinjiang, Tibet, dan Hong Kong.
Para pendukungnya menganggap Xi memulihkan ketertiban, tapi para kritikus berpendapat Xi telah secara dramatis membatasi kebebasan sipil.
Xi mempromosikan ideologi yang dinamai menurut namanya, yaitu "Pemikiran Xi Jinping tentang sosialisme dengan karakteristik China untuk era baru".
Promosi ideologi itu tidak dapat dilakukan oleh dua pendahulunya.
Xi juga menghapus batasan masa jabatan presiden dari konstitusi, yang memungkinkannya menjabat lebih dari dua periode.
Media pemerintah China menggambarkan Xi sebagai orang yang serius, tapi ia terkadang menunjukkan sisi yang lebih ramah.
Xi telah berbicara tentang kecintaannya pada sepak bola, bahkan bercanda tentang kekecewaannya terhadap tim putra China dengan perdana menteri Thailand.
Dia minum bir bersama mantan Perdana Menteri Inggris David Cameron dan menggoda presiden Korea Selatan tentang pemeriksaan ponsel Xiaomi buatan China, untuk mencari "pintu belakang" sebelum menerimanya sebagai hadiah darinya.
Teman atau musuh?
Hubungan Xi dengan para pemimpin negara lain telah mengalami fase pasang surut, yang mencerminkan prioritas kebijakan luar negeri China yang lebih luas.
Tidak ada pemimpin negara lain yang lebih dekat dengannya, selain Vladimir Putin dari Rusia.

Sumber gambar, AFP via Getty Images
Sejak berkuasa, Xi telah bertemu Putin lebih dari 40 kali. Xi bahkan menggambarkan Putin sebagai orang terdekat yang dia percaya.
Hubungan Xi dengan Trump lebih rumit. Meskipun melancarkan perang dagang dengan China, Trump sering berbicara hangat tentang Xi. Trump menyebut Xi sebagai teman dan memuji kekuatan politiknya.
Dengan Perdana Menteri India, Narendra Modi, Xi awalnya banyak berinvestasi dalam diplomasi pribadi. Mereka berbicara dalam pertemuan informal untuk menggarisbawahi kerja sama antara raksasa Asia. Namun bentrokan perbatasan yang mematikan pada tahun 2020 mendorong hubungan ke titik terburuk selama beberapa dekade.
Tidak seperti para pemimpin yang dikenal karena karisma pribadi atau improvisasi, Xi jarang menempatkan hubungan individu di atas kepentingan negara.
Ketika Xi kembali ke Washington DC pertengahan September ini, dia akan tiba, bukan sebagai pejabat daerah yang ingin tahu tentang pertanian di daerah Iowa, tapi sebagai tokoh politik yang menentukan pada abad ke-21.






























