Setelah 41 tahun menanti hukuman mati, seorang pria dibebaskan

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, George Wright
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 4 menit
Seorang pria yang menghabiskan 41 tahun menanti eksekusi mati di Amerika Serikat telah dibebaskan dengan jaminan. Jaksa mengatakan bukti DNA yang baru dianalisis tidak mengaitkannya dengan kejahatan tersebut.
Douglas Stewart Carter, yang kini berusia 71 tahun, dipenjara atas pembunuhan Eva Olesen di Negara Bagian Utah pada 1985.
Dia dijatuhi hukuman mati, tetapi sejak awal berkeras bahwa dirinya tidak bersalah.
Carter mengatakan pengakuan tertulis yang dia tandatangani sejatinya dibuat melalui paksaan.
Mahkamah Agung Negara Bagian Utah tahun lalu memerintahkan agar Carter diadili kembali setelah menemukan adanya pelanggaran oleh penyidik.
Pada Senin (28/09), seorang hakim membebaskan Carter dengan jaminan meskipun keluarga korban menyatakan keberatan.
Selama menjalani masa pembebasan dengan jaminan, Carter diwajibkan mengenakan alat pemantau GPS.

Sumber gambar, Getty Images
Eva Olesen, yang merupakan bibi seorang kepala kepolisian setempat, ditikam berkali-kali lalu ditembak di rumahnya di Provo, Utah, pada Februari 1985.
Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.
Klik di sini
Akhir dari Whatsapp
Carter, yang berasal dari Chicago, saat itu tinggal bersama ibunya di Utah. Dokumen pengadilan menunjukkan polisi menduga ia membunuh Olesen saat melakukan perampokan.
Mengira dirinya menjadi tersangka dalam kasus lain yang tidak berkaitan, Carter melarikan diri dari Utah, tetapi akhirnya ditemukan di Nashville, Tennessee.
Saat menjalani pemeriksaan, Carter kemudian menandatangani sebuah surat pengakuan—yang belakangan ia sebut diperoleh melalui paksaan.
Meski tidak ada bukti fisik yang mengaitkan Carter dengan lokasi kejadian, juri menyatakan dirinya bersalah berdasarkan surat pengakuan tersebut dan penuturan dua saksi yang mengatakan Carter pernah membual telah melakukan pembunuhan itu.
Namun, pada 2011, kedua saksi tersebut mengatakan bahwa mereka diminta berbohong di pengadilan, diberi uang dan hadiah oleh polisi, serta diancam akan dideportasi jika tidak bersaksi memberatkan Carter.
Setelah lebih dari satu dekade, Mahkamah Agung Utah tahun lalu memerintahkan agar Carter diadili kembali.
Baca juga:
Pengacara Carter, yang berkulit hitam, mengatakan sejumlah saksi melihat seorang pria kulit putih melarikan diri dari lokasi pembunuhan.
Mereka juga mengatakan seorang penyelidik telah menyembunyikan bukti yang mengarah kepada suami korban, Orla Olesen.
Mereka mengklaim jaksa saat itu hampir mengajukan tuntutan terhadap suami Olesen, tetapi seorang polisi meminta agar hal tersebut tidak dilakukan supaya ia dapat melanjutkan penyelidikan.
Suami Olesen, yang meninggal dunia pada 2009, mengatakan kepada polisi bahwa dia menemukan istrinya dalam keadaan meninggal di rumah mereka.
Luka tusuk pada tubuh korban disebut disebabkan oleh pisau dari dapur rumah mereka, yang ditemukan di dekat jasadnya. Sementara itu, senjata api tidak ditemukan di lokasi kejadian.
Baca juga:
Namun, pada bulan ini, jaksa mengatakan hasil analisis DNA menunjukkan Carter bukanlah orang yang cocok dengan sampel darah pada gagang pintu maupun materi genetik yang ditemukan pada pegangan pisau.
Pembebasan Carter dilakukan meski ditentang keluarga Olesen.
Theresa Olesen, menantu Eva Olesen, mengatakan dalam sidang jaminan pada Senin bahwa keluarganya memiliki "kekhawatiran serius" atas pembebasan Carter. Menurutnya, Carter seharusnya tetap ditahan sembari menunggu persidangan baru.
"Ya ampun, kami tadinya berharap ada kecocokan yang benar-benar meyakinkan," kata Olesen mengenai analisis DNA tersebut. "Itu tidak berarti dia tidak berada di sana."
Namun, pengacara pembela Carter, Neal Hamilton, meminta agar kasus tersebut dihentikan.
"Kalau negara bagian Utah bisa bertindak sesuka mereka, dia sudah dieksekusi 15 atau 20 tahun lalu, sebelum kami mengungkap pelanggaran ini," katanya kepada kantor berita Associated Press.

































