Sembilan WNI relawan Global Sumud Flotilla tiba di Istanbul

    • Penulis, Farida Susanty
    • Peranan, Jurnalis BBC News Indonesia
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Sembilan warga Indonesia relawan Global Sumud Flotilla (GSF) tiba di Istanbul, pada Kamis (21/05), setelah dibebaskan dari penahanan Israel.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Sugiono, menyatakan terus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk memastikan seluruh WNI dapat kembali ke Indonesia dengan selamat dan sesegera mungkin.

Di kesempatan yang sama, Sugiono juga mengecam perlakuan tidak manusiawi yang diterima para relawan selama masa penahanan.

"Tindakan yang merendahkan martabat warga sipil dalam sebuah misi kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum humanitar internasional yang tidak dapat ditoleransi," kataya.

Perlakuan terhadap para aktivis oleh aparat keamanan Israel juga sebelumnya telah memicu kecaman internasional.

Adalah, lembaga bantuan hukum yang mewakili para tahanan, menyatakan para tahanan mengalami kekerasan fisik, yang menyebabkan luka serius.

Baca juga:

Adalah menyebut sedikitnya tiga orang sempat dirawat di rumah sakit sebelum dipulangkan.

Pengacara mendokumentasikan puluhan peserta dengan dugaan tulang rusuk patah dan kesulitan bernapas.

Laporan juga menyebut penggunaan taser dan peluru karet selama proses pencegatan.

Kelompok tersebut menyebut para aktivis mengalami perlakuan merendahkan, pelecehan seksual, dan penghinaan saat dalam tahanan.

Otoritas Israel belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut.

Sebanyak sembilan WNI ditangkap Israel per Rabu (20/05). Lima di antara mereka ditangkap pada Senin (18/05), termasuk jurnalis Republika dan Tempo.

Sebanyak 430 aktivis dan relawan Global Sumud Flotilla yang berasal lebih dari 40 negara ditangkap di sebuah pelabuhan di Israel selatan setelah Angkatan Laut Israel mencegat flotilla mereka di perairan internasional.

Pasukan Israel telah mencegat seluruh kapal

Pasukan Israel telah mencegat seluruh kapal tujuan Gaza yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0, menurut keterangan panitia misi tersebut pada Rabu (20/05) dini hari WIB.

Dalam keterangan melalui media sosial Instagram, panitia Global Sumud Flotilla 2.0 menyatakan kapal yang terakhir dicegat adalah Sadabad. Kapal itu berisi dua relawan asal Indonesia.

Pada malam yang sama, kapal Zefiro yang berisi dua relawan asal WNI juga dicegat militer Israel.

Dengan demikian, sebanyak sembilan WNI ditangkap Israel. Sebelumnya, pada Senin (18/05), Israel sudah menangkap lima WNI. Beberapa di antara mereka merupakan jurnalis Republika dan Tempo.

'Kami mengecam keras tindakan intersepsi'

Perwakilan media Republika mengonfirmasi bahwa dari sembilan WNI dalam rombongan GSF, ada dua jurnalis mereka, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai.

Pimpinan Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, mengecam tindakan intersepsi tersebut.

"Tindakan ini pelanggaran serius terhadap hukum internasional, prinsip kemanusiaan universal, serta kebebasan sipil warga dunia yang membawa bantuan bagi rakyat Palestina di Gaza," kata Andi.

Baca juga:

Menurut pernyataan mereka, para relawan tidak membawa senjata, melainkan bantuan kemanusiaan seperti obat-obatan dan logistik untuk warga Gaza.

Mengutip Kompas.com, salah satu peserta dari Indonesia, Bambang Daryono (alias Abeng), sempat mengirimkan pesan video sebelum komunikasi terputus.

"Saya Bambang Daryono alias Abeng. Saya warga Indonesia. Saya adalah partisipan pelayaran misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026," katanya dalam rekaman video. Ia kemudian meminta pemerintah Indonesia membantu pembebasannya.

Sementara itu, media Tempo juga mengonfirmasi bahwa jurnalisnya adalah salah satu dari lima WNI yang terdampak pencegatan Israel.

Wartawan Tempo TV, Andre Prasetyo Nugroho, disebut mengirim video pesan darurat atau SOS.

Setelah sempat tidak dapat dihubungi, Andre mengirimkan video berdurasi 53 detik kepada tim GPCI.

Video tersebut merupakan salah satu protokol yang telah disiapkan peserta pelayaran Global Sumud Flotilla. Para peserta diminta merekam pesan darurat untuk dipublikasikan apabila tentara Israel menangkap atau memutus komunikasi mereka selama misi berlangsung.

"Apabila kawan-kawan sudah menonton video ini, tandanya saya telah ditangkap oleh rezim Zionis Israel," ujar Andre dalam video tersebut, dikutip dari Tempo, Senin malam (18/05).

GSF: 'Agresi ilegal di laut lepas'

Dalam pernyataan resminya, GSF menyebut armadanya yang terdiri dari kapal-kapal sipil tengah berlayar untuk membuka jalur bantuan kemanusiaan ke Gaza ketika dikepung oleh kapal perang Israel di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari wilayah tersebut.

Mereka menggambarkan situasi ini sebagai kelanjutan dari pola intersepsi sebelumnya terhadap kapal sipil dalam misi serupa, termasuk insiden beberapa minggu sebelumnya.

"Pengepungan militer ini menandai dimulainya kembali agresi ilegal di laut lepas," tulis mereka pada pernyataan bertanggal 18 Mei 2026.

GSF menegaskan bahwa seluruh peserta dalam armada tersebut adalah warga sipil tak bersenjata—termasuk tenaga medis, jurnalis, dan relawan—dan menyatakan bahwa tindakan intersepsi di perairan internasional melanggar hukum maritim dan prinsip kebebasan navigasi.

Tepat setelah pukul 10:30 di Siprus (07:30 GMT) pada Senin (18/05), siaran langsung video di situs web GSF menunjukkan pasukan komando di atas kapal penyerbu mendekati sebuah kapal layar, kemudian menaikinya saat para penumpang mengangkat tangan mereka.

"Kapal-kapal militer saat ini sedang mencegat armada kami dan pasukan [Israel] menaiki kapal pertama kami di siang bolong," kata penyelenggara GSF dalam sebuah pernyataan.

"Kami menuntut jalur aman untuk misi kemanusiaan kami yang sah dan non-kekerasan," tambahnya. "Pemerintah harus bertindak sekarang untuk menghentikan tindakan ilegal atau pembajakan ini yang dimaksudkan untuk mempertahankan pengepungan genosida Israel di Gaza."

Pada Senin (18/05) sore, pihak penyelenggara mengumumkan bahwa pasukan Israel sejauh ini telah mencegat 16 kapal dalam flotila tersebut.

Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Israel telah bersumpah bahwa mereka tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokadenya di Gaza, yang mereka tegaskan sah secara hukum, dan meminta flotila tersebut untuk berbalik arah.

"Sekali lagi, provokasi demi provokasi: apa yang disebut 'flotila bantuan kemanusiaan' lainnya tanpa ada bantuan kemanusiaan," kata sebuah unggahan di X.

GSF mengatakan para aktivis di atas kapal membawa makanan, susu formula bayi, dan bantuan medis untuk warga Palestina di Gaza, di mana kondisi kehidupan sangat memprihatinkan dan sebagian besar dari 2,1 juta penduduknya mengungsi, meskipun ada gencatan senjata yang disepakati oleh Israel dan Hamas Oktober lalu.

Kementerian Luar Negeri Israel menyebut Gaza sebagai wilayah yang "dibanjiri bantuan", dengan mengatakan lebih dari 1,5 juta ton bantuan dan ribuan ton pasokan medis telah memasuki wilayah tersebut selama tujuh bulan terakhir.

PBB mengatakan minggu lalu bahwa banyak keluarga yang mengungsi di Gaza masih terpaksa berlindung di tenda-tenda yang terlalu padat atau struktur bangunan yang rusak parah karena tidak adanya alternatif yang lebih aman.

Akses ke layanan dasar tetap terbatas, dengan ketersediaan air bersih yang tidak konsisten dan sistem pengelolaan limbah yang terganggu yang tidak dapat mengatasi masalah kesehatan masyarakat secara berarti, termasuk yang terkait dengan hama dan hewan pengerat, tambahnya.

PBB juga mengatakan operasi kemanusiaan terus dirongrong oleh pembatasan impor suku cadang penting, generator cadangan, dan peralatan lainnya, serta kekurangan pasokan penting, termasuk bahan bakar dan oli mesin.

Artikel ini akan terus diperbarui secara berkala.