Anak muda China mencari kehangatan dan kedekatan dari 'orang tua virtual'

Ilustrasi yang memperlihatkan sepasang suami istri yang sedang siaran langsung di kanal media sosial mereka, dikelilingi anak‑anak muda berwajah sedih yang menyerahkan hati dan beberapa bunga kepada para influencer.

Sumber gambar, BBC / Andro Saini

    • Penulis, Eunice Yang
    • Peranan, BBC News Chinese
    • Melaporkan dari, Hong Kong
  • Waktu membaca: 6 menit

Seperti banyak anak muda lainnya, Vincent Zhang selalu terpaku pada ponselnya saat makan. Konten favoritnya bukan mukbang, melainkan nasehat dan sapaan dari pasangan paruh baya yang ia sebut sebagai "orang tua virtual".

Para influencer yang paling sering ditonton Vincent di Douyin, versi TikTok di China, adalah Pan Huqian dan Zhang Xiuping. Video‑video mereka menampilkan kehidupan keluarga yang apa adanya namun penuh kasih. Pasangan ini sering menyapa para penonton seolah‑olah penonton adalah anak mereka sendiri.

Dalam waktu kurang dari tiga tahun, akun mereka telah meraih lebih dari 1,8 juta pengikut.

Dalam salah satu video paling populer, Pan dan Zhang berkata: "Siapa orang dewasa dalam keluarga? Apakah kamu lelah karena pekerjaan dan belajar akhir‑akhir ini? Jangan memaksakan diri terlalu keras. Ibu dan Ayah tahu kamu telah banyak menanggung beban di luar sana."

Vincent terharu mendengarnya.

"Orang tua saya tidak pernah mengatakan agar saya tidak memaksakan diri terlalu keras atau bahwa saya sebenarnya sudah cukup baik," kata Vincent.

"Namun orang tua virtual hanya akan bertanya apakah saya bahagia hari ini."

Istilah "orang tua virtual" menjadi kata kunci populer di kalangan warganet China untuk pertama kalinya pada 2024. Sejak saat itu lebih dari selusin influencer seperti Pan dan Zhang telah memperoleh pengikut dalam jumlah besar.

Diskusi semacam ini menyingkap semakin besarnya ketidakpuasan banyak generasi Z dan milenial di China terhadap dinamika keluarga tradisional, di mana kewajiban dan kepatuhan lebih diutamakan daripada kasih sayang.

Pada aplikasi media sosial RedNote, tagar "orang tua China" telah ditonton lebih dari 500 juta kali, dengan lebih dari 1,2 juta komentar.

Banyak juga yang frustrasi karena orang tua mereka tidak memahami kesulitan menjalani kehidupan dalam ekonomi yang melambat serta beban untuk memenuhi harapan orang tua sebagai anak tunggal—akibat kebijakan satu anak yang diterapkan China dari 1979 hingga 2015.

Seorang ibu dengan jaket tebal berwarna ungu dan seorang ayah dengan jaket tebal berwarna putih berjalan di taman bersama seorang anak laki‑laki kecil di kereta dorong.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Banyak kaum muda China tumbuh sebagai anak tunggal akibat kebijakan satu anak yang berlangsung puluhan tahun.
Lewati Whatsapp dan lanjutkan membaca
Akun resmi kami di WhatsApp

Liputan mendalam BBC News Indonesia langsung di WhatsApp Anda.

Klik di sini

Akhir dari Whatsapp

Vincent telah meraih kesuksesan dan kini bekerja sebagai pengembang web berbasis di Shanghai.

Meskipun ia bekerja dengan jam kerja yang sangat berat sebagai bagian dari budaya 996—bekerja dari pukul 09.00 hingga 21.00 selama enam hari seminggu—dia justru merasa percakapan mingguan dengan orang tuanya lebih menegangkan.

Dia mengatakan mereka sering mengkritik pilihan kariernya karena masih meyakini karier sebagai pegawai pemerintah akan lebih stabil. Atau mereka menanyakan kapan ia akan membawa pulang pacar.

Vincent merasa tidak terlalu sendirian ketika berinteraksi dengan orang lain di kolom komentar kanal Pan dan Zhang. Seperti Vincent, banyak yang menulis kepada pasangan ini dengan memanggil mereka Ibu dan Ayah.

Pesan‑pesan itu sering membahas kehidupan sehari‑hari mereka, dan terkadang mereka meminta ucapan ulang tahun. Namun beberapa pesan sangat mengkhawatirkan.

Baca juga:

Dalam satu kasus, seorang gadis bernama Dian Dian mengatakan kepada Pan bahwa ia tidak ingin hidup lagi. Dia mengaku mengalami depresi dan punya pikiran untuk bunuh diri.

"Saya terus berbicara dengannya selama dua jam, tetapi ia tidak merespons setelah 40 menit," kata Pan dalam sebuah wawancara dengan Douyin pada 2024, seraya menambahkan bahwa ia tidak tahu apa yang terjadi padanya.

Seminggu kemudian, ia menerima panggilan dari Dian Dian, yang mengatakan bahwa ia kini merasa jauh lebih baik:

"Saya merasa telah melakukan sesuatu yang benar‑benar bermakna dan saya merasa bangga untuk waktu yang lama."

Seorang perempuan muda melihat akun Pan dan Zhang di ponsel pintarnya.

Sumber gambar, Istimewa

Keterangan gambar, Akun Pan dan Zhang di Douyin telah menarik lebih dari 1,8 juta pengikut.

Pan memahami rasa sakit yang dapat ditimbulkan oleh keluarga yang abai karena ia sendiri tidak punya masa kecil yang bahagia.

Pan tumbuh besar di sebuah yaodong, jenis hunian tradisional bawah tanah, di Provinsi Shaanxi, China utara. Pada usia 14 tahun, ia meninggalkan rumah untuk menjadi tulang punggung keluarga setelah ibunya mengalami kelumpuhan.

"Saya meninggalkan rumah selama 33 tahun, dan orang tua saya tidak pernah mengucapkan satu kata pun untuk memberi semangat," katanya dalam wawancara yang sama dengan Douyin.

Pan bertekad menciptakan suasana keluarga yang berbeda setelah putri mereka, Jiangyu, lahir. Tidak seperti keluarga China pada umumnya, Pan dan Zhang selalu mengatakan kepada Jiangyu bahwa mereka mencintainya.

Jiangyu mendorong orang tuanya untuk memproduksi video pendek, dan mereka menjadi kreator konten setelah bisnis Pan tutup pada 2024.

Pan tidak memiliki rencana besar untuk akunnya, meskipun ia berpotensi memperoleh keuntungan besar dengan menjual produk melalui siaran langsung.

"Saya berharap bisa melakukan sedikit yang saya bisa untuk membuat mereka merasakan kehangatan kasih seorang ayah," katanya.

'Sastra sup labu'

Selain konten tentang orang tua virtual, konten satire yang disebut "sastra sup labu" juga viral pada musim gugur lalu.

Tren ini terinspirasi oleh sebuah video sketsa berdurasi satu menit yang menampilkan seorang anak laki‑laki yang dengan sopan menolak semangkuk sup labu dari ibunya, namun akhirnya disalahkan karena dianggap bersikap pemarah.

Banyak anak muda mengatakan sketsa itu menangkap kesalahpahaman yang khas dalam keluarga China, terutama ketika orang tua mengabaikan keinginan anak mereka dengan alasan demi kebaikan mereka sendiri.

Baca juga:

Dan Zhao Xuan yang berusia 28 tahun adalah salah satu di antaranya.

Ia telah membisukan grup obrolan keluarga karena orang tuanya jarang menunjukkan kepedulian. Dan mengklaim setiap kali mereka berbicara dengannya, pembicaraan mereka seperti yang digambarkan dalam "sastra sup labu".

Dan juga percaya bahwa orang tuanya lebih menyukai adik laki‑lakinya yang berusia 15 tahun. Dalam budaya tradisional China, hanya laki‑laki yang dianggap mampu meneruskan garis keturunan keluarga.

Empat anak muda tenggelam dalam ponsel mereka saat duduk di sebuah bangku di Beijing, China.

Sumber gambar, Getty Images

Zhao mengatakan ibunya sangat mengontrol setiap aspek kehidupannya.

Setelah lulus, ia mendapatkan pekerjaan penuh waktu di Prancis, tetapi ibunya memintanya untuk melepaskannya dan kembali ke China.

"Sebelum saya kembali, ibu saya terus mengatakan bahwa ia akan merawat saya. Saya sangat tersentuh," katanya.

"Namun sebenarnya, ia hanya ingin saya pulang dan merawat adik laki‑laki saya…

"Dia memperlakukan saya dengan cara yang sama seperti saat saya tumbuh besar. Namun ia seperti orang tua teladan bagi adik saya."

Di masa lalu, Zhao akan menangis sambil mengobrol dengan teman‑temannya dan mencoba memahami perilaku orang tuanya. Namun kini, ia beralih ke meme dan video satire.

Reaksi serupa dari orang lain membuatnya menyadari bahwa pengalamannya tidaklah unik, dan bahwa ia bisa menghadapi persoalan keluarga dengan humor.

Trauma politik

Foto historis yang menunjukkan anak-anak melambaikan salinan “Buku Merah Kecil” karya Mao Zedong selama Revolusi Kebudayaan.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Banyak orang tua di China hidup melalui masa‑masa yang sulit dalam Revolusi Kebudayaan.

Guo Ting, seorang peneliti studi gender di University of Toronto, Kanada, mengatakan ia bersimpati kepada orang tua di China karena melihat banyak "alasan historis" di balik tingginya harapan terhadap anak‑anak mereka dan kesulitan mereka mengekspresikan kasih sayang.

Emosi personal diabaikan dalam wacana publik puluhan tahun lalu, ketika orang tua masih kanak-kanak, katanya.

Selama Revolusi Kebudayaan—dari 1966 hingga 1976—cinta hanya boleh diekspresikan untuk negara atau pemimpinnya saat itu, Mao Zedong.

Rasa tidak aman dan kecemasan para orang tua masa kini dapat dijelaskan oleh "gejolak dan kemiskinan yang pernah mereka alami, serta lingkungan keras 'yang kuat bertahan' yang harus mereka hadapi", tambahnya.

Beberapa media pemerintah telah mencoba mengarahkan diskusi daring ke konsep bakti kepada orang tua, dengan mendesak generasi muda agar lebih memahami orang tua mereka.

Namun strategi ini tampaknya tidak berhasil, misalnya bagi Vincent: "Saya bisa memahami kesulitan orang tua saya, tetapi saya juga memiliki trauma sendiri," katanya.

Beberapa orang tua virtual telah mendaftar dengan perusahaan manajemen untuk memonetisasi konten mereka lebih jauh, tetapi Vincent mengatakan ia tetap ingin menonton video‑video mereka.

"Video mereka memberi saya satu‑satunya kehangatan dalam hidup saya," katanya.

"Dan ini lebih baik daripada tidak sama sekali."

Disunting oleh Grace Tsoi dan Alexandra Fouché

Gambar utama oleh Andro Saini, East Asia Visual Journalism