You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Mengapa perempuan hidup lebih lama daripada laki-laki?
- Penulis, Ellen Tsang
- Peranan, BBC World Service
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 7 menit
Jika Anda seorang perempuan, kemungkinan besar Anda akan hidup lebih lama daripada saudara laki-laki atau teman pria Anda—sekitar lima tahun, jika berdasarkan rata-rata global.
Alasan pasti di balik umur panjang perempuan ini belum sepenuhnya diketahui, namun para ilmuwan memiliki sejumlah penjelasan.
Temuan tersebut juga dapat membantu menjelaskan mengapa pada beberapa spesies, seperti jenis burung tertentu, justru jantan yang memiliki keunggulan dalam hal usia panjang.
Meninggal pada usia terlalu muda
"Di hampir setiap negara, perempuan hidup lebih lama dibandingkan laki-laki," kata Prof Sarah Harper, Direktur Oxford Institute of Population Ageing di Inggris.
Namun, dia menekankan bahwa "perbedaannya sangat bervariasi antarnegara".
Di Rusia, Ukraina, dan Vietnam misalnya, perempuan hidup sekitar 10 tahun atau lebih lama, sementara di tempat seperti Nigeria, selisihnya sangat kecil, menurut publikasi riset Our World in Data.
Para ilmuwan menilai sebagian variasi ini disebabkan oleh perbedaan sosial dan perilaku.
Ada bukti bahwa di Rusia, "faktor pendorong yang sangat besar pada dasarnya adalah kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol," jelas Harper, yang lebih umum ditemui di kalangan laki-laki di negara tersebut.
Di seluruh dunia, kaum pria juga cenderung lebih sering terlibat dalam perilaku lain yang dapat memperpendek usia.
"Pola makan mereka umumnya kurang sehat," kata Harper.
Baca juga:
Dia juga menambahkan bahwa lelaki cenderung lebih jarang memeriksakan diri ke dokter, meskipun "laki-laki yang sudah menikah memiliki keuntungan… karena biasanya pasangan mereka akan mendorong mereka untuk berobat".
Menurutnya, di banyak masyarakat, pria lebih sering bekerja di sektor yang berisiko tinggi, dan maskulinitas kerap dikaitkan dengan kecenderungan mengambil risiko.
"Angka kematian laki-laki jauh lebih tinggi akibat kecelakaan lalu lintas, kekerasan, pembunuhan, hingga bunuh diri," ujarnya.
Namun, gambaran ini tidak bersifat tetap.
Di United Kingdom (UK), misalnya, kampanye anti-merokok pada 1960-an dan 1970-an menyebabkan penurunan angka kematian dini di kalangan laki-laki.
"Tiba-tiba kesenjangan itu menyusut secara drastis," kata Harper.
Namun, menurutnya, kesenjangan berdasarkan jenis kelamin tersebut tidak akan pernah sepenuhnya hilang seiring perubahan kebiasaan, karena "akan selalu ada perbedaan biologis" antara perempuan dan laki-laki.
Estrogen vs testosteron
Salah satu perbedaan tersebut adalah hormon.
"Estrogen melakukan banyak hal untuk melindungi perempuan," kata Prof Consuelo Borrás, fisiolog yang mengkhususkan diri pada masalah penuaan di Universitas Valencia, Spanyol.
Menurutnya, perlindungan itu mencakup pengendalian kadar kolesterol dan pengaturan sistem kekebalan tubuh, hingga pencegahan infeksi saluran kemih serta menjaga kesehatan otak dan tulang.
Salah satu cara hormon ini memberikan banyak manfaat adalah dengan bertindak sebagai antioksidan, yang melawan partikel berbahaya yang disebut radikal bebas—zat yang menumpuk di dalam sel dan berkontribusi pada proses penuaan.
"Banyak penelitian menunjukkan bahwa hilangnya perlindungan estrogen saat menopause akan memengaruhi berbagai fungsi dalam tubuh," jelas Borrás.
"Sebagai contoh, osteoporosis memang merupakan bagian dari proses penuaan, tetapi juga disebabkan oleh berkurangnya estrogen."
Dia menambahkan, ketika terapi penggantian hormon diberikan kepada perempuan yang tepat pada tahap awal menopause, sering kali sejumlah fungsi tersebut dapat kembali membaik.
Di sisi lain, hormon seks utama pada laki-laki adalah testosteron, yang dikaitkan dengan kecenderungan perilaku berisiko lebih tinggi.
Borrás menduga hormon ini juga dapat menimbulkan sejumlah dampak merugikan dalam tubuh, meskipun mekanismenya belum sepenuhnya dipahami.
Sebuah studi pada 2012 menemukan bahwa kelompok kasim Korea pada masa lalu—yang telah dikebiri sehingga tidak memproduksi testosteron—hidup 14 hingga 19 tahun lebih lama dibandingkan laki-laki yang tidak dikebiri.
Baca juga:
Namun, data tersebut memiliki keterbatasan dan tentu tidak dapat direplikasi karena alasan yang jelas.
Meski demikian, bukti pada sejumlah hewan juga menunjukkan bahwa jantan cenderung hidup lebih lama setelah dikebiri.
Hormon mungkin merupakan salah satu bagian dari teka-teki panjang umur, tetapi bukan satu-satunya faktor.
"Ada banyak faktor yang terlibat dan kita mengetahui sebagian di antaranya, tetapi saya rasa ini merupakan proses yang sangat kompleks," kata Borrás.
Petunjuk dari evolusi
Untuk mencoba mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sejumlah ilmuwan mulai melihat hal-hal di luar manusia.
Kita bukan satu-satunya spesies di mana betina memiliki umur lebih panjang. Banyak mamalia menunjukkan pola ini, mulai dari singa dan domba hingga paus pembunuh (orca) dan tikus.
Menariknya, hal yang sebaliknya terjadi pada burung, di mana justru jantan cenderung memiliki keunggulan dalam hal umur.
Salah satu petunjuk mungkin terletak pada perbedaan kromosom jenis kelamin.
"Pada mamalia, betina memiliki dua kromosom X, sementara jantan hanya memiliki satu kromosom X dan satu Y," kata Dr Johanna Staerk, peneliti di Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Jerman.
Salah satu teori menyebutkan bahwa memiliki dua kromosom X memberi keuntungan bertahan hidup bagi betina, karena "jika terdapat mutasi pada salah satu salinan, masih ada salinan lain yang dapat mengimbanginya," jelas Staerk.
"Namun pada jantan, karena mereka hanya memiliki satu kromosom X, mutasi tersebut bisa menjadi lebih merugikan."
Baca juga:
Pada burung, situasinya berbeda—justru jantan yang memiliki dua salinan kromosom yang sama, yang dalam hal ini disebut kromosom Z, sementara betina memiliki satu kromosom Z dan satu W.
"Ini bisa menjadi salah satu penjelasan mengapa pada mamalia betina hidup lebih lama, sementara pada burung justru jantan yang lebih panjang umur," ujar Staerk.
Namun, penelitiannya yang dipublikasikan pada 2025 menunjukkan bahwa masih ada faktor lain yang turut berperan.
"Kami menemukan bahwa pada spesies monogami… tidak terlihat perbedaan jenis kelamin yang mencolok," ujarnya.
"Sebaliknya, pada spesies non-monogami, seperti gorila atau singa—di mana jantan bersaing untuk mendapatkan beberapa betina—perbedaan tersebut jauh lebih besar."
Dia menduga bahwa pada kelompok terakhir, jantan berevolusi untuk memprioritaskan tugas yang membutuhkan energi besar, seperti membangun tubuh yang besar atau tanduk yang mencolok demi menarik pasangan, meskipun harus mengorbankan umur panjang.
Di sisi lain, evolusi kemungkinan mengambil jalur berbeda pada betina.
Salah satu penjelasannya adalah bahwa pada spesies di mana betina merawat anak, "terutama pada spesies berumur panjang seperti manusia atau kera besar, akan lebih menguntungkan jika induk hidup lebih lama agar dapat membesarkan anak hingga dewasa," kata Staerk.
Hidup lebih lama dan lebih sehat
Namun, tidak semuanya kabar baik bagi perempuan.
Meskipun mereka cenderung hidup lebih lama dibandingkan para pria, penelitian menunjukkan perempuan juga mengalami lebih banyak penyakit yang tidak mematikan sepanjang hidup—seperti nyeri punggung bawah, gangguan depresi, dan sakit kepala.
"Perempuan cenderung memiliki respons imun yang lebih kuat, tetapi hal itu juga dapat memicu penyakit inflamasi," jelas Harper.
"Selain itu, tentu saja, sistem otot dan rangka mereka juga sedikit kurang kuat."
"Biologi pada laki-laki membuat mereka lebih rentan terhadap kematian, sementara biologi pada perempuan membuat mereka lebih rentan terhadap disabilitas," simpulnya.
Namun, ketiga pakar tersebut menekankan bahwa faktor biologis tidak serta-merta menentukan nasib seseorang.
"Perbedaan biologis sangat dipengaruhi oleh lingkungan dan perilaku," jelas Borrás.
Dia menambahkan bahwa baik perempuan maupun laki-laki perlu memperhatikan hal-hal seperti pola makan, olahraga, kualitas tidur, dan tingkat stres—bukan hanya "untuk hidup lebih lama, tetapi tentu juga lebih sehat."