'Mereka adalah orang-orang yang berani mengambil risiko' – Bangsa Viking mencapai benua Amerika 500 tahun sebelum Columbus

Bangsa Viking menamai salah satu wilayah yang mereka jelajahi di Amerika Utara sebagai Vinland, yang berarti "tanah anggur".
Keterangan gambar, Bangsa Viking menamai salah satu wilayah yang mereka jelajahi di Amerika Utara sebagai Vinland, yang berarti "tanah anggur".
    • Penulis, Fiona Macdonald
    • Peranan, BBC Culture
  • Telah diterbitkan
  • Waktu membaca: 6 menit

Bangsa Nordik mencapai wilayah yang kini menjadi Kanada sekitar tahun 1000 M dan menjadikannya sebagai basis untuk melakukan penjelajahan lebih jauh. BBC menelusuri "sejarah yang terlupakan" tentang bangsa Eropa pertama yang menyeberangi Samudra Atlantik.

Christopher Columbus memang berlayar melintasi samudra pada 1492, tepatnya tiba di Kepulauan Bahama pada 12 Oktober 1492.

Tapi ia bukan orang Eropa pertama yang mencapai wilayah yang sekarang dikenal sebagai Benua Amerika.

Para pendahulunya tiba jauh lebih dahulu tanpa kemeriahan berarti.

Tidak ada pengumuman dari pihak kerajaan maupun kerumunan massa yang menyambut mereka saat kembali.

Mereka juga tidak berlayar langsung menyeberangi Atlantik yang luas dari satu benua ke benua lain.

Sebaliknya, mereka menempuh perjalanan secara bertahap, dengan Islandia dan Greenland menjadi pos persinggahan.

Kisah penjelajahan mereka baru diceritakan kembali berabad-abad kemudian melalui saga-saga Nordik, yang lebih sering dianggap sebagai karya sastra epik ketimbang catatan sejarah.

Dan yang terpenting, mereka pertama kali menginjakkan kaki di tanah Amerika sekitar 500 tahun sebelum Christopher Columbus.

Flateyjarbók, salah satu manuskrip Islandia paling berharga

Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
BBC News Indonesia - Kini hadir di
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Kisah-kisah saga Nordik, yaitu cerita tentang bangsa Viking yang dituliskan oleh keturunan mereka, kini diakui mengandung fakta-fakta sejarah yang dapat dipercaya.

Pada 1966, pembawa acara BBC, Magnus Magnusson, menggambarkan Flateyjarbók atau Kitab Pulau Flatey yang berasal dari abad ke-14 sebagai "salah satu manuskrip Islandia paling berharga yang masih ada".

Buku itu begitu bernilai sehingga ketika penyelenggara Pameran Dunia Chicago pada 1893 meminta untuk meminjamnya dalam rangka peringatan 400 tahun pelayaran Columbus, mereka menawarkan berbagai jaminan luar biasa.

"Mereka menawarkan untuk mengirim kapal perang ke Denmark untuk menjemputnya, kereta lapis baja untuk mengangkutnya melintasi Amerika, serta mengasuransikannya senilai US$1 juta," kata Magnusson. Pada saat itu, manuskrip tersebut memang disimpan di Denmark.

"Namun bahkan dengan semua itu, pihak Denmark tidak bersedia mengambil risiko tersebut."

Manuskrip tersebut sangat penting karena memuat kisah perjalanan bangsa Nordik ke wilayah yang mereka sebut Vinland, yang kini diyakini sebagai bagian dari Amerika Utara, serta menjadi salah satu sumber utama yang mendukung cerita bahwa bangsa Viking mencapai benua Amerika sekitar lima abad sebelum Christopher Columbus.

Flateyjarbók dipandang sebagai salah satu catatan kuno yang menguatkan bukti bahwa bangsa Viking pernah mencapai Amerika Utara.
Keterangan gambar, Flateyjarbók dipandang sebagai salah satu catatan kuno yang menguatkan bukti bahwa bangsa Viking pernah mencapai Amerika Utara.

Dan apa alasan pihak di Amerika Serikat "sangat ingin meminjamnya"?

Karena buku tersebut memuat "kisah pemukiman bangsa Nordik di Greenland pada abad ke-10, dan yang lebih menakjubkan lagi, cerita tentang penemuan serta upaya kolonisasi Amerika Utara oleh bangsa Nordik beberapa tahun kemudian, lima abad sebelum Columbus".

Pada 1960, sebuah kamp persinggahan bangsa Nordik ditemukan di L'Anse aux Meadows, Newfoundland, Kanada.

Kemudian pada 2021, para peneliti yang menggunakan teknik penanggalan baru menemukan bahwa bangsa Viking telah menghuni lokasi tersebut sekitar 1.000 tahun lalu.

Situs itu diyakini berfungsi sebagai pangkalan bagi penjelajahan yang lebih jauh ke pedalaman Amerika Utara.

"Inilah awal dari sebuah sejarah yang terlupakan, yaitu berabad-abad ketika orang Eropa mengunjungi Amerika melalui pelayaran yang jejaknya hanya tertulis di atas air," kata Robin Ellis dalam episode serial dokumenter BBC Timewatch pada 1997.

Bangsa Nordik menemukan Islandia sekitar tahun 870, dan Greenland sekitar 100 tahun kemudian.

Dari sana, jaraknya hanya sekitar 320 kilometer melintasi Selat Davis menuju Pulau Baffin di Kanada saat ini, yang mereka sebut Helluland, atau "tanah batu-batu lempeng".

Menurut kisah-kisah saga Nordik, mereka kemudian menyusuri pantai ke arah selatan menuju Labrador, yang mereka sebut Markland, atau "tanah hutan".

Dari sana mereka melanjutkan perjalanan lebih jauh ke selatan menuju wilayah yang mereka namai Vinland, atau "tanah anggur".

"Saga-saga itu menggambarkan bahwa mereka tidak hanya singgah di satu tempat, tetapi di sejumlah lokasi," kata Emily Lethbridge dari University of Iceland dalam program Timewatch pada 2016.

"Mereka juga bertahan selama beberapa tahun. Mereka memiliki sebuah dunia baru yang dapat dijelajahi."

Bangsa Viking menjelajahi Atlantik Utara dan mencapai pantai Amerika Utara sekitar lima abad sebelum pelayaran Christopher Columbus.
Keterangan gambar, Bangsa Viking menjelajahi Atlantik Utara dan mencapai pantai Amerika Utara sekitar lima abad sebelum pelayaran Christopher Columbus.

Menurut kisah-kisah saga Nordik, pemukim Viking yang paling terkenal, 'Erik si Merah' (Erik the Red), tiba di Islandia sekitar tahun 960 setelah ayahnya diasingkan dari Norwegia karena kasus pembunuhan.

Pada tahun 930, penduduk Islandia mendirikan sebuah parlemen yang dikenal sebagai Althing.

Lembaga ini merupakan sidang terbuka yang dihadiri masyarakat dari seluruh negeri dan diselenggarakan setiap musim panas selama dua minggu untuk menangani urusan legislasi dan peradilan.

Sidang tersebut berlangsung di lokasi yang sangat unik, yakni di dalam sebuah ngarai yang membentuk amfiteater alami.

"Bukan hanya akustiknya yang membuat tempat ini istimewa," kata Emily Lethbridge kepada BBC.

"Ini adalah patahan geologi alami. Kita berada tepat di titik pertemuan antara lempeng tektonik Amerika Utara dan Eurasia."

Dengan kata lain, orang-orang Eropa pertama yang menjelajahi Amerika Utara ternyata mendirikan salah satu lembaga parlemen mereka di sebuah lembah retakan yang berada di antara dua benua tersebut.

Di parlemen itu, kata Lethbridge, hukuman pengasingan dijatuhkan kepada anggota masyarakat yang dianggap melanggar aturan-aturan paling serius.

"Hukuman pengasingan akan dijatuhkan kepada anggota masyarakat yang telah melanggar semua aturan. Mereka boleh pergi ke mana saja, tetapi tidak boleh menginjakkan kaki di Islandia selama masa pengasingan itu berlaku," ujarnya.

Sosok Erik si merah

Menurut kisah-kisah saga Nordik, Althing mengasingkan Erik si Merah dari Islandia pada tahun 982 setelah ia terlibat dalam perselisihan berdarah dengan seorang petani tetangga.

Namun, pengasingan itulah yang kemudian membuka salah satu bab paling luar biasa dalam sejarah penjelajahan Viking.

"Erik si Merah adalah orang Islandia pertama yang menemukan Greenland dan kemudian mendirikan permukiman permanen di sana," kata Emily Lethbridge.

Erik si Merah diyakini menetap di Islandia sekitar tahun 960 sebelum kemudian memimpin kolonisasi Greenland.
Keterangan gambar, Erik si Merah diyakini menetap di Islandia sekitar tahun 960 sebelum kemudian memimpin kolonisasi Greenland.

Ia membangun sebuah koloni di Greenland yang bertahan selama sekitar 500 tahun dan kemudian menjadi titik awal penjelajahan bangsa Nordik ke Amerika Utara.

"Mereka adalah orang-orang yang berani mengambil risiko dan bersedia menghadapi ujian fisik yang luar biasa berat," ujar Lethbridge.

"Misalnya berlayar dengan perahu terbuka melintasi Samudra Atlantik untuk melihat apa yang bisa mereka temukan."

Permukiman Nordik di Greenland terus bertahan hingga awal abad ke-15.

Dari sana, bangsa Viking yang dipimpin putra Erik, Leif Eriksson, tampaknya melakukan bukan hanya satu, melainkan beberapa pelayaran menuju Amerika Utara.

"Kebanyakan orang beranggapan bahwa setelah Leif Eriksson dan rekan-rekannya tiba di Vinland lalu menyerah dan pergi, tidak ada lagi yang terdengar tentang Dunia Baru," kata Robert McGhee, arkeolog dari Canadian Museum of Civilisation, kepada program Timewatch.

"Namun dari bukti arkeologis, kami memiliki petunjuk bahwa bangsa Nordik setidaknya masih melakukan perjalanan sesekali ke Dunia Baru selama dua atau tiga abad berikutnya."

Apakah Columbus mengetahui keberadaan Vinland?

"Kita memiliki begitu banyak alasan kuat untuk mengetahui bahwa pelayaran memang berlangsung sepanjang Abad Pertengahan di kedua pesisir yang sekarang kita kenal sebagai Greenland dan Amerika Utara," kata Kirsten Seaver, sejarawan pelayaran abad pertengahan, kepada program Timewatch.

"Pada 1480, kita mengetahui bahwa mereka secara sengaja berupaya berlayar ke Amerika Utara, atau wilayah yang mereka sebut Pulau Brasil (Isle of Brazil).

Namun, kita tidak seharusnya memandangnya sebagai pelayaran pertama mereka ke sana.

Saat Columbus tiba di Bahama pada 1492, bangsa Viking telah lebih dahulu mencapai Amerika Utara hampir 500 tahun sebelumnya.
Keterangan gambar, Saat Columbus tiba di Bahama pada 1492, bangsa Viking telah lebih dahulu mencapai Amerika Utara hampir 500 tahun sebelumnya.

Itu lebih tepat dilihat sebagai upaya pertama untuk mencapai wilayah tersebut secara langsung, tanpa singgah di Greenland, yang pada masa itu merupakan penanda navigasi utama."

Seaver juga mengutip sebuah dokumen yang mengisyaratkan bahwa Christopher Columbus sendiri mengetahui adanya pelayaran-pelayaran semacam itu.

"Pada musim dingin 1497-1498, seorang warga Inggris bernama John Day menulis surat kepada Christopher Columbus untuk memberitahukan keberhasilan pelayaran John Cabot ke Amerika Utara pada 1497. Di antara berbagai hal yang ia sampaikan, Day menyebut begitu saja bahwa, sebagaimana telah diketahui Columbus, para pelaut dari Bristol [di Inggris] telah melakukan pelayaran ke wilayah utara tersebut selama bertahun-tahun."

Pernyataan itu menjadi salah satu petunjuk bahwa pengetahuan tentang keberadaan daratan di seberang Atlantik kemungkinan sudah beredar di kalangan pelaut Eropa bahkan sebelum era penjelajahan yang identik dengan nama Columbus.