Hujan es dan embun beku lagi-lagi picu krisis pangan di Papua – 'Gudang logistik yang dijanjikan sebagai solusi oleh pemerintah selalu kosong'

Papua embun beku

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Warga Distrik Kuyawage, Lanny Jaya, memegang tanaman yang membeku di kampungnya, 22 Agustus lalu.
    • Penulis, Abraham Utama
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 13 menit

Sejumlah kabupaten di pegunungan tengah Papua dilanda embun beku yang memicu gagal panen meluas sejak Juni lalu hingga akhir Agustus ini. Situasi semacam ini terus berulang di Papua, tapi warga menyebut pemerintah tak pernah datang dengan solusi dan mitigasi.

Saat peristiwa embun beku memicu kelaparan pada 2023, pemerintah pusat berjanji membangun dua gudang logistik di Kabupaten Puncak. Lumbung pangan itu disebut pemerintah akan mencegah krisis pangan jika kekeringan yang disertai embun beku kembali terjadi dan memicu kegagalan panen di wilayah pegunungan tengah Papua.

Dua gudang logistik itu sudah selesai dibangun, tapi warga bilang pemerintah tak pernah menyimpan cadangan makanan di lumbung itu.

Dua bulan sejak peristiwa embun beku membuat ratusan hektare kebun berisi tanaman pangan mengering di Kabupaten Puncak, Lanny Jaya, dan Dogiyai, pemerintah akhirnya memang menyalurkan bantuan makanan. Mereka juga berjanji akan terus menerbangkan bantuan hingga beberapa bulan ke depan.

Namun warga tetap harap-harap cemas. Meski embun beku dan krisis pangan telah dialami lintas generasi oleh orang asli Papua di wilayah pegunungan, mereka bilang pemerintah tak pernah memberikan solusi yang bisa mencegah mereka berhadapan dengan risiko kelaparan dan kematian.

BBC News Indonesia berbicara dengan dua warga Lanny Jaya dan Puncak, tentang kronologi serta harapan dan kekecewaan mereka. Keduanya bercerita pula bagaimana peristiwa alam ini semakin memukul warga yang selama bertahun-tahun telah dirundung konflik bersenjata.

Kami juga menelisik bagaimana peristiwa embun beku juga terjadi di Papua Nugini pada tahun-tahun lalu dan juga saat ini.

'Situasi ini sudah terjadi bahkan tak lama setelah saya lahir'

Juli lalu, hujan es dan embun beku muncul lagi di Distrik Kuyawage, Kabupaten Lanny Jaya. Peristiwa itu berulang pada 16 Agustus—satu hari sebelum peringatan kemerdekaan Indonesia.

Ini bukanlah kali pertama embun beku melanda Kuyawage. Pemuda asli Kuyawage, Benus Murib, sudah mengalami situasi itu bahkan kurang dari satu tahun sejak dia dilahirkan.

"Bapak saya cerita, waktu saya masih bayi, mereka mengungsi karena situasi yang sama seperti hari ini," kata Benus. "Itu sekitar tahun 1998 dan 1999," ujarnya.

Embun beku Papua

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Rerumputan di sekitar permukiman warga Distrik Kuyawage, Lanny Jaya, membeku awal Agustus lalu.

Benus berkata, warga menyaksikan gejala embun beku sejak awal Juli. Saat itu kemarau tengah melanda Kuyawage dan sebagian besar wilayah pegunungan tengah Papua.

Embun beku, kata dia, awalnya terjadi di gunung-gunung—yang tak dihuni warga—kemudian perlahan meluas ke perkampungan masyarakat yang letaknya di kaki bukit.

embun beku Papua

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Warga memegang es di Distrik Kuyawage, Lanny Jaya, 4 Agustus lalu.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Pada 16 Agustus lalu yang terjadi di Kuyawage adalah hujan es, kata Benus. Peristiwa itu berlangsung dari siang hingga sore. Dia menyebut es merusak tanaman dan rumah warga.

Tiga hari berselang, pada 19 Agustus, giliran embun beku yang muncul. Akibatnya, kata Benus, semua tanaman pangan masyarakat mengering.

"Itu yang membuat hari ini kami mengalami krisis untuk mendapatkan makanan sehari-hari," ujar Benus.

"Masyarakat juga kedinginan—mengalami batuk dan flu—tapi sulit dapat akses kesehatan," kata Benus.

Hujan es dan embun beku ini memukul warga Kuyawage yang dalam beberapa tahun terakhir juga telah dilanda persoalan menahun lainnya. Distrik ini merupakan salah satu titik konflik bersenjata antara milisi pro-kemerdekaan Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat (TPNPB) dan TNI/Polri.

Selain penduduk asli Kuyawage, distrik ini sejak akhir dekade 2010-an menjadi tempat pelarian warga asli Papua dari sejumlah daerah di pegunungan tengah—yang juga berusaha kabur dari ancaman kematian akibat konflik bersenjata tersebut.

Embun beku papua

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Potret yang memperlihatkan warga memegang es dan rumput-rumput membeku di Distrik Kuyawage yang berada di kaki pegunungan tengah Papua, awal Agustus lalu.

Badan Pusat Statistik pada laporan tahunannya pada 2025 tidak mencantumkan jumlah penduduk di Kuyawage. Merujuk sensus tahun 2010, distrik ini dihuni 12.235 orang.

"Dari Kabupaten Nduga, sebagian besar pengungsi mengarah ke Kuwayage," kata Benus.

"Pengungsi dari Sinak dan Ilaga, Kabupaten Puncak, sejak lama sudah masuk ke Kuwayage. Warga berikan ruang sehingga mereka [pengungsi] bisa pertahankan kehidupan dengan cara bertani dan berkebun," ujar Benus.

Dalam peristiwa kekeringan yang disertai hujan es dan embun beku pada tahun-tahun sebelumnya, Benus menyebut warga Kuyawage biasanya memilih untuk mengungsi ke daerah lain.

Tujuannya, kata dia, adalah mencari daerah yang memungkinkan mereka menanam dan mendapat sumber pangan.

Namun kali ini warga Kuyawage tak mengambil opsi itu. Benus berkata, warga tidak mau lari dari satu persoalan untuk menemukan masalah di tempat lain.

"Di daerah lain konflik bersenjata sedang memanas," kata Benus.

'Salju turun seperti awan yang jatuh ke tanah'

Hujan es dan embun beku juga terjadi di tiga distrik di Kabupaten Puncak—Agandugume, Lambewi, dan Oneri—sejak Juni lalu.

Seperti cerita Benus Murib di Lanny Jaya, peristiwa seperti ini juga telah berulang kali terjadi di Puncak, saat musim kemarau pada tahun-tahun sebelumnya.

Jekson Tabuni, pemuda di Agandugume, menyebut embun beku muncul pada 18, 21, dan 23 Juni lalu. Peristiwa serupa muncul lagi pada 4, 13, dan 16 Juli.

Jekson, bersama kelompok warga Puncak, lantas berinisiatif mengumpulkan data berisi jumlah warga yang terdampak serta luas kebun masyarakat yang mengering. Luas kebun warga yang mengering di Distrik Agandugume, Lambewi, dan Oneri mencapai sekitar 500 hektare.

embun beku

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Potret kebun warga Distrik Agandugume usai terkena embun beku, 5 Agustus lalu.

Jekson berkata, mereka menyerahkan data itu ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Sekretaris Daerah, dan ke Bupati Puncak.

Namun merujuk perkataan para pejabat kabupaten, Jekson bilang bantuan bahan makanan tak bisa segera disalurkan ke tiga distrik itu. Alasan yang diklaim pemerintah adalah "soal keamanan". Mereka menuding milisi TPNPB bakal menyerang rombongan pengangkut bantuan.

Seperti daerah pegunungan tengah Papua lainnya, Kabupaten Puncak selalu menjadi episentrum konflik bersenjata. Kelompok advokasi HAM berulang kali melaporkan dugaan sejumlah kekerasan aparat terhadap warga.

Di sisi lain, TPNPB membakar fasilitas publik milik pemerintah Indonesia dan menargetkan orang-orang yang mereka tuding mata-mata militer.

"Jadi bupati instruksikan kami untuk bersiaga di tempat untuk menunggu bantuan," kata Jekson.

Embun beku papua

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Potret apa yang disebut warga Agandugume sebagai salju. Foto ini diabadikan awal Agustus lalu.

Baru pada 3 Agustus atau lebih dari satu bulan sejak hujan es pertama turun di Agandugume, Pemkab Puncak akhirnya menerbangkan bantuan makanan ke distrik itu.

Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah Puncak, Nenu Tabuni, memimpin seremoni penyerahan bantuan. Dia dikawal sejumlah tentara yang menenteng senjata dan berpelindung kepala.

Nenu berkata, Pemkab Puncak menyalurkan 100 ton beras untuk warga di tiga distrik yang terdampak kekeringan, hujan es, dan embun beku.

Merujuk data BPS per 2025, jumlah penduduk Agandugume berjumlah 3.848 orang, Lambewi 4.873 orang, dan Oneri 5.726 orang. Jika ditotal, penduduk di tiga distrik itu ada 14.447 jiwa.

Jika seluruh bantuan beras yang diklaim Nenu itu benar-benar tersalurkan, setiap orang di tiga distrik itu akan mendapat 6,9 kilogram beras.

Artinya, karena Badan Pangan Nasional menyebut rata-rata konsumsi beras harian per orang adalah 250 gram, bantuan beras untuk setiap warga di tiga distrik itu diproyeksi habis dalam waktu kurang dari satu bulan.

Embun beku papua

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Potret kebun warga yang terdampak embun beku di Distrik Agandugume, Puncak, 22 Agustus lalu.

Selain menyalurkan bantuan, Pemkab Puncak juga menetapkan status tanggap darurat hingga 18 Agustus.

Tapi ternyata embun beku terjadi lagi di tiga distrik itu pada 4, 13, 16, 21, dan 22 Agustus lalu. Jekson berkata, yang terjadi pada 21 dan 22 Agustus adalah yang terburuk yang pernah terjadi di kampungnya.

Pada malam hari di dua tanggal itu, Jekson merasakan "udara yang betul-betul dingin" menembus ke dalam rumahnya.

Saat dini hari, warga melihat salju, kata Jekson. "Seperti awan yang turun ke tanah," ucapnya.

Dini hari itu, Jekson melihat tiga ekor babi yang diternakkan keluarganya mati kedinginan. Nasib yang sama dialami pula seekor anjing peliharaan mereka. Jekson berkata, bulu di tubuh empat binatang itu rontok.

"Tanah, rumput, pohon yang tidak bisa kering setelah kejadian itu kering semua," ujarnya.

"Semua akar pohon dan tanaman kering, terangkat naik dari bawah tanah," kata Jekson.

embun beku papua

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Seekor babi yang dipelihara keluarga Jekson mati tak lama usai embun beku melanda Agandugume.
Embun beku papua

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Keluarga Jekson juga kehilangan anjing peliharaan mereka yang mati kedinginan.

Nenu Tabuni menyebut akhir Agustus ini peristiwa embun beku tekah meluas ke berbagai distrik di Kabupaten Puncak, seperti Ilaga, Gome, Omukia, Gome Utara, Mambugi, Ilaga Utara, Amungkalpia, dan Erelmakawia.

Nenu berkata, Pemkab Puncak memperpanjang status tanggap bencana dan akan menjamin ketersediaan bahan pangan untuk warga.

Nenu mengklaim, pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemkab Puncak, bersama pemerintah pusat, menyiapkan ribuan ton stok beras untuk warga hingga Desember mendatang.

'Gudang logistik yang dibangun pemerintah kosong'

Peristiwa embun beku hampir selalu berulang setiap tahun di wilayah pegunungan tengah Papua. Pada 2023, enam warga Puncak dilaporkan meninggal akibat embun beku yang kemudian memicu krisis pangan warga.

Di Lanny Jaya, pada tahun yang sama, muncul setidaknya dua korban meninggal. Sementara di Yahukimo, embun beku dan kelaparan menewaskan 23 orang.

Pada Juli 2015, embun beku yang terjadi di Kuyawage menewaskan setidaknya 11 orang—termasuk lima anak yang kedinginan dan kelaparan, kata Jaya Befa Jigibalom yang kala itu menjabat Bupati Lanny Jaya.

Befa berkata, embun beku yang muncul pada dini hari berubah menjadi cairan seperti minyak saat mencair terkena sinar matahari.

Embun beku yang berubah menjadi cairan seperti minyak itu juga dilihat Benus Murib, Juli lalu.

"Sekitar jam 10-11 pagi, embun itu mencair dan kemudian terlihat seperti minyak tanah atau oli kotor di atas rumput-rumput," ujarnya. "Satu-dua hari kemudian, rumput dan tanaman mengering semua," kata Benus.

Embun beku papua

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Warga Distrik Kuyawage menerima bantuan makanan dari Pemerintah Nduga, 27 Agustus lalu.

Pada 2015, Bupati Jeya Befa mendorong agar para akademisi melakukan kajian ilmiah terhadap peristiwa embun beku yang terjadi di Lanny Jaya. Agustus ini, Benus kembali mengulang harapan yang sama.

"Pemerintah sejauh ini tidak pernah berpikir untuk meneliti apa yang menyebabkan peristiwa ini terjadi, kandungan apa yang ada di dalam embun beku sehingga membuat semuanya kering," ujar Benus. "Ini butuh tenaga-tenaga ahli," tuturnya.

Benus berkata, riset mendalam tentang embun beku di pegunungan tengah Papua sangat mendesak. Selama ini, menurutnya, pemerintah memang selalu menyalurkan bantuan kepada warga yang terdampak. Namun bantuan itu dia sebut merupakan solusi jangka pendek.

"Ke depan pemerintah harus mengantisipasi agar warga tidak terdampak seperti ini lagi," kata Benus.

Sejauh ini Pemkab Nduga, Lanny Jaya, dan Kementerian Sosial telah menyalurkan bantuan pangan ke Kuyawage.

Embun beku

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Warga Agandugume menerima bantuan bahan makanan dari pemerintah, 26 Agustus lalu.

Bupati Lanny Jaya, Aletinus Yigibalom, pertengahan Agustus lalu meminta bawahannya untuk mengumpulkan data terkait kerusakan kebun-kebun warga. Dia mengakui, kekeringan akibat embun beku bisa membuat krisis pangan berlangsung hingga setahun ke depan.

Aletinus berkata, Pemkab Lanny Jaya tak bisa mengurus krisis itu tanpa bantuan pemerintah pusat.

Solusi jangka panjang pernah disampaikan pemerintahan Joko Widodo, Agustus 2023, usai embun beku dan krisis pangan terjadi di pegunungan tengah Papua.

Muhadjir Effendy, yang kala itu menjadi Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, memimpin upaya penanggulangan krisis itu.

Muhadjir saat itu mengusulkan dua solusi. Pertama, pemerintah dan akademisi akan mencari varietas umbi-umbian "yang cocok dengan cuaca ekstrem" di pegunungan tengah Papua.

Embun papua

Sumber gambar, Kemenko PMK

Keterangan gambar, Muhadjir Effendy meresmikan gudang logistik di Distrik Sinak, Puncak, Agustus 2024, saat dia masih menjabat Menko PMK.

Kedua, pemerintah akan membangun dua gudang logistik untuk menyimpan cadangan makanan yang bisa dikonsumsi warga saat embun beku dan kekeringan melanda.

Gudang logistik pertama selesai dibangun di Distrik Sinak, Puncak, awal Agustus 2024—diresmikan sendiri oleh Muhadjir.

Gudang kedua dibangun di Distrik Agandugume, Puncak, dan diresmikan Pratikno, Menko PMK era pemerintahan Prabowo, Januari lalu.

"Pemerintah pusat membangun gudang logistik agar ada lumbung pangan di kawasan Agandugume dan sekitarnya untuk mengantisipasi jangan sampai nanti kalau ada paceklik, krisis pangan, atau cuaca ekstrem, masyarakat kesulitan mengakses pangan," kata Pratikno dalam seremoni peresmian gudang logistik 16 Januari 2026—yang tidak dilakukan di Agandugume, melainkan di Kota Timika, Kabupaten Mimika.

Embun beku papua

Sumber gambar, Kemenko PMK

Keterangan gambar, Menko PMK, Pratikno, memimpin seremoni peresmian gudang logistik untuk Distrik Agandugume di Timika, Mimika, Januari 2026.

Namun sejak peresmian itu, menurut Jekson Tabuni, gudang logsitik di Agandugume selalu kosong.

"Sejak bangunan gudang itu selesai dibangun, belum ada distribusi bahan-bahan yang masuk. Jadi untuk darurat bencana seperti sekarang ini, kami [warga] susah," ujar Jekson.

embun beku papua

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Jekson mengirim sejumlah foto dan video, 28 Agustus lalu, yang memperlihatkan gudang logistik di Agandugume kosong.

Sebelum bantuan tiba di Agandugume, Jekson bilang warga menelusuri hutan untuk mencari sumber makanan yang masih layak konsumsi, seperti memancing udang di sungai.

Warga yang memiliki uang, kata Jekson, berjalan dua hari dua malam, naik-turun gunung, menuju Sinak untuk membeli bahan makanan.

Bagaimana komunitas akademisi melihat peristiwa alam ini?

Penelusuran kami tidak menemukan satupun dokumen riset yang menggali alasan ilmiah serta mitigasi yang harus dilakukan terhadap fenomena embun beku di wilayah itu.

Erma Yulihastin, Ketua Pusat Riset Iklim dan Atmosfer di Badan Riset dan Inovasi Nasional, pernah melakukan penelitian kelompok terkait embun beku di Papua—tapi berfokus pada daerah Kabupaten Jayapura.

Secara umum, kata Erma, embun beku biasanya terjadi antara Juli hingga Agustus.

Merujuk risetnya di Jayapura, Erma menyebut peristiwa ini dapat didefinisikan sebagai peristiwa ketika "permukaan tanah membeku, terutama di daerah-daerah dengan kelembapan tinggi."

Embun beku papua

Sumber gambar, Dokumen warga

Keterangan gambar, Warga Distrik Kuyawage memperlihatkan embun beku yang muncul di kampungnya.

"Udara kering menyentuh permukaan tanah yang dingin, membentuk kristal es dan akhirnya membentuk lapisan es di tanah," tulis Erma dan rekan-rekan penelitinya.

"Peristiwa embun beku dapat terjadi ketika suhu maksimum meningkat di siang hari, tapi suhu minimum menurun di malam hari.

"Angin membawa udara dingin dan kering ke daerah-daerah di mana akumulasi udara diperkirakan terjadi, seperti lereng gunung.

"Angin monsun dapat memperkuat sifat dingin dan kering dari angin permukaan. Hal ini terjadi selama musim kemarau, yang memiliki intensitas curah hujan rendah. Dengan intensitas hujan yang rendah, kelembapan akan turun menjadi kering," begitu penjelasan mereka.

Penjelasan ilmiah itu serupa dengan yang dikatakan prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura, Arif. Salah satu pemicu embun beku itu, menurutnya, adalah munculnya awan cumulonimbus.

"Saat terjadi awan Cumulonimbus yang sangat masif dengan suhu amat dingin, butiran es yang turun tidak sempat mencair menjadi air hujan akibat atmosfer dan permukaan daratan di wilayah tinggi tersebut yang juga sangat dingin," kata Arif kepada Kompascom.

'Nyaris dua juta warga Papua Nugini terdampak embun beku'

Peristiwa embun beku, kekeringan, dan krisis pangan juga berulang kali terjadi di wilayah pegunungan Papua Nugini.

Juni lalu, lembaga bantuan kemanusiaan, Oxfam, memprediksi Papua Nugini akan menjadi negara yang paling terdampak El Nino di wilayah Pasifik. Salah satu dampak itu adalah hujan es dan embun beku di wilayah pegunungan negara itu.

Oxfam menyebut bahwa curah hujan di Papua Nugini berada di bawah rata-rata selama hampir setahun terakhir. Jika dikombinasikan dengan embun beku di wilayah pegunungan dan juga serangan hama invasif, tanaman pangan serta ternak warga akan sangat terdampak.

Oxfam memperkirakan, sekitar 1,9 juta orang di wilayah dataran tinggi Papua Nugini akan menghadapi situasi tersebut. Seperti di pegunungan tengah Papua, warga Papua Nugini di dataran tinggi juga sangat bergantung pada pertanian dan kerap mengalami krisis pangan yang parah.

Richard Michael Bourke, pakar pertanian asal Australia yang memfokuskan risetnya di wilayah Pasifik, berada di Papua Nugini saat kekeringan akut dan embun beku melanda negara itu pada 1997.

Embun beku papua

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Foto arsip ini, tertanggal 4 Desember 1997, menunjukkan para pengungsi dari provinsi Irian Jaya (kini Papua) sedang menurunkan bantuan makanan darurat dari helikopter Chinook milik Angkatan Darat Australia di kamp East Awin di Western Province. Kekeringan di Papua Nugini saat itu berada pada titik krisis.

Bagi jutaan warga Papua Nugini, kata Richard, tahun 1997 adalah tahun yang tak akan pernah mereka lupakan.

"Kekeringan dan embun beku menyebabkan ratusan kematian. Di beberapa komunitas yang sangat terpencil, angka kematian meningkat hingga tujuh dari 100 orang," tulis Richard.

"Tanaman gagal panen. Sekolah, penjara, dan tambang besar terpaksa ditutup karena pasokan air mengering. Terjadi juga wabah penyakit termasuk diare, malaria, dan tifus," demikian riset Richard.

Sebuah riset pernah dilakukan tim lintas lembaga, dari pemerintah Papua Nugini, Badan Pembangunan Internasional Australia serta lembaga swadaya masyarakat dan universitas pada 1997.

Merujuk riset itu, Papua Nugini mengalami kekeringan paling parah pada 1997, jika dihitung dalam periode 100 tahun sebelumnya. Situasi itu dipicu oleh El Nino. Kekeringan dan embun beku yang terparah di negara itu sebelumnya terjadi pada 1972 dan 1973.

Embun belu papua

Sumber gambar, AFP via Getty Images

Keterangan gambar, Kekeringan akut, yang juga memicu embun beku di Papua Nugini pada 1997 dirasakan pula oleh para pengungsi asal Irian Jaya (kini Papua) yang melarikan diri dari konflik bersenjata ke Western Province.

Dalam situasi itu, sejumlah wilayah di pegunungan atau yang berada di atas 2.200 meter dari permukaan laut, seperti Enga, Southern Highland, Western Highland, dan Central Provinces mengalami embun beku.

Berdasarkan riset pada September dan Oktober 1997 ini, tim akademisi menemukan bahwa 80.000 warga Papua Nugini berada dalam situasi yang mengancam nyawa. Mereka tak memiliki bahan makanan, kecuali yang bisa mereka temukan di hutan.

"Sebanyak 175.000 orang lainnya hanya mengonsumsi sedikit sekali makanan yang persediaannya semakin menipis dari kebun mereka dan melengkapinya dengan makanan 'kelaparan' serta makanan hutan."

Secara total, tim riset itu menyimpulkan 540 ribu warga Papua Nugini kekurangan bahan makanan dan tak memiliki akses untuk membelinya. Yang paling terdampak adalah warga di dataran tinggi. "Mereka harus menerima bantuan sesegera mungkin."

Dalam situasi kekeringan akut pada 1997 itu, kata para peneliti, walau hujan akhirnya turun, jumlah warga yang terancam kelaparan tetap berpotensi bertambah karena ada jeda waktu antara menanam dan memanen tanaman pangan.

Riset ini juga menyibak bagaimana relasi antara embun beku dan hilangnya bahan pangan utama warga Papua Nugini di daerah pegunungan, yaitu umbi-umbian.

embun beku papua

Sumber gambar, Kud Sitango/CC BY-NC-ND

Keterangan gambar, Anak-anak dari sebuah desa di Western Highlands Province, Papua Nugini, berdiri di salah satu dari sekian banyak kebun ubi jalar yang hancur akibat embun beku di negara itu, Agustus 2015.

Jika embun beku terjadi satu hingga dua bulan setelah penanaman, tanaman umbi akan memasuki masa dormansi hingga satu bulan, sebelum bisa tumbuh kembali.

Sementara apabila embun beku terjadi 5 hingga 6 bulan setelah penanaman, masa dormansi akan lebih lama, kata para peneliti. Tanaman umbi itu mungkin mati dan umbi di dalam tanah akan segera membusuk.

"Pada tanaman yang terkena embun beku 9-12 bulan setelah penanaman, pertumbuhan bagian atas mungkin mati, tapi umbi di dalam tanah mungkin tetap dapat dimakan hingga dua bulan," tulis para peneliti.

Yang paling parah, menurut para peneliti, adalah saat embun beku terjadi berulang kali dalam kurun waktu berminggu-minggu. Dampaknya, "embun beku membunuh pertumbuhan bagian atas dan merusak umbi di dalam tanah, secara efektif menghentikan seluruh produksi pangan hingga 12 bulan."

embun beku papua

Sumber gambar, Richard Michael Bourke/CC BY-NC-ND

Keterangan gambar, Singkong yang dipanen warga Papua Nugini selama kekeringan yang diwarnai embun beku pada tahun 1997 berukuran sangat kecil.

Tim riset merekomendasikan agar setiap orang yang terdampak kekeringan mendapat 8 kilogram beras, 2 kilogram tepung gandum, dan satu liter minyak goreng per bulan. Walau nominal bantuan bergantung tingkat kegawatdaruratan dan kondisi daerah, dengan perhitungan itu, setiap individu bisa memenuhi 1.400 kalori per hari, menurut tim riset.

Bukan cuma bahan pangan, tim peneliti juga merekomendasikan agar ada bantuan pertanian.

"Di lokasi yang paling parah terkena dampaknya, pemerintah, gereja, dan LSM perlu menyediakan bahan tanam, berupa tanaman seperti ubi jalar, kentang, jagung, dan beberapa jenis sayuran berdaun hijau."