Kisah perempuan yang kecanduan ketamin – Mengapa ketamin dilarang di Indonesia, apa bahayanya?

Megan mengatakan bahwa empat minggu menjalani rehabilitasi akibat penggunaan ketamin telah membantunya merasa lebih baik secara fisik, meskipun belum jelas apakah kerusakan pada kandung kemihnya dapat dipulihkan.
Keterangan gambar, Megan mengatakan bahwa empat minggu menjalani rehabilitasi akibat penggunaan ketamin telah membantunya merasa lebih baik secara fisik, meskipun belum jelas apakah kerusakan pada kandung kemihnya dapat dipulihkan.
    • Penulis, Jenny Rees
    • Peranan, Wales health correspondent
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 9 menit

Penyalahgunaan ketamin di kalangan anak muda meningkat tajam di banyak negara. Di Indonesia, pada Rabu (21/10), aparat gabungan mengumumkan telah menggagalkan penyelundupan ketamin ilegal seberat satu ton oleh Kapal MT Global 108.

Beberapa bulan sebelumnya, aparat gabungan juga membongkar penyelundupan 1,3 ton ketamin ilegal yang ditaksir bernilai Rp4,55 triliun di Kepuluan Riau, pada Kamis (06/08).

Dari kacamata medis, ketamin adalah obat bius penghilang rasa sakit. Obat ini digunakan untuk operasi, dan pengobatan depresi. Namun di luar dosis medis, ketamin kerap disalahgunakan secara ilegal untuk mencari efek rekreasional, berupa euforia atau rasa gembira berlebihan.

Di Indonesia, ketamin masuk dalam golongan obat keras yang memiliki dampak berbahaya bagi tubuh (di luar dosis), yaitu kerusakan saraf, gagal jantung, gagal ginjal, kerusakan hati hingga sistem pernafasan.

Aparat gabungan membongkar penyelundupan 1,3 ton ketamin ilegal yang ditaksir bernilai Rp4,55 triliun di Kepuluan Riau, pada Kamis (06/08).
Keterangan gambar, Aparat gabungan membongkar penyelundupan 1,3 ton ketamin ilegal yang ditaksir bernilai Rp4,55 triliun di Kepuluan Riau, pada Kamis (06/08).

BPOM memasukkan ketamin dalam obat-obat tertentu yang sering disalahgunakan, selain tramadol, triheksifenidil, klorpromazin, amitriptilin, haloperidol, dan dekstrometorfan.

Bahkan, Badan Narkotika Nasional (BNN) mengusulkan perubahan penggolongan ketamin dari psikotropika menjadi narkotika.

Lalu, bagaimana pengalaman buruk pengguna ketamin yang menghancurkan kesehatan dan juga kehidupan sosial mereka?

'Konsumsi ketamin sejak usia 14 tahun dan Harus pakai popok usia 22 tahun'

Megan Harmes baru berusia 14 tahun saat pertama kali mencoba ketamin.

Satu dekade kemudian, panti rehabilitasi membantunya menata kembali hidupnya setelah masalah kandung kemih akibat penggunaan obat itu membuatnya harus menggunakan pembalut khusus inkontinensia.

Organisasi amal penanganan narkoba, Kaleidoscope, menyatakan terjadi lonjakan besar jumlah rujukan ke fasilitas detoksifikasi dan rehabilitasi mereka selama lima tahun terakhir.

Dari hanya dua orang pada tahun 2021 menjadi 112 orang sejauh ini di tahun ini. Mayoritas pasien berusia antara 18 hingga 24 tahun.

Penelitian kini tengah dijalankan oleh University of South Wales untuk memetakan kebutuhan khusus kelompok umur ini.

Pasalnya, dampak buruk akibat penggunaan ketamin yang "kronis dan terus meningkat" terjadi jauh lebih cepat dibandingkan dampak alkohol maupun narkotika Golongan A (Class A).

Keterangan video, 'Saya mulai pakai ketamin di usia 14 tahun dan harus pakai popok di usia 22 tahun'
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
BBC News Indonesia - Kini hadir di
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Layanan yang dulunya dirancang untuk orang yang lebih tua kini harus beradaptasi untuk mendukung anak-anak muda, katanya, dengan kebutuhan yang sangat berbeda, serta kebiasaan yang sering kali terbentuk saat mereka masih di sekolah.

Bagi Megan yang berusia 24 tahun, dari Flint di Wales utara, penggunaan obat ketamin menjadi umum di antara teman-temannya selama masa lockdown (Covid-19).

Sebagai peserta magang di bidang teknik penerbangan, ia mendadak harus bekerja dari rumah, dengan gaji penuh, serta memiliki akses ke obat itu yang harganya turun drastis.

Ia mengatakan pada kondisi terburuknya, dirinya mampu mengonsumsi ketamin "sepanjang hari, setiap hari".

Mungkin Anda tertarik:

Menurut Megan, obat itu membantunya meredakan gejala atau perasaan yang berkaitan dengan ADHD dan gangguan kepribadian (borderline personality disorder).

"Saya sangat hiperaktif sekarang setelah saya bebas dari obat itu. Saya tidak pernah merasa seperti ini sejak usia 14 tahun, ketamin benar-benar menekan hampir semua hal dalam diri saya," katanya.

Pada akhirnya, penggunaan ketamin membuatnya kehilangan tempat magangnya, yang menyebabkan kehidupannya "semakin terpuruk".

Paket-paket pil ketamin dipamerkan sebelum dibakar di Yangon, pada 26 Juni 2025.
Keterangan gambar, Paket-paket pil ketamin dipamerkan sebelum dibakar di Yangon, pada 26 Juni 2025.

Megan kemudian menemukan pekerjaan di tempat lain, tetapi empat tahun bekerja dengan sistem sif malam justru membuat ketergantungannya semakin dalam.

Dia menggunakan ketamin untuk tetap terjaga sepanjang malam bahkan pada hari libur.

Selama dua tahun terakhir ia hidup dalam kesakitan yang luar biasa. Dia tidak mampu berdiri tegak, dan harus menggunakan pembalut khusus inkontinensia.

"Bagi anak muda berusia 22 tahun, harus memakai pembalut atau popok, itu benar-benar merenggut seluruh harga diri saya," katanya.

"Dulu saya benar-benar tidak peduli apakah saya hidup atau mati–sekarang saya tidak ingin mati. Saya sudah menjalani rehabilitasi selama lebih empat minggu dan perlahan mulai kembali menjadi diri saya yang dulu."

Megan mengatakan ia belum tahu seberapa parah kerusakan pada kandung kemihnya untuk beberapa waktu ke depan. Tetapi, ujarnya, berat badannya telah bertambah dan secara fisik ia merasa lebih baik daripada saat pertama kali datang.

Jo Moore mengatakan sesi dukungan juga disediakan untuk keluarga anak-anak muda yang telah mengalami ketergantungan ketamin.
Keterangan gambar, Jo Moore mengatakan sesi dukungan juga disediakan untuk keluarga anak-anak muda yang telah mengalami ketergantungan ketamin.

Jo Moore, yang mengelola fasilitas rehabilitasi Birchwood milik Kaleidoscope, mengungkapkan bahwa lima tahun lalu mereka hanya menerima satu rujukan untuk detoksifikasi rawat inap akibat ketamin.

"Sejak Januari tahun ini, sudah ada 112 orang yang datang ke tempat kami," ujarnya, seraya menambahkan bahwa separuh dari klien mereka saat ini mendapatkan pendampingan karena penggunaan ketamin.

"Harganya sangat murah dan sangat mudah didapat – itulah yang membuat orang bisa menggunakannya lebih sering dan dalam jumlah besar pada waktu yang bersamaan."

Dalam dunia medis, obat ini diresepkan sebagai obat bius disosiatif (dissociative anaesthetic), dan juga digunakan pada hewan.

Namun pada 2014, statusnya diubah menjadi obat golongan B di negara Megan. Artinya, mengonsumsi, membawa, memproduksi, maupun menjualnya adalah tindakan ilegal.

Di Inggris, jumlah pengguna ketamin ilegal di kalangan usia 16 hingga 59 tahun diperkirakan mencapai sekitar 264.000 orang pada periode 2024-2025.

Selain itu, jumlah orang yang mencari pengobatan untuk gangguan akibat penggunaan ketamin telah meningkat dua belas kali lipat dalam satu dekade terakhir.

Meskipun peningkatan penggunaan ini didorong oleh kalangan muda, Moore mencatat bahwa dalam setahun terakhir terjadi lonjakan rujukan untuk orang dewasa berusia 25 hingga 34 tahun, khususnya di Cardiff dan wilayah Wales bagian tenggara.

Dr. Darren Quelch mengatakan rehabilitasi untuk ketergantungan ketamin berbeda dari layanan narkoba dan alkohol tradisional
Keterangan gambar, Dr. Darren Quelch mengatakan rehabilitasi untuk ketergantungan ketamin berbeda dari layanan narkoba dan alkohol tradisional.

Berdasarkan wawancara dengan para pengguna di Birchwood, Dr. Darren Quelch dari University of South Wales mengungkapkan bahwa penggunaan ketamin bahkan bisa dimulai sejak usia 13 tahun.

Ia mengatakan dampak panjang ketamin dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan ingatan, nyeri kronis hingga kerusakan kandung kemih dan gagal ginjal.

Di sisi lain, layanan dukungan juga harus beradaptasi dengan cepat karena kebutuhan para pengguna kini lebih kompleks.

"Menangani kondisi medis yang sangat kompleks bukanlah keahlian utama mereka," ujarnya. "Bahkan jika mereka mampu, kita sebenarnya belum tahu apa solusi yang tepat."

Saat ini, ia sedang melakukan penelitian bersama Kaleidoscope untuk menentukan jenis dukungan apa yang efektif bagi kelompok pasien khusus ini.

"Karakteristik kelompok ini pada dasarnya sangat berbeda dari kebanyakan kelompok lain yang biasanya masuk ke panti rehabilitasi narkoba dan alkohol," tambahnya.

Pusat detoksifikasi dan rehabilitasi Birchwood memiliki tiga ekor anjing terapi yang ternyata sangat disukai oleh para pengguna layanan, seperti Megan.
Keterangan gambar, Pusat detoksifikasi dan rehabilitasi Birchwood memiliki tiga ekor anjing terapi yang ternyata sangat disukai oleh para pengguna layanan, seperti Megan.

Mark menuturkan bahwa kesehatannya telah memburuk sedemikian rupa hingga "di usia 25 tahun, kondisi tubuh saya seperti orang berusia 80 tahun".

"Saya bahkan tidak lagi berfungsi seperti manusia yang normal," katanya.

Sebagai seorang penggemar sepak bola saat tumbuh dewasa di Liverpool, kini ia merasa iri pada orang lain seusianya yang berjalan tanpa rasa sakit.

"Kondisi itu membuat saya tidak bisa lagi menjadi sosok ayah bagi putri kecil saya—saya tidak lagi bisa menjadi kakak laki-laki, dan maupun jadi anak yang bertanggung jawab," ujarnya.

Mark sering mengeluarkan gumpalan darah dan merasakan sakit saat buang air kecil. Namun, kerusakan struktur hidungnya akibat terus-menerus menghirup obat (snorting) memberikan pukulan paling telak baginya.

"Itu menghancurkan rasa percaya diri saya sepenuhnya—yang pada akhirnya memicu penggunaan obat lebih banyak lagi, hanya untuk menutupi rasa benci terhadap diri sendiri."

Itu adalah salah satu alasan mengapa ia meminta agar identitasnya dirahasiakan.

"Saya mulai menerima tatapan jijik dari keluarga sendiri, dan itu menghancurkan hati saya. Masa-masa kecanduan itu adalah saat yang sangat sepi," katanya.

Mark mulai menggunakan narkoba pada usia 18 tahun, dan pada usia 21 tahun, ia mengaku telah mengonsumsi "kokain dan ketamin dalam jumlah yang sangat banyak".

Dia sempat meminta bantuan ke dokter umum di Liverpool, tetapi ia merasa malu untuk mengaku pakai ketamin karena takut diabaikan atau dihakimi.

"Pelajaran berharga yang harus dibayar mahal," katanya.

Ketamin digunakan dalam dunia medis untuk pengobatan depresi berat dan obat bius.
Keterangan gambar, Ketamin digunakan dalam dunia medis untuk pengobatan depresi berat dan obat bius.

Masalah serupa juga terungkap dalam penelitian Quelch.

Dia menemukan bahwa kelompok muda sering kali tak mendapat penanganan tepat di unit gawat darurat (UGD) maupun klinik dokter umum.

Penyebabnya adalah gejala yang mereka alami tidak selalu dikaitkan dengan penggunaan ketamin, atau pertanyaan terkait penggunaan obat memang tidak diajukan sejak awal.

"Bukan selalu karena petugas medis tidak menanyakan hal yang tepat, melainkan karena kita memang belum memiliki panduan penanganan yang terbukti efektif saat ini," ungkap Quelch.

"Fasilitas atau program khusus untuk anak muda yang mengalami dampak buruk akibat obat-obatan dan alkohol masih sangat minim, dan situasi ini memaksa kita untuk membangun penanganannya hampir benar-benar dari nol."

Di sisi lain, Moore mengatakan bahwa situasi mulai membaik dengan tersedianya lebih banyak layanan intervensi dini di tengah masyarakat, yang pada akhirnya mengurangi kebutuhan akan detoksifikasi.

"Jumlah orang yang datang ke layanan kesehatan karena pengguna baru ketamin kini berkurang—ini menunjukkan bahwa edukasi di sekolah, perguruan tinggi, dan universitas mulai membuahkan hasil."

"Namun, jumlah pengguna yang telah mengonsumsi narkoba selama beberapa tahun justru meningkat; mereka inilah yang akan terus membutuhkan bantuan dan dukungan kita."

Penggunaan kokain dan ketamin dalam "jumlah banyak" oleh Mark telah mengubah penampilan fisiknya secara langsung, berdampak pada rasa percaya dirinya serta kesehatan fisiknya
Keterangan gambar, Penggunaan kokain dan ketamin dalam "jumlah banyak" oleh Mark telah mengubah penampilan fisiknya secara langsung, berdampak pada rasa percaya dirinya serta kesehatan fisiknya

Quelch mengatakan, meskipun penelitian terus dilakukan, skala masalah ketamin saat ini—begitu pula dampak kesehatan jangka panjangnya—masih jadi teka-teki.

"Berdasarkan bukti di lapangan, tingkat kekambuhan [relapse] pada kelompok ini sangat tinggi. Kita belum tahu sejauh mana tubuh mereka bisa pulih. Namun yang pasti, ketika seseorang kembali mengonsumsi ketamin setelah sempat berhenti, kerusakan fisiknya muncul jauh lebih cepat dibandingkan saat pertama kali pakai," terangnya.

Meski demikian, Quelch mengapresiasi metode pendampingan sebaya (peer support) yang dijalankan di Kaleidoscope sebagai langkah yang "sangat unik dan berdampak besar".

"Tidak ada penghakiman atau stigmatisasi di sana; unsur teman sebaya sangat penting dan bisa menjadi pelajaran dari lingkungan di Birchwood."

Bagi Mark, hal ini membuatnya kini bisa lebih fokus pada masa depan. Seperti banyak orang lain yang kami ajak bicara, ia bertekad untuk memberikan kontribusi kembali kepada sesama.

"Dulu saya tumbuh dengan pemikiran bahwa uang adalah segalanya, tetapi sekarang saya justru menemukan kebahagiaan dengan membantu orang lain yang sedang berjuang. Saya pernah berada di posisi itu, dan saya tahu betapa berartinya mendapatkan bantuan dari seseorang."