Gempa Jepang tewaskan 13 orang – 'Saya kira saya akan mati'

Sumber gambar, Reuters
- Penulis, Chie Kobayashi
- Melaporkan dari, Tokyo
- Penulis, Gavin Butler
- Telah diterbitkan
- Waktu membaca: 5 menit
Gempa dengan magnitudo 6,8 mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang pada Selasa malam (28/07). Sejauh ini, jumlah korban tewas akibat gempa tercatat mencapai setidaknya 13 orang. Adapun ribuan orang lainnya mengungsi ke tempat evakuasi.
Guncangan gempa kali ini disebut cukup parah. Jalan rusak, bangunan roboh, dan jaringan kereta api berhenti operasi sementara waktu
"Gempa terakhir sekitar 10 tahun lalu tidak seperti ini. Saya kira saya akan mati," ujar Hiroko Ogata (75), pemilik restoran Sendan Shokudo di kota Yatsushiro, Kumamoto, Jepang.
Ogata tinggal di kota tersebut sepanjang hidupnya. Dia merupakan penyintas gempa pada 2016 yang menewaskan 277 orang dan melukai 2.800 warga.
Akan tetapi, Ogata mengaku "belum pernah mengalami guncangan sebesar ini".
"Saya syok dan takut. Saya berlindung di bawah meja, tapi meja terus bergerak ke kanan dan kiri," kata Ogata.
Hingga kini, upaya penyelamatan masih berlangsung.

Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang meninggal dunia. Dia juga berterima kasih kepada para petugas layanan darurat yang terus bekerja.
"Ini adalah perlombaan melawan waktu," kata Takaichi pada Rabu (29/07).
Sementara itu, Badan Meteorologi Jepang melaporkan terjadi lebih dari 60 gempa susulan dengan magnitudo berkisar antara 1 hingga 4 setelah guncangan besar semalam.
'Guncangan besar datang berturut-turut'
Salah satu lokasi yang mengalami kerusakan parah akibat gempa ini adalah Aeon Mall di Kashima. Sebagian lantai dua bangunan pusat perbelanjaan ini runtuh.
Sebuah rekaman video memperlihatkan asap putih membumbung dari bangunan saat orang-orang berlari menuju area parkir. Sejumlah konstruksi bagian luar mal terlepas sampai memperlihatkan balok-balok baja di bawahnya.
Laporan dari kantor berita AFP menyebut delapan orang telah diselamatkan dari mal tersebut.
Sementara itu, Dinas Pemadam Kebakaran menyampaikan tiga korban tewas berasal dari bangunan mal ini.
Baca juga:
Puluhan orang diyakini masih terjebak. Media NHK mengabarkan, jumlah orang yang berada di dalam mal diduga "lebih rendah" dibanding laporan awal yang menyebutkan 20 hingga 30 orang.

Sumber gambar, Reuters

Sumber gambar, Reuters
Beberapa ratus meter dari mal Aeon, Yui* sedang duduk di toko kuenya ketika gempa terjadi.
"Saya tidak bisa membedakan, mana suara gempa dan mana suara ledakan," katanya kepada BBC.
"Yang bisa saya lakukan hanyalah memegang kursi yang saya duduki ketika guncangan besar datang berturut-turut," ungkapnya yang tampak masih syok.
"Saya bahkan tidak sempat merasa takut dalam situasi seperti itu. Bahkan sekarang saya tidak tahu bagaimana menjelaskannya."
Toko kue milik Yui tutup pascagempa. Ia masih menaksir tingkat kerusakan yang terjadi.
"Saya belum memeriksa apakah mesin-mesin, seperti oven, masih berfungsi. Setelah saya memeriksanya, saya baru bisa memutuskan apakah saya bisa kembali menjalankan usaha lagi atau tidak," tutur Yui.

Sumber gambar, Reuters
Warga setempat lainnya, Michal Posan (25), berkata "tidak ada air maupun makanan yang tersisa di toko-toko".
Posan, yang baru dua tahun tinggal di Kumamoto, sedang berada di rumah ketika gempa terjadi.
"Televisi menimpa saya, cermin saya pecah, dan jalan-jalan di sekitar saya rusak," katanya kepada BBC.
Tas evakuasinya kini tak lepas darinya di tengah "gempa susulan yang terus-menerus" terjadi beberapa jam setelah gempa utama.
"Orang-orang waspada terhadap kemungkinan gempa lain yang akan datang. Gempa pada 2016 diikuti oleh gempa kedua beberapa hari kemudian," ujar Posan.
Baca juga:
Shinji Kiyomoto dari Badan Meteorologi Jepang meminta masyarakat untuk "tetap waspada" terhadap gempa susulan merujuk pada rangkaian gempa mematikan pada 2016 yang terjadi dengan selang beberapa hari.

Sumber gambar, Getty Images
Saat ini, puluhan ribu orang mengalami pemadaman listrik dan gangguan pasokan air di seluruh Kota Kumamoto. Sebanyak 45 fasilitas medis juga mengalami kerusakan.
Bangunan lain yang turut terdampak dalam bencana ini adalah Kastil Kumamoto dan Kuil Yatsushiro.
Bagian dinding luar Istana di pusat kota yang berusia hampir 400 tahun runtuh. Sedangkan, kuil yang menjadi tempat pemujaan sejak abad ke-19 runtuh sepenuhnya.
Rekaman yang ditayangkan NHK juga menunjukkan jalan dan jembatan yang retak serta beberapa bangunan yang terbakar. Layanan kereta pun dihentikan.
Meski begitu, warga mulai membereskan kerusakan dan berupaya memulihkan keadaan.

Sumber gambar, Reuters
Hiroko Ogata (75) berupaya membereskan rumah makannya yang luluh lantak. Semua barang di rak dapurnya berjatuhan di lantai. Mangkuk dan gelas juga pecah berantakan.
"Seluruh tempat saya berantakan. Tapi kami harus mencari nafkah dengan membuka kembali restoran secepat mungkin. Jadi, hari ini saya sedang membersihkannya," kata Ogata.
"Tapi baru sebentar berbenah, gempa susulan terjadi dan saya harus berhenti. Lalu, saya coba bersihkan lagi tapi gempa susulan lagi. Jika kami terus mengalami gempa susulan terus-terusan, ini membuat kami sangat stres."
Bagaimana respons pemerintah Jepang?
Pihak berwenang dan tim tanggap darurat yang termasuk aparat keamanan, petugas dinas pemadam kebakaran, hingga penjaga pantai bergerak cepat.
Tak lama setelah gempa terjadi, Perdana Menteri, Sanae Takaichi mengerahkan 4.600 personel untuk membantu penyelamatan dan pemulihan.
Ia berkata tim akan bekerja "tanpa lelah sepanjang malam" untuk menilai dan memantau kerusakan di wilayah terdampak.

Sumber gambar, EPA/ shutterstock
Sekretaris Kabinet Utama, Minoru Kihara, juga mengingatkan pada warga di sekitar lokasi untuk terus mengikuti informasi.
"Kami mendesak warga di daerah yang mengalami guncangan paling parah untuk mencermati informasi evakuasi yang dikeluarkan otoritas setempat melalui radio, televisi, dan internet, serta bertindak dengan tenang," katanya.
Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) menulis di X bahwa gempa tersebut "tidak menyebabkan kerusakan atau masalah keselamatan di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Sendai, yang terletak sekitar 100 km dari episentrum. Pembangkit itu tetap beroperasi".
"IAEA akan terus memantau situasi ini," katanya.
Jepang merupakan salah satu negara yang paling rawan gempa di dunia dengan intensitas sekitar 1.500 gempa setiap tahun. Kumamoto yang kini terdampak merupakan wilayah yang berada di sistem patahan tektonik aktif.
































