Hadapi Argentina di semi final, laga terbesar Inggris sejak 1966 – The Three Lions selangkah lagi menuju keabadian

England players celebrate reaching the World Cup semi-final

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Pelatih kepala Thomas Tuchel memiliki kesempatan membawa Inggris ke final Piala Dunia pertama mereka sejak 1966.
    • Penulis, Phil McNulty
    • Peranan, Chief football writer in Atlanta
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 8 menit

Inggris berpeluang mengambil langkah besar menuju keabadian ketika menghadapi Argentina pada semifinal Piala Dunia, dalam laga terbesar mereka sejak menjuarai final Piala Dunia 1966 di Wembley.

The Three Lions telah mencapai semifinal Piala Dunia dua kali dalam enam dekade sejak saat itu, yakni di Italia 1990 dan Rusia 2018.

Namun, pertemuan kali ini menghidupkan kembali salah satu rivalitas klasik sepak bola dunia, yang sarat sejarah serta berbagai kontroversi yang menyertainya.

Inggris kalah dalam dua final Kejuaraan Eropa terakhir yang mereka jalani.

Akan tetapi, di bawah atap Stadion Atlanta yang futuristis, pelatih kepala Thomas Tuchel dan para pemainnya memiliki kesempatan untuk mengukir nama dalam sejarah dengan membawa tim putra Inggris mencapai final Piala Dunia pertama mereka dalam 60 tahun.

Besarnya perhatian dunia terhadap pertandingan ini terlihat dari sesi konferensi pers pra-pertandingan Tuchel.

Meski telah dipindahkan ke lokasi yang lebih besar, ruangan tetap penuh sesak dengan kehadiran media.

Laga pada Kamis (02.00 WIB) dini hari menjadi peluang terbaru bagi Inggris untuk kembali menembus panggung puncak sepak bola dunia, sebuah batas yang belum mampu mereka lewati sejak tim asuhan Sir Alf Ramsey mengangkat trofi Jules Rimet pada 1966.

Saatnya generasi "nyaris berhasil" Inggris membuktikan diri

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Rekam jejak Inggris dalam turnamen-turnamen besar belakangan ini sebenarnya cukup baik, tetapi belum cukup baik. Selalu nyaris, tapi tidak pernah benar-benar berhasil.

Pada level elite, satu-satunya tolok ukur yang menentukan adalah trofi.

Sejauh ini, meraih gelar masih menjadi tantangan yang terasa begitu dekat sekaligus menyakitkan bagi tim Inggris generasi ini.

Perjalanan menuju semifinal Piala Dunia 2018 semula dipandang sebagai kejutan yang menyenangkan.

Namun, pencapaian itu berakhir mengecewakan. Tim asuhan Sir Gareth Southgate tampak terjebak dalam pendekatan yang terlalu konservatif setelah Kieran Trippier membawa Inggris unggul pada menit kelima melawan Kroasia di Moskow.

Inggris akhirnya kalah 1-2 setelah melalui perpanjangan waktu.

Tiga tahun kemudian, di final Euro 2020 yang digelar di Wembley pada Juli 2021 setelah sempat tertunda akibat pandemi Covid-19, Inggris kembali menyia-nyiakan peluang emas.

Dalam situasi yang mengingatkan pada kegagalan di Piala Dunia 2018, The Three Lions kembali kehilangan inisiatif setelah Luke Shaw mencetak gol pada menit kedua.

Setelah gagal mempertahankan keunggulan, Inggris akhirnya takluk dari Italia melalui adu penalti.

Kekalahan itu terasa makin menyakitkan mengingat Italia bahkan gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia terakhir.

Bermain di Wembley, markas sendiri, semestinya menjadi kesempatan ideal bagi Inggris untuk mengakhiri penantian panjang mereka akan gelar juara.

Namun, peluang itu kembali terlewatkan.

Sir Gareth Southgate looks downcast after England's defeat by Spain in the Euro 2024 final

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Sir Gareth Southgate—yang terlihat dalam foto setelah kekalahan kedua berturut-turut Inggris di final Euro (melawan Spanyol pada 2024)—tidak berhasil membawa timnya meraih kemenangan.

Kekalahan dari Prancis di perempat final Piala Dunia Qatar empat tahun lalu pada dasarnya menunjukkan bahwa tim yang bagus dikalahkan oleh tim yang lebih baik.

Namun, rasa sakit itu semakin dalam setelah Harry Kane gagal mengeksekusi penalti pada fase akhir laga, sebuah momen yang jarang terjadi dalam karier sang kapten.

Perjalanan Inggris menuju final Euro 2024 kemudian berlangsung kurang meyakinkan, meski sesekali diwarnai penampilan yang mengesankan.

Namun, perjalanan itu berakhir dengan performa yang mengecewakan di partai puncak di Berlin, ketika tim asuhan Gareth Southgate kalah 1-2 dari Spanyol.

Kini, di bawah kepemimpinan Thomas Tuchel, Inggris kembali berupaya melangkah lebih jauh.

"Kami sekarang ingin mengerahkan semua kemampuan yang tersisa. Kami ingin mengambil langkah berikutnya," kata Tuchel.

"Saya sangat menyukai energi yang ada di dalam tim kami. Para pemain sangat antusias dan memiliki ambisi besar. Itulah yang kami butuhkan untuk pertandingan ini." kata dia.

Enam dekade penuh kontroversi

Yang membedakan semifinal Piala Dunia melawan Argentina dari pertemuan Inggris dengan Jerman Barat pada 1990 dan Kroasia pada 2018 adalah panjangnya sejarah rivalitas, kontroversi, dan ketegangan olahraga antara kedua tim yang telah berlangsung sejak 1966.

Perempat final Piala Dunia di Wembley pada sebuah Sabtu sore yang cerah 60 tahun lalu paling dikenang karena kartu merah yang diterima kapten Argentina, Antonio Rattin, pemain berbakat namun dikenal bertemperamen keras.

Insiden itu nyaris memicu aksi mogok bermain ketika rekan-rekan setimnya mengancam meninggalkan lapangan.

Rattin, yang meninggal dunia pada 11 Juli lalu dalam usia 89 tahun, akhirnya berhasil dibujuk untuk meninggalkan lapangan.

Namun, ketegangan antara kedua kubu tidak mereda bahkan setelah gol penentu kemenangan yang dicetak Geoff Hurst pada akhir pertandingan.

Perselisihan itu berlanjut setelah laga usai. Pelatih Inggris, Alf Ramsey, secara terkenal melarang para pemainnya bertukar jersey dengan pemain Argentina.

Belakangan, dia bahkan melontarkan komentar kontroversial dengan menyebut tim Argentina sebagai "binatang".

England manager Sir Alf Ramsey refused to allow George Cohen to swap shirts with an Argentina opponent after the feisty 1966 World Cup quarter-final

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Manajer Inggris Sir Alf Ramsey melarang George Cohen bertukar kaus dengan pemain Argentina setelah pertandingan perempat final Piala Dunia 1966 yang berlangsung sengit.

Inggris dan Argentina kembali bertemu di perempat final Piala Dunia 1986 di Stadion Azteca, Mexico City, dengan Perang Falklands yang terjadi empat tahun sebelumnya menjadi latar belakang ketegangan di antara kedua negara.

Pertandingan itu dikenang sebagai panggung bagi gol kontroversial Diego Maradona yang kemudian dikenal sebagai Hand of God (Tangan Tuhan), sekaligus gol keduanya yang brilian.

Argentina menang 2-1 dan kemudian melanjutkan perjalanan mereka hingga menjuarai Piala Dunia.

Piala Dunia 1998 di Prancis menghadirkan salah satu laga babak 16 besar paling berkesan dalam sejarah turnamen.

Pertandingan itu terutama diingat karena kartu merah yang diterima David Beckham setelah menendang Diego Simeone saat terpancing emosinya, serta gol individu spektakuler yang mengangkat Michael Owen, yang saat itu baru berusia 18 tahun, menjadi bintang sepak bola dunia.

Namun, Argentina kembali keluar sebagai pemenang melalui adu penalti, menambah daftar kekecewaan Inggris di Piala Dunia.

Ketegangan di antara kedua tim masih terasa ketika mereka kembali berhadapan empat tahun kemudian dalam laga fase grup Piala Dunia 2002 di Stadion Sapporo Dome, Jepang.

Kali ini, Beckham memperoleh kesempatan untuk menebus kegagalan masa lalu. Ia mencetak gol kemenangan lewat penalti pada babak pertama.

Namun, Argentina melancarkan protes berkepanjangan dengan menuduh Owen melakukan diving saat mendapat tantangan dari Mauricio Pochettino, yang kini dikenal sebagai pelatih Tottenham Hotspur di masa lalu.

Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengatakan: "Ini adalah rivalitas besar antara dua negara besar dalam dunia sepak bola."

"Saya bisa saja mengatakan bahwa sejarah tidak relevan, tetapi saya tidak yakin. Para pemain menyadari sejarah itu. Ketika sebuah pertandingan melahirkan begitu banyak momen ikonik, Anda tidak bisa mengatakan bahwa ini hanyalah pertandingan sepak bola biasa."

Pelatih Argentina Lionel Scaloni, yang pernah membela negaranya di Piala Dunia 2006, menambahkan: "Kita semua memiliki kenangan dan cerita dari masa lalu. Semua itu membuat pertandingan ini sarat emosi."

Latar belakang inilah, bersama sejarah panjang perselisihan dan ketegangan antara kedua tim, yang membuat pertemuan kali ini terasa berbeda dibandingkan semifinal-semifinal lainnya.

Dalam enam dekade terakhir, Inggris telah menjalani banyak pertandingan besar yang berkesan.

Namun, kemenangan dalam laga ini berpotensi melampaui semuanya, sekaligus membuka jalan menuju pencapaian bersejarah di final Piala Dunia hari Minggu melawan Spanyol.

Faktor Messi

Mungkinkah Piala Dunia kali ini menjadi tarian terakhir Lionel Messi bersama Argentina?

Messi akhirnya mewujudkan impiannya menjuarai Piala Dunia di Qatar 2022, sebuah pencapaian yang sekaligus menebus berbagai kekecewaan di masa lalu, termasuk kekalahan dari Jerman pada final Piala Dunia 2014 di Rio de Janeiro.

Kini berusia 39 tahun, Messi mungkin tidak lagi berada pada puncak performa fisiknya.

Namun, kejeniusan yang membuatnya dianggap sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa masih terlihat jelas, baik melalui kemampuan olah bola maupun kecerdasannya membaca permainan.

Meski demikian, sebagian besar pekerjaannya di lapangan kini dilakukan dengan tempo yang jauh lebih santai dibandingkan masa kejayaannya.

Statistik menunjukkan bahwa Messi berjalan dalam 47% dari total jarak yang telah dia tempuh sepanjang Piala Dunia kali ini, persentase tertinggi di antara seluruh pemain non-kiper yang tampil di turnamen tersebut.

Namun, seperti yang berkali-kali dia tunjukkan sepanjang kariernya, kecepatan bukanlah satu-satunya ukuran pengaruh seorang Lionel Messi di lapangan.

Lionel Messi celebrates after scoring in Argentina's last-16 win against Egypt

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Lionel Messi merayakan golnya dalam kemenangan Argentina atas Mesir di babak 16 besar, setelah sebelumnya gagal mengeksekusi penalti.

Namun, Messi tetap menjadi sumber inspirasi utama Argentina, dan hasratnya untuk meraih gelar Piala Dunia kedua masih menyala kuat.

Hal itu terlihat dari air mata lega dan bahagianya setelah Argentina mencetak tiga gol dalam 11 menit terakhir untuk mengalahkan Mesir pada babak 16 besar.

Saat itu, Argentina sempat tertinggal 0-2 dan berada di ambang tersingkir secara mengejutkan dari turnamen.

Messi tetap menjadi sosok yang paling diwaspadai Inggris. Dia adalah pemain yang memikul harapan sebuah bangsa sekaligus menjadi tumpuan bagi rekan-rekan setimnya di lapangan.

Pelatih Inggris Thomas Tuchel mengatakan: "Messi sungguh luar biasa. Rasanya tidak ada lagi kata-kata yang bisa menggambarkan pencapaiannya, kualitasnya, dan kepemimpinan yang ia tunjukkan.

"Dia adalah pemimpin dan pemain kunci di setiap tim yang dibelanya, dan peran itu juga dia jalankan di tim Argentina saat ini." kata Tuchel.

Kane dan Bellingham pimpin langkah Inggris

Inggris kini berdiri di ambang sejarah.

Dan di tangan Jude Bellingham dan Harry Kane, mereka membawa The Three Lions melaju hingga babak semifinal.

Sementara itu, Thomas Tuchel merupakan salah satu pelatih paling dihormati dalam sepak bola dunia.

Dia dikenal menikmati intensitas dan tekanan pertandingan sistem gugur, sesuatu yang pernah dia buktikan saat membawa Chelsea menjuarai Liga Champions pada 2021.

Inggris telah mencetak 13 gol sepanjang Piala Dunia kali ini.

Namun, 12 di antaranya lahir dari kontribusi Bellingham dan Kane.

Marcus Rashford, yang mencetak gol terakhir dalam kemenangan 4-2 atas Kroasia pada laga pembuka, menjadi satu-satunya pemain Inggris lain yang turut masuk daftar pencetak gol sejauh ini.

Statistik itu bisa saja memunculkan anggapan bahwa Inggris terlalu bergantung pada Bellingham dan Kane.

Namun di sisi lain, angka tersebut juga menunjukkan bahwa dua pemain kunci mereka tengah menikmati performa terbaik dalam karier masing-masing.

Jika Inggris sesekali tampil kurang meyakinkan sepanjang turnamen, hal serupa juga dialami Argentina.

Tim asuhan Lionel Scaloni harus bekerja keras untuk lolos dari situasi sulit saat menghadapi Tanjung Verde, Mesir, dan Swiss pada fase gugur.

Seperti Inggris, Argentina beberapa kali berhasil lolos dari tekanan dan berada di ambang kegagalan.

Tuchel tentu berharap semifinal kali ini menjadi momen ketika keberuntungan dan daya juang Argentina akhirnya tidak lagi cukup untuk menyelamatkan mereka.