Kesalahan Lammens jadi akhir pahit era 'generasi emas' Belgia di Piala Dunia — 'Mereka seharusnya merasakan kejayaan untuk terakhir kalinya'

Sumber gambar, REUTERS/Hannah McKay
- Penulis, Alex Brotherton
- Peranan, Jurnalis BBC Sport
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 6 menit
Drama menit-menit akhir babak perempat final Piala Dunia 2026 menjadi saksi runtuhnya sisa kejayaan "generasi emas" Belgia. Ambisi mereka untuk melangkah ke semifinal seketika kandas setelah takluk 2-1 dari Spanyol akibat sebuah kesalahan fatal.
Petaka itu terjadi pada menit ke-88 ketika kiper Belgia yang berusia 24 tahun, Senne Lammens, gagal mengamankan bola. Bola liar tersebut langsung disambar oleh Mikel Merino dan memastikan kemenangan bagi tim Spanyol.
"Lammens benar-benar tidak berdaya di momen itu. Dia tampil tanpa cela bersama Manchester United musim lalu, namun tekanan di panggung seperti ini jelas berada di level yang berbeda," ujar pengamat sepak bola, Stephen Warnock, dalam analisisnya di BBC Radio 5 Live.
Kekalahan ini terasa kian menyakitkan, karena laga melawan Spanyol mungkin akan jadi panggung terakhir bagi kuartet veteran Thibaut Courtois, Romelu Lukaku, Kevin de Bruyne, dan Axel Witsel, yang telah memperkuat tim nasional Belgia sejak Piala Dunia 2014 di Brasil.
Turnamen tahun ini digadang-gadang sebagai kesempatan terakhir para garda lama Belgia tersebut untuk merengkuh trofi sepak bola paling bergengsi di dunia.
Kala kesalahan itu terjadi, Courtois, yang terpaksa ditarik keluar pada pertengahan babak kedua karena cedera, hanya bisa terpaku di pinggir lapangan.
'Mereka seharusnya bisa merasakan kejayaan untuk terakhir kalinya'
Riwayat "generasi emas" Belgia tidak dapat dipisahkan dari momentum Piala Dunia 2014 di Brasil.
Menengok kembali laga pembuka fase grup kala itu, saat Belgia menundukkan Aljazair 2-1, komposisi skuad "Setan Merah" merepresentasikan sebuah tim impian yang diisi para pemain di puncak performa mereka.
Dalam pertandingan tersebut, Thibaut Courtois, Kevin De Bruyne, Axel Witsel, dan Romelu Lukaku turun sebagai starter bersama Eden Hazard, Mousa Dembele, dan Vincent Kompany. Sementara itu, Dries Mertens dan Marouane Fellaini masuk sebagai pemain pengganti.
Turnamen tersebut menandai kembalinya Belgia ke panggung Piala Dunia sejak 2002. Mereka sukses menjuarai grup, sebelum akhirnya terhenti di babak perempat final.
Empat tahun berselang pada Piala Dunia 2018 di Rusia, kelompok pemain yang sama mencatatkan pencapaian yang kian cemerlang dengan menembus babak empat besar dan memenangkan laga perebutan juara ketiga.
Di panggung Eropa, generasi ini juga mencapai babak perempat final pada Euro 2016 dan 2020, sebelum akhirnya performa mereka merosot tajam ketika tersingkir di fase grup Piala Dunia 2022 di Qatar.

Sumber gambar, Getty Images
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Kendati memiliki rekam jejak yang impresif, para pengamat menilai mereka seharusnya mampu meraih pencapaian yang lebih tinggi.
Namun, bagi negara dengan populasi kurang dari 12 juta jiwa, muncul pertanyaan apa menjadi juara dunia adalah target yang realistis.
"Untuk bisa disebut sebagai 'generasi emas', Anda harus memenangkan medali emas terlebih dahulu," ujar jurnalis sepak bola Spanyol, Guillem Balague.
"Label itu membuat ekspektasi di Belgia melambung terlalu tinggi dan sangat menarik melihat bagaimana publik menilai kelompok pemain ini, karena dengan Lukaku, De Bruyne, Tielemans, dan Trossard, mereka sebenarnya telah mengukir pencapaian yang solid. Mereka meraih posisi ketiga pada Piala Dunia lalu bersama Roberto Martinez sebagai manajer, dan hal itu tampaknya mulai dilupakan. Saya tidak yakin tuntutan apa lagi yang bisa dibebankan kepada mereka," tambahnya.
Balague juga menilai bahwa menuntut Belgia untuk selalu keluar sebagai juara adalah hal yang berlebihan, terutama ketika disandingkan dengan negara-negara dengan tradisi sepak bola yang kuat, seperti Inggris, Italia, dan Spanyol.
"Untuk menuntut Belgia untuk menang mungkin agak berlebihan," katanya.
Selain kuartet veteran utama, deretan pemain seperti Leandro Trossard (31), Brandon Mechele (33), Timothy Castagne (33), Hans Vanaken (33), dan Thomas Meunier (34) tampaknya telah memainkan menit terakhir mereka di Piala Dunia.
Kekecewaan mendalam atas akhir era ini turut disampaikan oleh sang pelatih, Rudi Garcia, dalam konferensi pers pascapertandingan.
"Saya merasa kecewa bagi para pemain yang kemungkinan tidak akan memperkuat tim nasional lagi," ujar Garcia.
"Saya memimpin tim ini dengan target untuk melangkah sejauh mungkin. Saya ingin para pemain veteran yang berada di ambang masa pensiun ini bisa merasakan kejayaan untuk terakhir kalinya. Sungguh menyakitkan, karena saya rasa semua orang layak untuk melaju jauh di Piala Dunia kali ini."
'Ini adalah era baru bagi kami'
Optimisme terhadap masa depan sepak bola Belgia kini bertumpu pada pundak generasi baru.
Dari keseluruhan skuad yang dibawa ke turnamen ini, tercatat ada 13 pemain yang masih berusia 25 tahun atau di bawahnya, dan performa mereka sejauh ini memberikan alasan kuat untuk tetap optimistis.
Sebelum Belgia memetik kemenangan telak 4-1 atas salah satu tuan rumah, Amerika Serikat, di babak 16 besar, Thibaut Courtois sempat menegaskan adanya pergeseran momentum ini.
"Saya pikir ini adalah era baru bagi kami," ujar Courtois.
"Memang benar ada beberapa pemain dari era emas, tetapi bagi kami, Piala Dunia di Qatar [hasilnya] tak begitu bagus. Sekarang, kami memiliki generasi lain dengan barisan pemain yang lebih muda, orang-orang baru yang mau melakukan hal-hal besar dan menuliskan nama mereka di lembaran sejarah Belgia."
Salah satu representasi dari generasi baru ini adalah Charles De Ketelaere. Penyerang berusia 25 tahun tersebut sejatinya tidak terlalu produktif di Serie A musim lalu dengan hanya mengemas tiga gol dari 31 pertandingan.
Namun, di panggung Piala Dunia, ia berhasil membukukan tiga gol dan berakhir sebagai salah satu pencetak gol terbanyak bagi Belgia.
Tidak hanya itu, De Ketelaere juga menyumbang satu assist dan tampil baik, dan membuka ruang bagi para pemain sayap untuk masuk ke dalam kotak penalti.

Sumber gambar, EPA/Shutterstock
Selain dia, ada sang kapten Youri Tielemans yang berusia 29 tahun, yang mencetak gol penyeimbang sekaligus gol kemenangan, dalam aksi memukau saat membalikkan keadaan melawan Senegal di babak 32 besar.
Tim Belgia juga sempat diperkuat oleh gelandang Aston Villa berusia 24 tahun, Amadou Onana, yang tampil solid sebelum akhirnya harus menyudahi turnamen lebih cepat akibat cedera ligamen saat menghadapi Amerika Serikat.
Sementara itu, di usia 24 tahun, Jeremy Doku tetap diakui sebagai talenta elite, meskipun ia belum mampu mereplikasi performa impresifnya seperti saat membela Manchester City musim lalu.
Menanggapi hasil akhir di turnamen ini, pelatih Rudi Garcia menegaskan bahwa pengalaman ini akan menjadi modal berharga bagi para pemain mudanya.
"Anggota tim kami yang lebih muda akan belajar sesuatu dari hal ini," kata Garcia.
"Kami bisa bangga dengan kiprah kami di Piala Dunia. Kami belajar melalui kekalahan. Saya rasa tidak ada hal yang perlu membuat kami merasa dipermalukan. Saya merasa kami mampu memberikan perlawanan sengit kepada skuad Spanyol. Kami kehilangan penjaga gawang kami, kami kehilangan kapten kami."
Garcia juga menambahkan bahwa situasi di lapangan berjalan di luar kendali akibat rentetan nasib buruk yang menimpa timnya.
"Kami harus mengganti Kevin De Bruyne dan itu tidak ada dalam rencana permainan. Terlalu banyak hal yang berjalan salah dan segalanya tidak berpihak pada kami. Anda tidak boleh memberikan keuntungan apa pun secara cuma-cuma kepada lawan, dan sayangnya, kami melakukan hal itu beberapa kali," pungkasnya.





























