Piala Dunia 2026: Timnas Jerman mengalami 'mimpi buruk sepakbola' usai kandas di babak 32 besar

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Michael Emons
- Peranan, Jurnalis BBC Sport
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 6 menit
Ada masa ketika tim nasional Jerman jauh-jauh hari diperkirakan bakal menjuarai berbagai turnamen sepak bola. Saat masih berkompetisi sebagai Jerman Barat, negara itu telah memenangkan Piala Dunia empat kali, kalah di final empat kali lainnya, dan memenangi tiga dari enam final Piala Eropa.
Namun masa itu telah berakhir.
Halaman depan surat kabar Bild edisi Selasa merangkum situasi tersebut dengan tajuk yang dapat diterjemahkan sebagai "Mimpi buruk sepak bola Jerman berikutnya".
Tajuk itu muncul setelah perjalanan Jerman di Piala Dunia 2026 terhenti secara mendadak di babak 32 besar akibat kalah 4-3 melalui adu penalti dari Paraguay setelah skor bertahan 1-1 hingga perpanjangan waktu.
Sejak keberhasilan terakhir mereka di Piala Dunia 2014, Jerman dua kali gagal lolos dari fase grup dan kini tersingkir pada babak gugur.
Pada awal turnamen, Paraguay berada di peringkat ke-41 dunia FIFA, sementara Jerman di posisi ke-10.
Namun hal itu tidak menghalangi tim Amerika Selatan tersebut memberikan kekalahan pertama bagi Jerman dalam adu penalti di Piala Dunia.

Sumber gambar, Reuters
Di Boston, meski menguasai bola hingga 75%, Jerman kesulitan menembus pertahanan Paraguay yang terorganisasi rapi dan tangguh. Paraguay bahkan sempat unggul lebih dulu melalui mantan pemain Brighton dan Ipswich, Julio Enciso.
Pemain Arsenal, Kai Havertz, menyamakan kedudukan dengan sundulan tipis di awal babak kedua. Kemudian, sundulan Jonathan Tah secara kontroversial dianulir karena pelanggaran rekan setim beberapa detik sebelumnya.
Baca juga:
Namun setidaknya Jerman memiliki "jaring pengaman" berupa adu penalti. Jerman punya catatan sempurna 100% di Piala Dunia—empat kali tampil, empat kali menang.
Catatan itu kini tercoreng.
Tiga penendang timnas Jerman: Kai Havertz, Nick Woltemade, dan Jonathan Tah gagal menceploskan bola ke gawang Paraguay.
"Ketika kami tersingkir dari Piala Dunia setelah bermain melawan Paraguay, itu sangat pahit. Sangat menyakitkan," kata pelatih Jerman, Julian Nagelsmann.
"Ini eliminasi ketiga berturut-turut, jadi kami bukan lagi bagian dari tim kelas satu."
'Nagelsmann harus menghadapi konsekuensinya'
Nagelsmann, yang pernah menjuarai Bundesliga bersama Bayern Munich pada 2022, mengambil alih tim nasional pada 2023. Sejak itu, timnas Jerman hanya mencapai perempat final Piala Eropa 2024 yang mereka selenggarakan.
Upaya mereka pada Piala Dunia 2026 dimulai dengan baik. Timnas Jerman menghancurkan pendatang baru Curacao 7-1 lalu mengalahkan Pantai Gading 2-1.
Mereka kalah 2-1 dari Ekuador di laga terakhir grup—meski sudah memastikan posisi puncak.

Sumber gambar, Reuters
Namun kekalahan dari Paraguay pada babak 32 besar membuat posisi Nagelsmann terancam. Banyak seruan di media sosial agar mantan manajer Liverpool, Jurgen Klopp, menggantikannya.
"Jika melihat seluruh turnamen, dengan cara kami bermain, ini adalah kekalahan yang pantas," kata mantan bek Jerman, Arne Friedrich, kepada BBC Radio 5 Live.
"Nagelsmann harus menghadapi konsekuensinya. Ini sangat mengecewakan, tetapi itulah olahraga. Saya jelas akan mengatakan perjalanan harus berlanjut tanpa Nagelsmann."
Baca juga:
Mantan gelandang Jerman Thomas Hitzlsperger, berbicara di BBC One, menambahkan: "Sulit menjelaskan bagaimana Jerman memasuki turnamen ini dengan begitu banyak masalah. Ini tidak dapat diterima.
"Ini tidak terlihat baik bagi Nagelsmann. Dalam beberapa bulan terakhir, dia tidak menangani situasi dengan baik. Dengan format Piala Dunia yang diperluas, tersingkir seawal ini akan sulit diterima bagi negara besar mana pun."
Nagelsmann berkeras ingin bertahan
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Sesaat setelah pertandingan, Nagelsmann berulang kali ditanya tentang masa depannya dan mengatakan dia "bukan seseorang yang lari dari tanggung jawab", tetapi mengakui bahwa dirinya tidak akan populer di kalangan pendukung Jerman.
"Jika kita melakukan survei hari ini di Jerman, orang-orang jelas tidak akan berbicara positif tentang saya," tambahnya.
"Saya merasakan dukungan di stadion. Saya tidak berpikir semua orang di Jerman akan setuju saya bertahan dan terus menjadi pelatih tim.
"Saya ingin memuji semua penggemar Jerman yang datang ke stadion. Saya memperkirakan reaksi yang sangat berbeda dari mereka, tetapi cara mereka mendukung kami, bahkan setelah kekalahan, sangat luar biasa dan mengesankan.
"Saya tidak akan mundur hanya karena kami tersingkir. Jika DFB [asosiasi sepak bola Jerman] ingin saya melanjutkan, saya akan terus. Saya tahu bagaimana industri ini bekerja dan banyak orang sekarang ingin saya pergi. Saya ingin melanjutkan jika asosiasi menginginkannya."

Sumber gambar, Getty Images
Bahkan sebelum laga melawan Paraguay, Nagelsmann sudah mendapat kritik.
Klopp—yang bekerja untuk televisi Jerman—tidak puas dengan penampilan melawan Ekuador. Klopp mengatakan: "Kami memilih pendekatan yang salah di lapangan ini; kami memainkan jenis sepak bola yang salah melawan lawan yang agresif."
Namun pelajaran tersebut tidak diterapkan saat menghadapi tim Paraguay yang fisik, ulet, dan gigih, yang bertahan dalam dan secara kolektif berhasil membuat frustrasi Jerman.

Sumber gambar, Getty Images
Paraguay kini akan menghadapi Prancis atau Swedia di babak 16 besar, sementara Jerman kembali harus menghadapi kenyataan tersingkir lebih awal.
"Jika saya ingin sinis dan sarkastik, semua yang akan kami dapatkan hanyalah kesempatan untuk dihancurkan oleh Prancis," kata jurnalis sepak bola Jerman Raphael Honigstein di BBC Radio 5 Live.
"Kami bisa tersingkir, tetapi kami tidak bisa tersingkir melawan Paraguay pada tahap ini dengan cara seperti ini. Itulah mengapa ini bukan kekalahan tanpa konsekuensi dan dampak lanjutan.
"Jika melihat keseluruhan turnamen, itu memang tidak cukup. Penampilan Jerman buruk.
"Terlalu banyak keputusan besar yang tidak berhasil bagi Julian Nagelsmann. Akan sangat sulit baginya untuk bertahan. Saya khawatir ini akan menjadi akhir baginya."
'Tim-tim lain tidak lagi takut kepada kami' – Apa yang salah?
Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan Jerman yang selama ini kita kenal?
Hitzlsperger mengatakan kepada BBC Sport: "Untuk waktu yang lama, pengembangan pemain di Jerman berfokus pada operan, gaya bermain, dan inovasi taktis, tetapi ada satu unsur yang mungkin kurang kami perhatikan, yaitu ketajaman.
"Ini bukan berarti kami hanya melambungkan bola panjang, memenangkan duel udara, dan menang dengan cara yang tidak indah—atau kembali ke masa ketika kami mencapai final dan tidak banyak yang tahu bagaimana caranya selain karena kami adalah Jerman.
"Namun pada saat yang sama, kami telah kehilangan aura yang membuat tim-tim lain takut kepada kami. Tim lain masih menghormati kami, tetapi mereka tidak lagi takut. Kami tidak lagi sulit dikalahkan, dan kami kekurangan kekuatan fisik seperti dulu."
Ia melanjutkan: "Selama bertahun-tahun, Spanyol menjadi tim yang ingin ditiru semua orang. Butuh waktu lama, tetapi ketika kami memenangkan Piala Dunia 2014, kami memiliki pemain hebat sekaligus etos kemenangan. Sekarang tampaknya kami hanya fokus pada sepak bola yang indah.
"Kami perlu mulai membenahi ini dari level akademi. Apa inti sepak bola? Itu tentang menang, tentu saja. Tim ini ingin menang, tetapi bagaimana caranya? Dengan memiliki ketajaman.
"Contoh terbaik adalah Argentina. Mereka memiliki kombinasi sempurna sebagai tim yang sulit dihadapi sekaligus memiliki pemain yang bisa menciptakan sesuatu dari ketiadaan.
"Tentu saja, kami tidak memiliki Lionel Messi dan tidak semua tim bisa bermain seperti Argentina atau Prancis. Tetapi kami seharusnya lebih mendekati level tim-tim tersebut."





























